18 November 2015

Bu Wati: Terapi Musik untuk Anak Autis



Selama 30 tahun lebih Fransiska Sri Setyowati membaktikan hidupnya untuk anak-anak autis alias anak berkebutuhan khusus (ABK). Pianis dan guru musik senior ini ingin membagikan kebahagiaan lewat musik kepada anak-anak spesial yang kerap dinilai nyeleneh oleh masyarakat luas itu.

"Murid saya di Sforzando ini sebagian ABK. Namanya juga ABK, tingkah laku mereka berbeda dengan anak-anak bisa. Tapi mereka juga punya talenta yang luar biasa dari Tuhan," ujar Bu Wati, sapaan akrab Fransiska Sri Setyowati, pimpinan sekolah musik Sforzando di kawasan Pondok Candra Indah, Kecamatan Waru, Sidoarjo.

Bu Wati, sapaan akrabnya, menyiapkan beberapa kelas untuk melatih anak autis. Ada kelas piano, vokal, dan bahasa Inggris. Suasana pembelajaran berlangsung layaknya di English speaking school. Karena itu, jangan kaget ketika ABK-ABK ini selalu memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris.

"Saya ingin anak-anak berkebutuhan khusus punya kepercayaan diri. Jadi, tidak hanya bisa bermain musik, tapi juga berkomunikasi dan bersosialisasi dengan masyarakat," ujar wanita asal Solo Jawa Tengah itu.

Salah satu ABK yang sangat berbakat adalah Gregory Raphael. Tak hanya fasih berbahasa Inggris, Gregory sangat jago bermain piano. Komposisi-komposisi sulit bisa dimainkan dengan mudah oleh bocah yang murah senyum ini. Gregory tampil dalam piano recital di City of Tomorrow, Bundaran Waru, 23-24 Oktober 2015.

Konsep bertajuk Movie Land itu merupakan ajang bagi para ABK untuk memperlihatkan kemampuan bermain musik, seni peran, hingga berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dengan begitu, masyarakat Sidoarjo dan Surabaya bisa lebih menghargai anak-anak yang dianugerahi talenta berbeda oleh Tuhan. "Itu penting agar anak-anak ABK bisa mandiri saat dewasa. Tidak terlalu bergantung pada orang tuanya," katanya.

Sebagai guru musik berpengalaman, Bu Wati mengaku tidak kesulitan mengajarkan musik kepada para ABK di Sidoarjo. Awalnya memang susah, tapi seiring perjalanan waktu, dia semakin memahami psikologi dan kemauan mereka. Bu Wati serta para asistennya juga selalu berperan sebagai orang tua yang sabar, telaten, dan mau mendengar keluhan siswa.

"Wong siswa normal pun jangan dikira mulus-mulus saja. Pasti ada kendala dan tantangan. Sama saja dengan mengajar ABK," ujarnya.

No comments:

Post a Comment