22 November 2015

Ingat, Lion Air Bukan Singapore Airlines!

Saya ketawa sendiri membaca teks berjalan di televisi tentang penumpang Lion Air yang mengamuk di Bandara Soekarno-Hatta kemarin. Pesawat JT 778 tujuan Makassar itu delayed sampai ENAM jam. Luar biasa! Enam jam.

Saking kesalnya, sebagian penumpang yang emosional nggerudug pesawat Lion Air (yang lain) yang tengah parkir. Kata-kata makian untuk manajemen perusahaan yang punya pesawat paling banyak ini berhamburan. Syukurlah, Lion Air akhirnya kena batunya. Mudah-mudahan manajemennya terbuka mata, mau memperbaiki kualitas layanan penumpang.

Bagi kami, warga NTT dan Indonesia Timur umumnya, sudah sangat biasa kalau Lion Air delayed. Terlambat satu jam biasa. Telat 1,5 jam juga biasa. Telat 2 jam penumpang mulai panas. Telat 3 jam biasanya sekitar 13 orang penumpang ngamuk di konter Lion Air. Saya pernah mengalami Lion Air terlambat 3,5 jam ke Bandara Kupang, NTT.

Kita cuma dikasih kompensasi satu kotak jajan. Masih lebih enak jajan pasar di Gedangan Sidoarjo atau Pucang Surabaya. Jangan harap penumpang dapat kompensasi berupa uang. Apalagi akomodasi di hotel bagus.

"Bayangkan kalau tidak ada Lion Air, kita sulit bergerak dari Jawa ke NTT. Ingat, jelek-jelek begitu, Lion Air yang berjasa menyediakan jadwal terbang yang sangat banyak. Setiap hari Bung," kata teman saya Frans.

Maka, setiap kali Lion Air terlambat, delayed sampai 2 jam, saya selalu ingat kata-kata Bung Frans itu. Terlambat 3 jam atau 4 jam, toh masih lebih bagus ketimbang naik kapal laut yang hampir 40 jam Surabaya-Kupang. "Bung, tanamkan di kepala Anda bahwa Lion Air itu sudah pasti terlambat 1,5 jam. Dengan begitu, bung tidak akan marah-marah kalau Lion cuma delayed 40 menit atau 60 menit," pesan Frans yang juga pelanggan setia Lion Air (meskipun selalu dikecewakan).

Rupanya, persiapan mental, kesadaran bahwa delayed merupakan ciri khas si Lion tampaknya belum dipunyai sahabat-sahabat kita penumpang tujuan Makassar. Bisa jadi karena selama ini delayed ke Makassar tidak separah ke NTT. Bisa jadi mereka punya gambaran ideal tentang betapa hebatnya layanan maskapai penerbangan di Indonesia.

Semoga kasus Lion Air yang delayed-nya kebangetan di Jakarta, 5 jam, ini jadi pelajaran berharga. Pelajaran buat manajemen Lion Air. Bahwa kesabaran manusia, sepasrah-pasrahnya orang NTT, yang terbiasa kena delayed pun ada batasnya. Silakan delayed, tapi paling lama 60 atau 70 menitlah! Kita tahu kok mustahil menerapkan on time schedule di Indonesia, khususnya di maskapai segmen LCC ala Lion Air.

Para penumpang pun harus sadar sesadar-sadarnya bahwa Lion Air itu bukan Singapore Airlines yang memperlakukan penumpang sebagai raja dan ratu. Salam delayed!

No comments:

Post a Comment