16 October 2015

Sulitnya Menyeberang Jalan di Surabaya

Pagi ini seorang penyeberang jalan diserempet motor. Untung gak mati. Si pengendara motor cepat-cepat menghilang. Mas yang jatuh itu berusaha bangkit dan tersenyum. Syukur, masih selamat.

Pemandangan seperti ini sudah sangat biasa di Surabaya. Belakangan juga di Sidoarjo. Pengendara motor, mobil, tidak mau tahu ada orang menyeberang jalan. Tidak peduli menyeberang di zebra cross, apalagi memotong jalan biasa. Kendaraan bermotor jadi raja jalanan.

Bahkan, menyeberang di lampu merah pun tidak begitu aman. Kampanye berhenti di stop line beberapa bulan lalu, agar pejalan kaki bisa menyeberang di zebra cross lampu merah, pun tidak efektif. Tak ada lagi ruang untuk penyeberang jalan.

Kita hanya bisa menyeberang jalan kalau arus lalu lintas sudah benar-benar sepi dengan sendirinya. Dan itu sangat tidak mudah di Surabaya hari ini. Kecuali di depannya ada traffic light (TL). TL itu sangat penting untuk menghentikan arus kendaraan. Begitu lampu merah, ada peluang bagi warga untuk menyeberang kirena jalan kosong.

Susahnya di banyak ruas jalan lampu merah ini tidak ada. Maka, suatu ketika, di Surabaya, saya pernah menunggu sampai 30 menit agar bisa menyeberang ke sebelah. Berhasil menyeberang satu sisi jalan, jalan yang di sebelahnya masih ramai. Ya, harus berdiri lagi sampai tidak ada kendaraan dari arah sebaliknya. Sebab, para pengendara di Surabaya ini tidak punya budaya untuk memberi kesempatan kepada pejalan kaki.

Satu-satunya cara untuk membantu penyeberang jalan adalah membangun jembatan penyeberangan sebanyak mungkin di Surabaya. Sudah lama saya usulkan lewat surat pembaca, menulis di internet, atau "pinjam mulut" warga untuk dijadikan berita di surat kabar. Tapi rupanya pemerintah daerah rupanya tidak tertarik dengan jembatan untuk menyeberangkan manusia.

Bu Risma, mantan wali kota Surabaya, yang diperkirakan menang lagi, lebih asyik membangun taman, taman, taman... di mana-mana. Jembatan penyeberangan orang tidak pernah masuk agenda Pemkot Surabaya. Abah Saiful, bupati Sidoarjo, juga tak pernah memikirkan jembatan penyeberangan manusia. Bayangkan, di kota Sidoarjo hanya ada satu jembatan penyeberangan, yakni di sebelah Stadion Jenggolo.

Orang-orang Surabaya yang sering berlibur ke Singapura selalu menceritakan betapa enaknya menyeberang di negara mungil itu. Melihat ada orang yang hendak menyeberang, pengendara mobil (motor kayaknya gak ada) memperlambat kendaraannya dari jauh, kemudian berhenti. Kasih kesempatan pejalan kaki menyeberang.

Eh, setelah kembali ke tanah air, orang-orang Surabaya ini malah lebih menghargai kucing. Begitu melihat kucing menyeberang, pengendara ramai-ramai menghentikan mobil dan motornya. Manusia pejalan kaki di Surabaya dianggap lebih rendah daripada kucing.

2 comments:

  1. Kalau menabrak kucing kualat Mas.
    Kalau tabrak lari, selamat

    ReplyDelete
  2. banyaknya pengendara motor yg ugal2an juga disebabkan krn penindakan hukum yg kurang tegas

    ReplyDelete