22 October 2015

Artis vs Seniman Muncul di Kompas

Kamis pagi ini, 22 Oktober 2015, saya membaca berita kecil di harian Kompas halaman 21. Berita satu alinea itu berjudul: Artis dan Seniman Sunda Meriahkan De Syukron.

Si wartawan, kodenya SEM, menulis bahwa artis yang mengisi acara di Bandung itu antara lain Cakra Khan, Tata Janeta, Hedi Yunus, Dewi Gita, Melly Goeslow, dan Armand Maulana. Acara De Syukron ini diselenggarakan oleh GASS: Gabungan Artis dan Seniman Sunda.

Sudah beberapa kali saya menulis catatan ringan tentang ARTIS vs SENIMAN di blog ini. Saya selalu geli, sering tertawa sendiri, mendengar orang Indonesia (kebanyakan) membedakan artis dan seniman. Almarhum Bambang Thelo, pelukis senior Sidoarjo, yang lama tinggal di Jerman, dulu sering menjadikan artis vs seniman ini sebagai bahan olok-olokan di kala cangkurukan di warung kopi di Sidoarjo.

"Apa beda artis dan seniman?" begitu pertanyaan pancingan Pak Bambang sambil mengebulkan asap rokok ke udara.

Fulan: "Artis itu wangi, cantik, ganteng, sering muncul di infotainment kayak Kris Dayanti, Yuni Shara, Julia Perez, Inul, Ahmad Dhani, Nikita Willy dsb dsb."

Gatot: "Artis itu duitnya buanyaak, kaya raya, konser di mana-mana, gak punya utang, gak akan cangkrukan di pinggir jalan kayak kita-kita ini (rombongan pelukis)."

Bambang: "Lalu seniman?"

Fulan: "Seniman itu ya kayak sampeyan, Pak Bambang. Rambut gondrong, acak-acakan, jarang mandi, suka ngeluyur ke mana-mana, gak punya duit, romantis (rokok makan gratis), lukisannya sangat sulit terjual... hua hua huaaaa...."

Lalu semua yang hadir ketawa ramai-ramai. Huaaaa huaaa huaaaa.... Pak Bambang yang bekas wartawan, dulu sering menulis kolom di surat kabar Surabaya, kemudian kasih ceramah serius. Menjelaskan arti artis dan seniman sesuai asal kata, etimologi, penyerapan kata asing, hingga pengalamannya di Eropa.

"Artis itu ya seniman. Seniman ya artis. Dua kata ini sinonim. Tapi di Indonesia sudah telanjur kacau balau. Artis dibedakan dari seniman. Kita-kita ini (pelukis), pemain teater, pemain reog, kesenian rakyat... dianggap seniman. Kris Dayanti, Titi DJ, Titiek Puspa dkk artis. Kuacauuuu," kata pria berjanggut putih itu.

Suasana guyonan, ngopi bareng, pun jadi serius karena diskusinya makin kental dengan kajian bahasa. Seniman kata dasarnya SENI. Seniman itu pelaku seni yang laki-laki. Kalau wanita seniwati (biasa dipakai pemain ludruk atau ketoprak). Belakangan semua pelaku seni disebut seniman meskipun dia wanita.

Sedangkan ARTIS kata dasarnya ART yang artinya seni. ARTIST orang yang bergelut di kesenian. Diserap ke bahasa Indonesia jadi ARTIST. Maka, begitu kesimpulan Pak Bambang, yang saya sepakati, seniman dan artis itu sama saja. Pemusik, penyanyi, pelukis, penari... berhak disebut artis atau seniman. Baik itu seniman gondrong, artis wangi, yang kaya, miskin, setengah miskin.. layak disebut artis.

Almarhum Franky Sahilatua, penyanyi terkenal dari Surabaya, yang juga mantan ketua Dewan Kesenian Jakarta, selalu menghindari istilah artis. Franky tidak suka dilabeli artis meskipun dia sangat memenuhi kriteria artis ala media gosip infotainment dan masyarakat umum. Franky membedakan seniman industri dan seniman non-industri. Kris Dayanti, Inul, Dewi Gita, Julia Perez.. jelas golongan seniman industri.

Rupanya diskusi lama bersama Pak Bambang, pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo, dan ceramah Franky Sahilatua, pengurus Dewan Kesenian Jakarta, itu tidak sampai ke masyarakat luas. Tidak mampu meluruskan istilah artis dan seniman yang sudah telanjur dibedakan oleh masyarakat. Artis-artis industri (musik, film, sinetron) pun sering merasa bukan seniman. Dan sebaliknya.

Bahkan, koran paling berpengaruh di Indonesia, Kompas, yang punya rubrik tetap bahasa Indonesia setiap hari Sabtu, ternyata masih membedakan artis dan seniman. Maka, kesalahkaprahan yang sudah berlangsung sangat lama itu pun mendapat pembenaran. Hidup artis! Seniman jaya!

No comments:

Post a Comment