06 October 2015

Isyana Sarasvati Bintang Baru Seriosa



Dua tahun lalu (2013) di Surabaya, Isyana Sarasvati memukau juri dan penonton. Gadis kelahiran Bandung, 2 Mei 1993, ini lebih mirip bintang pop atau artis-artis yang biasa muncul di program gosip infotainment. Bukan penyanyi seriosa atau vokalis musik klasik.

Bukan apa-apa. Sejak dulu yang dibutuhkan penyanyi-penyanyi seriosa itu hanya suara. Soal wajah, kecantikan, kewangian, busana panggung nan mahal.. itu nomor telu likur alias 23. Tidak heran, selama ini penyanyi-penyanyi seriosa umumnya berwajah biasa-biasa saja. Cuma satu dua yang benar-benar ayu. Jauh lebih banyak penyanyi klasik yang kelebihan berat badan alias tidak ramping.

"Orang yang badannya besar itu resonansi bunyinya lebih bagus. Power vokalnya lebih dahsyat," ujar kenalan yang guru vokal. Entah bercanda, entah serius, yang jelas penyanyi-penyanyi seriosa yang menonjol memang besar-besar badannya. Suara mereka memang dahsyat.

Nah, Isyana Sarasvati ini kebalikannya. Apakah gadis remaja secantik itu bisa membawakan tembang-tembang puitik (alias lagu seriosa) dengan baik? Mampu menjangkau nada-nada tinggi dengan enteng? Penghayatannya bagus? Punya musikalitas tinggi? Begitu kira-kira pertanyaan di batik saat menyaksikan festival tembang puitik Ananda Sukarlan di Surabaya, awal September 2013.

Begitu berada di atas panggung, Isyana tampak sangat percaya diri. Layaknya penyanyi berpengalaman yang kenyang ikut lomba atau festival. Dan, amboi, suara soprannya memang manis dinikmati. Soprano liris, istilahnya. Yakni suara wanita tertinggi yang tipis, halus, enteng, bisa melengking tinggi.

Dalam lomba seriosa tingkat nasional di Surabaya itu (versi pianis dan komponis Ananda Sukarlan, bukan seriosa versi BRTV), Isyana Sarasvati akhirnya meraih juara pertama alias first prize. Saat itu Isyana antara lain membawakan tembang-tembang puitik: Malam yang Ditikam, Jemari Menari, Seorang yang Menyimpan Kisahnya Sendiri, Tiga Sajak Pendek.

Isyana yang ternyata lulusan sekolah musik di Singapura dan London ini juga enak saat menyanyikan lagu seriosa lama: Setitik Embun dan Kisah Mawar di Malam Hari. Dua nomor ini biasa menjadi lagu wajib Bintang Radio dan Televisi (BRTV) jenis seriosa. Tinggal dipoles sedikit, ditambah jam terbang di panggung, penggemar seriosa di Surabaya sangat yakin Isyana bakal menjadi penyanyi besar di Indonesia. Bahkan menembus panggung konser-konser di berbagai belahan dunia.

Didukung keluarga yang juga musisi, plus manajemen bagus, rupanya Isyana tidak hanya asyik di musik klasik alias tembang-tembang puitik yang segmen penggemarnya sangat terbatas. Rupanya dia merambah ke berbagai genre musik, jazz, pop, R n B, entah apa lagi. Dengan kecantikan, kemudaan, dan kebeningan warna kulit, tidak sulit baginya untuk merambah ke industri musik.

Sony Music rupanya sangat jeli melihat talenta muda yang piawai main piano, saksofon, gitar, dan beberapa instrumen lain itu. Isyana yang mencuat di tembang puitik (seriosa) pun dikemas layaknya bidadari pop. Agar cocok dengan industri musik pop yang glamor dan wah. Beberapa waktu lalu Isyana dapat penghargaan sebagai artis musik pendatang baru terbaik.

Sekali lagi, Isyana Sarasvati menjadi fenomena baru di belantika musik tanah air. Setahu saya sangat jarang penyanyi seriosa merambah ke jalur pop yang lebih menghasilkan (uang dan popularitas), namun passion musiknya sangat berbeda.

Pranawengrum Katamsi, ratu seriosa tempo doeloe, menekuni seriosa sampai ajal menjemput. Putrinya, Aning Katamsi, juga begitu. Binu Sukaman juga jagoan seriosa sempat menjadi vokalis band pop-jazz Black Fantasy, tapi kemudian kembali lagi ke seriosa. Isyana masuk ke jalur pop dan langsung mendapat penghargaan bergengsi.

Akankah kiprah Isyana di industri musik pop akan langgeng? Sulit. Kita tahu industri pop sangat dibatasi usia. Begitu penyanyi (apalagi wanita) jelang 30, produser atau label biasanya aras-arasan. Sebab banyak bibit-bibit muda yang antre di belakang. Sebaliknya, jam terbang yang makin panjang, usia yang makin matang, akan membuat Isyana menjadi salah satu ratu seriosa Indonesia yang akan langgeng. Selama Isyana tidak kehilangan gairah (passion) untuk menekuni tembang-tembang puitik, baik sebagai penyanyi, pianis (pemusik), maupun komponis.

Ibarat lari maraton, Isyana baru berada di dekat garis start. Perjalanan masih sangat panjang menuju garis finish, entah berapa puluh tahun lagi!

No comments:

Post a Comment