06 November 2015

Pak Pangat Sang Motivator Persebaya Berpulang



Siapa pun yang pernah menyaksikan langsung pertandingan Persebaya di Stadion Sepuluh Nopember (atau belakangan di Gelora Bung Tomo) pasti terkesan dengan suara announcer yang menggelegar. Suara besar, berwibawa, membuat ribuan penonton benar-benar bergelora. Itulah suara khas Soepangat, sang penyiar radio dan MC spesialis Persebaya.

Kemarin, 5 November 2015, Pak Pangat meninggal dunia. Kita semua, penggemar sepak bola, khususnya Persebaya, sangat kehilangan pria yang sangat energetik ini. Semoga beliau istirahat dengan tenang di alam sana!

Begitu banyak MC, penyiar, announcer, motivator, apa pun namanya di Surabaya, Jakarta, Malang, dan kota-kota lain. Tapi hampir mustahil menemukan orang yang bisa menggantikan Pak Pangat. Beliau benar-benar roh Persebaya (yang asli), tak pernah sekalipun membiarkan Persebaya bertanding di kandang tanpa suaranya yang menggelegar. Itu dilakukan Pak Pangat sejak 1980an, era Perserikatan, hingga 2015. Di saat Persebaya dilanda perpecahan dan dikucilkan PSSI pimpinan La Nyalla.

"Saya selalu tunggu-tunggu suaranya Pak Pangat. Makanya saya selalu usahakan menonton Persebaya," kata Pak Ismail, warga Waru, Sidoarjo, pendukung berat Persebaya.

Sayang, gara-gara konflik internal, sikap PSSI yang seperti itu, Persebaya yang asli sudah hampir lima tahun tidak terlibat dalam kompetisi resmi. Tentu saja kita tak bisa lagi menikmati suara dahsyat Pak Pangat yang menggetarkan stadion berkapasitas puluhan ribu orang itu. Pak Pangat tak pernah mau menjadi MC laga-laga Persebaya versi La Nyalla yang berubah nama menjadi Bonek FC kemudian Surabaya United itu.

Pak Pangat bukan MC yang hanya bermodal suara dan wibawa. Almarhum bagaikan ensiklopedi hidup Persebaya. Dia menguasai di luar kepala sejarah Persebaya sejak prakemerdekaan, 1927, sampai sekarang. Dia hafal nama-nama pemain, pelatih, manajer, hingga tukang pijat, seksi konsumsi, perlengkapan, keamanan, dan sebagainya.

Pak Pangat sangat khas MC-MC lawas yang punya bakat alam untuk menggerakkan massa. Dia tahu psikologi massa. Apalagi ketika Persebaya kalah di kandang. Sebelum terjadi keonaran, dia langsung angkat mikrofon dan berbicara lantang untuk meredam emosi suporter. Lebih-lebih ketika Persebaya melawan dua tim asal Malang: Arema dan Persema!

Dedikasi Pak Supangat untuk Persebaya sungguh luar biasa. Beliau sedih melihat kondisi sepak bola nasional yang tak kunjung membaik. Berita-berita di koran tidak lagi membahas prestasi, tapi konflik yang tak jelas ujung pangkalnya. Pak Pangat pun sakit keras dan akhirnya menghadap Sang Pencipta.

Pak Pangat, selamat jalan! Semua orang pasti kangen suaramu yang dahsyat menggelegar!

No comments:

Post a Comment