28 November 2015

Kopi Manis ala Jazz Traffic Festival

Salut untuk kawan-kawan Suara Surabaya yang rutin mengelar Jazz Traffic Festival. Tidak mudah bikin pertunjukan musik jazz di negeri yang mayoritas masyarakatnya kecanduan dangdut koplo dan pop ringan. Tapi Radio SS tahun ini, 28-29 November 2015, sukses mengadakan JTF untuk kali kelima!

Saya pernah survei kecil-kecilan di Sidoarjo. Sepuluh orang yang berusia di bawah 24 tahun saya sodori pertanyaan sama. "Anda suka musik jazz? Siapa musisi atau penyanyi jazz yang Anda tahu?" Hasilnya: hanya SATU orang yang menyebut Tompi sebagai penyanyi jazz. Sepuluh responden ini semuanya tidak pernah secara khusus menikmati musik jazz.

Saya rasa kondisi di Surabaya tak jauh berbeda dengan Sidoarjo, tetangganya. Jazz bukanlah jenis musik yang digandrungi jutaan orang macam dangdut koplo, dangdut Rhoma Irama, atau band-band pop papan atas macam Noah. Maka, konsistensi Suara Surabaya bikin festival jazz di Surabaya layak diapresiasi setinggi langit.

Sabtu sore, 28 November 2015, saya mampir ke arena Jazz Traffic Festival di Grand City Surabaya untuk merasakan atmosfer pertunjukan. Wow! Festival jazz ini jelas sangat sukses. Ukurannya sederhana saja: begitu banyak calo tiket yang berkeliaran di halaman parkir hingga pintu masuk arena festival.

Para calo ini menawarkan tiket seharga Rp 300 ribu hanya untuk pertunjukan setengah hari (pukul 17-24.00). "Kalau mau nonton dua hari ya Rp 600 ribu. Tiket sudah nggak ada lagi di panitia," kata seorang calo dengan aksen Telo Lema alias Madura kepada saya.

"Bagaimana kalau Rp 200 ribu? Wong saya cuma nonton malam ini. Krakatau Band," ujar saya dengan nada memelas. Hanya sekadar ngetes si calo itu.

"Gak iso Cak! Tetep 300. Kalau sampean gak gelem ya wis. Masih banyak yang butuh kok," tukas lelaki itu uring-uringan.

Saya bergeser ke sisi kanan. Empat calo mencoba mendekati saya. Kali ini tiketnya dijual 250 ribu. Padahal aslinya cuma Rp 120 atau 150 ribu. Saya kembali menawar (pura-pura) tapi si Telo Lema bersikeras menolak. Omongannya malah gak enak didengar. Cuk!

Namanya aja jazz, penontonnya tentu tidak sampai memenuhi stadion sepak bola Tambaksari atau Brawijaya yang bisa mencapai 70 ribu atau 80 ribu orang. Tapi saya perhatikan, suasana Jazz Traffic Festival kali ini sangat menggembirakan. Penonton kebanyakan di bawah 30 tahun. Sangat antusias merespons permainan para musisi. Mau beli tiket yang tidak murah - untuk ukuran pelajar dan mahasiswa.

Dan, itu tadi, calo-calo begitu banyak. Asal tahu saja, para calo di Surabaya ini punya naluri bisnis yang sangat tinggi. Mereka hanya mau terjun ke gelanggang kalau yakin sebuah pertunjukan diminati penonton. "Kalau malam ini belum habis, insyallah, besok ludes," kata si Telo Lema yang lain lagi.

Jazz Traffic Festival ini masih jauhlah dibandingkan Java Jazz di Jakarta yang diperkuat banyak musisi jazz internasional, khususnya USA si embahnya jazz. Tapi nama-nama pengisi festival di Surabaya ini tidak bisa dianggap sepele. Indra Lesmana, Trie Utami. Dwiki Dharmawan, Gilang Ramadhan dari Krakatau yang lama vakum itu. Ada pula Eva Celia yang tak lain putri Indra Lesmana.

Kemudian Barry Likumahuwa, Yura Yunita, hingga Eric Legnini Trio dari Prancis. Sebagai pemanis, ada sejumlah musisi pop, yang kayaknya gak pernah main jazz, ikut mengisi panggung festival macam Kahitna, Yovie Nuno, Judika. Memang ada kecenderungan sejak 10 tahun terakhir ini festival jazz makin tidak ngejes karena musik yang satu ini makin sulit dicerna publik kebanyakan.

Mas Isa, pengasuh Jazz Traffic Suara Surabaya, yang sangat gandrung jazz standar, lagu-lagu lawas macam Girl from Ipanema, Antonio's Song, Fly Me to The Moon... mau tidak mau harus mengakomodasi selera penonton yang tidak seberat dirinya. Ibarat kafe, Jazz Traffic Festival ini menyediakan kopi dengan cita rasa yang berbeda-beda.

Ada kopi pahit banget (tanpa gula), ada kopi yang gulanya sedikit, ada yang agak banyak, ada pula yang terlalu banyak gula. Saking banyaknya gula, rasa kopi asli (jazz) jadi hilang sama sekali. Ora popo, yang penting kemasannya tetap kopi dan warnanya pun masih hitam.

Yang pasti, selama lima kali festival ini, saya belum menemukan seniman jazz sekaliber Bubi Chen (almarhum). Jangankan mendekati virtuositas Bubi Chen, seniman-seniman muda malah lebih suka menyeruput kopi yang banyak gulanya. Padahal, Jazz Traffic ini sejatinya merupakan program apresiasi dan edukasi jazz yang diasuh Bubi Chen di Radio Suara Surabaya sejak 1983 hingga sang maestro tutup usia pada 2012.

24 November 2015

Surabaya masih 40-42 Celcius

Sepuluh menit lalu saya melintas di kawasan Wonokromo Surabaya. Wow, suhu udara yang tercatat di termometer digital milik sebuah perusahaan AC 40 derajat Celcius. Panas banget!

Beberapa hari lalu bahkan sempat 41 Celcius. Ada teman yang bilang pernah melihat angka 42. Angka-angka Celcius yang sudah menembus 40 jelas mengkhawatirkan. Sangat tidak nyaman. Jangankan 40, suhu 35 derajat saja sudah gerah bukan main. Orang Barat yang biasa menikmati hawa di bawah 20 derajat Celcius dijamin akan terpanggang kalau jalan kaki siang bolong di Surabaya.

Sudah sekitar tujuh tahun saya agak rajin mengamati temperatur di Surabaya dan Sidoarjo. Trennya memang cenderung meningkat. Tahun 1990an, apalagi 1980an, Surabaya juga sudah panas. Ingat, syair lagu Bis Kota dari Franky Sahilatua yang terkenal itu! Tapi sepanas-panasnya suhu udara waktu itu rasanya tidak sampai 40 derajat Celcius.

"Sekarang ini menyegat banget," kata Om Jon, 70an tahun, yang sejak lahir sampai tua tinggal di Surabaya. "Di daerah Ngagel sini malah agak sejuk karena penuh dengan tanaman dan sawah," sang Om menambahkan.

Lelaki Tionghoa ini mengaku mulai merasakan perubahan suhu yang dratis pada akhir 1990an. Setelah tahun 2000, sampai sekarang, makin sulit tidur di kamar tanpa kipas angin atau AC meskipun malam hari. Tidak heran penjualan AC di Surabaya sangat tinggi. "Masih untung Bu Risma (mantan wali kota) rajin nanam pohon dan bikin taman. Kalau tidak, mungkin Surabaya lebih panas lagi," katanya.

Kenaikan suhu juga dibarengi dengan perubahan musim. Awal musim kemarau yang dulu selalu jatuh pada bulan Oktober, kini bergeser sangat jauh. Saat ini, 24 November 2015, di Sidoarjo belum ada hujan sama sekali. Di Surabaya hujan dua kali tapi cuma gerimis. Lalu, kapan musim hujannya?

BMKG di Juanda, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, memperkirakan musim hujan baru mulai Desember. Awal Desember masih pemanasan, sementara musim hujan sebenarnya baru minggu ketiga atau keempat.

Ya, kita pasrahkan saja kepada Sang Pencipta yang punya kuasa untuk menurunkan hujan ke bumi ini. Meskipun sudah ribuan orang, bahkan jutaan, berdoa minta hujan, air tak kunjung dicurahkan dari langit.

Lama musim hujan pun tak lagi simetris. Kalau guru-guru di SD saya dulu mengatakan musim hujan dan kemarau di Indonesia masing-masing 6 bulan, sekarang teori lama itu gugur. Kemaraunya jauh lebih panjaaaaang daripada hujan. Musim hujan tak lagi 6 bulan, tapi mungkin cuma 4 bulan. Bisa jadi cuma 3 bulan saja.

