23 December 2015

Novena sambut natal di katedral

Natal datang lagi. Mampir ke katedral HKY, kebetulan ibu-ibu lagi misa novena untuk menyambut natal. Misa sembilan hari berturut-turut.

Luar biasa! Di kota sebesar Surabaya masih banyak umat yang sangat rajin novena. Sayang, saya sudah sangat terlambat. Boleh ikut misa tapi tidak boleh komuni. Itu pelajaran di sekolah dasar yang masih saya ingat.

"Kami memang selalu adakan novena rutin," ujar seorang ibu yang pakai kaos biru komunitas St Theresia Lisieux kepada saya. "Silakan kalau kamu mau gabung."

Ibu tionghoa ini mengaku mendapat banyak berkat setelah rajin misa dan berdoa di rumahnya. Dulu lebih asyik kerja cari duit duit duit. Setelah punya cucu, dia jadi berubah total. Makin dekat dengan Tuhan.

Di pinggir jalan raya, depan gereja, banyak polisi yang berjaga di posko keamanan. Anak-anak muda sibuk menata kursi, bikin hiasan natal dsb. "Apa kabar ber, lama gak ketemu," ujar Asep menjabat tangan saya. Kawan ini guru di Santa Maria.

Misa malam natal di katedral digelar tiga kali. Pukul 18.00, 21.00 dan 24.00. Artinya, sampai pukul 03.00 umat katolik tumplek di gereja antik di tengah kota itu. Ekaristi sesi pertama jam enam petang dipimpin Uskup Surabaya Mgr Sutikno Wisaksono. Sesi kedua Romo Fusi, sesi ketiga Romo Danny.

Menjelang Natal, selalu ada gairah ke gereja, membuka lagi buku nyanyian liturgi. Sayang, gairah ini tidak stabil. Selepas natal dan paskah, kegairahan itu sering gembos. Bahkan doa sebelum makan saja jarang dilakukan.

Selamat natal 2015!

19 December 2015

Jenazah Ben Anderson Dikremasi di Kembang Kuning Surabaya



Sedih tapi bangga dengan sosok Prof Dr Benedict Anderson. Itulah yang terasa di Krematorium Eka Pralaya, Surabaya, menjelang kremasi indonesianis dari Cornell University, Amerika Serikat, itu. Sekitar 100 pelayat, sebagian besar akademisi, sastrawan, jurnalis, dan keluarga Opa Ben berkumpul di dalam gedung pembakaran jenazah di kawasan Kembang Kuning itu.

Prof Melani Budianta memandu sekaligus menceritakan sepak terjang Opa Ben yang sangat cinta Indonesia sampai akhir hayatnya. Saking cintanya pada negeri ini, jujur objektif layaknya intelektual sejati, Ben justru dicekal ke Indonesia selama 26 tahun semasa Orde Baru. Beliau baru bisa blusukan lagi ke tanah air setelah rezim Soeharto jatuh.

Sebelum meninggal dunia di Batu, dalam usia 79 tahun, Ben Anderson memberikan semacam kuliah umum di Universitas Indonesia. Sekaligus bedah buku terbarunya versi bahasa Indonesia. Para mahasiswa UI, cucu-cucunya, sangat antusias menyimak presentasi Ben Anderson tentang anarkisme, negara, hingga fenomena ISIS yang brutal.

"Banyak pertanyaan ringan yang dijawab Ben dengan antusias. Beliau sangat senang dengan anak-anak muda," tutur Prof Melani, dosen senior UI, yang sangat dengan almarhum.

Di barisan pelayat tampak Perry Anderson, adik Ben yang juga profesor, dan Melani Anderson saudari almarhum yang lain. Ada Peter Carey, indonesianis yang kini mengajar di Tangerang. Cukup banyak kerabat dan penggemar Ben yang ikut mengantar hingga ke ujung tungku perapian. Ada Janet Steele, dosen George Washington University, yang sering kasih kursus kepada wartawan-wartawan Indonesia.

Tak ketinggalan wartawan senior Goenawan Mohamad (Tempo) dan L Murbandono Hs dari Radio Nederland. Ada Dr Daniel Dhakidae dari Kompas, yang tak lain murid almarhum Ben Anderson.

Kemudian tokoh-tokoh Tionghoa Surabaya yang selama ini aktif dalam gerakan lintas agama dan budaya macam Sidharta Adimulya, Hendi Prayoga, dan banyak lagi. Kemudian Kathleen, intelektual muda yang juga pendiri C20 Library yang makin terkenal itu.

Cukup banyak wartawan muda yang meliput di majelis perkabungan itu. "Ben Anderson itu pemikir yang luar biasa. Makanya saya datang ke Surabaya khusus untuk melepas kepergian beliau ke alam keabadian," kata L Murbandono Hs, wartawan senior yang kini tinggal di dekat Gunung Merbabu, setelah Radio Nederland Seksi Indonesia ditutup pada pertengahan 2000an.

Setelah Ibu Prof Melani Budianto dan seorang pengagum Ben menyampaikan kenangan tentang almarhum, dalam bahasa Inggris fasih level native speaker, Bapak Anton, asisten imam dari Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya, memimpin doa secara Katolik. Malam sebelumnya diadakan doa dari tiga agama sekaligus: Islam, Buddha, Katolik. Khusus di krematorium ini Katolik karena Opa Ben ini memang beragama Katolik.

Upacara pelepasan jenazah ini tidak lama. Tidak pakai nyanyian requiem dan sebagainya karena pelayat yang mengelilingi peti jenazah ini agamanya macam-macam. Yang Katolik malah tidak banyak. Pak Anton memberikan khotbah singkat tentang kematian yang memberikan harapan akan kehidupan kekal di surga. Juga doa-doa untuk keluarga dan semua yang ditinggalkan almarhum.

Kemudian pelepasan burung merpati di halaman krematorium. Satu per satu pelayat bergantian menabur bunga di atas peti jenazah yang tak lama lagi akan menjadi abu bersama jasad sang akademisi tulen itu. Tiba-tiba... seorang laki-laki menangis histeris saat pelayat diminta keluar dari ruangan di depan tungku bagian tengah. Suasana pun berubah murung.

"Opa Ben berpesan supaya kita tidak boleh sedih," ujar seorang wanita menenangkan laki-laki itu.

Upacara selesai. Rombongan pelayat diajak mampir ke sebuah rumah makan di Jl Indragiri untuk makan siang. Goenawan Mohamad sempat memberikan wawancara singkat dengan teman-teman reporter televisi tentang kiprah dan kontribusi Ben Anderson bagi Indonesia sejak 1960an sampai meninggalnya.

"Ben Anderson adalah intelektual yang sangat objektif dan berani menyampaikan kebenaran kepada penguasa," kata Dr Peter Carey dari Oxford University kepada saya.

Selamat jalan Prof Benedict Anderson!

Terima kasih atas dedikasimu yang luar biasa untuk Indonesia!

Tutup peti mendiang Dr Benedict Anderson di Surabaya

18 December 2015

Nikita Mirzani dan Puty Revita bukan korban trafficking

Di dunia "perbalonan" di Jawa Timur, khususnya ketika masih ada Gang Dolly, dan Tretes masih jaya, ada profesi germo alias mucikari (KBBI: muncikari) dan makelar. Mucikari yang wanita biasa dipanggil mami, sedangkan yang laki-laki disapa papi. Mami dan papi inilah pelaku bisnis pelacuran sejati.

Para mucikari punya kaki tangan untuk merekrut calon-calon balon (PSK) ke berbagai daerah. Cewek-cewek yang diincar tentu yang muda, U-24 (di bawa 24 tahun), cakep, bisa dijual kepada para tamu hidung belakang. Kalau dapat banyak calon balon yang bagus, para kaki tangan germo ini dapat komisi banyak. Kayak bisnis-bisnis lainlah.

Di Gang Dolly sendiri, dulu ketika masih buka, di sepanjang jalan depan wisma ada banyak laki-laki yang kerjaannya membujuk semua pria yang lewat. Dijawil, diajak mampir, ke wisma tertentu. Mereka-mereka ini ABG alias anak buah germo. Dia dapat komisi setiap kali berhasil menjebloskan para laki-laki untuk kelonan dengan PSK di dalam kamar wisma. Tidak heran para makelar ini sering berkelahi lantaran rebutan tamu.

