05 December 2015

Kembang Jepun Saksi Kerja keras Dahlan Iskan

Oleh Dahlan Iskan

Inilah gedung yang amat bersejarah bagi hidup saya: Kembang Jepun 167 Surabaya. Ketika saya diberi tahu bahwa harian Radar Surabaya akan berkantor di situ mulai 1 Desember 2015, saya pun bersyukur. Gedung yang dibangun pada 1880 tersebut akan terawat.

Di gedung inilah kemampuan saya mulai diuji dalam mengurus perusahaan media: Jawa Pos. Itu terjadi pada 5 April 1982. Saat saya berumur 31 tahun. Saat saya dipercaya memimpin harian Jawa Pos yang nyaris bangkrut saat itu.

Ketika untuk kali pertama menginjakkan kaki di gedung ini, saya ngeri-ngeri penuh harap. Ngeri karena gedung ini kok ruwet sekali. Terasnya penuh warung jualan makanan dan minuman. Suasananya seperti desak-desakan saling berebut sudut. Lantai satu penuh sesak oleh orang dan barang. Orang yang lusuh dan barang yang lama-lama.

Saya sendiri datang ke gedung itu dengan mengenakan kaos dan sandal. Waktu itu saya menjabat kepala biro majalah TEMPO di Jatim. Saya akan diperkenalkan dengan jajaran redaksi Jawa Pos. Ketika saya tiba di situ, tidak ada yang kenal saya. Sambil menunggu tepat pukul 10.00, saya duduk di dingklik dekat warung teh.

Setelah tahu bahwa redaksi Jawa Pos ada di lantai atas, saya pun naik tangga gedung itu. Sebuah tangga lebar model bangunan kuno. Ternyata lantai dua sepi. Ada 8 ruang besar yang pintu-pintunya kuno. Redaksi menempati salah satu ruang besar itu. Sepi. Hanya ada 4 meja kuno, satu pesawat telepon yang dikunci, dan satu teleks kantor berita Antara yang terus berbunyi seperti ada hantu yang terus mengetik.

Ruang besar satunya hanya diisi dua orang yang sudah sangat tua. Di ujung utara ada Pak The Chung Shen. Di ujung selatan ada istrinya. Dua orang inilah yang mengendalikan Jawa Pos. Mereka sudah berumur lebih dari 80 tahun dan, karena itu, merasa tidak kuat lagi mengurus Jawa Pos. Mereka menjualnya kepada PT Grafiti Pers, penerbit majalah Tempo.

Saya sudah kenal beberapa orang redaksi Jawa Pos. Imam Sudjadi, misalnya, adalah sesama pengurus PWI Jatim. Sejak seminggu sebelumnya dia sudah diberi tahu bahwa Jawa Pos akan ganti pemilik dan ganti pimpinan. Dengan tertawa kecil, Imam memberi tahu saya bahwa Pak The sudah membocorkan siapa nama pimpinan baru Jawa Pos nanti.

"Namanya Sahlan," ujar Pak The kepada jajaran redaksi seperti dikutip Imam. Rupanya Pak The salah dengar mengenai nama saya.
Tidak hanya salah dengar, Pak The juga kurang simpati pada calon pimpinan baru itu. Pak The bilang lagi berusaha agar jangan Sahlan itu yang memimpin. Mungkin Pak The mendengar bahwa saya masih terlalu muda, pakaiannya sembarangan, dan kelihatannya tidak intelektual.

Saya tidak peduli dengan penilaian itu. Bahkan, seminggu kemudian, saya minta izin untuk bertamu ke rumahnya. Dia kaget. Saya membawa serta seluruh jajaran redaksi Jawa Pos. Baru sekali itu ada orang redaksi Jawa Pos datang ke rumah Pak The di Jalan Pregolan Surabaya. Di rumah itulah, di depan Pak The dan istrinya, saya mengucapkan sumpah untuk mengembalikan kejayaan Jawa Pos.

Yang hadir, yang sudah begitu lama merasakan penderitaan bekerja di Jawa Pos, bertepuk tangan meriah. Sebagian besar mungkin berharap sumpah itu jadi kenyataan.

Pak The yang berjalannya sudah tidak tegap, dan bicaranya sudah tidak lancar (sebagian karena penguasaan bahasa Indonesianya yang kurang) menyalami saya sambil menunjukkan sisa-sisa semangatnya. Istrinya yang juga penulis buku pelajaran bahasa Mandarin ikut gembira.

Kelak, 10 tahun kemudian, saya sempat menceritakan perkembangan kemajuan Jawa Pos saat saya mengunjunginya di rumah masa tuanya di London. Pemilik asal Jawa Pos itu memang memilih menghabiskan masa tua mereka dengan tiga orang anaknya di Inggris.

Gedung di Kembang Jepun 167 inilah saksi kerja keras saya. Saksi kegilaan saya. Saksi kebangkitan kembali sebuah media yang hampir mati untuk berjaya lagi. Saksi kerja kerasnya teman-teman saya semua. Tim yang benar-benar bekerja seperti orang-orang yang kesetanan. Kerja maksimal dengan fasilitas minimal.

Letak gedung ini yang awalnya dibangun untuk bank ini strategis: dekat salah satu sentral angkutan umum: Jembatan Merah. Ke mana-mana mudah. Inilah gedung yang menjadi saksi siapa yang benar-benar bekerja secara sungguh-sungguh akan memetik hasilnya. (*)

Sumber: Radar Surabaya, 1 Desember 2015

No comments:

Post a Comment