28 November 2015

Kopi Manis ala Jazz Traffic Festival

Salut untuk kawan-kawan Suara Surabaya yang rutin mengelar Jazz Traffic Festival. Tidak mudah bikin pertunjukan musik jazz di negeri yang mayoritas masyarakatnya kecanduan dangdut koplo dan pop ringan. Tapi Radio SS tahun ini, 28-29 November 2015, sukses mengadakan JTF untuk kali kelima!

Saya pernah survei kecil-kecilan di Sidoarjo. Sepuluh orang yang berusia di bawah 24 tahun saya sodori pertanyaan sama. "Anda suka musik jazz? Siapa musisi atau penyanyi jazz yang Anda tahu?" Hasilnya: hanya SATU orang yang menyebut Tompi sebagai penyanyi jazz. Sepuluh responden ini semuanya tidak pernah secara khusus menikmati musik jazz.

Saya rasa kondisi di Surabaya tak jauh berbeda dengan Sidoarjo, tetangganya. Jazz bukanlah jenis musik yang digandrungi jutaan orang macam dangdut koplo, dangdut Rhoma Irama, atau band-band pop papan atas macam Noah. Maka, konsistensi Suara Surabaya bikin festival jazz di Surabaya layak diapresiasi setinggi langit.

Sabtu sore, 28 November 2015, saya mampir ke arena Jazz Traffic Festival di Grand City Surabaya untuk merasakan atmosfer pertunjukan. Wow! Festival jazz ini jelas sangat sukses. Ukurannya sederhana saja: begitu banyak calo tiket yang berkeliaran di halaman parkir hingga pintu masuk arena festival.

Para calo ini menawarkan tiket seharga Rp 300 ribu hanya untuk pertunjukan setengah hari (pukul 17-24.00). "Kalau mau nonton dua hari ya Rp 600 ribu. Tiket sudah nggak ada lagi di panitia," kata seorang calo dengan aksen Telo Lema alias Madura kepada saya.

"Bagaimana kalau Rp 200 ribu? Wong saya cuma nonton malam ini. Krakatau Band," ujar saya dengan nada memelas. Hanya sekadar ngetes si calo itu.

"Gak iso Cak! Tetep 300. Kalau sampean gak gelem ya wis. Masih banyak yang butuh kok," tukas lelaki itu uring-uringan.

Saya bergeser ke sisi kanan. Empat calo mencoba mendekati saya. Kali ini tiketnya dijual 250 ribu. Padahal aslinya cuma Rp 120 atau 150 ribu. Saya kembali menawar (pura-pura) tapi si Telo Lema bersikeras menolak. Omongannya malah gak enak didengar. Cuk!

Namanya aja jazz, penontonnya tentu tidak sampai memenuhi stadion sepak bola Tambaksari atau Brawijaya yang bisa mencapai 70 ribu atau 80 ribu orang. Tapi saya perhatikan, suasana Jazz Traffic Festival kali ini sangat menggembirakan. Penonton kebanyakan di bawah 30 tahun. Sangat antusias merespons permainan para musisi. Mau beli tiket yang tidak murah - untuk ukuran pelajar dan mahasiswa.

Dan, itu tadi, calo-calo begitu banyak. Asal tahu saja, para calo di Surabaya ini punya naluri bisnis yang sangat tinggi. Mereka hanya mau terjun ke gelanggang kalau yakin sebuah pertunjukan diminati penonton. "Kalau malam ini belum habis, insyallah, besok ludes," kata si Telo Lema yang lain lagi.

Jazz Traffic Festival ini masih jauhlah dibandingkan Java Jazz di Jakarta yang diperkuat banyak musisi jazz internasional, khususnya USA si embahnya jazz. Tapi nama-nama pengisi festival di Surabaya ini tidak bisa dianggap sepele. Indra Lesmana, Trie Utami. Dwiki Dharmawan, Gilang Ramadhan dari Krakatau yang lama vakum itu. Ada pula Eva Celia yang tak lain putri Indra Lesmana.

Kemudian Barry Likumahuwa, Yura Yunita, hingga Eric Legnini Trio dari Prancis. Sebagai pemanis, ada sejumlah musisi pop, yang kayaknya gak pernah main jazz, ikut mengisi panggung festival macam Kahitna, Yovie Nuno, Judika. Memang ada kecenderungan sejak 10 tahun terakhir ini festival jazz makin tidak ngejes karena musik yang satu ini makin sulit dicerna publik kebanyakan.

Mas Isa, pengasuh Jazz Traffic Suara Surabaya, yang sangat gandrung jazz standar, lagu-lagu lawas macam Girl from Ipanema, Antonio's Song, Fly Me to The Moon... mau tidak mau harus mengakomodasi selera penonton yang tidak seberat dirinya. Ibarat kafe, Jazz Traffic Festival ini menyediakan kopi dengan cita rasa yang berbeda-beda.

Ada kopi pahit banget (tanpa gula), ada kopi yang gulanya sedikit, ada yang agak banyak, ada pula yang terlalu banyak gula. Saking banyaknya gula, rasa kopi asli (jazz) jadi hilang sama sekali. Ora popo, yang penting kemasannya tetap kopi dan warnanya pun masih hitam.

Yang pasti, selama lima kali festival ini, saya belum menemukan seniman jazz sekaliber Bubi Chen (almarhum). Jangankan mendekati virtuositas Bubi Chen, seniman-seniman muda malah lebih suka menyeruput kopi yang banyak gulanya. Padahal, Jazz Traffic ini sejatinya merupakan program apresiasi dan edukasi jazz yang diasuh Bubi Chen di Radio Suara Surabaya sejak 1983 hingga sang maestro tutup usia pada 2012.

No comments:

Post a Comment