Berbeda dengan bisnis perbalonan kelas bawah di Dolly dan sejenisnya, bisnis prostitusi yang melibatkan beberapa pesohor macam Nikita Mirzani, Puty Revita, Anggita Sari, atau TM agak lain cara kerjanya. Beberapa germo yang ditangkap polisi macam Ronald Rumagit (Nikita), Ferry Okviansyah (Puty), Alvania Tiar (Anggita Sari), Robby Abbas (Anggita, Amel Alvi, Tyas Mirasih, Shinta Bachir) tidak sama dengan germo-germo di Dolly.

Germo-germo di Dolly, Jarak, Moroseneng dsb sangat jelas terlibat bisnis perdagangan manusia. Menjebloskan gadis-gadis polos di desa yang miskin untuk dijadikan pekerja seks. Eksploitasi atas PSK-PSK ini sangat luar biasa. Para germo menciptakan sistem bisnis sedemikian rupa sehingga para PSK sulit keluar dari Dolly. Utang mereka dibuat menumpuk, surat-surat penting ditahan dsb.

Kalau membaca berita-berita di internet dan surat kabar, jelas banget kalau Nikita Mirzani, Puty Revita, Anggita Sari dsb menjual diri sendiri untuk mereguk uang puluhan atau ratusan juta rupiah secepat kilat. Nikita pasang tarif Rp 65 juta. Puty Revita Rp 50 juta. Amel Alvi Rp 80 juta. Anggita Sari Rp 10 juta. Daftar panjangnya bisa cari sendiri di internet. Tidak ada germo yang menjebloskan Nikita dkk ke dunia pelacuran. Tidak ada yang mengeksploitasi para artis gadungan yang karya seninya gak jelas itu.

Bisa dikatakan Nikita Mirzani atau Puty Revita ini pekerja seks merangkap germo/mucikari. Adapun tersangka Ronald dan Ferry ini tak lebih dari para makelar yang tupoksinya adalah mencarikan konsumen sebanyak-banyaknya untuk diporoti uangnya oleh Nikita cs. Mereka ini ibarat para makelar alias anak buah germo di Dolly atau Jarak atau Tretes.

Selain dapat komisi dari si PSK artis, mereka biasa menggoreng harga ketika bernegosiasi dengan calon konsumen. Bisa saja tarif Nikita Rp 50 juta tapi dijual ke konsumen dengan harga Rp 65 juta. Dapatlah untung Rp 15 juta. Nanti dapat komisi 10 persen dari Nikita senilai Rp 5 juta. Saat disidang di Pengadilan Negeri Surabaya, model Anggita Sari mengaku tarifnya hanya Rp 10 juta. Tapi makelar yang namanya Robby menggelembungkan harga (kayak proyek pemerintah aja) sampai Rp 25 juta, bahkan Rp 50 juta.

Maka, sangat aneh dan menggelikan ketika polisi mengangap Nikita dan Puty sebagai korban perdagangan manusia alias human trafficking. Dan polisi tidak salah karena undang-undang yang ada sekarang tafsirannya seperti itu. Seakan-akan Nikita dan Puty ini cewek-cewek ndeso yang miskin, dikibuli, untuk dijadikan budak seks di Gang Dolly. Karena itu, Nikita dan Puty tidak diapa-apakan alias bebas merdeka. Yang ditahan justru makelar-makelar online seperti Ronald dan Ferry.

Undang-undang di Indonesia memang tidak mengatur tentang pelacur yang merangkap sebagai germo macam para artis ini. Kenapa pula harus diributkan? Toh, Nikita, Puty, Angita Sari dkk cuma menjual tubuhnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup keartisannya yang sangat mahal. Bukan menjual aset negara atau mencuri uang rakyat seperti yang biasa dilakukan pejabat-pejabat dan politisi di tanah air.

Katanya koran sih Nikita, Puty, Anggita, Shinta Bachir, Amel Alvi sering dipakai pejabat, pengusaha, hingga politisi. Terus duitnya dari mana untuk njajan yang gila-gilaan itu?

Prek!!!

17 December 2015

Salah Rakyat NTT Pilih Setya Novanto



Jauh sebelum pemilu legislatif, 9 April 2014, sudah muncul suara-suara kritis di kalangan orang-orang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berada di perantauan. Meskipun tidak punya hak mencoblos di NTT, perantau NTT ini selalu mengikuti perkembangan sosial, politik, budaya, dsb di kampung halamannya.

"Banyak bangsat-bangsat politik dari Jakarta yang jadi caleg untuk dapil NTT. Mereka didukung kekuatan uang yang tidak terbatas jumlahnya," kata seorang opa asli Timor yang sudah puluhan tahun jadi warga Jawa Timur.

"Kita harus bicara, sonde (tidak bisa) diam. Kalau dibiarkan, lama-lama tidak ada lagi politisi asli NTT yang tembus ke Senayan. Mana ada orang NTT yang kaya raya," kata sang opa yang sangat kritis di media sosial itu.

Maka, dibuatlah daftar nama-nama caleg dapil NTT (ada dua dapil) untuk dikritisi. Cukup banyak mantan aktivis mahasiswa, asli NTT, cerdas, tapi tidak punya uang. Sebaliknya, ada beberapa nama politisi level nasional yang kelas konglomerat. Salah satunya ya Setya Novanto dari Golkar.

"Bapak Setya Novanto ini punya modal yang tidak terbatas. Seng ada lawanlah," kata seorang teman yang juga caleg lokal. "Sekarang ini eranya politik uang. Orang-orang NTT di kampung juga sudah lama kena virus money politics. Kalau tidak ada amunisi (uang), bagaimana bisa menang?"

Omongan kawan caleg, yang kemudian gagal ini, memang tidak meleset. Saat berada di NTT jelang pemilu tahun lalu, saya menangkap suasana yang sangat mengiris hati. Caleg-caleg yang tidak punya duit, cuma modal otak, kritis, berani melawan penguasa yang korup, malah jadi bahan tertawaan.

"Si A itu caleg miskin, tidak punya apa-apa. Kalau bertamu ke rumah, dia tidak bawa apa-apa untuk kita. Justru kita yang dimintai uang untuk biaya jadi caleg. Hahahaha... Tidak punya uang kok berani jadi caleg? Hahaha," kata seorang wanita yang sangat sinis dengan si A ini.

"Kalau si caleg B itu.. begini!" kata tante itu menunjuk jempol kanannya. "Kita mau minta bantuan apa saja dia kasih. Kalau dia ke sini, di selalu tinggalkan oleh-oleh (uang)," tuturnya.

Asal tahu saja, si A masih keluarga dekat, satu kakek-nenek, sedangkan si B tak ada hubungan keluarga. Kampung B juga berbeda kecamatan alias cukup jauh meskipun satu dapil.

"Tolong dibantulah si A itu. Kalau pihak keluarga sendiri tidak memilih dia, bagaimana orang lain mau coblos gambarnya?" pancing saya.

"Hahaha.... Ini kan politik, bukan urusan keluarga! Mau keluarga kek, sepupu... kalau kita tidak dapat apa-apa, masak kita pilih dia?" jawabnya tegas.

"Kasihan si A. Orangnya pintar dan punya idealisme," kata saya prihatin. "Tapi dia tak punya uang."

Begitulah. Hasil pileg 9 April 2014 benar-benar memperlihatkan kemenangan politik uang. Si A kalah di kampung halamannya sendiri. Di level Senayan (DPR RI), cukong-cukong besar dari Jakarta macam Setya Novanto menang dengan sangat meyakinkan.

Orang NTT rupanya tak lagi mempertimbangkan asal usul, darah Flobamora, etnis, ras, bahkan agama. Setya Novanto yang bukan orang NTT, bukan Katolik, bukan GMIT (gereja Protestan terbesar dan paling berpengaruh di NTT), bukan Pentakosta... dengan mudah mengalahkan caleg-caleg asli NTT, kristiani, mantan-mantan aktivis gereja, mantan aktivis PMKRI, GMKI, dan sebagainya.

