24 November 2015

Surabaya masih 40-42 Celcius

Sepuluh menit lalu saya melintas di kawasan Wonokromo Surabaya. Wow, suhu udara yang tercatat di termometer digital milik sebuah perusahaan AC 40 derajat Celcius. Panas banget!

Beberapa hari lalu bahkan sempat 41 Celcius. Ada teman yang bilang pernah melihat angka 42. Angka-angka Celcius yang sudah menembus 40 jelas mengkhawatirkan. Sangat tidak nyaman. Jangankan 40, suhu 35 derajat saja sudah gerah bukan main. Orang Barat yang biasa menikmati hawa di bawah 20 derajat Celcius dijamin akan terpanggang kalau jalan kaki siang bolong di Surabaya.

Sudah sekitar tujuh tahun saya agak rajin mengamati temperatur di Surabaya dan Sidoarjo. Trennya memang cenderung meningkat. Tahun 1990an, apalagi 1980an, Surabaya juga sudah panas. Ingat, syair lagu Bis Kota dari Franky Sahilatua yang terkenal itu! Tapi sepanas-panasnya suhu udara waktu itu rasanya tidak sampai 40 derajat Celcius.

"Sekarang ini menyegat banget," kata Om Jon, 70an tahun, yang sejak lahir sampai tua tinggal di Surabaya. "Di daerah Ngagel sini malah agak sejuk karena penuh dengan tanaman dan sawah," sang Om menambahkan.

Lelaki Tionghoa ini mengaku mulai merasakan perubahan suhu yang dratis pada akhir 1990an. Setelah tahun 2000, sampai sekarang, makin sulit tidur di kamar tanpa kipas angin atau AC meskipun malam hari. Tidak heran penjualan AC di Surabaya sangat tinggi. "Masih untung Bu Risma (mantan wali kota) rajin nanam pohon dan bikin taman. Kalau tidak, mungkin Surabaya lebih panas lagi," katanya.

Kenaikan suhu juga dibarengi dengan perubahan musim. Awal musim kemarau yang dulu selalu jatuh pada bulan Oktober, kini bergeser sangat jauh. Saat ini, 24 November 2015, di Sidoarjo belum ada hujan sama sekali. Di Surabaya hujan dua kali tapi cuma gerimis. Lalu, kapan musim hujannya?

BMKG di Juanda, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, memperkirakan musim hujan baru mulai Desember. Awal Desember masih pemanasan, sementara musim hujan sebenarnya baru minggu ketiga atau keempat.

Ya, kita pasrahkan saja kepada Sang Pencipta yang punya kuasa untuk menurunkan hujan ke bumi ini. Meskipun sudah ribuan orang, bahkan jutaan, berdoa minta hujan, air tak kunjung dicurahkan dari langit.

Lama musim hujan pun tak lagi simetris. Kalau guru-guru di SD saya dulu mengatakan musim hujan dan kemarau di Indonesia masing-masing 6 bulan, sekarang teori lama itu gugur. Kemaraunya jauh lebih panjaaaaang daripada hujan. Musim hujan tak lagi 6 bulan, tapi mungkin cuma 4 bulan. Bisa jadi cuma 3 bulan saja.

Sulit membayangkan masa depan bumi ciptaan Tuhan ini 50 tahun mendatang. Akankah kemaraunya makin panjang atau justru makin banyak hujan? Atau, sebegitu kacaunya climate change sehingga tak ada lagi yang bisa meramal musim? Akankah suhu Surabaya semakin panas mendekati negara-negara Timur Tengah yang gersang itu?

1 comment:

  1. Jaman saya kecil dulu (1970-80an) di daerah dekat Soto Pak Sadi Jalan Ambengan, kalau pagi sangat nyaman, sekitar 28C. Kalau siang sepanas-panasnya 34C. Ini bukan pemanasan global bung, tetapi efek rumah kaca di Surabaya lokal. Karena pohon-pohon ditebangi, CO2 makin banyak; gedung-gedung tinggi yang ber-AC menyemprot udara panas yang kemudian dikungkung oleh CO2 tsb, sehingga suhu di luar makin panas.

    ReplyDelete