07 November 2015

Demam Gemu FaMiRe di Sidoarjo



Demam lagu dan tarian Gemu FaMiRe rupanya sudah sampai ke Sidoarjo. Setiap Minggu pagi, ratusan warga kota petis itu berkumpul di Jalan Ahmad Yani, kawasan alun-alun, untuk berolahraga bersama. Acara car free day (CFD) yang rutin diadakan Radar Sidoarjo bersama Pemkab Sidoarjo.

Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Sidoarjo biasa menggilir 3 komunitas untuk meramaikan CFD. Biasanya dimulai dengan senam aerobik, kemudian senam-senam lain sesuai giliran: senam jantung sehat, asma, Ling Tien Kung, pernapasan, dsb. Tapi dua bulan belakangan ini ada senam baru: Gemu 432 (Fa Mi Re).

"Senam Maumereeee...," begitu teriakan warga Sidoarjo pengunjung car free day setelah senam tera atau jantung sehat yang didominasi gerakan lambat. Maklum, komunitas ini hampir semuanya di atas 40 tahun. Yang muda-muda maunya gerakan yang energetik dan asyik.

Begitu mendengar Maumere, anak-anak muda yang tadinya nongkrong di taman alun-alun ikut bergabung di jalan raya utama Kota Delta itu. Sementara Bu Sri dkk dari FORMI memutar lagu ceria dari Kabupaten Sikka, Flores, NTT, itu.

"Maumere da gale kota Ende
Pepin gisong gasong
Le'le luk ele rebin ha

Maumere da gale kota Ende
Pepin gisong gasong
Le'le luk ele rebin ha

La le le luk sila sol
Mi fa mi fa sol
Le'le tiding fa fa
Rebing mude mi

Do do do do mi do mi do
gemu fa mi re
ele le... ele le..."

Kalau sudah ramai begitu, Pak Rusman pun naik ke atas panggung. Pria atletis yang baru pensiun dari korps marinir ini menjadi instruktur senam Maumere. Gerakan-gerakan Pak Rusman enteng, sederhana, sangat mudah diikuti. Maklum, dia instruktur senam kawakan di lingkungan TNI AL di Surabaya dan Sidoarjo. Dia juga sudah keliling Indonesia dan cepat sekali menyerap lagu-lagu dan tarian daerah seperti Gemu Famire.

"Senam Maumere ini memang lagi booming di berbagai kota. Iramanya enak, melodinya bagus, gerakan-gerakannya tidak membosankan," kata Pak Rusman kepada saya. "Ini baru seri pertama. Ke depan saya perkenalkan beberapa variasi lagi biar tidak bosan."

Kehadiran Gemu Famire rupanya mengisi ruang kosong senam massal bernuansa Nusantara yang vakum cukup lama setelah Poco-Poco mencapai titik jenuh. Ada juga senam-senam berbasis lagu dangdut hit yang juga ternyata tidak bertahan lama.

Bagi orang NTT, khususnya Flores, melambungnya Gemu Famire ibarat promosi gratis untuk nama Maumere dan Pulau Flores. Selama ini Flores kurang dikenal di Pulau Jawa, kecuali penduduk Jawa yang beragama Katolik. (Maklum, banyak sekali romo asal Flores yang bertugas di paroki-paroki di Jawa). Orang Jawa, yang bukan Katolik, umumnya lebih mengenal Ambon, Maluku, Papua, atau Timor Leste. Orang Flores bahkan sering disamakan dengan Ambon, Papua, atau Timor Leste.

Salut kepada Nyong Franco dan Alfred Gare yang berhasil membuat orang Indonesia demam Gemu Famire. Dulu seniman Maumere juga sukses membuat warga Flobamora (NTT) mabuk kepayang dengan lagu Maumere Manise. Sekarang Gemu Famire jauh lebih dahsyat karena demamnya menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

2 comments:

  1. nah, akhirnya om hurek bikin tulisan tentang lagu fenomenal ini juga, hehehe...

    seperti komen saya di beberapa postingan om hurek, di kalangan kami orang Batak lagu ini lagi populer dan menjadi lagu wajib di pesta-pesta Batak, mulai dari perkawinan, arisan, bona taon (kumpul2 awal tahun), dan sebagainya...

    waktu saya pulang ke kampung ibu di Siantar bulan 8 kemarin, lagu ini hampir setiap hari diputar di angkot, bis Medan-Siantar, penjual2 VCD di Pasar Horas...

    saya pikir orang Maumere harus bangga kalo lagu mereka bisa seterkenal ini... kawan2 saya yg orang Batak pernah bertanya "Maumere itu dimana ya??? seperti apa kotanya???"

    ke depannya mudah2an ada lagu Lamaholot yg bisa populer ya om...

    ReplyDelete
  2. Saya mau belajar bahasa Lamaholot nih, bisa bantu saya?

    ReplyDelete