Sulit membayangkan masa depan bumi ciptaan Tuhan ini 50 tahun mendatang. Akankah kemaraunya makin panjang atau justru makin banyak hujan? Atau, sebegitu kacaunya climate change sehingga tak ada lagi yang bisa meramal musim? Akankah suhu Surabaya semakin panas mendekati negara-negara Timur Tengah yang gersang itu?

23 November 2015

Debat Pilkada Sidoarjo - Lomba Hafal Pancasila

Visi dan misi serta program empat pasangan calon (paslon) bupati-wabup Sidoarjo ternyata tidak jauh berbeda. Itu yang terlihat saat debat kedua yang diadakan di The Sun Sidoarjo pekan lalu. Keempat paslon juga sama-sama
bertekad untuk menyelenggarakan pendidikan gratis 12 tahun di Kota
Delta.

"Kabupaten Sidoarjo punya kemampuan untuk menggratiskan pendidikan mulai SD sampai SMA/MK/MA," ujar Warih Andono, cabup nomor urut 4 yang berasal dari Kecamatan Waru.

Penegasan yang sama disampaikan cabup MG Hadi Sutjipto, Utsman Ikhsan, dan Saiful Ilah. Namun, sebagai petahana (incumbent), Saiful Ilah
mengaku tinggal menyelesaikan program yang sudah dilaksanakan selama lima tahun. Jika terpilih lagi menjadi bupati Sidoarjo, Saiful yang berpasangan dengan Nur Ahmad Syaifuddin ini menyatakan hanya tinggal melanjutkan program yang sudah terbukti selama lima tahun.

Isu penghapusan parkir berlangganan juga kembali disuarakan paslon nomor 4 dan 1. Abdul Kolik, cawabup yang berpasangan dengan MG Hadi Sutjipto, bahkan secara terbuka meminta tanggapan tiga paslon lain terkait rencana Sidoarjo Hatiku meniadakan parkir berlangganan. Cabup Utsman Ikhsan secara diplomatis mengatakan, isu parkir berlangganan jadi ramai karena pengelolaan dan pemanfaatannya yang kurang transparan. "Jadi, tinggal dibenahi saja," kata mantan anggota DPRD Sidoarjo itu.

Sebagai bupati, yang memperkenalkan parkir berlangganan, Saiful Ilah menegaskan, program itu justru membawa manfaat bagi pendapatan asli daerah (PAD). Sebelum ada parkir berlangganan, menurut pria yang akrab disapa Abah Ipul itu, pendapatan dari sektor parkir hanya sekitar Rp 600 juta. "Nah, setelah ada parkir berlangganan naik jadi
Rp 26 miliar," paparnya.

Karena itu, cabup yang juga mantan wakil bupati dua periode itu tidak setuju parkir belangganan dihapuskan. Bagi Saiful, yang paling penting
adalah penertiban juru parkir (jukir) nakal yang merugikan para
pemilik kendaraan bermotor. "Warga yang tidak setuju (parkir
berlangganan) juga bisa mengisi formulir yang sudah disediakan. Jadi, tidak ada paksaan," katanya.

Ada yang menggelikan saat debat kandidat cabup-cawabup Sidoarjo yang disiarkan Kompas TV. Ketika diberi kesempatan bertanya, Imam Sugiri, cawabup pendamping Andono enggan menyodorkan pertanyaan berat. Imam Sugiri malah terkesan ngetes palon lain apakah mereka hafal Pancasila atau tidak. "Temanya kan Pancasila dan seterusnya. Maka, saya meminta para cabup untuk menyebutkan bunyi Pancasila. Untuk para cawabup, silakan menyebut empat pilar kebangsaan," ujar Imam Sugiri.

Sebagian penonton tertawa mendengar pertanyaan cawabup nomor 4 yang dianggap tidak lazim itu. Namun, Cindy Sistyarani dari Kompas TV selaku moderator tetap memberi kesempatan kepada ketiga calon bupati untuk mengucapkan lima sila Pancasila di luar kepala. Cabup Saiful Ilah, yang dibantu cawabup Nur Ahmad Syaifuddin, mengucapkan lima sila Pancasila... meski tidak begitu lancar. Hehehe....

Begitu pula cabup Utsman Ihsan dan MG Hadi Sutjipto. Cawabup Nur Ahmad Syaifuddin pun dengan mulus menyebutkan empat pilar kebangsaan yang dimintakan Imam Sugiri. Yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Nur Ahmad pun tersenyum puas.
Rupanya, jawaban Nur Ahmad yang sudah benar ini kurang disimak oleh Abdul Kolik, cawabup nomor urut 1. Awalnya Kolik dengan lancar menyebut Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. Setelah berpikir agak lama, Kolik menyebut pilar keempat adalah GBHN (Garis Besar Haluan Negara).

Setelah Abdul Kolik, giliran Ida Astuti alias Tan Mei Hwa harus
menjawab empat pilar itu. Sama dengan Kolik, sang ustadah yang malam itu mengenakan setelan merah-merah (juga mengucapkan salam Shalom dan Om Swasti Astu) menyebut Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. Namun, rupanya Tan Mei Hwa terpengaruh oleh jawaban Abdul Kolik yang baru didengarnya.

"Satunya lagi GBHN," kata Tan Mei Hwa seraya tersenyum. Hahahaha.... Bu Ustadah ini rupanya ngawur juga.

Seperti diketahui, GBHN merupakan salah satu produk Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada masa Orde Baru. Setelah reformasi, MPR tidak lagi menyusun GBHN untuk dilaksanakan oleh presiden selaku mandataris MPR. Karena itu, GBHN sudah lama tidak dikenal dalam sistem ketatanegaraan kita di era pemilihan presiden secara langsung. GBHN juga bukan salah satu dari empat pilar yang gencar disosialisasikan oleh semua anggota MPR pada masa reses sejak Taufik Kiemas (almarhum) memimpin lembaga tertinggi negara itu.

22 November 2015

Ingat, Lion Air Bukan Singapore Airlines!

Saya ketawa sendiri membaca teks berjalan di televisi tentang penumpang Lion Air yang mengamuk di Bandara Soekarno-Hatta kemarin. Pesawat JT 778 tujuan Makassar itu delayed sampai ENAM jam. Luar biasa! Enam jam.

Saking kesalnya, sebagian penumpang yang emosional nggerudug pesawat Lion Air (yang lain) yang tengah parkir. Kata-kata makian untuk manajemen perusahaan yang punya pesawat paling banyak ini berhamburan. Syukurlah, Lion Air akhirnya kena batunya. Mudah-mudahan manajemennya terbuka mata, mau memperbaiki kualitas layanan penumpang.

Bagi kami, warga NTT dan Indonesia Timur umumnya, sudah sangat biasa kalau Lion Air delayed. Terlambat satu jam biasa. Telat 1,5 jam juga biasa. Telat 2 jam penumpang mulai panas. Telat 3 jam biasanya sekitar 13 orang penumpang ngamuk di konter Lion Air. Saya pernah mengalami Lion Air terlambat 3,5 jam ke Bandara Kupang, NTT.

Kita cuma dikasih kompensasi satu kotak jajan. Masih lebih enak jajan pasar di Gedangan Sidoarjo atau Pucang Surabaya. Jangan harap penumpang dapat kompensasi berupa uang. Apalagi akomodasi di hotel bagus.

"Bayangkan kalau tidak ada Lion Air, kita sulit bergerak dari Jawa ke NTT. Ingat, jelek-jelek begitu, Lion Air yang berjasa menyediakan jadwal terbang yang sangat banyak. Setiap hari Bung," kata teman saya Frans.

Maka, setiap kali Lion Air terlambat, delayed sampai 2 jam, saya selalu ingat kata-kata Bung Frans itu. Terlambat 3 jam atau 4 jam, toh masih lebih bagus ketimbang naik kapal laut yang hampir 40 jam Surabaya-Kupang. "Bung, tanamkan di kepala Anda bahwa Lion Air itu sudah pasti terlambat 1,5 jam. Dengan begitu, bung tidak akan marah-marah kalau Lion cuma delayed 40 menit atau 60 menit," pesan Frans yang juga pelanggan setia Lion Air (meskipun selalu dikecewakan).

Rupanya, persiapan mental, kesadaran bahwa delayed merupakan ciri khas si Lion tampaknya belum dipunyai sahabat-sahabat kita penumpang tujuan Makassar. Bisa jadi karena selama ini delayed ke Makassar tidak separah ke NTT. Bisa jadi mereka punya gambaran ideal tentang betapa hebatnya layanan maskapai penerbangan di Indonesia.

Semoga kasus Lion Air yang delayed-nya kebangetan di Jakarta, 5 jam, ini jadi pelajaran berharga. Pelajaran buat manajemen Lion Air. Bahwa kesabaran manusia, sepasrah-pasrahnya orang NTT, yang terbiasa kena delayed pun ada batasnya. Silakan delayed, tapi paling lama 60 atau 70 menitlah! Kita tahu kok mustahil menerapkan on time schedule di Indonesia, khususnya di maskapai segmen LCC ala Lion Air.

