14 December 2015

Melayat Pak Ben Anderson di Adijasa



Sepuluh menit lalu saya mampir ke Adijasa Surabaya. Mau melayat mendiang Ben Anderson, indonesianis yang sangat saya hormati. Namanya ada di daftar mayat depan kantor gedung persemayam terkenal di Jalan Demak itu.

Maaf, jenazahnya belum keluar. Masih di ruang penyimpanan, kata satpam. Selasa pagi baru keluar.

Oh ya, kalo gitu besok aja saya ke sini lagi.

Lalu saya mampir ke warkop membaca jawa pos. Ada dua tulisan di halaman satu tentang pak Ben. Intelektual hebat ini ternyata meninggal dunia di Batu setelah blusukan ke beberapa perluasan di Jawa Timur. Pak ben memang senang banget dengan jatim.

Saya juga jadi tahu bahwa pak Ben ternyata sangat menyukai petilasan jolotundo di tewas mojokerto dan sumbertetek. Dua tempat itu memang luar biasa menariknya. Setidaknya bagi saya. Tenang, hijau, sejuk, bebas polusi, inspiratif. Air di jolotundo pun bisa diminum langsung. Katanya sih jauh lebih bermutu daripada air kemasan sekelas Aqua.

Saking senangnya dengan jolotundo, saya bersama pak bambang theo pelukis senior yang sudah almarhum pernah bikin warung kopi di sana. Sayang, bu jono malah menjualnya ke orang lain. Sejak itulah saya mulai jarang naik ke pertigaan suci umat hindu itu.

Ehmmm... Pak ben ternyata punya kegemaran yang sama dengan saya. Sama-sama suka jolotundo. Saya juga sering memergoki orang barat yang meditasi atau nyemplung mandi ke sumur di pojok itu. Katanya sih manfaat spiritualnya banyak.

Pak ben anderson memang luar biasa.. buat saya. Dua kali saya ikut seminarnya dan selalu terpukau. Penguasaannya atas masalah-masalah di tanah air jauh melebihi profesor asli indonesia. Apalagi wartawan yang generalis, sepotong-sepotong di permukaan saja. Pak ben ibarat empu yang nyemplung di sumur ilmu yang luar biasa dalamnya.

Berbeda dengan indonesianis lainnya, saya dibuat geleng kepala dengan kefasihan bahasanya. Bukan hanya bahasa indonesia baku, formal, ejaan yang disempurnakan, bahasa modern ala pusat bahasa, beliau sangat jago menggunakan bahasa tempo dulu, melayu tionghoa, dan gaya indonesia timur. Dan itu beliau pakai untuk bikin makalah panjang ilmiah kelas internasional. Padahal orang papua, flores, maluku, timor dsb tidak pernah menggunakan ragam bahasa informal alias melayu pasar itu untuk suasana formal.

Karena itu, membaca buku atau artikel benedict anderson rasanya macam kita omong-omong di warkop, santai, geli, ketawa, tapi juga jengkel kalau ada informasi yang bikin kita bilang puki mai, tak kucing dan sejenisnya.

Gaya bahasa indonesia lawas ala ben anderson ini bisa kita baca panjang lebar di buku tjamboek berdoeri. Ben menganggap bahasa indonesia sekarang sudah kehilangan kehormatannya, kering, kurang bumbu, mekanis akibat politik orba soeharto. Rezim orba mencuci otak orang indonesia lewat politik bahasa. Maka tak akan ada lagi buku-buku yang asyik dinikmati macam tjamboek berdoeri.

Minggu lalu saya bongkar buku-buku lama. Hehe... ketemu tjamboek berdoeri yang tebal itu. Saya baca lagi tulisan pengantar dari benedict anderson yang panjangnya bisa jadi buku sendiri. Geli-geli sedap. Asyiknya kayak denger baba-baba tionghoa lama bercerita atau orang papua atau flores yang bergurau di lapak sambil minum tuak atau moke. Gak nyangka seminggu kemudian denger kabar kalau pak Ben berpulang setelah berziarah di jolotundo dan sumbertetek.

Selamat jalan pak ben!

Kitorang kirim doa supaya pak ben bisa istirahat dengan tenang di alam sana dan disayangi oleh sang pencipta.

1 comment:

  1. Salam kenal, om Lambert. Terima kasih telah membagi cerita tentang opa Ben ini. Saya baru belajar mengenal beliau setelah ramai diberitakan sekarang.

    Salam dari Maumere,
    HYF

    ReplyDelete