05 November 2015

Ruwetnya masalah sepak bola Indonesia

Bencana asap sangat sulit diatasi meskipun Presiden Jokowi sudah berkantor di kawasan terpapar asap. Tapi, percayalah, saat musim hujan asap-asap itu akan hilang dimakan air hujan. Tunggu saja musim hujan paling lama sebulan lagi.

Kalau masalah asap, yang tersebar di jutaan hektare bisa tuntas, masalah sepak bola nasional masih ruwet. Kedatangan tim FIFA dan AFC sedikit banyak memberi isyarat bakal ada penyelesaian. Tapi juga tidak mudah. Sebab sampai sekarang PSSI masih dibekukan pemerintah.

Karena dibekukan, PSSI yang diketuai La Nyalla dianggap tidak ada. Jelas pemerintah, khususnya menpora, tidak akan mau berurusan dengan La Nyalla dkk yang dianggap tidak ada itu. Tugas dan wewenang PSSI diambil alih tim transisi yang dibentuk pemerintah. Dus, tim transisi itu hakikatnya sama dengan PSSI versi pemerintah.

Anehnya, atau hebatnya, PSSI pimpinan La Nyalla ini justru diakui FIFA dan AFC. FIFA menganggap PSSI hasil kongres di Surabaya itu sah. Tim transisi bentukan pemerintah justru tidak sah. Melanggar statuta FIFA. Maka Indonesia pun disanksi pengucilan dari semua kegiatan sepak bola internasional.

Mumet! Di sinilah repotnya organisasi bola dunia yang posisinya di atas negara. FIFA merasa berhak memaksakan keinginannya atas nama statuta FIFA. Dia tak peduli pengurus asosiasi balbalan itu terlibat mafia judi, ngatur skor, tak bayar pajak, menelantarkan pemain dsb dsb.

Syukurlah, belum lama ini beberapa pengurus FIFA ditangkap karena terlibat skandal korupsi yang luar biasa. Skandal yang selama bertahun-tahun aman-aman saja, tak tersentuh, atas nama statuta dan posisinya di atas negara tadi. Akhirnya, kita sadar bahkan Blatter sang bos FIFA pun ternyata gak bersih-bersih amat.

Lha, kalau FIFA-nya saja gak bersih, bagaimana mau memaksa PSSI dan asosiasi di negara-negara lain bersih, bebas mafia, tidak terikat skandal? Masih lumayan rombongan FIFA mau bertemu Presiden Jokowi dan mendengar masukan tentang kiprah PSSI selama ini. Khususnya sejak dipegang Nurdin Halid.

Selama ini FIFA hanya mau mendengar masukan sepihak dari PSSI, anggotanya yang setia. Masukan yang membuat FIFA selalu mem-backup PSSI, seburuk apa pun kondisinya.

Bagaimana kelanjutan konflik balbalan yang gak mutu ini? Kayaknya masih jauh panggang dari api. Kedatangan FIFA belakangan ternyata menimbulkan masalah baru karena pernyataan petinggi balbalan dunia itu yang plintat-plintut.

Yang pasti, biarpun tidak disanksi FIFA pun tim nasional Indonesia mustahil menjadi juara Asia Tenggara. Juara Asia? Huahuahua.... Ikut Piala Dunia? Hehehehe.....

No comments:

Post a Comment