10 November 2015

Bunuh diri di Jembatan Suramadu

Suasana pagi ini, hari pahlawan, di warkop bu Martini, kaki Jembatan Suramadu agak muram. Ibu asal Madura itu lagi berduka. Keponakannya, Maruli Budi Aji, 19 tahun, meninggal dunia secara tragis. Nyemplung di jembatan Suramadu.

Kepada 20an penggowes sepeda pancal dari Surabaya dan Sidoarjo, Ibu Martini bilang keponakannya itu bunuh diri di Jembatan Suramadu. Persis di tengah jembatan, orang muda itu menjatuhkan diri ke laut. Bluppp! Tubuh putra Gatot Bambang, 52, dan Samsiah, 48, itu hilang ditelan laut Selat Madura.

"Sampai sekarang belum ketemu. Mohon doanya bapak-bapak (dan dua ibu penggowes) agar bisa segera ketemu," ujarnya mencoba tersenyum seperti biasanya.

Beberapa bapak onthelis bertanya mengapa nekat melompat di Suramadu, masalah psikologis, dsb. Tapi suasana tidak kondusif untuk mengungkit cerita dari mulut bu Siti. "Mudah-mudahan masih selamat bu," kata saya mencoba menghibur juragan kopi itu.

Ucapan yang tentu saja basa-basi karena mustahil jasad yang tertelan laut di bawah Suramadu bisa bertahan sampai berjam-jam. Ibu yang ramah itu juga cerita kalau kemarin ada sanak keluarganya yang meninggal dunia. Yang ini sih wajar. "Kalau ketemu (jasadnya), warung ini saya tutup dulu," kata bu Martini.

Lalu para penggowes yang lagi ngopi mulai bikin analisis macam-macam tentang Jembatan Suramadu sepanjang 5,4 km itu. Khususnya kerawanan-kerawanan ketika angin kencang yang membuat sepeda motor jatuh ke laut. "Saya sudah lama khawatir bakal ada yang nekat bunuh diri dari Suramadu. Eh, ternyata kejadian juga," kata seorang penggowes asal Sidoarjo.

Seorang pemilik Polygon baru mengusulkan agar bagian tengah Suramadu dikasih pengamanan berlapis. Sebab titik tengah Suramadu ini paling rawan disalahgunakan orang-orang stres yang nekat terjun bebas untuk bunuh diri atau sekadar cari sensasi. Dia khawatir aksi terjun bebas untuk menjemput ajal ini bakal ditiru orang-orang yang jiwanya terguncang.

Orang bisa bunuh diri di mana saja. Tapi jangan ada lagi yang menggunakan Suramadu. Cukup keponakannya bu Martini itu saja.

No comments:

Post a Comment