Isu SARA alias agama, ras, suku benar-benar tidak laku dalam pileg 2014. Maka melengganglah Setya Novanto ke Senayan. Bahkan, Novanto terpilih sebagai ketua DPR RI berkat kemenangan patgulipat politik yang dimainkan Koalisi Merah Putih. Setya Novanto kemudian menjadi sangat terkenal bukan karena bikin banyak program untuk memajukan NTT, memberantas kemiskinan akut di NTT, tapi akibat manuver-manuver politik bisnisnya yang kontroversial.

Dua minggu terakhir ini diskusi di FB yang melibatkan orang-orang NTT sangat intensif. Peter A Rohi, wartawan kawakan asli NTT, yang ber-KTP Surabaya, lebih banyak tinggal di Jakarta, pun memperlihatkan kemarahannya yang amat sangat pada Setya Novanto. "Setya ini memecah belah orang NTT dengan duitnya," kata om Peter. Ia menyoroti unjuk rasa sekelompok orang NTT di Jakarta yang berunjuk rasa mendukung Setya Novanto.

Tapi mau bilang apa lagi?

Saya perhatikan hampir semua komentator dan pengamat yang mengkritik Setya Novanto itu orang-orang NTT yang tinggal di Pulau Jawa. Om Peter, saya, dan ratusan warga perantauan NTT tidak pegang KTP NTT. Kami hanya bisa curhat, mengelus dada, melihat kegentingan politik nasional dengan aktor utamanya Setya Novanto, wakil rakyat NTT di Senayan.

Sebaliknya, orang-orang NTT di bumi Flobamora (Flores Sumba Timor Alor) sangat jarang nimbrung diskusi di internet dan media sosial. Bahkan teman-teman di Kupang, ibukota provinsi, pun makin jarang terlibat diskusi untuk membahas NTT. Bukan apa-apa, sudah sebulan ini listrik di Kupang sering padam karena mesin rusak dsb.

Saya tidak tahu apakah Setya Novanto pun ikut memikirkan kelistrikan di NTT yang masih sangat parah itu. Kelihatannya beliau lebih asyik ngurusin Donald Trump dan Freeport yang kaya raya ketimbang ngurusin 5 juta rakyat miskin di NTT yang diwakilinya.

Siapa suruh pilih Setya Novanto?

14 December 2015

Melayat Pak Ben Anderson di Adijasa



Sepuluh menit lalu saya mampir ke Adijasa Surabaya. Mau melayat mendiang Ben Anderson, indonesianis yang sangat saya hormati. Namanya ada di daftar mayat depan kantor gedung persemayam terkenal di Jalan Demak itu.

Maaf, jenazahnya belum keluar. Masih di ruang penyimpanan, kata satpam. Selasa pagi baru keluar.

Oh ya, kalo gitu besok aja saya ke sini lagi.

Lalu saya mampir ke warkop membaca jawa pos. Ada dua tulisan di halaman satu tentang pak Ben. Intelektual hebat ini ternyata meninggal dunia di Batu setelah blusukan ke beberapa perluasan di Jawa Timur. Pak ben memang senang banget dengan jatim.

Saya juga jadi tahu bahwa pak Ben ternyata sangat menyukai petilasan jolotundo di tewas mojokerto dan sumbertetek. Dua tempat itu memang luar biasa menariknya. Setidaknya bagi saya. Tenang, hijau, sejuk, bebas polusi, inspiratif. Air di jolotundo pun bisa diminum langsung. Katanya sih jauh lebih bermutu daripada air kemasan sekelas Aqua.

Saking senangnya dengan jolotundo, saya bersama pak bambang theo pelukis senior yang sudah almarhum pernah bikin warung kopi di sana. Sayang, bu jono malah menjualnya ke orang lain. Sejak itulah saya mulai jarang naik ke pertigaan suci umat hindu itu.

Ehmmm... Pak ben ternyata punya kegemaran yang sama dengan saya. Sama-sama suka jolotundo. Saya juga sering memergoki orang barat yang meditasi atau nyemplung mandi ke sumur di pojok itu. Katanya sih manfaat spiritualnya banyak.

Pak ben anderson memang luar biasa.. buat saya. Dua kali saya ikut seminarnya dan selalu terpukau. Penguasaannya atas masalah-masalah di tanah air jauh melebihi profesor asli indonesia. Apalagi wartawan yang generalis, sepotong-sepotong di permukaan saja. Pak ben ibarat empu yang nyemplung di sumur ilmu yang luar biasa dalamnya.

Berbeda dengan indonesianis lainnya, saya dibuat geleng kepala dengan kefasihan bahasanya. Bukan hanya bahasa indonesia baku, formal, ejaan yang disempurnakan, bahasa modern ala pusat bahasa, beliau sangat jago menggunakan bahasa tempo dulu, melayu tionghoa, dan gaya indonesia timur. Dan itu beliau pakai untuk bikin makalah panjang ilmiah kelas internasional. Padahal orang papua, flores, maluku, timor dsb tidak pernah menggunakan ragam bahasa informal alias melayu pasar itu untuk suasana formal.

Karena itu, membaca buku atau artikel benedict anderson rasanya macam kita omong-omong di warkop, santai, geli, ketawa, tapi juga jengkel kalau ada informasi yang bikin kita bilang puki mai, tak kucing dan sejenisnya.

Gaya bahasa indonesia lawas ala ben anderson ini bisa kita baca panjang lebar di buku tjamboek berdoeri. Ben menganggap bahasa indonesia sekarang sudah kehilangan kehormatannya, kering, kurang bumbu, mekanis akibat politik orba soeharto. Rezim orba mencuci otak orang indonesia lewat politik bahasa. Maka tak akan ada lagi buku-buku yang asyik dinikmati macam tjamboek berdoeri.

Minggu lalu saya bongkar buku-buku lama. Hehe... ketemu tjamboek berdoeri yang tebal itu. Saya baca lagi tulisan pengantar dari benedict anderson yang panjangnya bisa jadi buku sendiri. Geli-geli sedap. Asyiknya kayak denger baba-baba tionghoa lama bercerita atau orang papua atau flores yang bergurau di lapak sambil minum tuak atau moke. Gak nyangka seminggu kemudian denger kabar kalau pak Ben berpulang setelah berziarah di jolotundo dan sumbertetek.

Selamat jalan pak ben!

Kitorang kirim doa supaya pak ben bisa istirahat dengan tenang di alam sana dan disayangi oleh sang pencipta.

13 December 2015

Pertobatan dan kerahiman Allah

Sudah setahun ini saya selalu misa Sabtu petang, 17.00-18.20. Maklum, paginya saya ikut acara nggowes sepeda pancal, car free day, dan event-event mingguan yang marak di Sidoarjo. Misa petang juga asyik karena udara lebih sejuk dan gerejanya tidak sesak.

Kalau imisa Minggu pagi atau sore, wah... sangat sulit dapat tempat duduk karena jemaatnya membeludak. Belum lagi hawa yang panas, khususnya misa jam 07.00 atau 09.00, meskipun ada kipas angin dan AC.

Nah, beberapa jam lalu saya ikut ekaristi di kawasan Wonokromo, Surabaya. Misa dipimpin Romo Wayan Eka SVD, pastor asal Bali yang suaranya keras dan antusias. "Hari ini tidak ada khotbah. Diganti surat gembala dari Uskup Surabaya," ujar sang romo saat misa hari Minggu ketiga Adven.

Seperti biasa, surat gembala selalu ditulis menggunakan kalimat-kalimat resmi gerejawi yang tidak mudah bagi awam. Banyak kutipan dokumen dalam bahasa Latin. Kutipan Alkitab. Namun, inti surat gembala Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono ini adalah ajakan untuk bertobat. Demi menghadirkan kerahiman Allah.

Tema ini sesuai pesan Paus Fransiskus di Vatikan yang juga menekankan hal yang sama: menghadirkan kerahiman Allah. Uskup Surabaya kemudian menjelentehkan 10 wujud pertobatan itu. Mulai dari imam, katekis, suster, frater, pengurus dewan paroki, staf paroki, keluarga Katolik, hingga hubungan kemasyarakatan dan sosial karitatif.

