02 October 2015

Mayat pengungsi Sampang pun ditolak

Ahad lalu, 27 September 2015, seorang pengungsi Syiah meninggal di Rusun Puspa Agro, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Rumah susun milik Pemprov Jatim itu ditempati sekitar 348 pengungsi asal Sampang, Madura, sejak dua tahun lebih. Sebelumnya mereka tinggal di pengungsian GOR Sampang, kemudian diusir keluar Pulau Madura.

Inilah pertama kali kejadian ada pengungsi Sampang yang meninggal. Meninggal wajar karena sakit. Yang tidak biasa adalah mereka tidak bisa membawa jenazah itu ke Sampang untuk dimakamkan di kampung halaman mereka. Makam umum di desa mereka.

Alasan resmi: situasi di Sampang belum kondusif. Kalau dimakamkan di Sampang, bisa timbul gejolak lagi. "Kami cuma memakamkan jenazah di kampung, kemudian kembali lagi ke Sidoarjo," kata pengungsi Sampang.

Usulan itu pun ditolak. Alasannya itu tadi: kamtibmas! Keamanan dan ketertiban masyarakat. Maka, setelah koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, jenazah almarhum Busidin, 57 tahun, sakit liver, dimakamkan di Delta Praloyo Asri. Tempat pemakaman umum milik Pemkab Sidoarjo di kawasan lingkar timur Desa Bluru Kidul.

"Bayangkan, jenazah yang sudah tidak bernyawa pun tidak boleh dimakamkan di kampung halaman kami (Sampang). Apalagi kami-kami yang masih hidup," ujar Ustad Iklil, koordinator pengungsi Syiah asal Sampang.

Sang ustad hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum pahit. Dia tidak tahu kapan 76 keluarga korban konflik SARA di Sampang itu bisa pulang. Presiden SBY pernah bikin tim khusus untuk menuntaskan kasus ini. Kini, di era Presiden Jokowi, belum ada program yang jelas untuk menyelesaikan kasus sensitif ini.

Selama dua tahun lebih tinggal di Rusun Puspa Agro, ratusan pengungsi Syiah itu mendapat biaya hidup dari Pemprov Jatim. Sebagian besar pengungsi juga kerja serabutan sebagai pengupas kelapa di Puspa Agro, pasar induk agrobisnis. Ada yang jadi buruh dsb. Kondisi rumah susun pun jauh lebih bagus daripada rumah-rumah keluarga miskin di Sidoarjo.
Namun, menurut Ustad Iklil, sebagus apa pun kondisi di Rusun Puspa Agro, mereka lebih bahagia hidup di kampung halaman yang diwariskan nenek moyang secara turun temurun. Bekerja di ladang, memelihara ternak, hidup normal layaknya orang desa. "Di sini kami kehilangan akar. Kami berstatus pengungsi di negara kami sendiri," katanya.

1 comment:

  1. Pak Lambertus, sebagai wartawan, apakah anda punya informasi sebenarnya (yang tidak mau diakui secara terbuka oleh pemerintah) apa penyebab penduduk beraliran Syiah yang sudah turun temurun beratus tahun tinggal dengan damai di Madura tiba-tiba diusir? Apa yang berubah di Madura? Biasanya ada oknum atau kekuatan uang yang bicara.

    Mengapa jaman Pak Harto (yang katanya kejam itu), kaum minoritas lebih terlindungi?

    ReplyDelete