15 October 2015

Semoga Mourinho segera dipecat

Sebagai penggemar sepak bola indah, tiki-taka, penguasaan bola tinggi, sejak dulu saya tidak suka gaya Jose Mourinho. Gaya bertahan total, parkis bus, sesekali menyerang balik untuk mencuri gol. Anehnya, tim-tim yang dilatih Mou sering menang dan juara.

Karena menangan, Mou punya alasan untuk omong besar. Njeplak, melecahkan pelatih saingannya, bikin perang urat saraf di media massa. Dan kita pun menikmati pernyataan-pernyataan Jose Mourinho yang bombastis itu.

Musim lalu Chelsea yang dilatih Mou juara Liga Inggris. Orang Portugis yang sebelumnya pelatih Real Madrid ini dengan pongah menyerang Wenger dan Pellegrini karena dinilai gagal memberikan tekanan kepada Chelsea. "Kami terlalu mudah juara," kata si Mou membandingkan beberapa liga lain yang juaranya ditentukan dua laga akhir.

Asem tenan! Betapa arogan orang ini! Tapi kita yang tidak suka si Mou tak bisa berbuat apa-apa. Cuma bisa tersenyum pahit membaca pernyataan-pernyataan Mou yang agresif. "Omongan pemenang itu selalu benar. Apa aja yang diomongin mesti pas," kata kenalan yang juga bekas pemain bola.

Mourinho rupanya lupa bahwa kehidupan itu, meminjam kata-kata orang Tionghoa, ada hoki dan ciongnya sendiri. Sehebat-hebatnya seseorang, suatu ketika ketemu ciong alias kesialan. Kalau sudah ciong, gawang kosong pun tidak akan masuk meski seorang pemain menendang bola dari jarak sangat dekat. Ronaldo atau Messi pun sering gagal mengeksekusi penalti karena... ciong!

Nah, saat ini rupanya Jose Mourinho dan Chelsea lagi kena ciong. Punya segudang pemain kelas dunia, paling mahal di Inggris, tapi mati kutu saat melawan tim-tim medioker. Costa cuma marah-marah tanpa alasan. Hazard lelet. Kiper apes. Bek-bek begitu mudahnya dijebol. Chelsea pun terlihat sangat rapuh. Bagaikan klub yang baru promosi ke kasta tertinggi.

Tapi bukan Jose Mourinho kalau tidak arogan. Sudah tahu pemainnya jelek (Mou menilai minus 1 alias di bawah nol), Mou masih saja ngeles. Cari alasan macam-macam. Menyalahkan wasit karena tidak kasih hukuman penalti. Dan sebagainya dan seterusnya. "Saya manajer paling hebat untuk Chelsea. Tidak ada yang lebih hebat dari saya," katanya pekan lalu.

Mou memang menyebut dirinya The Special One. Merasa diri paling hebat. Tapi kali ini Mou lupa bahwa Chelsea masih duduk di papan bawah. Tepi jurang degradasi. Akankah Chelsea terkena relegasi musim depan? Kita lihat saja nanti.

Saya sih masih berharap dewa ciong masih menemani Mou sehingga Chelsea kalah terus. Kalau kalah lagi dua kali berturut-turut, apalagi 3 atau 4 kali, saya yakin manajemen Chelsea tidak mungkin mempertahankan Mou. Pemecatan Mou selain menyelamatkan Chelsea dari kegagalan yang memalukan, tapi sekaligus demi kebaikan sepak bola dunia.

Skema main parkir bus, penguasaan bola yang rendah, menumpuk pemain di tengah, tidak boleh lagi dibiasakan untuk klub kaya sekelas Chelsea atau Real Madrid yang dilatih Mourinho.

No comments:

Post a Comment