Yang nyantol di kepala saya adalah pesan untuk keluarga-keluarga Katolik. Bapa Uskup mengajak umat Katolik untuk menumbuhkan kembali kebiasaan berdoa bersama, sharing, saling mendoakan, saling memaafkan dalam keluarga. Hindari aneka bentuk gosip. Biasakan menggunakan kata-kata positif, saling memaafkan, berbagi, musyawarah, pujian, peneguhan.

Kebiasaan doa bersama inilah yang saya rasa sangat merosot setelah tahun 2000. Begitu banyak hiburan, puluhan channel televisi, internet, media sosial, dsb membuat kehidupan doa, refleksi, lectio divina... sangat meredup.

Saya sendiri biasa menonton siaran sepak bola selama dua jam, tengah malam jelang subuh, tapi tidak bisa berdoa lama-lama. Pertandingan bola kayaknya lebih penting daripada berdoa. Padahal, umat beragama itu dituntut melakukan komunikasi intensif dengan Tuhan lewat doa-doa, ekaristi, katekese, dsb.

Di Surabaya dan Sidoarjo ini saya hampir tidak melihat ada acara doa lingkungan atau doa rosario dari rumah ke rumah macam di Jember atau Malang (apalagi Flores). Umat Katolik memang rajin misa, gereja sesak, tapi doa bersama ala umat tempo doeloe makin jarang dilakukan.

Kebiasaan doa angelus tiga kali sehari malah dianggap asing oleh umat Katolik di kota besar. Termasuk orang-orang yang bekerja di lingkungan gereja (paroki). Di kantin-kantin paroki malah tidak ada kebiasaan doa angelus pukul 12.00. Bagaimana pula dengan umat Katolik di rumah tangga atau tempat kerja?

Begitu antara lain pergumulan di otak saya saat menyimak Surat Gembala Uskup Surabaya yang dibacakan Romo Wayan Eka. Intinya: bertobat bertobat bertobat... karena Kerajaan Allah sudah dekat! Salam damai!

12 December 2015

Sulitnya mengetik di keyboard virtual

Sudah dua tahun ini saya belajar mengetik pakai keyboard virtual di Samsung. Tapi tak kunjung berhasil. Salah melulu. Hampir semua kata harus diulang karena a jadi s, f jadi g, j jadi k, c jadi v, dan seterusnya.

Mengetik pakai layar sentuh juga tidak bisa pakai dua tangan. Jari telunjuk kanan yang pegang peranan. Mengetiknya jadi lamaaa banget. Sampai saya belum berhasil menulis satu pun artikel pendek pakai Samsung.

Maka, si Samsung itu lebih banyak sama pakai untuk membaca berbagai lama internet. Sesekali mengintip facebook beberapa grup di Sidoarjo sambil menulis komentar pendek pakai si telunjuk. Kata-katanya juga sering keliru sehingga perlu koreksi berkali-kali. Memang ada fasilitas prediksi kata, tapi tidak selalu pas. Aliran pikiran saya jadi rusak karena harus beberapa kali mengoreksi salah ketik.

Bagaimanapun juga mengetik paling enak itu ya pakai komputer biasa (desktop) atau laptop karena persis mesin ketik biasa. Tapi, begitu mengenal BB, saya jadi keasyikan mengetik pakai jempol. Dua jempol bekerja sama, menemukan huruf-huruf, membentuk kata, kalimat, artikel pendek dan panjang.

Lama-lama dua jempol ini bisa bekerja secara otomatis. Sekarang ini kecepatan mengetik saya pakai jempol sudah nyaris sama dengan desktop. Bahkan, sudah lama saya jarang mengisi konten blog ini dengan laptop atau komputer biasa. Saya begitu menikmati zona nyaman dengan BB yang sederhana tapi sangat efisien.

Ketika (hampir) semua teman meninggalkan BB, beralih ke android si Samsung khususnya, awalnya saya cuek aja. Ngapain pakai keyboard virtual yang salah melulu itu? Tapi, namanya juga tren, mau tidak mau kita harus ikut arus teknologi informasi. Sebab fitur-fitur Samsung jauh lebih banyak, asyik, kecuali mengetiknya yang salah melulu itu - menurut saya.

"Kalau anda tidak belajar ngetik di android bisa ketinggalan zaman. BB itu tidak lama lagi akan mati. Nantinya semua HP pakai layar sentuh," kata teman saya rada sok tahu.

Saya pun mencoba belajar mengetik di kibod vitual. Tapi gagal terus. Beda banget dengan beberapa teman yang kelihatannya sangat asyik menikmati tablet anroid mereka. "Alah bisa karena biasa. Semua itu harus dilatih," kata teman yang pakar IT.

Mengetik pakai jempol di BB pun awalnya susah. Tapi lama-lama keasyikan dan ketagihan. Saya pun membayangkan suatu saat bisa mengetik di Samsung secepat di BB - dengan kesalahan sekecil mungkin. Sayang, sudah setahun ini belum bisa.

Catatan ringan ini pun diketik pakai BB lawas yang sebetulnya sudah kedaluwarsa. Soalnya, tadi saya sempat belajar mengetik pakai kibod di layar sentuh tapi salah dan salah melulu!

11 December 2015

Selamat untuk Semua Calon yang Kalah

Meski tinggal di Surabaya, Tan Mei Hwa sangat paham bahwa Saiful Ilah bakal sulit dikalahkan dalam pemilihan bupati Sidoarjo, 9 Desember 2015. Abah Saiful sudah kaya raya sejak belum lahir. Punya ribuan hektare tambak, puluhan perusahaan, istrinya pun putri juragan kaya.

Abah Saiful calon petahana alias baru menjabat bupati Sidoarjo 2010-15. Sebelumnya jadi wakil bupati selama 10 tahun. Beliau ketua PKB Sidoarjo, tokoh nahdlatul ulama (NU) yang disegani. Begitu banyak modal sosial, modal harta, modal kultural sebagai putra asli Jenggolo, yang membuatnya sulit dikalahkan siapa pun dalam pilkada 9 Desember 2015.

Lha, kok sampeyan berani maju di pilkada Sidoarjo?

"Ya, kita mencoba berusaha, ikhtiar. Soal jadi atau tidak itu kan tergantung kehendak rakyat dan takdir Allah. Manusia cuma melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di bumi Allah," begitu kata-kata Tan Mei Hwa yang selama ini dikenal sebagai ustadah populer di Jawa Timur itu.

Jalan ke pendapa di alun-alun itu kian terjal karena Tan Mei Hwa justru mendampingi cabup Utsman Ikhsan. Orang Sidoarjo tahu Utsman ini bekas narapidana kasus korupsi. Ketika menjabat ketua DPRD Sidoarjo, semua anggota dewan terkena kasus korupsi berjamaah anggaran untuk pengembangan sumber daya manusia. Akal-akalan untuk memperkaya para wakil rakyat sendiri.

Bagaimana bisa menang kalau cabupnya mantan napi? Tapi Tan Mei Hwa bergeming. Dia mengaku diminta PKS untuk mendampingi Abah Utsman agar ikut pilkada.

Warih Andono, ketua DPD Golkar Sidoarjo, juga rela melepaskan jabatannya sebagai anggota DPRD Sidoarjo untuk menantang Saiful Ilah. Bung Warih dari Waru ini tentu sangat paham sosok Abah Saiful. Semua orang tahu elektabilitas Warih sangat rendah. "Tapi kita harus berusaha untuk perubahan Sidoarjo lebih baik. Sudah saatnya pemimpin muda yang mengurusi Sidoarjo," kata Warih Andono.

Abdul Kolik juga mau mundur sebagai anggota DPRD Sidoarjo agar bisa menjadi calon wakil bupati mendampingi Hadi Sutjipto. Kolik bahkan dipecat dari PKB yang dipimpin Saiful Ilah. Padahal, saat pemilu legislatif Kolik berjuang sangat keras agar masuk ke kursi legislatif. Dan Kolik sukses menjadi pengumpul suara terbanyak.