Para penumpang pun harus sadar sesadar-sadarnya bahwa Lion Air itu bukan Singapore Airlines yang memperlakukan penumpang sebagai raja dan ratu. Salam delayed!

19 November 2015

RIP Sinyo Aliandoe Pelatih Terbaik

Sebastianus Sinyo Aliandoe meninggal dunia di Jakarta, Rabu 18 November 2017, dalam usia 77 tahun. Mantan pelatih sepak bola tim nasional Indonesia ini sudah lama menderita sakit karena usia lanjut. Almarhum menderita dimensia yang sangat parah dalam beberapa tahun terakhir.

Selamat jalan Om Sinyo! Beristirahatlah dalam damai di sisi-Nya! Saya yakin semua insan sepak bola nasional menundukkan kepala, berdoa, untuk melepas kepergian Om Sinyo ke kediaman abadi di sana.

Sinyo Aliandoe yang lahir di Larantuka, Flores Timur, 1 Juli 1938, merupakan mantan pemain bola yang sangat berkualitas pada masanya. Dia andalan Persija dan tim nasional. Ketika banting setir sebagai pelatih, klub-klub yang ditukangi Om Sinyo selalu tumbuh menjadi tim yang berkarakter dan menuai sukses. Meskipun tim itu tidak juara bersama Sinyo Aliandoe, pola permainan, kerangka tim, sudah disiapkan Om Sinyo.

Kita, orang Indonesia, pernah dibius oleh timnas asuhan Sinyo Aliandoe pada 1985. Timnas ini sukses di fase grup kualifikasi Piala Dunia dan tinggal selangkah lagi lolos ke Piala Dunia. Sayang, Hermansyah, Heri Kiswanto, Dede Sulaeman dkk ditekuk Korea Selatan di babak playoff. Kalah 0-2 di Seoul dan kalah lagi 1-4 di Jakarta.

Tapi pencapaian timnas asuhan Om Sinyo itu belum bisa disamai timnas-timnas sesudahnya. Jangankan sukses di kualifikasi Word Cup, sampai sekarang timnas tidak pernah juara di Asia Tenggara alias sekelas SEA Games. Lawan Malaysia atau Singapura saja kita hampir tidak pernah menang. Padahal, di masa Om Sinyo, Malaysia dan Singapura tak lebih dari kesebelasan pupuk bawang.

"Om Sinyo itu pelatih terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Saya beruntung pernah dilatih beliau," kata Dede Sulaeman, mantan pemain timnas yang kini aktif jadi pelatih balbalan di Jakarta.

Dede Sulaeman, buat saya pribadi, bukan pemain sembarangan. Di masa kecilku, Dede Sulaeman (winger), Hermansyah (kiper), dan Bambang Nurdiansyah (striker) merupakan pemain-pemain idola saya. Bung Dede itu kanan luar yang sangat cepat, taktis, ball winner, mirip-mirip Gareth Bale yang pandai memanfaatkan space longgar. Sangat jarang saya menemukan pemain secepat Dede Sulaiman, dengan umpan lambung yang akurat, seperti bekas bintang timnas itu.

Nah, Om Sinyo memanfaatkan betul potensi Dede Sulaiman, Bambang Nurdiansyah, Heri Kiswanto, Warta Kusumah, yang sangat unik dan hebat, untuk membangun timnas yang berkarakter. Sadar bahwa pemain-pemain kita kalah ball possesion, Om Sinyo mengembangkan counter attack yang mematikan.

Bola dari lini tengah diarahkan ke ruang kosong di sebelah kanan. Dede Sulaiman berlari sangat cepat menyisir pinggir lapangan, bola digiring, lalu crossing ke tengah depan gawang. Peluang golnya sangat besar. Ketika lawan gantian menyerang, Om Sinyo punya jurus jebakan offside yang efektif. Sayang, ketika melawan Korsel, pola baku Sinyo Aliandoe tidak jalan karena terlalu banyak intervensi. Timnas jadi mainan anak-anak Korea.

Saya beruntung menyaksikan langsung Om Sinyo menggembleng pemain-pemain bola di Kota Malang. Saat itu Om Sinyo dipercaya melatih klub Arema Malang yang baru didirikan untuk kompetisi Galatama. Waktu itu Arema 1987 hanya diperkuat pemain-pemain biasa, bukan pemain bintang macam Dede Sulaiman, Rully Nere, atau Heri Kiswanto. Mayoritas pemain-pemain lokal ditambah bekas pemain Niac Mitra yang baru lepas dari sanksi PSSI macam Jamrawi, Mahdri Haris, dan Johanes Geohera.

Maka, Om Sinyo yang pernah berguru ilmu football coaching di Inggris harus putar otak agar Arema bisa bersaing di Galatama. Dibikinlah sistem pressing ketat, ngeyel, selalu merebut bola dengan cepat, main keras - menjurus kasar. Inilah karakter Arema, Singo Edan, yang masih terasa sampai saat ini. Bedanya, sejak akhir 1990an Arema jadi klub elite yang dipenuhi pemain-pemain bintang.

Saya juga masih ingat di Arema generasi pertama pemain kanan luar (sayap kanan) tetap jadi tumpuan utama serangan balik ala Sinyo. Kalau tidak salah, Johanes Geohera, yang juga asli Flores, jadi andalan di sisi kanan. Bola-bola lambungnya jadi santapan empuk Mecky Tata atau Panus Korwa, pemain asal Papua yang kualitasnya sedang saja. Tapi jadi mesin gol Arema saat itu.

Sinyo Aliandoe memang tidak memberikan gelar juara untuk Arema. Dan memang mustahil di tahun pertama dengan materi pemain pas-pasan, dana cekak, selain semangat juang ala singa yang gila (ongis nade). Namun, pelatih-pelatih setelah Om Sinyo akhirnya membawa Arema menjuarai Galatama dan Liga Indonesia.

Begitu banyak anak asuh Om Sinyo yang kini menukangi berbagai tim sepak bola di Indonesia. Termasuk Aji Santoso, mantan pemain Arema, yang jadi pelatih tim nasional. Sayang, kisruh di jagat balbalan yang tak berujung membuat prestasi timnas makin tidak karuan. Jangankan tembus Piala Asia atau Piala Dunia, timnas kita makin merana di Asia Tenggara.

Sekali lagi, terima kasih atas dedikasi Om Sinyo untuk sepak bola Indonesia! Selamat jalan sang legenda!

18 November 2015

Bu Wati: Terapi Musik untuk Anak Autis



Selama 30 tahun lebih Fransiska Sri Setyowati membaktikan hidupnya untuk anak-anak autis alias anak berkebutuhan khusus (ABK). Pianis dan guru musik senior ini ingin membagikan kebahagiaan lewat musik kepada anak-anak spesial yang kerap dinilai nyeleneh oleh masyarakat luas itu.

"Murid saya di Sforzando ini sebagian ABK. Namanya juga ABK, tingkah laku mereka berbeda dengan anak-anak bisa. Tapi mereka juga punya talenta yang luar biasa dari Tuhan," ujar Bu Wati, sapaan akrab Fransiska Sri Setyowati, pimpinan sekolah musik Sforzando di kawasan Pondok Candra Indah, Kecamatan Waru, Sidoarjo.

Bu Wati, sapaan akrabnya, menyiapkan beberapa kelas untuk melatih anak autis. Ada kelas piano, vokal, dan bahasa Inggris. Suasana pembelajaran berlangsung layaknya di English speaking school. Karena itu, jangan kaget ketika ABK-ABK ini selalu memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris.

"Saya ingin anak-anak berkebutuhan khusus punya kepercayaan diri. Jadi, tidak hanya bisa bermain musik, tapi juga berkomunikasi dan bersosialisasi dengan masyarakat," ujar wanita asal Solo Jawa Tengah itu.

Salah satu ABK yang sangat berbakat adalah Gregory Raphael. Tak hanya fasih berbahasa Inggris, Gregory sangat jago bermain piano. Komposisi-komposisi sulit bisa dimainkan dengan mudah oleh bocah yang murah senyum ini. Gregory tampil dalam piano recital di City of Tomorrow, Bundaran Waru, 23-24 Oktober 2015.

Konsep bertajuk Movie Land itu merupakan ajang bagi para ABK untuk memperlihatkan kemampuan bermain musik, seni peran, hingga berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dengan begitu, masyarakat Sidoarjo dan Surabaya bisa lebih menghargai anak-anak yang dianugerahi talenta berbeda oleh Tuhan. "Itu penting agar anak-anak ABK bisa mandiri saat dewasa. Tidak terlalu bergantung pada orang tuanya," katanya.

