04 December 2015

Abah Saiful vs Pak Cip di Pilkada Sidoarjo

Seminggu menjelang pencoblosan, 9 Desember 2015, suasana kampanye di Sidoarjo tidak terasa. Masyarakat cenderung apatis. Berbeda dengan lima tahun lalu, alat peraga kampanye macam baliho, spanduk, poster, pun nyaris tidak ada.

Suasana serupa juga dialami Surabaya. Apakah karena masyarakat sudah jenuh politik? Tidak mau tahu dengan masa depan kabupaten/kotanya lima tahun ke depan? Bisa jadi.

"Nyoblos gak nyoblos gak ada pengaruhnya. Kehidupan kita ya seperti ini aja," kata Sri, warga Gedangan, penjual nasi di warung sederhana.

Meski terkesan cuek, sebagai aktivis pengajian ibu-ibu muslimat, dia sangat paham politik lokal di Sidoarjo yang berkultur nadiyin. Termasuk empat pasangan calon (paslon) yang berlaga dalam pemilihan bupati kali ini. "Saya sih pilih nomor 3 (Saiful Ilah - Nur Ahmad Syaifuddin)," katanya polos.

Dari empat paslon, berdasar survei beberapa lembaga, paslon 3 ini yang paling kuat. Elektabilitasnya bahkan mencapai 60 persen. Disusul paslon 1 (MG Hadi Sutjipto - Abdul Kolik). Adapun paslon 2 dan 4 dianggap cuma sekadar penggembira saja. Kedua paslon ini nyaris tidak bisa berkampanye ke mana-mana karena tak ada duit. Beriklan di media-media lokal, dengan biaya murah, pun tak mampu.

Utsman Ikhsan, cabup nomor 2, bahkan lebih banyak bersantai di rumahnya. "Saya kan punya tim pemenangan dari PKS dan elemen-elemen lain," kata mantan ketua DPRD Sidoarjo itu.

Adapun Tan Mei Hwa, cawabup pendamping Utsman, rutin mengisi pengajian seperti biasa. Saat ceramah itulah, Mei Hwa menyisipkan pesan-pesan kampanye kepada jamaah. "Lanang thok gak sip," begitu kampanye khas Tan Mei Hwa yang di surat suara bernama Ida Astuti.

Paslon nomor 4, Warih Andono - Imam Sugiri, pun adem ayem. Cuma bagi-bagi brosur, yang dicetak KPU, di kawasan alun-alun setiap Ahad pagi. Pak Warih, ketua Golkar Sidoarjo, bahkan turun sendiri karena gak kuat bayar tim pemenangan. "Saya ingin langsung ketemu masyarakat. Bisa ngomong dan dengar keluhan mereka," katanya.

Maka, pertarungan pada pilkada kali ini sebetulnya hanya mengerucut ke dua paslon saja: Hatiku (nomor 1) versus Bersinar (3). Bersinar punya kelebihan sebagai petahana (incumbent). Bahkan, Saiful Ilah sudah berkuasa di Pendapa Delta Wibawa selama 15 tahun. Dua periode jadi wakil bupati, mendampingi Bupati Win Hendrarso, dan satu periode sebagai bupati 2010-2015.

"Saya akan genapi jadi dua periode untuk menuntaskan program-program yang sudah bagus itu," kata Abah Saiful, sapaan akrab Saiful Ilah. Pengusaha dan juragan tambak asli Sidoarjo ini sangat yakin mendulang suara di atas 50 persen.

Dari segi program, paslon Hatiku dan Bersinar juga tak jauh berbeda. Masih soal jalan raya yang dibuat mulus, pendidikan gratis, kesehatan, pengembangan UMKM, investasi, dan sejenisnya.

Pak Cip yang mantan wakil bupati tentu sangat paham semua yang terjadi di lingkungan Pemkab Sidoarjo lima tahun terakhir. Bahkan, boleh dikata keberhasilan Abah Saiful sejatinya keberhasilan Pak Cip juga. Tapi, seperti kata pepatah 'kerbau punya susu, sapi punya nama', berbagai prestasi Sidoarjo selama lima tahun terakhir diklaim sebagai prestasi Abah Saiful selaku bupati.

Selamat mencoblos! Siapa pun yang terpilih mudah-mudahan semakin membuat Sidoarjo makin maju, makmur, aman, damai, dan menjadi kota hunian yang asyik bagi para pendatang dari seluruh Indonesia!

No comments:

Post a Comment