Kok berani-beraninya membuang kursi dewan untuk mengejar kursi wakil bupati yang peluangnya setipis rambut? Itulah yang namanya pengorbanan. Jer basuki mawa beya! Yang namanya perjuangan selalu menuntut pengorbanan.

MG Hadi Sutjipto boleh dikata nothing to lose. Dia baru lengser sebagai wakil bupati, tidak ambisius, dan diminta maju pilkada karena "diceraikan" Saiful Ilah. PKB ingin cawabup dari kalangan PKB sendiri untuk kaderisasi pemimpin Sidoarjo lima tahun ke depan. Karena itu, Pak Cip tidak perlu mengorbankan jabatan, harta, uang dsb. Pak Tjip birokrat sejati, bukan pengusaha kaya atau juragan tambak macam Abah Saiful.

Melihat peta kekuatan politik di Sidoarjo, siapa pun tak akan mampu mengalahkan Saiful Ilah. Sekadar mengimbangi saja pun susah. Dan ini terbukti dari hasil perhitungan cepat beberapa lembaga survei kemarin. Saiful Ilah menang sekitar 60 persen, Sutjipto 20 persen, Utsman-Tan Mei Hwa 7 persen, Warih Andono 5 persen.

Tapi, melihat kasus Kota Surabaya jelang pilkada tiga bulan lalu, rasanya kita di Sidoarjo harus angkat topi untuk orang-orang yang berani menantang Saiful Ilah meski tahu peluang menangnya merupakan hil yang mustahal (pinjam istilah Srimulat). Pilkada Surabaya hampir batal karena partai-partai tidak berani menantang Tri Rismaharini yang sangat populer. Buat apa mengusung calon, keluar duit untuk kampanye, biaya macam-macam, kalau sudah bisa dipastikan akan kalah?

Maka, kita juga perlu memberi respek yang luar biasa untuk Pak Rasiyo dan Ning Lucy yang akhirnya maju menantang Bu Risma. Salut juga untuk Partai Demokrat dan PAN yang mau mencalonkan Rasiyo-Lucy... meski sudah tahu bakal kalah. Tanpa paslon-paslon yang mau bertarung, hajatan politik lima tahunan bernama pilkada ini pasti tak akan terjadi.

Saya biasa menganalogikan superioritas petahana macam Bu Risma di Surabaya, Abah Saiful di Sidoarjo, dan Pak Sambari di Gresik ini dengan La Liga Spanyol. Semua pengemar sepak bola tahu bahwa Barcelona itu pasti akan jadi juara Liga Spanyol. Real Madrid sekalipun dibantai 4-0 dan dipermalukan di depan pendukungnya sendiri.

Betapa jauhnya jarak mutu Barcelona dengan 19 tim lain. Tapi semua tim tetap sportif. Mereka tetap berusaha menyuguhkan permainan sebaik mungkin, sesuai dengan kemampuan yang ada. Bahwa nanti akan kalah, (hampir) pasti. Tapi ikhtiar untuk berkompetisi, mengibur penonton di seluruh dunia, menyelamatkan La Liga, itulah kemenangan tertinggi bagi klub-klub tersebut.

Bayangkan bila 19 klub mundur, WO, karena sadar tak akan bisa menang lawan Barcelona! Mungkinkan Messi dkk bermain sendiri di stadion tanpa lawan? Kasus jelang pilkada Surabaya beberapa waktu lalu semakin menunjukkan kepada kita betapa berharganya orang-orang yang bersedia maju untuk berkompetisi. Mereka sesungguhnya pahlawan-pahlawan demokrasi yang sejati.

Salut dan selamat kepada Utsman Ikhsan, Tan Mei Hwa, Hadi Sutjipto, Abdul Kolik, Warih Andono, dan Imam Sugiri di Sidoarjo! Juga selamat untuk Pak Rasiyo dan Ning Lucy di Surabaya! Juga semua pasangan calon kepala daerah di Indonesia. Anda semua pahlawan demokrasi! Anda semua adalah pemenang!

08 December 2015

Warga Urban Enggan Mudik Nyoblos

Pemungutan suara pilkada, Rabu 9 Desember 2015, dinyatakan sebagai hari libur nasional. Dengan begitu, warga bisa menggunakan hak pilihnya tanpa harus terbebani pekerjaan rutin di instansi pemerintah dan swasta. Kalau bisa sih jangan golput!

Tapi rasanya sulit bagi warga urban di kota-kota industri macam Sidoarjo, Gresik, Surabaya untuk pulang nyoblos di kampung. Meski libur nasional, tanggal merah, ongkos bus patas pergi-pulang tidak bisa dibilang murah. Misalnya, dari Terminal Bungurasih ke Banyuwangi, Nganjuk, Cilacap, Blitar, dan sebagainya.

Belum lagi keletihan yang luar biasa karena perjalanan selama 6-10 jam. Belum lagi besoknya harus masuk kerja lagi. "Aku ora nyoblos ora popo," kata Bu Iyem alias Bu Bagong kepada saya satu jam yang lalu.

Bu Iyem ini potret warga urban khas Jawa Timur. Sudah 35 tahun dia tinggal dan bekerja di Surabaya, geser ke Waru Sidoarjo, balik lagi ke Surabaya, kemudian jualan di kawasan perbatasan Surabaya-Sidoarjo di Kecamatan Waru. Tapi KTP-nya tetap Blitar. Karena itu, dia masih punya hak pilih di Blitar sana.

"Masak orang seperti saya (yang penghasilan kecil) harus pulang kampung hanya untuk nyoblos. Wong dari dulu ibu ini ora tau nyoblos, ya ora opo-opo," kata pedagang nasi yang sangat ramah dan asyik ini.

Di kawasan Brebek Industri Sidoarjo dan Rungkut Industri Surabaya (masih satu kompleks) manusia-manusia urban macam Bu Iyem ini lebih banyak lagi. Bukan cuma ratusan tapi ribuan. Mereka tinggal di koskosan, ngontrak, hingga rumah susun sederhana. Ada juga yang sudah punya rumah sendiri.

Sekitar tiga minggu lalu petugas gabungan dari Sidoarjo melakukan semacam operasi yustisi kependudukan di kawasan industri Kecamatan Waru. Hasilnya mencengangkan, tapi sangat bisa dimengerti. Sekitar 45 persen warga yang tinggal di Desa Berbek ternyata pendatang.

Mereka tidak ber-KTP Sidoarjo, melainkan pegang KTP daerah daerah asal masing-masing. Padahal mereka sudah tinggal di wilayah Kabupaten Sidoarjo selama bertahun-tahun. Ada yang 5 tahun, 7 tahun, 10-20 tahun, bahkan lebih 30 tahun kayak Bu Bagong.

"Gimana mau ngurus KTP Sidoarjo, wong kami tidak punya tanah, tidak punya rumah. Belum tentu bulan depan kami masih tinggal di sini," kata seorang buruh pabrik besar di Berbek.

Keberadaan warga urban inilah yang membuat jumlah penduduk Kabupaten Sidoarjo meningkat luar biasa dalam 15 tahun terakhir. Pada awal 2000-an penduduk Sidoarjo masih sekitar 1,5 juta jiwa. Saat ini penduduk resmi sudah mencapai 2,5 juta jiwa. Kalau penduduk musiman ikut dihitung, wah luar biasa banyaknya.

"Saya malah senang banyak orang datang untuk tinggal dan bekerja di Sidoarjo. Ini berarti pertumbuhan ekonomi kita sangat bagus, investasi naik terus, industri terus tumbuh," kata Saiful Ilah, bupati Sidoarjo periode 2010-2015, yang maju lagi dalam pilkada 9 Desember 2015, yang sangat yakin bakal menang telak.

Kembali ke ribuan warga urban yang enggan mudik untuk mencoblos di kampung halamannya itu. Mereka jelas motor ekonomi Kabupaten Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Mojokerto, dsb. Tapi status kependudukan mereka yang masih KTP kampung asal membuat mereka seakan jadi penonton pilkada di Sidoarjo. Sebaliknya, di kampung halaman, mereka juga sepertinya sudah dianggap warga Sidoarjo/Surabaya meskipun masih pegang KTP Blitar macam Bu Bagong.

