01 November 2015

Rene Helsdingen Ngamen di Sidoarjo



Mungkin baru kali ini ada pertunjukan musik jazz di lapangan terbuka di Sidoarjo. Pemusiknya pun kawakan, 58 tahun, seniman jazz senior asal Belanda, lahir di Jakarta, Rene Helsdingen. Suasana di halaman Stadion Gelora Delta yang biasanya dipenuhi lapak-lapak pedagang makanan pun malam Minggu kemarin (31/10/2015) berubah jadi arena pertunjukan jazz.

Panggungnya istimewa dan unik. Bus panjang 14 meter dimodifikasi jadi panggung berjalan. Konsep bus stage ini memang sudah lama menjadi ciri khas Rene Helsdingen. Saya beberapa kali menyaksikan konser dari atas bus ala Rene di Surabaya. Waktu itu bintang tamunya Luluk Purwanto, penggesek biola hebat asli Solo, yang juga istri Rene Helsdingen. Pasangan Londo-Jowo yang sering ngamen ke mana-mana pakai bus stage ini sudah bercerai.

Saya pribadi punya kenangan yang sangat mendalam dengan Meneer Rene van Helsdingen. Sebab, itulah pertama kali saya meliput dan menulis konser jazz sebagai wartawan di Surabaya. Saat itu Rene dkk + Luluk Purwanto gelar konser di halaman Universitas Kristen Petra Surabaya. Halaman kampus terkenal itu benar-benar heboh dan ramai. Dan saya bisa menikmati aksi Rene (piano), Belinda (bas), dan Victor (drum) meskipun tidak pernah mendengar satu pun komposisi yang dimainkan. Kecuali bonus lagu pop Indonesia yang dinyanyikan Luluk Purwanto dan lagu tradisional Selayang Pandang.

Sejak menonton Rene Helsdingen Trio di UK Petra itulah, saya mulai menggauli musik jazz. Mulai dekat dengan komunitas jazz di Surabaya. Mulai rajin menulis catatan seputar jazz secara sederhana untuk dimuat di koran atau iseng-iseng di internet. Mas Agus dari Warta Jazz, Jakarta, malah mengangap saya sebagai salah satu pemerhati jazz di Surabaya. Hehehe....

Maka, begitu mengetahui jadwal ngamen Rene van Helsdingen di
Sidoarjo, hatiku senang bukan kepalang. Ingat masa-masa awal sebagai reporter. Masih pakai kamera yang ada filmnya. Kamera digital, apalagi ponsel pintar, belum populer. Sayang, mbak Luluk yang pernah saya wawancarai itu tidak ikut tur keliling 23 kota di Jawa dan Bali selama tiga bulan ini.

Pianis senior Rene Helsdingen pun tak datang bersama trio bulenya, tapi gandeng seniman jazz Indonesia. Di Sidoarjo Rene bermain bersama Jeffrey Tahalele (bas) dan Benny Mustapha (drum). Kedua pemusik jazz Indonesia ini boleh dibilang sudah kelas maestro. Keduanya sangat fokus menekuni jazz selama puluhan tahun. Jazz sudah jadi darah daging mereka.

Setelah pemanasan oleh band lokal, Rene, Jeffrey, dan Benny naik bus modifikasi itu. Tanpa basa-basi, kata sambutan, tanpa selamat malam dsb, Rene langsung asyik dengan pianonya. Asyik sekali menikmati permainan sang pianis meski kita tak tahu apa lagunya. Komposisi baru karya Rene sendiri. Sebagian penonton masih sibuk bicara dengan temannya, membeli kopi tubruk, camilan, atau jalan-jalan di arena konser yang diramaikan SPG-SPG rokok nan cantik itu.

Sekitar 7 atau 8 menit kemudian, Jeffrey Tahalele mulai merespons sang pianis. Disusul ketukan drum Benny Mustapha. Gitaris Oele Pattiselano ikut mengisi part gitar di beberapa komposisi.

Tenang, tempo lambat, pelan-pelan dinaikkan tempo dan volumenya, sehingga penonton tak punya alasan lagi untuk ngomong sendiri. "Asyik banget. Ini konser jazz paling bagus yang pernah saya nonton," kata Ahmad, mahasiswa asal Samarinda, yang duduk di sebelah saya.

"Jelas asyik karena Rene dkk itu sudah sangat pengalaman. Bus stage-nya dilengkapi sound system kualitas internasional. Rene sering keliling berbagai negara untuk ngamen seperti ini," kata saya disambut anggukan kepala pemuda itu.