Sebagai guru musik berpengalaman, Bu Wati mengaku tidak kesulitan mengajarkan musik kepada para ABK di Sidoarjo. Awalnya memang susah, tapi seiring perjalanan waktu, dia semakin memahami psikologi dan kemauan mereka. Bu Wati serta para asistennya juga selalu berperan sebagai orang tua yang sabar, telaten, dan mau mendengar keluhan siswa.

"Wong siswa normal pun jangan dikira mulus-mulus saja. Pasti ada kendala dan tantangan. Sama saja dengan mengajar ABK," ujarnya.

13 November 2015

Madura Jadi Provinsi? Mengapa Tidak?

Madura jadi provinsi sendiri? Lepas dari Jawa Timur? Isu ini sedang ramai setelah deklarasi sejumlah tokoh masyarakat Madura pada 10 November 2015. Mereka ingin pulau garam itu bisa menjadi provinsi sendiri.

Pro kontra pun merebak di Jatim. Tapi, bagi saya, Madura memang sangat layak jadi provinsi. Bahkan, biasanya saya secara guyon meminta teman-teman asal Madura agar melakukan sesuatu untuk memprovinsikan Madura. Sebab Madura tidak mungkin maju kalau masih tetap menjadi bagian dari Provinsi Jawa Timur. Kucuran anggaran terbatas. Perbaikan jalan raya dan infrastruktur lain nyaris tidak terasa.

Lihat saja jalan raya lintas Madura dari Kamal atau Suramadu sampai Kaliangen, Sumenep. Jalan raya itu peninggalan Belanda yang nyaris tidak pernah dilebarkan. Bahkan, setelah jembatan Suramadu dioperasikan pun pengembangan jalan raya hampir tidak ada. Solusi kemacetan di Tanahmerah, Bangkalan, yang sebetulnya sangat mudah pun tidak bisa dilakukan pemerintah. Padahal, kalau mau, pemprov, pemkab, atau pemerintah pusat cukup membuat bypass di dekat pasar tradisional yang jadi sumber macet itu.

Sayang, gairah otonomi daerah di awal reformasi, khususnya pemekaran kabupaten dan provinsi, tidak ada di Jatim. Orang Madura pun adem ayem saja. Baru bersuara pada 10 November 2015 alias 17 tahun setelah reformasi. Sangat terlambat! Akibatnya, hampir semua syarat untuk menjadi provinsi belum dipenuhi Pulau Madura. Kecuali mungkin jumlah penduduk dan potensi ekonomi.

Karena tak ada greget otonomi, sampai sekarang Pulau Madura hanya punya 4 kabupaten: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Padahal syarat jadi provinsi minimal 5 kabupaten/kota. Para politisi dan tokoh Madura selama puluhan tahun terlena dan nyaman dengan status quo yang sebenarnya tidak menguntungkan warga Madura. Apa sulitnya membuat kabupaten baru di kepulauan Sumenep? Bangkalan dimekarkan lagi di Kamal? Pamekasan yang luas juga bisa dibagi dua. Sampang kayaknya cukup satu saja.

Sekadar perbandingan, geliat pemekaran daerah ini (meski ada plus minus) sangat terasa di Nusa Tenggara Timur, kampung halaman saya. Bahkan, jauh sebelum era otonomi 2001, para tokoh di 12 kabupaten pada masa Orde Baru, bahkan Orde Lama, sudah punya gagasan untuk pemekaran. Tak hanya ide, tapi juga aksi. Tahapan-tahapan sudah dibuat.

Maka, setelah reformasi, NTT yang awalnya hanya 12 kabupaten, langsung mekar menjadi 20 atau 24 kabupaten/kota. Syarat-syarat menjadi daerah otonomi baru sangat mudah dipenuhi karena embrionya sudah ada. Pulau Lembata yang tadinya masuk Kabupaten Flores Timur misalnya sejak Orde Lama bahkan sudah dipersiapkan jadi kabupaten sendiri. Begitu juga kabupaten-kabupaten baru macam Nagekeo, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.

Maka, Pulau Flores yang di zaman Orde Baru hanya punya 5 kabupaten, sekarang jadi 8 kabupaten. Ditambah Lembata jadi 9 kabupaten. Dus, sudah lebih dari cukup untuk memenuhi syarat agar Flores jadi provinsi sendiri yang lepas dari NTT.

Adapun gagasan dan aksi agar Flores menjadi provinsi sudah dilakukan secara sistematis sejak awal Orde baru. Sekarang tinggal memenuhi beberapa syarat sekunder atau tersier yang jauh lebih enteng ketimbang calon Provinsi Madura. Meskipun banyak polemik, pro kontra, rasanya hanya soal waktu saja Flores jadi provinsi.

Kembali ke Madura. Apakah potensi ekonominya siap? Jawabnya sangat mudah: NTT yang lebih miskin, penduduknya lebih sedikit, jauh dari Surabaya, saja bisa jadi provinsi sendiri (sejak 1958), apalagi Madura. NTB pun saya kira tidak jauh lebih maju daripada Madura. Bangka Belitung, Maluku Utara... apa lebih hebat dari Madura?

Kalau mau lebih ekstrem lagi, Timor Timur, bekas provinsi ke-27 Indonesia, yang lebih terbelakang dari Madura, malah sudah jadi negara sendiri sejak 2002. Masa Madura yang makin maju, punya tokoh sekaliber Prof Dr Mahfud Md, mantan ketua MK, tidak bisa jadi provinsi sendiri?

Masalahnya, selama ini sebagian besar elite politik Madura lebih nyaman menjadi ABG (anak buah Grahadi) ketimbang memikirkan wilayahnya. Mentalitas ABG inilah yang membuat pemilihan gubernur Jatim selalu bermasalah di Madura.

Jazzer tua yang makin berminyak

Menyaksikan Margie Segers di atas panggung, kita seakan lupa bahwa penyanyi jazz ini sudah berusia 65 tahun. Orangnya masih kurus, gesit, lincah, bergerak ke sana sini, bercanda dengan Benny Mustafa (drum) yang juga jazzer kawakan, 76 tahun.

Usai melakukan akrobat scat singing, bikin nada-nada tanpa makna, sarat improvisasi, Margie kasih kesempatan kepada Jeffrey Tahalele (bas) unjuk kebolehan. Lalu Tante Margie minum air putih sambil berjalan di atas bus stage milik Rene van Helsdingen.

"Apa kabar Sidoarjo? Kok gak semangat sih?" teriak Margie Segers membuat ratusan penonton bertepuk tangan riuh.

Malam itu, di halaman Gelora Delta, para jazzer kawakan menghibur penggemar musik di Sidoarjo. Gratis! Rene Helsdingen (piano) + pemilik bus stage + sopir bus, bersama teman-temannya jazzer senior Indonesia lagi tur keliling 23 kota di Jawa dan Bali. Suasananya santai tapi asyik. Khas pertunjukan jazz jalanan yang sangat bermutu.

Suara Margie Segers yang menghabiskan usianya untuk jazz ini tetap saja bening, tajam, dan pas. Tak ada nada-nada yang meleset atau salah bidik. Bandingkan dengan suara penyanyi muda, 20an tahun, sebelumnya yang serak setelah membawakan 5 atau 6 lagu. Resepnya apa?

"Dinikmati aja hidup ini. Jazz itu musik yang asyik untuk dinikmati. Ketemu teman-teman di sini membuat saya senang, tetap semangat," kata Margie yang aktif di musik jazz sejak 1974 ini.

Empat puluh tahun berkecimpung di jazz membuat virus jazz berurat berakar dalam jiwa Margie. Nada-nada yang keluar dari mulutnya pastilah blue note, khas jazz. Lagu apa pun yang dibawakan Margie pasti jadi jazz. Improvisasinya pun terasa wajar, tidak dibuat-buat. Inilah yang membuat Margie Segers selalu terlihat menonjol di berbagai konser jazz di tanah air.

Berbeda dengan musik pop, yang popularitasnya sangat dibatasi usia, biasanya kehilangan penggemar di atas 30 tahun, khususnya wanita, musisi jazz justru makin matang seiring bertambahnya usia. Makin tua makin jadi. Jarang ada penggemar jazz yang gandrung penyanyi 20an tahun yang baru belajar improvisasi, scat singing, sinkopasi, blue note, dsb. Itulah sebabnya, kehadiran Margie Segers, Rene van Helsdingen, Tahalele, Pattiselano, dan Benny Mustafa senantiasa ditunggu penggemar jazz di mana pun.

Salam jazz!

10 November 2015

Bunuh diri di Jembatan Suramadu

Suasana pagi ini, hari pahlawan, di warkop bu Martini, kaki Jembatan Suramadu agak muram. Ibu asal Madura itu lagi berduka. Keponakannya, Maruli Budi Aji, 19 tahun, meninggal dunia secara tragis. Nyemplung di jembatan Suramadu.

