23 October 2015

Sukari memilih bertahan di Pulau Dem



Sejak tahun 1977 Sukari tinggal di Pulau Dem, dekat muara Sungai Porong, Tlocor, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Saat itu pulau kecil seluas 500 hektare itu masih liar, penuh semak belukar, banyak monyet, ular, dan sebagainya. Pun belum ada jalan raya menuju Tlocor, selain jalan setapak di tanggul Sungai Porong.

Meski begitu, Sukari yang asli Jember nekat tinggal di Pulau Dem sebagai penjaga tambak. "Awalnya sih gak enak, sepi, hidup sendiri. Tapi lama-lama kerasan," kata Sukari pekan lalu.

Sukari sebetulnya hanya kesepian malam hari. Pagi, siang, hingga magrib cukup banyak pekerja tambak yang menggarap tambak-tambak milik juragan asal Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, dan beberapa kota lain. Tanah di Pulau Dem memang sejak dulu dikapling-kapling oleh pengusaha tambak. Sukari sempat mengajak beberapa buruh tambak untuk menetap, tapi tidak ada yang mau.

Beberapa tahun kemudian, mulai akhir 1980an, barulah datang beberapa penjaga tambak yang bikin gubug sederhana di Dem. Mereka mengajak istri untuk tinggal di pulau yang tak ada sumber air bersihnya itu. Ada sumur tapi airnya asin. Ada yang bertahan, tapi lebih banyak yang minta ke daratan alias Pulau Jawa.

"Di Pulau Dem ini pernah ada 7 keluarga. Sekarang tinggal 2 keluarga. Selain keluarga saya, ada keluarga Pak Slamet," kata sesepuh Pulau Dem ini yang kini menekuni usaha rumput laut dan membuka warung sederhana di rumahnya.

Suasana yang sepi, gersang, tak ada air, listrik, fasilitas kesehatan, pendidikan dsb membuat penghuni Pulau Dem sulit bertahan. Agar bisa sekolah, anak-anak harus menyeberang dengan perahu. Air bersih juga harus beli jerikenan dengan harga mahal. "Tapi insyaallah saya terus bertahan di sini," kata ayah 6 anak ini.

Di Pulau Dem terdapat ratusan petak tambak baik yang masih beroperasi maupun yang tidak terawat. Karena banyaknya tambak, Pulau Dem sering jadi jujukan para pria yang hobi mancing. Kehadiran para pengelana inilah yang membuat dua warung di situ bisa bertahan sampai hari ini.

Ana Farida, 37, warga Dusun Tlocor yang punya usaha warung di dekat penyebrangan ke Pulau Dem mengatakan akhir-akhir ini makin banyak warga yang mengunjungi Pulau Dem. Selain pemancing tetap, banyak pelajar berkemah atau mengadakan petualangan lintas alam. Ada yang dari Sidoarjo, Surabaya, hingga dari luar daerah seperti Bandung, Jakarta, dan Semarang. Biasanya mereka ini awalnya ingin melihat pembuangan lumpur Lapindo ke muara Sungai Porong.

No comments:

Post a Comment