19 November 2015

RIP Sinyo Aliandoe Pelatih Terbaik

Sebastianus Sinyo Aliandoe meninggal dunia di Jakarta, Rabu 18 November 2017, dalam usia 77 tahun. Mantan pelatih sepak bola tim nasional Indonesia ini sudah lama menderita sakit karena usia lanjut. Almarhum menderita dimensia yang sangat parah dalam beberapa tahun terakhir.

Selamat jalan Om Sinyo! Beristirahatlah dalam damai di sisi-Nya! Saya yakin semua insan sepak bola nasional menundukkan kepala, berdoa, untuk melepas kepergian Om Sinyo ke kediaman abadi di sana.

Sinyo Aliandoe yang lahir di Larantuka, Flores Timur, 1 Juli 1938, merupakan mantan pemain bola yang sangat berkualitas pada masanya. Dia andalan Persija dan tim nasional. Ketika banting setir sebagai pelatih, klub-klub yang ditukangi Om Sinyo selalu tumbuh menjadi tim yang berkarakter dan menuai sukses. Meskipun tim itu tidak juara bersama Sinyo Aliandoe, pola permainan, kerangka tim, sudah disiapkan Om Sinyo.

Kita, orang Indonesia, pernah dibius oleh timnas asuhan Sinyo Aliandoe pada 1985. Timnas ini sukses di fase grup kualifikasi Piala Dunia dan tinggal selangkah lagi lolos ke Piala Dunia. Sayang, Hermansyah, Heri Kiswanto, Dede Sulaeman dkk ditekuk Korea Selatan di babak playoff. Kalah 0-2 di Seoul dan kalah lagi 1-4 di Jakarta.

Tapi pencapaian timnas asuhan Om Sinyo itu belum bisa disamai timnas-timnas sesudahnya. Jangankan sukses di kualifikasi Word Cup, sampai sekarang timnas tidak pernah juara di Asia Tenggara alias sekelas SEA Games. Lawan Malaysia atau Singapura saja kita hampir tidak pernah menang. Padahal, di masa Om Sinyo, Malaysia dan Singapura tak lebih dari kesebelasan pupuk bawang.

"Om Sinyo itu pelatih terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Saya beruntung pernah dilatih beliau," kata Dede Sulaeman, mantan pemain timnas yang kini aktif jadi pelatih balbalan di Jakarta.

Dede Sulaeman, buat saya pribadi, bukan pemain sembarangan. Di masa kecilku, Dede Sulaeman (winger), Hermansyah (kiper), dan Bambang Nurdiansyah (striker) merupakan pemain-pemain idola saya. Bung Dede itu kanan luar yang sangat cepat, taktis, ball winner, mirip-mirip Gareth Bale yang pandai memanfaatkan space longgar. Sangat jarang saya menemukan pemain secepat Dede Sulaiman, dengan umpan lambung yang akurat, seperti bekas bintang timnas itu.

Nah, Om Sinyo memanfaatkan betul potensi Dede Sulaiman, Bambang Nurdiansyah, Heri Kiswanto, Warta Kusumah, yang sangat unik dan hebat, untuk membangun timnas yang berkarakter. Sadar bahwa pemain-pemain kita kalah ball possesion, Om Sinyo mengembangkan counter attack yang mematikan.

Bola dari lini tengah diarahkan ke ruang kosong di sebelah kanan. Dede Sulaiman berlari sangat cepat menyisir pinggir lapangan, bola digiring, lalu crossing ke tengah depan gawang. Peluang golnya sangat besar. Ketika lawan gantian menyerang, Om Sinyo punya jurus jebakan offside yang efektif. Sayang, ketika melawan Korsel, pola baku Sinyo Aliandoe tidak jalan karena terlalu banyak intervensi. Timnas jadi mainan anak-anak Korea.

Saya beruntung menyaksikan langsung Om Sinyo menggembleng pemain-pemain bola di Kota Malang. Saat itu Om Sinyo dipercaya melatih klub Arema Malang yang baru didirikan untuk kompetisi Galatama. Waktu itu Arema 1987 hanya diperkuat pemain-pemain biasa, bukan pemain bintang macam Dede Sulaiman, Rully Nere, atau Heri Kiswanto. Mayoritas pemain-pemain lokal ditambah bekas pemain Niac Mitra yang baru lepas dari sanksi PSSI macam Jamrawi, Mahdri Haris, dan Johanes Geohera.

Maka, Om Sinyo yang pernah berguru ilmu football coaching di Inggris harus putar otak agar Arema bisa bersaing di Galatama. Dibikinlah sistem pressing ketat, ngeyel, selalu merebut bola dengan cepat, main keras - menjurus kasar. Inilah karakter Arema, Singo Edan, yang masih terasa sampai saat ini. Bedanya, sejak akhir 1990an Arema jadi klub elite yang dipenuhi pemain-pemain bintang.

Saya juga masih ingat di Arema generasi pertama pemain kanan luar (sayap kanan) tetap jadi tumpuan utama serangan balik ala Sinyo. Kalau tidak salah, Johanes Geohera, yang juga asli Flores, jadi andalan di sisi kanan. Bola-bola lambungnya jadi santapan empuk Mecky Tata atau Panus Korwa, pemain asal Papua yang kualitasnya sedang saja. Tapi jadi mesin gol Arema saat itu.

Sinyo Aliandoe memang tidak memberikan gelar juara untuk Arema. Dan memang mustahil di tahun pertama dengan materi pemain pas-pasan, dana cekak, selain semangat juang ala singa yang gila (ongis nade). Namun, pelatih-pelatih setelah Om Sinyo akhirnya membawa Arema menjuarai Galatama dan Liga Indonesia.

Begitu banyak anak asuh Om Sinyo yang kini menukangi berbagai tim sepak bola di Indonesia. Termasuk Aji Santoso, mantan pemain Arema, yang jadi pelatih tim nasional. Sayang, kisruh di jagat balbalan yang tak berujung membuat prestasi timnas makin tidak karuan. Jangankan tembus Piala Asia atau Piala Dunia, timnas kita makin merana di Asia Tenggara.

Sekali lagi, terima kasih atas dedikasi Om Sinyo untuk sepak bola Indonesia! Selamat jalan sang legenda!

1 comment:

  1. Mau jadi redaktur nih: "Tapi pencapaian timnas asuhan Om Sinyo itu belum bisa disamakan timnas-timnas sesudahnya". Lebih jelas dan lebih baik jika: "Tapi pencapaian timnas asuhan Om Sinyo itu belum bisa disamai ... ".

    ReplyDelete