Kepada 20an penggowes sepeda pancal dari Surabaya dan Sidoarjo, Ibu Martini bilang keponakannya itu bunuh diri di Jembatan Suramadu. Persis di tengah jembatan, orang muda itu menjatuhkan diri ke laut. Bluppp! Tubuh putra Gatot Bambang, 52, dan Samsiah, 48, itu hilang ditelan laut Selat Madura.

"Sampai sekarang belum ketemu. Mohon doanya bapak-bapak (dan dua ibu penggowes) agar bisa segera ketemu," ujarnya mencoba tersenyum seperti biasanya.

Beberapa bapak onthelis bertanya mengapa nekat melompat di Suramadu, masalah psikologis, dsb. Tapi suasana tidak kondusif untuk mengungkit cerita dari mulut bu Siti. "Mudah-mudahan masih selamat bu," kata saya mencoba menghibur juragan kopi itu.

Ucapan yang tentu saja basa-basi karena mustahil jasad yang tertelan laut di bawah Suramadu bisa bertahan sampai berjam-jam. Ibu yang ramah itu juga cerita kalau kemarin ada sanak keluarganya yang meninggal dunia. Yang ini sih wajar. "Kalau ketemu (jasadnya), warung ini saya tutup dulu," kata bu Martini.

Lalu para penggowes yang lagi ngopi mulai bikin analisis macam-macam tentang Jembatan Suramadu sepanjang 5,4 km itu. Khususnya kerawanan-kerawanan ketika angin kencang yang membuat sepeda motor jatuh ke laut. "Saya sudah lama khawatir bakal ada yang nekat bunuh diri dari Suramadu. Eh, ternyata kejadian juga," kata seorang penggowes asal Sidoarjo.

Seorang pemilik Polygon baru mengusulkan agar bagian tengah Suramadu dikasih pengamanan berlapis. Sebab titik tengah Suramadu ini paling rawan disalahgunakan orang-orang stres yang nekat terjun bebas untuk bunuh diri atau sekadar cari sensasi. Dia khawatir aksi terjun bebas untuk menjemput ajal ini bakal ditiru orang-orang yang jiwanya terguncang.

Orang bisa bunuh diri di mana saja. Tapi jangan ada lagi yang menggunakan Suramadu. Cukup keponakannya bu Martini itu saja.

09 November 2015

Ngobrol dengan Rene van Helsdingen di Surabaya



Minggu lalu saya sudah menyaksikan konser jazz Rene van Helsidengan dari atas bus di halaman Gelora Delta Sidoarjo. Tapi rasanya belum puas. Suasana Bus Stage Jazz Tour di Sidoarjo itu terasa adem ayem. Tak sebanding dengan reputasi Rene sebagai seniman jazz internasional asal Belanda.

Maka, saya pun memutuskan untuk menonton lagi kebolehan sang pianis dari atas bus buatan tahun 1978 yang sudah lama disulap jadi panggung musik jazz keliling itu. Saya juga harus ngobrol sama Rene dalam suasana yang agak santai. Syukurlah, niat itu kesampaian.

Ketika menikmati es degan di salah satu warung di East Coast, Pakuwon City, Surabaya, Sabtu malam 7 November 2015, tiba-tiba Rene van Helsdingen muncul. Jalan kaki sambil asyik bertelepon ria. Tak seorang pun yang tahu kalau bule itu seorang pianis jazz kelas dunia. Tak ada yang minta tanda tangan, foto selfie, dsb.

Rene kayak orang biasa saja. Padahal, dialah pemilik bus stage yang dibawa langsung dari Belanda. Padahal, Rene lah yang membuat konser jazz gratis di pelataran pujasera East Coast. Orang Indonesia rupanya lebih kenal penyanyi dangdut, Mulan Kwok, Julia Perez, Inul dsb. Rene van Helsdingen?

"Pak Rene, apa kabar?" saya memperkenalkan diri. Tak lupa saya memuji konsernya di Sidoarjo yang cukup sukses. Meneer yang pernah jadi suami Luluk Purwanto, pemain biola asal Solo, juga seniman jazz, itu pun menyambut antusias. Saya lalu mengajak ngobrol sejenak sembari mendengar sajian band pemuka dari ITS dari kejauhan.

Kelihatannya anda lebih semangat malam ini?

Ya, atmosfer di sini sangat bagus. Masyarakat yang hadir sangat banyak. Jadi, lebih bagus untuk konser.

Kalau di Sidoarjo dan kota-kota lain? (Rene melakukan tur di 23 kota di Jawa dan Bali sejak 11 September sampai akhir November 2015).
Bagus juga sih. Tapi atmosfer di sini (East Coast) saya rasa lebih asyik.

Apakah atmosfer dan jumlah penonton ikut mempengaruhi permainan anda?

Saya sih main musik sesuai hati saya. Penonton banyak atau sedikit, saya harus main dengan bagus. Main dengan hati.

Anda bermain dalam format trio bersama Jefrey Tahalele (bas) dan Benny Mustapha (drum). Apakah format trio ini paling cocok dengan anda?

Trio memang bagus untuk bus stage yang luasnya terbatas. Tidak mungkin band besar. Tapi saya juga kadang dibantu bintang tamu seperti Oele Pattiselano (gitar) di Sidoarjo. Kalau di sini (Surabaya) bintang tamunya cuma Dira Sugandi (penyanyi).

Margie Siegers tidak ikut menyanyi?
Dia ada jadwal di tempat lain. Cukup Dira Sugandi saja.


Oh ya, dulu anda membawa pemusik dari luar seperti Belinda (bas) dan Victor (drum) saat tur pertama anda di Surabaya beberapa tahun lalu. Mengapa tidak membawa mereka ke sini?

Hehehe... Pihak Djarum (sponsor) maunya saya kolaborasi dengan musisi lokal.

Anda cocok dengan Jeffrey dan Benny Mustapha?

Cocok. Sangat cocok. Mereka berdua adalah musisi jazz kawakan yang sudah sangat berpengalaman. Begitu saya main piano, hanya beberapa nada, keduanya sudah bisa membaca apa yang saya inginkan. Inilah keunikan musik jazz yang mementingkan spontanitas dan improvisasi. Kita sering bermain bersama meskipun tidak pernah latihan sebelumnya. Semakin sering bermain bersama, trio kami semakin kompak dan menyatu.


Sejak kapan anda memodifikasi bus menjadi panggung jazz keliling?
Tahun 1982. Sejak itu saya mulai tur ke mana-mana untuk menghibur masyarakat. Sambil memperkenalkan musik jazz di Belanda sampai ke Indonesia. Saya yang sopiri sendiri lho.


Wow, luar biasa! Lantas, bagaimana bus stage itu dibawa ke Indonesia?
Pakai kapal laut. Dari Belanda, saya bawa ke Bremen, Jerman, kemudian diangkut dengan kapal ke Tanjung Priok, Jakarta. 35 hari lamanya. Nanti pulangnya ke Belanda juga diangkut pakai kapal.
Ide memodifikasi bus menjadi panggung konser dari siapa?

Saya sendiri. Saya ingin bisa lebih bebas ke mana-mana bermain musik, mengibur masyarakat, di mana saja. Gak pusing harus bikin stage, sediakan sound system, instrumen, mixer dsb. Sebab semuanya sudah ada di dalam bus itu. Setelah di Surabaya, saya akan ke Tulungagung. Bus itu tinggal parkir di lapangan, persiapan hanya sekitar satu jam, kemudian bisa langsung main.


Oh ya, dulu anda selalu tur ke mana-mana bersama Mbak Luluk Purwanto.

Betul. Tapi sekarang kami sudah berpisah (tak lagi suami-istri). Saya punya istri baru, orang Italia, Luluk juga punya suami baru. Tentu kami punya program dan kesibukan sendiri-sendiri.

Ada program lain setelah tur keliling 23 kota ini?

Ada. Tahun depan rencana konser keliling Pulau Sumatera. Mudah-mudahan bisa terwujud. Oke? Saya mau ganti pakaian dulu untuk manggung.

Oke, dank u wel Meneer Helsdingen! Semoga konsernya sukses!

Minta Hujan Takut Banjir

Akhir-akhir ini di berbagai kota di Jawa Timur diadakan salat minta hujan. Bahkan, Pakde Karwo sang gubernur sendiri yang meminta agar rakyatnya ramai-ramai melakukan salat minta hujan. Ajakan Pakde rupanya dituruti banyak orang.

Tapi tidak sedikit orang yang memilih netral. Apa kata alam sajalah! Mau dikasih hujan ya syukur, tidak hujan ya sabar aja. Toh, suatu ketika pasti turun hujan juga dari langit. Bisa akhir November, Desember, Januari, dst. Gak diminta pun air hujan akan dicurahkan dari langit kalau memang sudah waktunya.

