06 November 2015

Surutnya Ludruk di Surabaya

Oleh Sugeng Irianto
Wartawan Jawa Pos

Surutnya ludruk dari tengah-tengah kehidupan Kota Surabaya seiring dengan dimanfaatkannya gedung-gedung pentasnya di berbagai sudut kota ini untuk sarana ataupun fasilitas lainnya. Seiring juga dengan tergesernya masyarakat asli Surabaya ke kawasan pinggiran sebagai tempat tinggalnya.

Padahal, yang namanya ludruk pernah berada di masa kejayaannya, era 1960an-70an. Kala itu artis ludruk mendapat kehormatan yang cukup tinggi di masyarakat. Amatlah bangga seseorang bila "diolok-olok" sebagai pemain ludruk. Apalagi dagelan ludruk (ludrukan).

Kalau itu memang demam ludruk. Tak sehari pun Surabaya tanpa pentas ludruk. Maklum, gedung pentas menyebar di berbagai tempat. Bahkan di tengah kota kelompok ludruk tumbuh kembang cukup banyak.

Gedung yang sering dipakai pentas ludruk atau istilah bekennya nggedhong antara lain Gedung Paulus (Jalan Dinoyo), Juwita (Girilaya), Cantik (Banyuurip), PJKA (Tidar), kranggan (Wijaya Shopping Center), Kupang Segunting (Pandegiling), Madu Mas (Pulo Wonokromo), Widodo (Jl Gresik), dan masih banyak lagi.

Di era 1960an ludruk lebih banyak membawakan lako perjuangan kepahlawanan atau cerita rakyat yang telah dipakemkan. Misalnya Sarip Tambakoso, Sawunggaling, Untung Suropati. Tahun 70an ludruk sempat menjadi hiburan primadona. Lakonnya lebih variatif. Hingga mampu menyedot banyak iklan dari perusahaan-perusahaan untuk memperkenalkan produknya. Seperti produk jamu modern.

Ludruk yang populer pada era 60an hingga 70an antara lain Gema Tribrata, Tansah Trisno, Vijaya Kusuma, Karya Sakti, Sari Warni, Sari Murni, Irama Baru, Bintang Surabaya, termasuk gongnya Ludruk RRI Surabaya.

Di ujung 70an ke era 80an rasanya ludruk mulai meredup. Nyaris tak ada lagi perusahaan yang bekerja sama untuk menawarkan produknya. Sedikit demi sedikit gedung yang dulunya untuk nggedhong (pentas dalam kurun waktu tertentu) mulai dialihfungsikan.

Kelompok ludruk pun lambat laun, satu per satu bubar (vakum). Bahkan para pimpinan ludruk hanya memegang nomor induk grup ludruk tanpa anggota tetap. Maka, jika ada job manggung, pimpinan tersebut sibuk mengumpulkan para anggota dengan main comot sana comot sini. Kondisi main comot anggota itu terjadi hingga sekarang.

Jadi, kesimpulannya, kehidupan ludruk makin lesu. Meski sebagian pihak membantahnya. Bantahan bahwa ludruk masih eksis itu juga masih bisa dibenarkan mengingat di kawasan pinggiran masih kerap ada pentas ludruk. Itu pun terbatas pada orang punya hajat saja. Di Surabaya kesenian ludruk ini sudah jarang ditemui. Kalaulah ada, sering pentas di Pulo Wonokromo, jumlah penontonnya sangat memprihatinkan.

Dimuat Radar Surabaya edisi 5 Juni 2006.

Catatan: Ludruk Irama Budaya di Pulo Wonokromo kemudian pindah ke THR Jalan Kusuma Bangsa. Penontonnya makin berkurang sehingga tidak bisa pentas setiap malam. Pertunjukan hanya diadakan malam Minggu saja. Itu pun penontonnya tidak sampai 20 orang. Setelah ditinggal mati pimpinannya, Sakiyah Sunaryo, Ludruk Irama Budaya ini makin senen-kemis.

No comments:

Post a Comment