12 October 2015

Penghasilan Pengemis di Atas UMK

Ahad sore, kemarin, ada dua wanita (usia 30-an) mampir ke warung kopi yang asri di samping Stadion Jenggolo Sidoarjo. Seorang bapak memberi Rp 1000, saya kasih 2000, karyawan sebuah pabrik di Buduran kasih 1000, pengunjung yang satunya 2000. Lumayan, kedua pengemis itu dapat Rp 6000 dalam sekejap.

Tukang warung: "Aku gak mau lagi kasih duit ke pengemis yang masih muda, kuat, kayak gitu. Aku pernah dengar sendiri mereka sambat karena sehari cuma dapat 100 ribu. Biasanya sih 150, 200, bahkan lebih kalau lagi ramai."

Saya: Sampean sehari dapat berapa?

Tukang warung: Waduh, gak tentu Mas! Dapat 50 ribu aja sudah bagus. Kadang 60, 70, jarang dapat 100. Lha, si pengemis itu dapat 100 sehari malah sambat (mengeluh). Asem tenan! Cuk!

Hehehe.... Kami semua tertawa kecut mendengar cerita mas Warkop asal Pasuruan tapi sudah karatan di Sidoarjo itu. Pengunjung warung lain menambahkan, sebagian pengemis-pengemis yang biasa minta-minta di Sidoarjo dan Surabaya ternyata punya rumah besar dan bagus di desanya. Mereka cuma acting, pura-pura miskin papa, macak gembel, agar dikasihani.

"Kita kecele. Makanya, saya dukung imbauan Pemkab Sidoarjo agar masyarakat tidak lagi memberikan uang kepada para pengemis. Kalau diberi terus ya mereka tetap aja gitu. Nggak mau kerja berat," kata mas Warkop.

Tukang becak: Aku yang ngoyo-ngoyo mancal dari pagi sampai malam, mandi keringat, tinggalkan anak istri di kampung... dapat Rp 50 ribu (sehari) saja alhamdulillah. Lha, si pengemis itu dapat 100 ribu kok malah sambat.

Saya: Upah buruh di Sidoarjo 2,7 juta sebulan. Artinya, sehari 90 ribu, kerja 8-9 jam di pabrik. Itu pun sebagian besar perusahaan di Jawa Timur belum mampu membayar upah buruh sesuai UMK 2,7 juta itu. Masih banyak karyawan yang gajinya di bawah 2 juta sebulan. Bahkan ada yang 1,5 juta.

Omongan saya yang informatif, hasil membaca koran, rupanya jadi bahan provokasi yang ampuh. Mas Warkop dan pengunjung warung lainnya makin seru berdiskusi dengan tema Betapa Enaknya Jadi Pengemis! Tidak perlu bating tulang, mandi keringat, cukup menandahkan tangan... dan uang datang.

Kalau orang kaya kasihan, lalu kasih Rp 10 ribu atau 20 ribu (uang receh ukuran pengusaha), penghasilan si pengemis jadi berlipat ganda. Karena itu, sangat wajar kalau operasi penertiban gepeng (gelandangan dan pengemis) yang selalu dilakukan satpol PP di Sidoarjo tidak pernah efektif. Menghilang sebentar, kemudian muncul lagi rombongan pengemis-pengemis itu. Malah makin banyak.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo punya Liponsos di Sidokare, menempati bekas gedung SMAN 2 Sidoarjo. Para gepeng dan kawan-kawan selalu disekolahkan di situ agar punya bekal untuk bekerja. Diajari macam-macam keterampilan layaknya BLK: balai latihan kerja. "Tapi ya itu, setelah keluar dari sini, mereka berkeliaran lagi di jalan," kata bu Anastasia Budi, kepala Liponsos Sidoarjo.

Bu Anastasia menyebut para pengemis jalanan ini sebagai PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial). Tidak gampang mengubah mentalitas ngemis bagi para PMKS yang sudah bertahun-tahun menikmati rezeki bak durian runtuh di jalan. "Tapi kami tetap berusaha untuk mengentaskan mereka," kata wanita yang sudah terbiasa menghadapi PMKS di Sidoarjo itu.

Tukang becak: Saya kadang ingin mendapatkan uang dengan cara paling gampang kayak mereka (pengemis). Tapi, alhamdulillah, saya masih punya kehormatan dan rasa malu. Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah!

Mas Warkop: Kayaknya gak ada orang waras yang mau jadi pengemis meskipun sehari dapat 200 ribu. Dengan buka warung, buktinya saya bisa hidup bersama istri dan anak saya.

No comments:

Post a Comment