"Siapa yang jamin setelah doa bersama meminta hujan, langsung turun hujan?" kata teman saya yang agak sekuler.

"Gak ada yang jamin. Namanya aja berdoa, ya akan didengar Tuhan. Tapi kapan dikabulkan, kita tidak tahu," kata saya mengutip omongan yang klise.

"Di Tiongkok dan Rusia itu orang gak pernah berdoa minta hujan. Tapi kok selalu hujan? Tanahnya juga subur? Hasil panen bagus? Negaranya juga maju?" sang teman menambahkan.

Wah, kalau obrolan sudah mau ke ranah teologi, membawa-bawa agama, sebaiknya cepat dibelokkan. Gak ada gunanya. Lebih baik kita pasrah saja, berserah diri kepada sang pencipta. Jadilah kehendak-Mu! Begitu ungkapan klise khas orang Kristen. Manusia boleh meminta hujan, minta panas, minta ini itu, tapi keputusan ada di tangan Tuhan.

Sebagian orang Surabaya dan Sidoarjo, yang tinggal di kawasan langganan banjir, atau pinggir kali, hujan selalu jadi masalah besar. Betapa tidak. Hujan sebentar saja, tidak betul-betul deras, sudah cukup untuk menenggelamkan kampung. Rumah-rumah di pinggir sungai bisa melayang kalau air sungainya penuh.

Genangan air di kota besar makin lama makin tinggi. Dan makin sulit kering. Daerah Bangah, Sawotratap, Wage, Pepelegi, Juanda, Tropodo dll di Kabupaten Sidoarjo saya perhatikan selalu jadi tambak raksasa setiap kali hujan deras. "Susah kita ini. Sekarang di mana-mana orang minta hujan, tapi kalau hujan rumah saya ini tenggelam," kata Mbah Harsoyo, pelukis yang tinggal di Beringinbendo, Taman, Sidoarjo.

Perumahan di bawah jalan layang ini sejak dulu memang langganan banjir di Sidoarjo. Tak usah hujan deras dan lama, 30 menit saja sudah cukup untuk membuat warga kepontal-pontal. Orang berlomba meninggikan rumah, tapi tetap tidak mempan. Makanya, banyak rumah yang dijual atau dikontrakkan. Tapi sulit laku!

Manusia modern sudah lama tak bersahabat dengan alam. Sebaliknya, alam pun tak lagi ramah dengan manusia. Musim kemarau panas luar biasa. Suhu udara di Surabaya 37-40 derajat celcius. Orang berlomba-lomba memasang AC yang berakibat terjadinya pemanasan lagi di luar.

Malang dan Batu yang dulu sejuk pun tak lagi senyaman era 1980an dan 1990an. Kawasan hutan di Jolotundo Trawas, Mojokerto, juga tak lagi sejuk. Minggu lalu saya lihat mas Heri tidur di ruang terbuka tanpa selimut atau sarung. Padahal, dulu mas seniman ini selalu beralas selimut tebal kalau bermalam di Jolotundo.
Sebaliknya, hujan yang dulu dianggap tumpahan rezeki untuk manusia (petani) kini malah jadi bencana. Serba salah! Hujan salah, tidak (pernah) hujan juga salah. Lalu, apakah perlu ada instruksi gubernur untuk salat minta hujan?

Repotnya, di Jawa Timur ini pemerintah provinsi/kabupaten/kota dari dulu tidak siap mengeruk sungai, menyediakan lahan resapan, pompa air, dsb. Makin sedikit tanah kosong atau ruang terbuka hijau di kota yang bisa diandalkan untuk menyerap air hujan. Maka, musim hujan selalu identik dengan bencana tahunan.

07 November 2015

Demam Gemu FaMiRe di Sidoarjo



Demam lagu dan tarian Gemu FaMiRe rupanya sudah sampai ke Sidoarjo. Setiap Minggu pagi, ratusan warga kota petis itu berkumpul di Jalan Ahmad Yani, kawasan alun-alun, untuk berolahraga bersama. Acara car free day (CFD) yang rutin diadakan Radar Sidoarjo bersama Pemkab Sidoarjo.

Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Sidoarjo biasa menggilir 3 komunitas untuk meramaikan CFD. Biasanya dimulai dengan senam aerobik, kemudian senam-senam lain sesuai giliran: senam jantung sehat, asma, Ling Tien Kung, pernapasan, dsb. Tapi dua bulan belakangan ini ada senam baru: Gemu 432 (Fa Mi Re).

"Senam Maumereeee...," begitu teriakan warga Sidoarjo pengunjung car free day setelah senam tera atau jantung sehat yang didominasi gerakan lambat. Maklum, komunitas ini hampir semuanya di atas 40 tahun. Yang muda-muda maunya gerakan yang energetik dan asyik.

Begitu mendengar Maumere, anak-anak muda yang tadinya nongkrong di taman alun-alun ikut bergabung di jalan raya utama Kota Delta itu. Sementara Bu Sri dkk dari FORMI memutar lagu ceria dari Kabupaten Sikka, Flores, NTT, itu.

"Maumere da gale kota Ende
Pepin gisong gasong
Le'le luk ele rebin ha

Maumere da gale kota Ende
Pepin gisong gasong
Le'le luk ele rebin ha

La le le luk sila sol
Mi fa mi fa sol
Le'le tiding fa fa
Rebing mude mi

Do do do do mi do mi do
gemu fa mi re
ele le... ele le..."

Kalau sudah ramai begitu, Pak Rusman pun naik ke atas panggung. Pria atletis yang baru pensiun dari korps marinir ini menjadi instruktur senam Maumere. Gerakan-gerakan Pak Rusman enteng, sederhana, sangat mudah diikuti. Maklum, dia instruktur senam kawakan di lingkungan TNI AL di Surabaya dan Sidoarjo. Dia juga sudah keliling Indonesia dan cepat sekali menyerap lagu-lagu dan tarian daerah seperti Gemu Famire.

"Senam Maumere ini memang lagi booming di berbagai kota. Iramanya enak, melodinya bagus, gerakan-gerakannya tidak membosankan," kata Pak Rusman kepada saya. "Ini baru seri pertama. Ke depan saya perkenalkan beberapa variasi lagi biar tidak bosan."

Kehadiran Gemu Famire rupanya mengisi ruang kosong senam massal bernuansa Nusantara yang vakum cukup lama setelah Poco-Poco mencapai titik jenuh. Ada juga senam-senam berbasis lagu dangdut hit yang juga ternyata tidak bertahan lama.

Bagi orang NTT, khususnya Flores, melambungnya Gemu Famire ibarat promosi gratis untuk nama Maumere dan Pulau Flores. Selama ini Flores kurang dikenal di Pulau Jawa, kecuali penduduk Jawa yang beragama Katolik. (Maklum, banyak sekali romo asal Flores yang bertugas di paroki-paroki di Jawa). Orang Jawa, yang bukan Katolik, umumnya lebih mengenal Ambon, Maluku, Papua, atau Timor Leste. Orang Flores bahkan sering disamakan dengan Ambon, Papua, atau Timor Leste.

Salut kepada Nyong Franco dan Alfred Gare yang berhasil membuat orang Indonesia demam Gemu Famire. Dulu seniman Maumere juga sukses membuat warga Flobamora (NTT) mabuk kepayang dengan lagu Maumere Manise. Sekarang Gemu Famire jauh lebih dahsyat karena demamnya menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

06 November 2015

Pak Pangat Sang Motivator Persebaya Berpulang



Siapa pun yang pernah menyaksikan langsung pertandingan Persebaya di Stadion Sepuluh Nopember (atau belakangan di Gelora Bung Tomo) pasti terkesan dengan suara announcer yang menggelegar. Suara besar, berwibawa, membuat ribuan penonton benar-benar bergelora. Itulah suara khas Soepangat, sang penyiar radio dan MC spesialis Persebaya.

Kemarin, 5 November 2015, Pak Pangat meninggal dunia. Kita semua, penggemar sepak bola, khususnya Persebaya, sangat kehilangan pria yang sangat energetik ini. Semoga beliau istirahat dengan tenang di alam sana!

Begitu banyak MC, penyiar, announcer, motivator, apa pun namanya di Surabaya, Jakarta, Malang, dan kota-kota lain. Tapi hampir mustahil menemukan orang yang bisa menggantikan Pak Pangat. Beliau benar-benar roh Persebaya (yang asli), tak pernah sekalipun membiarkan Persebaya bertanding di kandang tanpa suaranya yang menggelegar. Itu dilakukan Pak Pangat sejak 1980an, era Perserikatan, hingga 2015. Di saat Persebaya dilanda perpecahan dan dikucilkan PSSI pimpinan La Nyalla.

