24 October 2015

Tabloid Gloria Berhenti Terbit



Sudah sebulan lebih tabloid Gloria tak lagi terlihat di toko-toko buku gereja di Surabaya dan Sidoarjo. Padahal, biasanya tabloid mingguan yang terbit di Surabaya itu paling rajin nongol di toko buku. Jadwal terbitnya pun paling teratur daripada media-media kristiani lainnya.

Ada apa dengan Gloria?

Saya pun menelepon David da Silva, pemimpin redaksi Gloria. Saya terkejut mendengar cerita bung David bahwa Gloria tidak terbit lagi. Alias ditutup. "Sudah lumayan lama Gloria tidak tertib. Kami tidak sempat pamitan sama pembaca," kata pemred asal Larantuka, Flores, NTT, itu.

David mengakui bahwa bisnis media massa, apalagi media cetak, saat ini tidak mudah. Persaingan ketat. Bukan saja dengan sesama media cetak, tapi internet (online), televisi, hingga media sosial. Isu-isu di medsos sangat menarik, informatif, interaktif, dan berlangsung sangat intensif selama 24 jam. Khusus untuk media rohani, khususnya lagi kristiani, segemennya lebih sempit lagi.

Tabloid Gloria jelas menyasar segmen pasar umat kristiani lintas gereja alias interdenominasi. Begitulah tekad pengelola tabloid yang berdiri pada 23 Mei 2000 itu. Tapi, berdasar pengalaman, media interdenominasi tida pernah berumur panjang di Indonesia.

"Sebab orang Kristen itu punya fanatisme terhadap gerejanya sendiri-sendiri. Yang Katolik gak suka media Protestan dan sebaliknya. Yang Protestan gak suka Pentakosta atau karismatik. Yang Bethany lebih suka membaca tabloid resmi terbitan Bethany, dst," kata bung Franky Sinai (almarhum), mantan pemred Tiang Api, majalah kristiani interdenominasi yang juga sudah lama almarhum.

Karena itu, bertahannya Gloria di pasar media selama 15 tahun (mingguan pula!) dianggap banyak aktivis gereja di Surabaya dan Sidoarjo dianggap suatu mukjizat. Apalagi oplahnya cukup besar. Maklum, biasanya majalah rohani interdenominasi tidak pernah mencapai usia 5 tahun. Contohnya majalah Penabur dan Tiang Api di Surabaya.

Bung David akhirnya mengakui tidak mudah mengelola tabloid mingguan Gloria yang tampilannya sangat berwarna itu. Sudah banyak usaha selama belasan tahun agar bisa bertahan. Termasuk lebih banyak menyediakan halaman untuk berita-berita dari luar Pulau Jawa.

"Saya dan teman-teman tidak bisa berbuat banyak. Manajemen yang membuat keputusan (untuk menutup Gloria)," kata bung David.

Selamat jalan Gloria! Rest in peace!

5 comments:

  1. Tabloid Gloria telah mengubah dan memberkati hidup saya luar biasa!

    ReplyDelete
  2. Tabloid Gloria telah menginspirasi mata iman. Mewarnai dlm jalan hidup saya

    ReplyDelete
  3. Shalom Bapak/ibu, maaf Tabloid Gloria telah terbit lagi dengan New Release. Dan namanya Gloria News Surabaya. Suara Kristiani. silakan dapatkan di toko buku rohani kesayangan Anda.

    ReplyDelete
  4. Wow, syukurlah sekarang tabloid Gloria sudah terbit lagi :D

    Hmm, begitu rupanya... Benar juga sih, dulu saya pernah magang di salah satu kantor buku renungan harian (terbitnya bulanan) anak muda. Beberapa tahun kemudian buku renungan tersebut gulung tikar. Sangat disayangkan. Banyak teman saya bilang isi buku tersebut bagus, lebih relevan dengan kehidupan anak muda dibandingkan dengan buku renungan sejenis (bukan berarti buku lain tidak bagus lho). Untuk membuat buku semacam itu biayanya mahal sekali, terutama biaya distribusi ke seluruh Indonesia. Apalagi kan lembaga seperti itu pada dasarnya nonprofit, hehe, jelas lebih besar pasak daripada tiang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jaman sekarang bisa dibikin berupa blog yang mobile friendly, jadi tidak usah makan biaya distribusi.

      Delete