09 November 2015

Minta Hujan Takut Banjir

Akhir-akhir ini di berbagai kota di Jawa Timur diadakan salat minta hujan. Bahkan, Pakde Karwo sang gubernur sendiri yang meminta agar rakyatnya ramai-ramai melakukan salat minta hujan. Ajakan Pakde rupanya dituruti banyak orang.

Tapi tidak sedikit orang yang memilih netral. Apa kata alam sajalah! Mau dikasih hujan ya syukur, tidak hujan ya sabar aja. Toh, suatu ketika pasti turun hujan juga dari langit. Bisa akhir November, Desember, Januari, dst. Gak diminta pun air hujan akan dicurahkan dari langit kalau memang sudah waktunya.

"Siapa yang jamin setelah doa bersama meminta hujan, langsung turun hujan?" kata teman saya yang agak sekuler.

"Gak ada yang jamin. Namanya aja berdoa, ya akan didengar Tuhan. Tapi kapan dikabulkan, kita tidak tahu," kata saya mengutip omongan yang klise.

"Di Tiongkok dan Rusia itu orang gak pernah berdoa minta hujan. Tapi kok selalu hujan? Tanahnya juga subur? Hasil panen bagus? Negaranya juga maju?" sang teman menambahkan.

Wah, kalau obrolan sudah mau ke ranah teologi, membawa-bawa agama, sebaiknya cepat dibelokkan. Gak ada gunanya. Lebih baik kita pasrah saja, berserah diri kepada sang pencipta. Jadilah kehendak-Mu! Begitu ungkapan klise khas orang Kristen. Manusia boleh meminta hujan, minta panas, minta ini itu, tapi keputusan ada di tangan Tuhan.

Sebagian orang Surabaya dan Sidoarjo, yang tinggal di kawasan langganan banjir, atau pinggir kali, hujan selalu jadi masalah besar. Betapa tidak. Hujan sebentar saja, tidak betul-betul deras, sudah cukup untuk menenggelamkan kampung. Rumah-rumah di pinggir sungai bisa melayang kalau air sungainya penuh.

Genangan air di kota besar makin lama makin tinggi. Dan makin sulit kering. Daerah Bangah, Sawotratap, Wage, Pepelegi, Juanda, Tropodo dll di Kabupaten Sidoarjo saya perhatikan selalu jadi tambak raksasa setiap kali hujan deras. "Susah kita ini. Sekarang di mana-mana orang minta hujan, tapi kalau hujan rumah saya ini tenggelam," kata Mbah Harsoyo, pelukis yang tinggal di Beringinbendo, Taman, Sidoarjo.

Perumahan di bawah jalan layang ini sejak dulu memang langganan banjir di Sidoarjo. Tak usah hujan deras dan lama, 30 menit saja sudah cukup untuk membuat warga kepontal-pontal. Orang berlomba meninggikan rumah, tapi tetap tidak mempan. Makanya, banyak rumah yang dijual atau dikontrakkan. Tapi sulit laku!

Manusia modern sudah lama tak bersahabat dengan alam. Sebaliknya, alam pun tak lagi ramah dengan manusia. Musim kemarau panas luar biasa. Suhu udara di Surabaya 37-40 derajat celcius. Orang berlomba-lomba memasang AC yang berakibat terjadinya pemanasan lagi di luar.

Malang dan Batu yang dulu sejuk pun tak lagi senyaman era 1980an dan 1990an. Kawasan hutan di Jolotundo Trawas, Mojokerto, juga tak lagi sejuk. Minggu lalu saya lihat mas Heri tidur di ruang terbuka tanpa selimut atau sarung. Padahal, dulu mas seniman ini selalu beralas selimut tebal kalau bermalam di Jolotundo.
Sebaliknya, hujan yang dulu dianggap tumpahan rezeki untuk manusia (petani) kini malah jadi bencana. Serba salah! Hujan salah, tidak (pernah) hujan juga salah. Lalu, apakah perlu ada instruksi gubernur untuk salat minta hujan?

Repotnya, di Jawa Timur ini pemerintah provinsi/kabupaten/kota dari dulu tidak siap mengeruk sungai, menyediakan lahan resapan, pompa air, dsb. Makin sedikit tanah kosong atau ruang terbuka hijau di kota yang bisa diandalkan untuk menyerap air hujan. Maka, musim hujan selalu identik dengan bencana tahunan.

1 comment:

  1. Makin lama Surabaya seperti Jakarta. Macet, banjir, sama! Tetapi tanpa kosmopolitannya

    ReplyDelete