Menyaksikan konser jazz ala Rene Helsdingen ini resepnya sederhana: nikmati saja! Biarpun melodi-melodinya belum dikenal, musiknya asing, nikmati saja. Gak usah komentar. Lama-lama kita akan merasakan keenakannya. Beda dengan menonton konser pop yang lagu-lagunya sudah kita kenal di kaset, CD, televisi, internet dsb. Begitu pesan saya kepada mahasiswa yang ternyata hobi nonton konser itu.

Begitulah. Ada sekitar 5 atau 7 komposisi dimainkan Rene, Jeffrey, dan Benny yang menamakan diri MP3 Trio itu. Meneer Rene sama sekali tidak menyebut judul komposisi, tema komposisi, kapan lagu itu dibuat, dsb. Ratusan penonton dibiarkan menikmati musik tanpa basa-basi pidato. Nikmati aja!

"Kami istirahat dulu sekitar 5 menit," kata Rene dalam bahasa Indonesia. Suaranya terlalu rendah sehingga sulit didengarkan. Ketiga pemusik senior ini rupanya perlu minum air putih dan melemaskan otot sejenak di belakang bus setir kiri yang dibawa langsung dari Belanda itu.

Lalu masuk sesi kedua. Suasana lebih cair karena ada penyanyinya. "Selamat malam! Apa kabar Sidoarjo?" sapa Dira Sugandi, penyanyi jazz yang tengah naik daun di Indonesia. "Sidoarjo ternyata panas ya! Habis, saya dari Bandung sih!"

Saya sudah sering melihat Dira Sugandi di televisi atau YouTube. Ternyata kualitas vokalnya jauh lebih bagus di live concert. Dira sengaja memilihkan lagu-lagu jazz, blues, yang tidak terlalu berat. Untuk mencairkan suasana setelah Rene dkk menyuguhkan nomor-nomor instrumental yang panjang dan asing.

"Orang Sidoarjo itu lebih suka musik apa sih?" tanya Dira Sugandi.

"Dangduuut!" teriak beberapa penonton di depan bus stage.

"Oh, dangdut. Dangdut itu memang musik khas Indonesia. Makanya, kami ke Sidoarjo untuk memperkenalkan musik jazz agar lebih dikenal masyarakat," ujar Dira Sugandi. Dia juga turun menemui penonton, ngerjain seorang pemuda yang suaranya fals. "Nggak ada harapan deh!"

Penonton pun tertawa riuh. Lalu Dira membawakan nomor samba yang sedikit banyak punya kedekatan ritmis dengan dangdut. Penonton berkali-kali memberikan aplaus meriah.

Lalu giliran Margie Siegers, penyanyi senior, tampil di sesi terakhir. Aha, Tante Margie masih seperti yang dulu. Meski sudah oma-oma, suaranya tetap bening, tajam, enak, dengan improvisasi yang asyik. Margie Siegers juga banyak berdialog dengan penonton seperti Dira Sugandi.

"Ini pertama kali saya tampil di Sidoarjo," kata Margie. Padahal, sang ratu jazz ini bolak-balik mengisi acara jazz di Surabaya, tetangga Sidoarjo.

Summertime masih jadi lagu andalan Margie Siegers. Kali ini tak ada satu pun lagu jazz Indonesia. Toh, penonton, yang sebagian penggemar jazz asal Surabaya, terlihat puas dan ikut bersenandung.

Malam makin larut, konser Rene Helsdingen pun berakhir. Diwawancarai MC Reza, Rene mengaku senang bisa membawa bus stage, yang ia sopiri sendiri, serta musisi jazz ke Sidoarjo. Ibarat pengamen, Rene mampir ke berbagai kota untuk berbagi keindahan jazz kepada masyarakat.

"Di sini banyak nyamuk," kata Rene sambil bersenandung lagu "banyak nyamuk di rumahku...."

Dari Sidoarjo, Rene menyetir bus buatan 1978 itu ke Malang untuk ngamen di kota apel itu. Kemudian balik main lagi di Surabaya (2 hari), geser ke Tulungagung, Jakarta, Bandung, Depok, dan finish di Jakarta lagi pada 29 November 2015.

Salam jazz!

2 comments:

  1. Selamat Berkarya mas Hurek. Rajin nulis, salut..

    ReplyDelete
  2. jazzer belanda ini memang aktif tur kliling dng bus stage...

    ReplyDelete