Karena itu, jika sistem pemilihan umum tidak mengakomodasi status kependudukan warga urban yang ngambang, bisa dipastikan angka golput akan terus bertambah. Lima tahun lalu warga yang mencoblos di Kabupaten Sidoarjo sekitar 60 persen. Sisanya 40 persen golput. Ketua KPU Sidoarjo Zainal Abidin optimistis kali ini partisipasi warga bisa naik jadi 70 persen. Apa mungkin?

"Biarpun aku gak nyoblos, aku tetap berdoa semoga coblosan besok aman, lancar, hasilnya bermanfaat bagi wong cilik," ujar Bu Bagong seraya tersenyum.

Selamat mencoblos!

07 December 2015

Chelsea yang Makin Rusak

Betapa membosankan Chelsea saat dipegang Jose Mourinho. Meski musim lalu jadi juara Liga Inggris, menangan meski tipis-tipis, permainan John Terry dan kawan-kawan sangat membosankan. Tidak heran penonton selalu berteriak "boring, boring, boriiiiiing!!!"

Jose Mourinho tak ambil pusing. Sejak dulu si mulut besar Mou ini tak peduli permainan yang cantik, enak, atraktif macam Barcelona atau AC Milan era 1980an. Bagi Mou, kemenangan adalah segalanya. Tak usah main cantik, banyak goreng, penguasaan bola tinggi, aksi-aksi individual yang ciamik.

Dan Moe selalu dapat justifikasi karena semua tim yang dipegangnya selalu sukses. Termasuk sukses merusak tiki-taka Barcelona dengan serangan balik yang dahsyat. Padahal, Barca yang ditukangi Pep Guardiola merupakan Barca terbaik sepanjang sejarah. Beda dengan Barca sekarang, yang meski masih super, masih kalah bagus daripada Barca Pep. Itu sih menurut saya.

Betapa boring-nya Chelsea membuat kejengkelan saya pun sampai di ubun-ubun. Saya pun berdoa agar Mou gagal juara musim 2015/16 ini. Syukur-syukur terlempar dari 4 besar! Bukankah penonton membutuhkan sepak bola atraktif untuk hiburan?

Rupanya kali ini doa saya terkabul. Bahkan, terkabulnya jauuuuh melebihi bayangan saya. Bukan apa-apa. Saya tak pernah membayangkan Chelsea FC yang sangat kaya-raya, dengan pemain-pemain kelas satu dunia itu berada di posisi papan bawah. Saat menulis catatan ini Chelsea duduk di posisi 14 (dari 20 klub) setelah dipermalukan Bournemouth di depan ribuan pendukungnya.

Padahal Bournemouth ini cuma klub ecek-ecek yang baru promosi ke Liga Inggris. Mungkin harga dua atau tiga pemain Chelsea setara dengan satu tim Ournemouth yang terdiri dari 11 pemain inti dan 5 cadangan.

Hehehe.... Saya pun tertawa sendiri melihat kekonyolan demi kekonyolan pemain Chelsea yang tak jelas kapan berakhir. Saya makin geli saat membaca media online bahwa Jose Mourinho hanya menargetikan posisi ke-6 di klasemen liga. Gila!

Sang juara bertahan, pernah juara Liga Champions, mandi uang, penuh pemain top internasional, cuma segitu targetnya. Benar-benar gak umum. Di mana-mana juara bertahan liga menargetkan juara Champions League dan sudah pasti mempertahankan gelar domestik. Inilah komedi hitam yang tengah dilakoni si Mou mulut besar itu.

Kompetisi masih lama. Pertandingan masih banyak sampai Mei 2016. Tapi, kalau melihat permainan Chelsea yang makin membosankan, kacau, ngawur, lupa cara memasukkan bola ke gawang, bukan tidak mungkin Mou akan merevisi lagi targetnya. Bukan lagi finish di posisi 6, tapi target lolos degradasi alias cukup di posisi 18.

Begitulah. Doa selalu memiliki kekuatan yang misterius. Doa-doa kita terkadang tidak (terasa) terkabul - dan kita pun menggerutu kepada Tuhan. Tapi, dalam kasus Chelsea ini, doa saya terkabul jauh di atas ekspektasi dan membuat saya malah takut sendiri. Takut jangan-jangan Chelsea hilang dari Premiere League. Kalau sampai itu terjadi, Liga Inggris kehilangan salah satu klub kuat yang pernah membelalakkan mata dunia sejak 2004.

06 December 2015

Selamat Musim Hujan! Selamat Advent!

Malam ini, Minggu 6 Desember 2015, cuaca di Surabaya dan Sidoarjo luar biasa menyenangkan. Segar dan sejuk. Hujan baru berhenti beberapa jam yang lalu, merata di berbagai kawasan.

Selamat jalan temperatur 39 hingga 41 derajat Celcius yang luar biasa menyiksa! Selamat datang musim hujan! Saya bisa pastikan musim hujan kali ini dimulai tanggal 5-6 Desember 2015 di Surabaya dan Sidoarjo. Besok, lusa, dst suhu mungkin masih panas, gerah, tapi percayalah hujan akan turun untuk memberi kesejukan. Memberi keseimbangan alam.

Bagi orang Katolik (Kristen umumnya), awal musim hujan ini secara kebetulan bersamaan dengan awal tahun liturgi. Alias Minggu Pertama Masa Adventus (biasa disebut juga Advent atau Adven). Masa persiapan untuk menyambut kelahiran Yesus Kristus pada hari Natal.

Di Jawa Timur, yang umat Nasraninya sedikit, apalagi Katolik, suasana Advent ini sama sekali tidak terasa. Masyarakat luas bahkan tidak tahu masa Advent dan segala pernak-perniknya. Suasana Advent hanya terasa ketika kita memasuki kompleks gereja-gereja Katolik dan mengikuti perayaan ekaristi. Lagu-lagu liturgi, ordinarium, lilin, dsb ditata secara khusus.

Saat masih anak-anak di pelosok Lembata, NTT, guru-guru SD selalu mengajak kami belajar membawakan lagu Gregorian khas masa Advent yang sulit tapi indah. Isinya tentang kerinduan manusia agar Tuhan menurunkan embun keadilan.

"Ya Surga, bukan pintumu... turunkanlah yang adil," begitu lagu Gregorian masa Advent yang sangat terkenal di NTT, khususnya Flores dan Lembata, versi buku Syukur Kepada Bapa (SKB) yang tak pernah saya lupakan.

Versi asli bahasa Latin: "Rorate caeli desuper... Et nubes pluant justum."

Di pelosok NTT yang curah hujannya rendah, musim kemarau berkepanjangan, lagu Rorate ini sering dipakai untuk sembahyang minta hujan. Syair "hujankanlah yang adil" atau "turunkanlah yang adil" sering dimaknai orang-orang kampung secara harfiah sebagai hujan beneran. Lalu orang mengaitkan kemarau panjang, hujan terlambat, karena dosa-dosa manusia.

Dan itu seperti beroleh pembenaran di bait pertama lagu Rorate itu tadi. "Janganlah murka ya Tuhan! Jangan selamanya Kau ingat dosa kami...," begitu antara lain syair di SKB yang masih saya ingat. Versi liturgi di Jawa agak lain dan cenderung lebih taat teks asli bahasa Latin.

Ya, musim hujan dan Advent Pertama sejatinya tidak ada hubungan sama sekali. Lebih-lebih tempo doeloe ketika musim hujan biasanya dimulai pada bulan Oktober. Sehingga Minggu I Advent adalah saat-saat ketika intensitas hujan sedang sangat tinggi. Tapi paling tidak awal musim hujan + Adventus ini menjadi momentum yang sangat tepat untuk refleksi, bertobat, dan mempersiapkan diri menantikan datangnya sang Emanuel.

Selamat musim hujan! Selamat Advent!

05 December 2015

Toko P&D Mencoba Bertahan

"Cak, beli aqua galonan di mana?"

Tukang becak itu menjawab, "Di Toko P&D di sebelah timur lampu merah. Sekitar 200 meter."

