19 December 2015

Jenazah Ben Anderson Dikremasi di Kembang Kuning Surabaya



Sedih tapi bangga dengan sosok Prof Dr Benedict Anderson. Itulah yang terasa di Krematorium Eka Pralaya, Surabaya, menjelang kremasi indonesianis dari Cornell University, Amerika Serikat, itu. Sekitar 100 pelayat, sebagian besar akademisi, sastrawan, jurnalis, dan keluarga Opa Ben berkumpul di dalam gedung pembakaran jenazah di kawasan Kembang Kuning itu.

Prof Melani Budianta memandu sekaligus menceritakan sepak terjang Opa Ben yang sangat cinta Indonesia sampai akhir hayatnya. Saking cintanya pada negeri ini, jujur objektif layaknya intelektual sejati, Ben justru dicekal ke Indonesia selama 26 tahun semasa Orde Baru. Beliau baru bisa blusukan lagi ke tanah air setelah rezim Soeharto jatuh.

Sebelum meninggal dunia di Batu, dalam usia 79 tahun, Ben Anderson memberikan semacam kuliah umum di Universitas Indonesia. Sekaligus bedah buku terbarunya versi bahasa Indonesia. Para mahasiswa UI, cucu-cucunya, sangat antusias menyimak presentasi Ben Anderson tentang anarkisme, negara, hingga fenomena ISIS yang brutal.

"Banyak pertanyaan ringan yang dijawab Ben dengan antusias. Beliau sangat senang dengan anak-anak muda," tutur Prof Melani, dosen senior UI, yang sangat dengan almarhum.

Di barisan pelayat tampak Perry Anderson, adik Ben yang juga profesor, dan Melani Anderson saudari almarhum yang lain. Ada Peter Carey, indonesianis yang kini mengajar di Tangerang. Cukup banyak kerabat dan penggemar Ben yang ikut mengantar hingga ke ujung tungku perapian. Ada Janet Steele, dosen George Washington University, yang sering kasih kursus kepada wartawan-wartawan Indonesia.

Tak ketinggalan wartawan senior Goenawan Mohamad (Tempo) dan L Murbandono Hs dari Radio Nederland. Ada Dr Daniel Dhakidae dari Kompas, yang tak lain murid almarhum Ben Anderson.

Kemudian tokoh-tokoh Tionghoa Surabaya yang selama ini aktif dalam gerakan lintas agama dan budaya macam Sidharta Adimulya, Hendi Prayoga, dan banyak lagi. Kemudian Kathleen, intelektual muda yang juga pendiri C20 Library yang makin terkenal itu.

Cukup banyak wartawan muda yang meliput di majelis perkabungan itu. "Ben Anderson itu pemikir yang luar biasa. Makanya saya datang ke Surabaya khusus untuk melepas kepergian beliau ke alam keabadian," kata L Murbandono Hs, wartawan senior yang kini tinggal di dekat Gunung Merbabu, setelah Radio Nederland Seksi Indonesia ditutup pada pertengahan 2000an.

Setelah Ibu Prof Melani Budianto dan seorang pengagum Ben menyampaikan kenangan tentang almarhum, dalam bahasa Inggris fasih level native speaker, Bapak Anton, asisten imam dari Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya, memimpin doa secara Katolik. Malam sebelumnya diadakan doa dari tiga agama sekaligus: Islam, Buddha, Katolik. Khusus di krematorium ini Katolik karena Opa Ben ini memang beragama Katolik.

Upacara pelepasan jenazah ini tidak lama. Tidak pakai nyanyian requiem dan sebagainya karena pelayat yang mengelilingi peti jenazah ini agamanya macam-macam. Yang Katolik malah tidak banyak. Pak Anton memberikan khotbah singkat tentang kematian yang memberikan harapan akan kehidupan kekal di surga. Juga doa-doa untuk keluarga dan semua yang ditinggalkan almarhum.

Kemudian pelepasan burung merpati di halaman krematorium. Satu per satu pelayat bergantian menabur bunga di atas peti jenazah yang tak lama lagi akan menjadi abu bersama jasad sang akademisi tulen itu. Tiba-tiba... seorang laki-laki menangis histeris saat pelayat diminta keluar dari ruangan di depan tungku bagian tengah. Suasana pun berubah murung.

"Opa Ben berpesan supaya kita tidak boleh sedih," ujar seorang wanita menenangkan laki-laki itu.

Upacara selesai. Rombongan pelayat diajak mampir ke sebuah rumah makan di Jl Indragiri untuk makan siang. Goenawan Mohamad sempat memberikan wawancara singkat dengan teman-teman reporter televisi tentang kiprah dan kontribusi Ben Anderson bagi Indonesia sejak 1960an sampai meninggalnya.

"Ben Anderson adalah intelektual yang sangat objektif dan berani menyampaikan kebenaran kepada penguasa," kata Dr Peter Carey dari Oxford University kepada saya.

Selamat jalan Prof Benedict Anderson!

Terima kasih atas dedikasimu yang luar biasa untuk Indonesia!

2 comments:

  1. Terima kasih atas laporannya yang mendetail atas kepergian Prof Anderson

    ReplyDelete