03 October 2015

Soe Tjen, Bhinneka, dan Genosida '65



Sahabat lama Soe Tjen Marching kirim email. Singkat saja isinya:

"Genosida '65 langsung ludes dalam beberapa hari. Yang tidak kebagian, silakan menyimak link di bawah. Unduh, perbanyak & sebar kembali, untuk melawan pembodohan publik."


Ah, Soe Tjen yang tinggal di London sama suaminya, sama-sama PhD, sama-sama dosen di kampus terkenal ini, masih sama seperti dulu. Kendel! Tak kenal rasa takut. Gak cuma ngomong thok, menulis di berbagai surat kabar, tapi juga action. Salah satunya dengan menerbitkan majalah Bhinneka yang berkualitas, tapi gratisan itu.

Soe Tjen juga bikin sekolah multietnis, multiagama, dengan biaya murah di Putroagung Surabaya. Sebagai warga keturunan Tionghoa yang tidak kaya, alumnus SMAK Sint Louis dan Universitas Kristen Petra Surabaya, kemudian lanjut di Australia, Soe ‪Tjen tahu persis betapa mahalnya biaya pendidikan di sekolah-sekolah favorit itu. Maka dia pun bikin sekolah bagus di dalam gang, dengan guru-guru berkualitas, standar luar negeri, tapi murah.

Nah, beberapa waktu lalu, ketika berlibur ke Surabaya, mengunjungi mamanya, guru senior, yang juga penggiat sastra Tionghoa, Soe Tjen mengadakan pemutaran film Jagal dan Senyap karya Joshua Oppenheimer di rumahnya. Banyak aktivis, mahasiswa, orang LSM, dsb datang menyaksikan film yang mengangkat tragedi 1965 yang sangat traumatis itu. Mereka kemudian diskusi panjang, bikin kajian, wawancara korban-korban, untuk bahan majalah Bhinneka. Edisi Genosida '65.

Soe Tjen geram karena setelah 50 tahun peristiwa Gerakan 30 September 1965 ini berlalu, belum ada tindakan nyata dan pemerintah Indonesia. Para korban, jutaan orang plus keluarga dan keturunan mereka, belum memperoleh keadilan. Masih banyak orang Indonesia yang mati rasa, katanya.

"Para korban dan keluarganya masih menanggung luka dalam dari ingatan yang dibungkam," katanya.

Soe Tjen menambahkan: "Kita sering kali menutup mata karena menikmati hidup tanpa peduli atau memikirkan kembali apa yang telah kita nikmati. Tidak saja lebih aman, tapi juga lebih mudah. Kita tak perlu menyadari bila kita juga bisa mempunyai andil dalam kesengsaraan berbagai manusia. Dan memang kejahatan manusia bisa terjadi karena orang-orang baik berdiam diri."

Soe Tjen ini seorang doktor, komponis, pianis, novelis, kolumnis, aktivis, dan pendidik yang sangat berbakat dan berani. Omongannya selalu meledak-ledak kalau membahas kekejaman masa lalu dalam sejarah kita. Kontras dengan komposisi-komposisi karyanya yang hening, nyeleneh, dan unik ala almarhum Slamet Abdul Sjukur. Soe Tjen murid kesayangan Slamet Abdul Sjukur yang sangat dibanggakan almarhum.

Nah, dia pun bergerilya ke mana-mana untuk wawancara para korban genosida ini. Dia ingin majalah Bhinneka-nya ikut berperan mengembalikan kehormatan dan hak-hak asasi mereka yang terampas sejak orde baru. Dan stigmanya masih berlanjut sampai hari ini.

Setiap tahun, menjelang 30 September, banyak orang Indonesia bicara tentang rekonsiliasi. Soe Tjen rupanya jengah dengan pernyataan-pernyataan basa-basi yang tak jelas kelanjutannya itu.

"Bisakah kita berbicara tentang perdamaian dan rekonsiliasi secara menyeluruh ketika korban masih tertindas? Jika kelompok yang marginal terus menderita?" tulis pemenang sejumlah penghargaan internasional di bidang musik dan sastra itu.

"Ngomong-ngomong, majalah sampeyan (Bhinneka) kok bisa disebar gratis, dicetak ribuan eksemplar. Siapa sih yang membiayai? Duit untuk biaya cetak, liputan, desain, dsb dari mana?"

"Ya, urunan dong! Gak ada iklan atau sponsor yang membiayai," kata Soe Tjen yang sudah beberapa tahun ini mengelola majalah bagus (kayak jurnal) tapi gratisan.

"Kita lawan pembodohan publik!" begitu kata-kata khas Dr Soe Tjen Marching dalam berbagai kesempatan.

No comments:

Post a Comment