"Toko P&D apa?"

"Pokoke P&D! Semua orang sudah tahu yang namanya P&D itu ya tokonya wong Tionghoa di sebelah itu. Tokonya sudah puluhan tahun berdiri," kata mas Becak yang ramah itu.

Benar. Toko seluas separo lapangan bola voli itu dijaga pemiliknya pasangan suami-istri Tionghoa yang sudah sepuh. Usia keduanya mendekati 70 atau sedikit di atas 70. Orangnya ramah sekali. Tuan Tionghoa kemudian meminta seorang penjaga toko, wong Jawa kulonan (logatnya kental Jatim bagian barat) mengambil aqua galonan dari gudang di dalam. Harganya Rp 15 ribu.

"Toko P&D itu artinya apa?" tanya saya kepada cewek kulonan yang murah senyum itu.

"Mboten ngertos Pak! Aku gak ngerti. Pokoke P&D wis! Kok nanya-nanya P&D segala?" tukas sang penjaga toko yang masih 20an itu.

Pancingan saya ternyata gagal lagi. Di Sidoarjo saya pun pernah ngetes pemilik (dan penjaga toko) apa artinya P&D. Tapi jawaban mereka ngambang. Malah ada penjaga toko menjawab ngawur, katanya P dan D itu nama orang. "Mungkin itu inisial nama pendiri toko," katanya.

Saya jadi ingat pengalaman di Jember pada 1990an. Umat Katolik di wilayah kami di Paroki Santo Yusuf itu sering mengadakan doa lingkungan-wilayah di toko P&D milik Tionghoa yang sangat Katolik. Sebelum dan sesudah doa bersama, sambil menunggu hidangan makan malam disiapkan (meski sebenarnya tidak diperbolehkan ketua wilayah), kami sering membahas apa gerangan makna P&D tersebut.

Sang pemilik toko yang Tionghoa itu menjelaskan secara singkat, tapi jelas, arti P&D. Lengkap dengan bahasa Belandanya yang sudah saya lupa. Untung ada mbah Google yang sangat efektif membantu saya: P&D singkatan dari Provisien & Dranken.

Toko P&D adalah toko yang khusus menjual makanan dan minuman. Mulai biskuit, kue-kue, roti, sirup, air mineral, jajanan dsb dsb. Tapi P&D yang di Surabaya ini juga disediakan sabu mandi, sabun cuci, odol... dan di halamannya dijual aneka bibit tanaman hias. Tapi yang menonjol tetaplah makanan dan minuman alias provisien en dranken.

Ada minuman beralkohol? Saya perhatikan miras alias minol diletakkan di bagian pojok. "Kalau kamu butuh bir, saya punya banyak stok," kata Xiangshen sambil tersenyum.

Kehadiran mini market yang semakin masif, khususnya Indomaret dan Alfamart, tidak hanya menggerus pasar toko-toko kelontong lawas, tapi juga toko-toko P&D. Betapa tidak. Sebagian besar barang yang dijual di Alfamart dan Indomaret (juga supermarket besar) tidak lain makanan dan minuman. Harganya pun tak jauh berbeda.

Orang-orang lebih suka berbelanja di minimarket karena lebih sejuk dan nyaman. Begitu mendorong pintu kaca, cewek-cewek cantik secara otomatis (dan mekanis) menyapa kita: "Selamat datang di Indomaret, selamat belanja!"

Mungkin suatu ketika toko-toko P&D ala Tionghoa Hollands spereken bakal hilang ditelan toko-toko modern yang agresif itu. Seperti juga 16 pabrik gula peninggalan Belanda di Sidoarjo yang sekarang tinggal 4 (Candi Baru, Toelangan, Kremboong, Watoe Toelis).

Kembang Jepun Saksi Kerja keras Dahlan Iskan

Oleh Dahlan Iskan

Inilah gedung yang amat bersejarah bagi hidup saya: Kembang Jepun 167 Surabaya. Ketika saya diberi tahu bahwa harian Radar Surabaya akan berkantor di situ mulai 1 Desember 2015, saya pun bersyukur. Gedung yang dibangun pada 1880 tersebut akan terawat.

Di gedung inilah kemampuan saya mulai diuji dalam mengurus perusahaan media: Jawa Pos. Itu terjadi pada 5 April 1982. Saat saya berumur 31 tahun. Saat saya dipercaya memimpin harian Jawa Pos yang nyaris bangkrut saat itu.

Ketika untuk kali pertama menginjakkan kaki di gedung ini, saya ngeri-ngeri penuh harap. Ngeri karena gedung ini kok ruwet sekali. Terasnya penuh warung jualan makanan dan minuman. Suasananya seperti desak-desakan saling berebut sudut. Lantai satu penuh sesak oleh orang dan barang. Orang yang lusuh dan barang yang lama-lama.

Saya sendiri datang ke gedung itu dengan mengenakan kaos dan sandal. Waktu itu saya menjabat kepala biro majalah TEMPO di Jatim. Saya akan diperkenalkan dengan jajaran redaksi Jawa Pos. Ketika saya tiba di situ, tidak ada yang kenal saya. Sambil menunggu tepat pukul 10.00, saya duduk di dingklik dekat warung teh.

Setelah tahu bahwa redaksi Jawa Pos ada di lantai atas, saya pun naik tangga gedung itu. Sebuah tangga lebar model bangunan kuno. Ternyata lantai dua sepi. Ada 8 ruang besar yang pintu-pintunya kuno. Redaksi menempati salah satu ruang besar itu. Sepi. Hanya ada 4 meja kuno, satu pesawat telepon yang dikunci, dan satu teleks kantor berita Antara yang terus berbunyi seperti ada hantu yang terus mengetik.

Ruang besar satunya hanya diisi dua orang yang sudah sangat tua. Di ujung utara ada Pak The Chung Shen. Di ujung selatan ada istrinya. Dua orang inilah yang mengendalikan Jawa Pos. Mereka sudah berumur lebih dari 80 tahun dan, karena itu, merasa tidak kuat lagi mengurus Jawa Pos. Mereka menjualnya kepada PT Grafiti Pers, penerbit majalah Tempo.

Saya sudah kenal beberapa orang redaksi Jawa Pos. Imam Sudjadi, misalnya, adalah sesama pengurus PWI Jatim. Sejak seminggu sebelumnya dia sudah diberi tahu bahwa Jawa Pos akan ganti pemilik dan ganti pimpinan. Dengan tertawa kecil, Imam memberi tahu saya bahwa Pak The sudah membocorkan siapa nama pimpinan baru Jawa Pos nanti.

"Namanya Sahlan," ujar Pak The kepada jajaran redaksi seperti dikutip Imam. Rupanya Pak The salah dengar mengenai nama saya.
Tidak hanya salah dengar, Pak The juga kurang simpati pada calon pimpinan baru itu. Pak The bilang lagi berusaha agar jangan Sahlan itu yang memimpin. Mungkin Pak The mendengar bahwa saya masih terlalu muda, pakaiannya sembarangan, dan kelihatannya tidak intelektual.

Saya tidak peduli dengan penilaian itu. Bahkan, seminggu kemudian, saya minta izin untuk bertamu ke rumahnya. Dia kaget. Saya membawa serta seluruh jajaran redaksi Jawa Pos. Baru sekali itu ada orang redaksi Jawa Pos datang ke rumah Pak The di Jalan Pregolan Surabaya. Di rumah itulah, di depan Pak The dan istrinya, saya mengucapkan sumpah untuk mengembalikan kejayaan Jawa Pos.

Yang hadir, yang sudah begitu lama merasakan penderitaan bekerja di Jawa Pos, bertepuk tangan meriah. Sebagian besar mungkin berharap sumpah itu jadi kenyataan.

Pak The yang berjalannya sudah tidak tegap, dan bicaranya sudah tidak lancar (sebagian karena penguasaan bahasa Indonesianya yang kurang) menyalami saya sambil menunjukkan sisa-sisa semangatnya. Istrinya yang juga penulis buku pelajaran bahasa Mandarin ikut gembira.

