09 November 2015

Ngobrol dengan Rene van Helsdingen di Surabaya



Minggu lalu saya sudah menyaksikan konser jazz Rene van Helsidengan dari atas bus di halaman Gelora Delta Sidoarjo. Tapi rasanya belum puas. Suasana Bus Stage Jazz Tour di Sidoarjo itu terasa adem ayem. Tak sebanding dengan reputasi Rene sebagai seniman jazz internasional asal Belanda.

Maka, saya pun memutuskan untuk menonton lagi kebolehan sang pianis dari atas bus buatan tahun 1978 yang sudah lama disulap jadi panggung musik jazz keliling itu. Saya juga harus ngobrol sama Rene dalam suasana yang agak santai. Syukurlah, niat itu kesampaian.

Ketika menikmati es degan di salah satu warung di East Coast, Pakuwon City, Surabaya, Sabtu malam 7 November 2015, tiba-tiba Rene van Helsdingen muncul. Jalan kaki sambil asyik bertelepon ria. Tak seorang pun yang tahu kalau bule itu seorang pianis jazz kelas dunia. Tak ada yang minta tanda tangan, foto selfie, dsb.

Rene kayak orang biasa saja. Padahal, dialah pemilik bus stage yang dibawa langsung dari Belanda. Padahal, Rene lah yang membuat konser jazz gratis di pelataran pujasera East Coast. Orang Indonesia rupanya lebih kenal penyanyi dangdut, Mulan Kwok, Julia Perez, Inul dsb. Rene van Helsdingen?

"Pak Rene, apa kabar?" saya memperkenalkan diri. Tak lupa saya memuji konsernya di Sidoarjo yang cukup sukses. Meneer yang pernah jadi suami Luluk Purwanto, pemain biola asal Solo, juga seniman jazz, itu pun menyambut antusias. Saya lalu mengajak ngobrol sejenak sembari mendengar sajian band pemuka dari ITS dari kejauhan.

Kelihatannya anda lebih semangat malam ini?

Ya, atmosfer di sini sangat bagus. Masyarakat yang hadir sangat banyak. Jadi, lebih bagus untuk konser.

Kalau di Sidoarjo dan kota-kota lain? (Rene melakukan tur di 23 kota di Jawa dan Bali sejak 11 September sampai akhir November 2015).
Bagus juga sih. Tapi atmosfer di sini (East Coast) saya rasa lebih asyik.

Apakah atmosfer dan jumlah penonton ikut mempengaruhi permainan anda?

Saya sih main musik sesuai hati saya. Penonton banyak atau sedikit, saya harus main dengan bagus. Main dengan hati.

Anda bermain dalam format trio bersama Jefrey Tahalele (bas) dan Benny Mustapha (drum). Apakah format trio ini paling cocok dengan anda?

Trio memang bagus untuk bus stage yang luasnya terbatas. Tidak mungkin band besar. Tapi saya juga kadang dibantu bintang tamu seperti Oele Pattiselano (gitar) di Sidoarjo. Kalau di sini (Surabaya) bintang tamunya cuma Dira Sugandi (penyanyi).

Margie Siegers tidak ikut menyanyi?
Dia ada jadwal di tempat lain. Cukup Dira Sugandi saja.


Oh ya, dulu anda membawa pemusik dari luar seperti Belinda (bas) dan Victor (drum) saat tur pertama anda di Surabaya beberapa tahun lalu. Mengapa tidak membawa mereka ke sini?

Hehehe... Pihak Djarum (sponsor) maunya saya kolaborasi dengan musisi lokal.

Anda cocok dengan Jeffrey dan Benny Mustapha?

Cocok. Sangat cocok. Mereka berdua adalah musisi jazz kawakan yang sudah sangat berpengalaman. Begitu saya main piano, hanya beberapa nada, keduanya sudah bisa membaca apa yang saya inginkan. Inilah keunikan musik jazz yang mementingkan spontanitas dan improvisasi. Kita sering bermain bersama meskipun tidak pernah latihan sebelumnya. Semakin sering bermain bersama, trio kami semakin kompak dan menyatu.


Sejak kapan anda memodifikasi bus menjadi panggung jazz keliling?
Tahun 1982. Sejak itu saya mulai tur ke mana-mana untuk menghibur masyarakat. Sambil memperkenalkan musik jazz di Belanda sampai ke Indonesia. Saya yang sopiri sendiri lho.


Wow, luar biasa! Lantas, bagaimana bus stage itu dibawa ke Indonesia?
Pakai kapal laut. Dari Belanda, saya bawa ke Bremen, Jerman, kemudian diangkut dengan kapal ke Tanjung Priok, Jakarta. 35 hari lamanya. Nanti pulangnya ke Belanda juga diangkut pakai kapal.
Ide memodifikasi bus menjadi panggung konser dari siapa?

Saya sendiri. Saya ingin bisa lebih bebas ke mana-mana bermain musik, mengibur masyarakat, di mana saja. Gak pusing harus bikin stage, sediakan sound system, instrumen, mixer dsb. Sebab semuanya sudah ada di dalam bus itu. Setelah di Surabaya, saya akan ke Tulungagung. Bus itu tinggal parkir di lapangan, persiapan hanya sekitar satu jam, kemudian bisa langsung main.


Oh ya, dulu anda selalu tur ke mana-mana bersama Mbak Luluk Purwanto.

Betul. Tapi sekarang kami sudah berpisah (tak lagi suami-istri). Saya punya istri baru, orang Italia, Luluk juga punya suami baru. Tentu kami punya program dan kesibukan sendiri-sendiri.

Ada program lain setelah tur keliling 23 kota ini?

Ada. Tahun depan rencana konser keliling Pulau Sumatera. Mudah-mudahan bisa terwujud. Oke? Saya mau ganti pakaian dulu untuk manggung.

Oke, dank u wel Meneer Helsdingen! Semoga konsernya sukses!

No comments:

Post a Comment