"Saya selalu tunggu-tunggu suaranya Pak Pangat. Makanya saya selalu usahakan menonton Persebaya," kata Pak Ismail, warga Waru, Sidoarjo, pendukung berat Persebaya.

Sayang, gara-gara konflik internal, sikap PSSI yang seperti itu, Persebaya yang asli sudah hampir lima tahun tidak terlibat dalam kompetisi resmi. Tentu saja kita tak bisa lagi menikmati suara dahsyat Pak Pangat yang menggetarkan stadion berkapasitas puluhan ribu orang itu. Pak Pangat tak pernah mau menjadi MC laga-laga Persebaya versi La Nyalla yang berubah nama menjadi Bonek FC kemudian Surabaya United itu.

Pak Pangat bukan MC yang hanya bermodal suara dan wibawa. Almarhum bagaikan ensiklopedi hidup Persebaya. Dia menguasai di luar kepala sejarah Persebaya sejak prakemerdekaan, 1927, sampai sekarang. Dia hafal nama-nama pemain, pelatih, manajer, hingga tukang pijat, seksi konsumsi, perlengkapan, keamanan, dan sebagainya.

Pak Pangat sangat khas MC-MC lawas yang punya bakat alam untuk menggerakkan massa. Dia tahu psikologi massa. Apalagi ketika Persebaya kalah di kandang. Sebelum terjadi keonaran, dia langsung angkat mikrofon dan berbicara lantang untuk meredam emosi suporter. Lebih-lebih ketika Persebaya melawan dua tim asal Malang: Arema dan Persema!

Dedikasi Pak Supangat untuk Persebaya sungguh luar biasa. Beliau sedih melihat kondisi sepak bola nasional yang tak kunjung membaik. Berita-berita di koran tidak lagi membahas prestasi, tapi konflik yang tak jelas ujung pangkalnya. Pak Pangat pun sakit keras dan akhirnya menghadap Sang Pencipta.

Pak Pangat, selamat jalan! Semua orang pasti kangen suaramu yang dahsyat menggelegar!

Surutnya Ludruk di Surabaya

Oleh Sugeng Irianto
Wartawan Jawa Pos

Surutnya ludruk dari tengah-tengah kehidupan Kota Surabaya seiring dengan dimanfaatkannya gedung-gedung pentasnya di berbagai sudut kota ini untuk sarana ataupun fasilitas lainnya. Seiring juga dengan tergesernya masyarakat asli Surabaya ke kawasan pinggiran sebagai tempat tinggalnya.

Padahal, yang namanya ludruk pernah berada di masa kejayaannya, era 1960an-70an. Kala itu artis ludruk mendapat kehormatan yang cukup tinggi di masyarakat. Amatlah bangga seseorang bila "diolok-olok" sebagai pemain ludruk. Apalagi dagelan ludruk (ludrukan).

Kalau itu memang demam ludruk. Tak sehari pun Surabaya tanpa pentas ludruk. Maklum, gedung pentas menyebar di berbagai tempat. Bahkan di tengah kota kelompok ludruk tumbuh kembang cukup banyak.

Gedung yang sering dipakai pentas ludruk atau istilah bekennya nggedhong antara lain Gedung Paulus (Jalan Dinoyo), Juwita (Girilaya), Cantik (Banyuurip), PJKA (Tidar), kranggan (Wijaya Shopping Center), Kupang Segunting (Pandegiling), Madu Mas (Pulo Wonokromo), Widodo (Jl Gresik), dan masih banyak lagi.

Di era 1960an ludruk lebih banyak membawakan lako perjuangan kepahlawanan atau cerita rakyat yang telah dipakemkan. Misalnya Sarip Tambakoso, Sawunggaling, Untung Suropati. Tahun 70an ludruk sempat menjadi hiburan primadona. Lakonnya lebih variatif. Hingga mampu menyedot banyak iklan dari perusahaan-perusahaan untuk memperkenalkan produknya. Seperti produk jamu modern.

Ludruk yang populer pada era 60an hingga 70an antara lain Gema Tribrata, Tansah Trisno, Vijaya Kusuma, Karya Sakti, Sari Warni, Sari Murni, Irama Baru, Bintang Surabaya, termasuk gongnya Ludruk RRI Surabaya.

Di ujung 70an ke era 80an rasanya ludruk mulai meredup. Nyaris tak ada lagi perusahaan yang bekerja sama untuk menawarkan produknya. Sedikit demi sedikit gedung yang dulunya untuk nggedhong (pentas dalam kurun waktu tertentu) mulai dialihfungsikan.

Kelompok ludruk pun lambat laun, satu per satu bubar (vakum). Bahkan para pimpinan ludruk hanya memegang nomor induk grup ludruk tanpa anggota tetap. Maka, jika ada job manggung, pimpinan tersebut sibuk mengumpulkan para anggota dengan main comot sana comot sini. Kondisi main comot anggota itu terjadi hingga sekarang.

Jadi, kesimpulannya, kehidupan ludruk makin lesu. Meski sebagian pihak membantahnya. Bantahan bahwa ludruk masih eksis itu juga masih bisa dibenarkan mengingat di kawasan pinggiran masih kerap ada pentas ludruk. Itu pun terbatas pada orang punya hajat saja. Di Surabaya kesenian ludruk ini sudah jarang ditemui. Kalaulah ada, sering pentas di Pulo Wonokromo, jumlah penontonnya sangat memprihatinkan.

Dimuat Radar Surabaya edisi 5 Juni 2006.

Catatan: Ludruk Irama Budaya di Pulo Wonokromo kemudian pindah ke THR Jalan Kusuma Bangsa. Penontonnya makin berkurang sehingga tidak bisa pentas setiap malam. Pertunjukan hanya diadakan malam Minggu saja. Itu pun penontonnya tidak sampai 20 orang. Setelah ditinggal mati pimpinannya, Sakiyah Sunaryo, Ludruk Irama Budaya ini makin senen-kemis.

05 November 2015

Ruwetnya masalah sepak bola Indonesia

Bencana asap sangat sulit diatasi meskipun Presiden Jokowi sudah berkantor di kawasan terpapar asap. Tapi, percayalah, saat musim hujan asap-asap itu akan hilang dimakan air hujan. Tunggu saja musim hujan paling lama sebulan lagi.

Kalau masalah asap, yang tersebar di jutaan hektare bisa tuntas, masalah sepak bola nasional masih ruwet. Kedatangan tim FIFA dan AFC sedikit banyak memberi isyarat bakal ada penyelesaian. Tapi juga tidak mudah. Sebab sampai sekarang PSSI masih dibekukan pemerintah.

Karena dibekukan, PSSI yang diketuai La Nyalla dianggap tidak ada. Jelas pemerintah, khususnya menpora, tidak akan mau berurusan dengan La Nyalla dkk yang dianggap tidak ada itu. Tugas dan wewenang PSSI diambil alih tim transisi yang dibentuk pemerintah. Dus, tim transisi itu hakikatnya sama dengan PSSI versi pemerintah.

Anehnya, atau hebatnya, PSSI pimpinan La Nyalla ini justru diakui FIFA dan AFC. FIFA menganggap PSSI hasil kongres di Surabaya itu sah. Tim transisi bentukan pemerintah justru tidak sah. Melanggar statuta FIFA. Maka Indonesia pun disanksi pengucilan dari semua kegiatan sepak bola internasional.

Mumet! Di sinilah repotnya organisasi bola dunia yang posisinya di atas negara. FIFA merasa berhak memaksakan keinginannya atas nama statuta FIFA. Dia tak peduli pengurus asosiasi balbalan itu terlibat mafia judi, ngatur skor, tak bayar pajak, menelantarkan pemain dsb dsb.

Syukurlah, belum lama ini beberapa pengurus FIFA ditangkap karena terlibat skandal korupsi yang luar biasa. Skandal yang selama bertahun-tahun aman-aman saja, tak tersentuh, atas nama statuta dan posisinya di atas negara tadi. Akhirnya, kita sadar bahkan Blatter sang bos FIFA pun ternyata gak bersih-bersih amat.

Lha, kalau FIFA-nya saja gak bersih, bagaimana mau memaksa PSSI dan asosiasi di negara-negara lain bersih, bebas mafia, tidak terikat skandal? Masih lumayan rombongan FIFA mau bertemu Presiden Jokowi dan mendengar masukan tentang kiprah PSSI selama ini. Khususnya sejak dipegang Nurdin Halid.

Selama ini FIFA hanya mau mendengar masukan sepihak dari PSSI, anggotanya yang setia. Masukan yang membuat FIFA selalu mem-backup PSSI, seburuk apa pun kondisinya.

Bagaimana kelanjutan konflik balbalan yang gak mutu ini? Kayaknya masih jauh panggang dari api. Kedatangan FIFA belakangan ternyata menimbulkan masalah baru karena pernyataan petinggi balbalan dunia itu yang plintat-plintut.