Kelak, 10 tahun kemudian, saya sempat menceritakan perkembangan kemajuan Jawa Pos saat saya mengunjunginya di rumah masa tuanya di London. Pemilik asal Jawa Pos itu memang memilih menghabiskan masa tua mereka dengan tiga orang anaknya di Inggris.

Gedung di Kembang Jepun 167 inilah saksi kerja keras saya. Saksi kegilaan saya. Saksi kebangkitan kembali sebuah media yang hampir mati untuk berjaya lagi. Saksi kerja kerasnya teman-teman saya semua. Tim yang benar-benar bekerja seperti orang-orang yang kesetanan. Kerja maksimal dengan fasilitas minimal.

Letak gedung ini yang awalnya dibangun untuk bank ini strategis: dekat salah satu sentral angkutan umum: Jembatan Merah. Ke mana-mana mudah. Inilah gedung yang menjadi saksi siapa yang benar-benar bekerja secara sungguh-sungguh akan memetik hasilnya. (*)

Sumber: Radar Surabaya, 1 Desember 2015

04 December 2015

Abah Saiful vs Pak Cip di Pilkada Sidoarjo

Seminggu menjelang pencoblosan, 9 Desember 2015, suasana kampanye di Sidoarjo tidak terasa. Masyarakat cenderung apatis. Berbeda dengan lima tahun lalu, alat peraga kampanye macam baliho, spanduk, poster, pun nyaris tidak ada.

Suasana serupa juga dialami Surabaya. Apakah karena masyarakat sudah jenuh politik? Tidak mau tahu dengan masa depan kabupaten/kotanya lima tahun ke depan? Bisa jadi.

"Nyoblos gak nyoblos gak ada pengaruhnya. Kehidupan kita ya seperti ini aja," kata Sri, warga Gedangan, penjual nasi di warung sederhana.

Meski terkesan cuek, sebagai aktivis pengajian ibu-ibu muslimat, dia sangat paham politik lokal di Sidoarjo yang berkultur nadiyin. Termasuk empat pasangan calon (paslon) yang berlaga dalam pemilihan bupati kali ini. "Saya sih pilih nomor 3 (Saiful Ilah - Nur Ahmad Syaifuddin)," katanya polos.

Dari empat paslon, berdasar survei beberapa lembaga, paslon 3 ini yang paling kuat. Elektabilitasnya bahkan mencapai 60 persen. Disusul paslon 1 (MG Hadi Sutjipto - Abdul Kolik). Adapun paslon 2 dan 4 dianggap cuma sekadar penggembira saja. Kedua paslon ini nyaris tidak bisa berkampanye ke mana-mana karena tak ada duit. Beriklan di media-media lokal, dengan biaya murah, pun tak mampu.

Utsman Ikhsan, cabup nomor 2, bahkan lebih banyak bersantai di rumahnya. "Saya kan punya tim pemenangan dari PKS dan elemen-elemen lain," kata mantan ketua DPRD Sidoarjo itu.

Adapun Tan Mei Hwa, cawabup pendamping Utsman, rutin mengisi pengajian seperti biasa. Saat ceramah itulah, Mei Hwa menyisipkan pesan-pesan kampanye kepada jamaah. "Lanang thok gak sip," begitu kampanye khas Tan Mei Hwa yang di surat suara bernama Ida Astuti.

Paslon nomor 4, Warih Andono - Imam Sugiri, pun adem ayem. Cuma bagi-bagi brosur, yang dicetak KPU, di kawasan alun-alun setiap Ahad pagi. Pak Warih, ketua Golkar Sidoarjo, bahkan turun sendiri karena gak kuat bayar tim pemenangan. "Saya ingin langsung ketemu masyarakat. Bisa ngomong dan dengar keluhan mereka," katanya.

Maka, pertarungan pada pilkada kali ini sebetulnya hanya mengerucut ke dua paslon saja: Hatiku (nomor 1) versus Bersinar (3). Bersinar punya kelebihan sebagai petahana (incumbent). Bahkan, Saiful Ilah sudah berkuasa di Pendapa Delta Wibawa selama 15 tahun. Dua periode jadi wakil bupati, mendampingi Bupati Win Hendrarso, dan satu periode sebagai bupati 2010-2015.

"Saya akan genapi jadi dua periode untuk menuntaskan program-program yang sudah bagus itu," kata Abah Saiful, sapaan akrab Saiful Ilah. Pengusaha dan juragan tambak asli Sidoarjo ini sangat yakin mendulang suara di atas 50 persen.

Dari segi program, paslon Hatiku dan Bersinar juga tak jauh berbeda. Masih soal jalan raya yang dibuat mulus, pendidikan gratis, kesehatan, pengembangan UMKM, investasi, dan sejenisnya.

Pak Cip yang mantan wakil bupati tentu sangat paham semua yang terjadi di lingkungan Pemkab Sidoarjo lima tahun terakhir. Bahkan, boleh dikata keberhasilan Abah Saiful sejatinya keberhasilan Pak Cip juga. Tapi, seperti kata pepatah 'kerbau punya susu, sapi punya nama', berbagai prestasi Sidoarjo selama lima tahun terakhir diklaim sebagai prestasi Abah Saiful selaku bupati.

Selamat mencoblos! Siapa pun yang terpilih mudah-mudahan semakin membuat Sidoarjo makin maju, makmur, aman, damai, dan menjadi kota hunian yang asyik bagi para pendatang dari seluruh Indonesia!

Kahitna jadi gong festival jazz di Surabaya

Apa yang paling menonjol dari Jazz Traffic Festival di Surabaya kemarin? Jawabnya: Kahitna! Media-media di Surabaya justru memuat penampilan band lawas itu besar-besar. Jadi berita utama di halaman hiburan.

Kok bisa gitu? Festival jazz kok yang dibahas band pop? Band yang setahu saya tidak pernah bikin album jazz? "Tapi lagu-lagunya diaransemen ulang ala jazz," kata seorang kawan yang menyaksikan puncak Jazz Traffic di Grand City Surabaya.

"Pokoknya asyiklah. Gak harus jazz murni. Kalau pasang musisi jazz beneran ya rugi panitianya. Anda tahulah berapa orang sih penggemar jazz di Surabaya," ujar kawan yang gemar berbagai jenis musik, kecuali keroncong itu.

Teman-teman wartawan tentu tidak salah memberitakan Kahitna dengan porsi besar. Itu juga sesuai keinginan panitia yang menempatkan Kahitna sebagai gong. Tapi bagaimana dengan tema "festival jazz" yang selalu dibanggakan itu?

Mengapa makin tahun unsur jazz-nya semakin cair? Bukannya makin kental nuansa jazz? Atau memang beginilah tren musik jazz yang berkembang dalam lima tahun di tanah air. Jazz yang cuma tempelan, label, jes-jesan, bukan jazz beneran.

Sebelum festival jazz ala Suara Surabaya ini digelar, sejatinya ada musisi jazz beneran yang manggung di Surabaya dan Sidoarjo. Rene van Helsdingen, pianis jazz asal Belanda, menghibur warga dengan bus stage-nya secara cuma-cuma. Rene ditemani dua pemusik jazz kawakan Indonesia: Benny Mustafa (drum) dan Jeffrey Tahalele (bas). Ada juga gitaris Oele Pattiselano, Margie Segers (vokal) dan Dira Sugandi (vokal).

Saya sempat menikmati pertunjukan jazz yang bernas itu di depan Gelora Delta Sidoarjo dan halaman East Coast, Surabaya. Meskipun gratis, animo penonton boleh dibilang sangat rendah. Khususnya di Sidoarjo. Di Surabaya, penontonnya banyak, tapi aslinya bukan nonton jazz tapi kebetulan bermalam minggu di taman kuliner itu.

Aneh, tapi begitulah kondisi musik di tanah air pada tahun 2015 ini. Komunitas jazz tumbuh di mana-mana. Di YouTube kita dengan mudah menikmati jutaan rekaman jazz berbagai aliran. Tapi di alam nyata ternyata sangat sulit mengajak orang untuk menikmati musik jazz beneran.

Maka, festival jazz pun lama-lama kehilangan relevansinya.