17 October 2015

Pelukis Wanita atau Wanita Pelukis?

Pasar seni lukis di JX International Surabaya baru berakhir. Dua kali saya mampir ke stan-stan yang jumlahnya hampir 150. Salah satunya stan Mbak Ary Indrastuti asal Sidoarjo.

"Mbak Ary ini pelukis wanita atau wanita pelukis?" tanya saya kepada Nur, mahasiswa bahasa Indonesia Universitas Negeri Surabaya.

"Pelukis wanita. Bu Ary kan jenis kelaminnya wanita," jawabnya.

"Bu Ary itu pelukis bunga. Lukisan-lukisannya selalu bunga, bunga, bunga.... Jarang dia melukis objek yang bukan bunga. Mbak Ary malah gak pernah melukis wanita," kata saya menyeret persoalan seni rupa ke bahasa Indonesia.

Saya melanjutkan, "Bapak Sulton dari Tanggulangin itu pantas disebut pelukis wanita. Dia gak pernah gambar bunga-bunga."

"Mbak Ary wanita tapi pelukis bunga, sedangkan Bapak Sulton laki-laki tapi pelukis wanita!" kata saya. Nur rupanya mulai memahami poin saya. Pelukis wanita dan wanita pelukis itu sepintas mirip, sering dipertukarkan, tapi sebetulnya berbeda.

Agus Dermawan T, pengamat seni rupa asal Rogojampi, Banyuwangi, 29 April 1952, dalam bukunya Bukti-Bukit Perhatian, Gramedia, 2004, antara lain membahas wanita alias perempuan Indonesia yang menekuni seni lukis. Dibandingkan laki-laki, pelukis yang berjenis kelamin wanita sangat sedikit. Kebanyakan para wanita ini Sunday painters alias pelukis-pelukis yang hanya mengisi waktu senggang pada hari Minggu.

"Pelukis iseng. Orang yang meletakkan kerja melukis sebagai rekreasi di saat libur," Agus menjelaskan makna pelukis hari Minggu.

Yang menarik, masih mengutip tulisan Agus Dermawan T, dulu ada organisasi perupa bernama Ikatan Pelukis Wanita Indonesia (IPWI). Anggotanya para wanita yang menekuni seni lukis baik sebagai pelukis hari Minggu maupun pelukis setiap hari. Dalam perkembangannya, IPWI ini berubah nama menjadi Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) pada 1980an. IWPI masih bertahan sampai sekarang.

Mengapa pelukis wanita diganti wanita pelukis? Agus Dermawan tidak masuk ke isu kebahasaan yang justru lebih menarik perhatian saya daripada kiprah para pelukis IWPI. Tapi saya duga pengurus organisasi ini mendapat masukan dari pakar bahasa Indonesia tentang perbedaan wanita pelukis dan pelukis wanita. Apalagi, saat itu juga ada Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia alias Iwapi.

Wanita pengusaha dan pengusaha wanita jelas berbeda, bukan? Perubahan nama organisasi IPWI menjadi IWPI menunjukkan bahwa para wanita pelukis ini punya kesadaran bahasa Indonesia yang sangat bagus. Karena itu, saya selalu heran dengan mahasiswa bahasa Indonesia, bahkan sarjana bahasa Indonesia, yang tidak bisa membedakan wanita pelukis dan pelukis wanita.

Mengutip Agus Dermawan T, wanita pelukis Indonesia pertama bernama Emiria Soenasa, lahir 1895. Pelukis ini punya reputasi yang bagus, sejajar dengan Wakidi, Abdullah, atau Sudjojono pada era 1930an. Kiprah Emiria Soenasa di juga menunjukkan bahwa kaum perempuan Indonesia sejak zaman Hindia Belanda sudah terlibat dalam dunia seni rupa.

Sudah lama saya tidak mendengar kiprah IWPI yang salah satu tokohnya Ibu Dewi Motik Pramono. Tapi makin lama makin banyak saja wanita yang terjun ke seni rupa dengan corak yang sangat beragam. Saat ini mbak Endang, mbak Ary, dan beberapa mbak lain sedang bikin pameran di sebuah hotel baru di Jalan Ahmad Yani Surabaya. (Oh ya, wanita-wanita pelukis ini lebih suka dipanggil mbak ketimbang ibu, meskipun beberapa sudah punya cucu.)

No comments:

Post a Comment