Yang pasti, biarpun tidak disanksi FIFA pun tim nasional Indonesia mustahil menjadi juara Asia Tenggara. Juara Asia? Huahuahua.... Ikut Piala Dunia? Hehehehe.....

01 November 2015

Rene Helsdingen Ngamen di Sidoarjo



Mungkin baru kali ini ada pertunjukan musik jazz di lapangan terbuka di Sidoarjo. Pemusiknya pun kawakan, 58 tahun, seniman jazz senior asal Belanda, lahir di Jakarta, Rene Helsdingen. Suasana di halaman Stadion Gelora Delta yang biasanya dipenuhi lapak-lapak pedagang makanan pun malam Minggu kemarin (31/10/2015) berubah jadi arena pertunjukan jazz.

Panggungnya istimewa dan unik. Bus panjang 14 meter dimodifikasi jadi panggung berjalan. Konsep bus stage ini memang sudah lama menjadi ciri khas Rene Helsdingen. Saya beberapa kali menyaksikan konser dari atas bus ala Rene di Surabaya. Waktu itu bintang tamunya Luluk Purwanto, penggesek biola hebat asli Solo, yang juga istri Rene Helsdingen. Pasangan Londo-Jowo yang sering ngamen ke mana-mana pakai bus stage ini sudah bercerai.

Saya pribadi punya kenangan yang sangat mendalam dengan Meneer Rene van Helsdingen. Sebab, itulah pertama kali saya meliput dan menulis konser jazz sebagai wartawan di Surabaya. Saat itu Rene dkk + Luluk Purwanto gelar konser di halaman Universitas Kristen Petra Surabaya. Halaman kampus terkenal itu benar-benar heboh dan ramai. Dan saya bisa menikmati aksi Rene (piano), Belinda (bas), dan Victor (drum) meskipun tidak pernah mendengar satu pun komposisi yang dimainkan. Kecuali bonus lagu pop Indonesia yang dinyanyikan Luluk Purwanto dan lagu tradisional Selayang Pandang.

Sejak menonton Rene Helsdingen Trio di UK Petra itulah, saya mulai menggauli musik jazz. Mulai dekat dengan komunitas jazz di Surabaya. Mulai rajin menulis catatan seputar jazz secara sederhana untuk dimuat di koran atau iseng-iseng di internet. Mas Agus dari Warta Jazz, Jakarta, malah mengangap saya sebagai salah satu pemerhati jazz di Surabaya. Hehehe....

Maka, begitu mengetahui jadwal ngamen Rene van Helsdingen di
Sidoarjo, hatiku senang bukan kepalang. Ingat masa-masa awal sebagai reporter. Masih pakai kamera yang ada filmnya. Kamera digital, apalagi ponsel pintar, belum populer. Sayang, mbak Luluk yang pernah saya wawancarai itu tidak ikut tur keliling 23 kota di Jawa dan Bali selama tiga bulan ini.

Pianis senior Rene Helsdingen pun tak datang bersama trio bulenya, tapi gandeng seniman jazz Indonesia. Di Sidoarjo Rene bermain bersama Jeffrey Tahalele (bas) dan Benny Mustapha (drum). Kedua pemusik jazz Indonesia ini boleh dibilang sudah kelas maestro. Keduanya sangat fokus menekuni jazz selama puluhan tahun. Jazz sudah jadi darah daging mereka.

Setelah pemanasan oleh band lokal, Rene, Jeffrey, dan Benny naik bus modifikasi itu. Tanpa basa-basi, kata sambutan, tanpa selamat malam dsb, Rene langsung asyik dengan pianonya. Asyik sekali menikmati permainan sang pianis meski kita tak tahu apa lagunya. Komposisi baru karya Rene sendiri. Sebagian penonton masih sibuk bicara dengan temannya, membeli kopi tubruk, camilan, atau jalan-jalan di arena konser yang diramaikan SPG-SPG rokok nan cantik itu.

Sekitar 7 atau 8 menit kemudian, Jeffrey Tahalele mulai merespons sang pianis. Disusul ketukan drum Benny Mustapha. Gitaris Oele Pattiselano ikut mengisi part gitar di beberapa komposisi.

Tenang, tempo lambat, pelan-pelan dinaikkan tempo dan volumenya, sehingga penonton tak punya alasan lagi untuk ngomong sendiri. "Asyik banget. Ini konser jazz paling bagus yang pernah saya nonton," kata Ahmad, mahasiswa asal Samarinda, yang duduk di sebelah saya.

"Jelas asyik karena Rene dkk itu sudah sangat pengalaman. Bus stage-nya dilengkapi sound system kualitas internasional. Rene sering keliling berbagai negara untuk ngamen seperti ini," kata saya disambut anggukan kepala pemuda itu.

Menyaksikan konser jazz ala Rene Helsdingen ini resepnya sederhana: nikmati saja! Biarpun melodi-melodinya belum dikenal, musiknya asing, nikmati saja. Gak usah komentar. Lama-lama kita akan merasakan keenakannya. Beda dengan menonton konser pop yang lagu-lagunya sudah kita kenal di kaset, CD, televisi, internet dsb. Begitu pesan saya kepada mahasiswa yang ternyata hobi nonton konser itu.

Begitulah. Ada sekitar 5 atau 7 komposisi dimainkan Rene, Jeffrey, dan Benny yang menamakan diri MP3 Trio itu. Meneer Rene sama sekali tidak menyebut judul komposisi, tema komposisi, kapan lagu itu dibuat, dsb. Ratusan penonton dibiarkan menikmati musik tanpa basa-basi pidato. Nikmati aja!

"Kami istirahat dulu sekitar 5 menit," kata Rene dalam bahasa Indonesia. Suaranya terlalu rendah sehingga sulit didengarkan. Ketiga pemusik senior ini rupanya perlu minum air putih dan melemaskan otot sejenak di belakang bus setir kiri yang dibawa langsung dari Belanda itu.

Lalu masuk sesi kedua. Suasana lebih cair karena ada penyanyinya. "Selamat malam! Apa kabar Sidoarjo?" sapa Dira Sugandi, penyanyi jazz yang tengah naik daun di Indonesia. "Sidoarjo ternyata panas ya! Habis, saya dari Bandung sih!"

Saya sudah sering melihat Dira Sugandi di televisi atau YouTube. Ternyata kualitas vokalnya jauh lebih bagus di live concert. Dira sengaja memilihkan lagu-lagu jazz, blues, yang tidak terlalu berat. Untuk mencairkan suasana setelah Rene dkk menyuguhkan nomor-nomor instrumental yang panjang dan asing.

"Orang Sidoarjo itu lebih suka musik apa sih?" tanya Dira Sugandi.

"Dangduuut!" teriak beberapa penonton di depan bus stage.

"Oh, dangdut. Dangdut itu memang musik khas Indonesia. Makanya, kami ke Sidoarjo untuk memperkenalkan musik jazz agar lebih dikenal masyarakat," ujar Dira Sugandi. Dia juga turun menemui penonton, ngerjain seorang pemuda yang suaranya fals. "Nggak ada harapan deh!"

Penonton pun tertawa riuh. Lalu Dira membawakan nomor samba yang sedikit banyak punya kedekatan ritmis dengan dangdut. Penonton berkali-kali memberikan aplaus meriah.

Lalu giliran Margie Siegers, penyanyi senior, tampil di sesi terakhir. Aha, Tante Margie masih seperti yang dulu. Meski sudah oma-oma, suaranya tetap bening, tajam, enak, dengan improvisasi yang asyik. Margie Siegers juga banyak berdialog dengan penonton seperti Dira Sugandi.

"Ini pertama kali saya tampil di Sidoarjo," kata Margie. Padahal, sang ratu jazz ini bolak-balik mengisi acara jazz di Surabaya, tetangga Sidoarjo.

Summertime masih jadi lagu andalan Margie Siegers. Kali ini tak ada satu pun lagu jazz Indonesia. Toh, penonton, yang sebagian penggemar jazz asal Surabaya, terlihat puas dan ikut bersenandung.

Malam makin larut, konser Rene Helsdingen pun berakhir. Diwawancarai MC Reza, Rene mengaku senang bisa membawa bus stage, yang ia sopiri sendiri, serta musisi jazz ke Sidoarjo. Ibarat pengamen, Rene mampir ke berbagai kota untuk berbagi keindahan jazz kepada masyarakat.

"Di sini banyak nyamuk," kata Rene sambil bersenandung lagu "banyak nyamuk di rumahku...."

Dari Sidoarjo, Rene menyetir bus buatan 1978 itu ke Malang untuk ngamen di kota apel itu. Kemudian balik main lagi di Surabaya (2 hari), geser ke Tulungagung, Jakarta, Bandung, Depok, dan finish di Jakarta lagi pada 29 November 2015.

Salam jazz!