04 December 2015

Kahitna jadi gong festival jazz di Surabaya

Apa yang paling menonjol dari Jazz Traffic Festival di Surabaya kemarin? Jawabnya: Kahitna! Media-media di Surabaya justru memuat penampilan band lawas itu besar-besar. Jadi berita utama di halaman hiburan.

Kok bisa gitu? Festival jazz kok yang dibahas band pop? Band yang setahu saya tidak pernah bikin album jazz? "Tapi lagu-lagunya diaransemen ulang ala jazz," kata seorang kawan yang menyaksikan puncak Jazz Traffic di Grand City Surabaya.

"Pokoknya asyiklah. Gak harus jazz murni. Kalau pasang musisi jazz beneran ya rugi panitianya. Anda tahulah berapa orang sih penggemar jazz di Surabaya," ujar kawan yang gemar berbagai jenis musik, kecuali keroncong itu.

Teman-teman wartawan tentu tidak salah memberitakan Kahitna dengan porsi besar. Itu juga sesuai keinginan panitia yang menempatkan Kahitna sebagai gong. Tapi bagaimana dengan tema "festival jazz" yang selalu dibanggakan itu?

Mengapa makin tahun unsur jazz-nya semakin cair? Bukannya makin kental nuansa jazz? Atau memang beginilah tren musik jazz yang berkembang dalam lima tahun di tanah air. Jazz yang cuma tempelan, label, jes-jesan, bukan jazz beneran.

Sebelum festival jazz ala Suara Surabaya ini digelar, sejatinya ada musisi jazz beneran yang manggung di Surabaya dan Sidoarjo. Rene van Helsdingen, pianis jazz asal Belanda, menghibur warga dengan bus stage-nya secara cuma-cuma. Rene ditemani dua pemusik jazz kawakan Indonesia: Benny Mustafa (drum) dan Jeffrey Tahalele (bas). Ada juga gitaris Oele Pattiselano, Margie Segers (vokal) dan Dira Sugandi (vokal).

Saya sempat menikmati pertunjukan jazz yang bernas itu di depan Gelora Delta Sidoarjo dan halaman East Coast, Surabaya. Meskipun gratis, animo penonton boleh dibilang sangat rendah. Khususnya di Sidoarjo. Di Surabaya, penontonnya banyak, tapi aslinya bukan nonton jazz tapi kebetulan bermalam minggu di taman kuliner itu.

Aneh, tapi begitulah kondisi musik di tanah air pada tahun 2015 ini. Komunitas jazz tumbuh di mana-mana. Di YouTube kita dengan mudah menikmati jutaan rekaman jazz berbagai aliran. Tapi di alam nyata ternyata sangat sulit mengajak orang untuk menikmati musik jazz beneran.

Maka, festival jazz pun lama-lama kehilangan relevansinya.

No comments:

Post a Comment