26 October 2015

RIP! Prof Izaac Adriaan Ferdinandus sang Legenda Persebaya



Iklan dukacita di Jawa Pos itu kecil saja. "Telah pulang ke rumah Bapa di surga pada Jumat 23 Oktober 2015 pukul 08.30... Prof Dr Izaac Adriaan Ferdinandus MDiv dalam usia 85 tahun..."

Pagi ini, Senin 26 Oktober, jenazah mendiang Prof Adriaan dimakamkan di Babat Jerawat, Surabaya. Dokter dan guru besar FK Unair ini meninggalkan istri Judith Jacoba empat anak (sulung dan bungsu jadi dokter, dr Sihning Endah dan dr David Ferdinandus), serta lima cucu.

Selamat jalan Bapak Pendeta Prof Adriaan! Beristilah dengan tenang bersama Sang Mahapencita di kediaman abadi!

Bagi penggemar sepak bola, khususnya Persebaya, khususnya mereka yang menggeluti sejarah Persebaya, Prof Izaac Adriaan Ferdinandus bukan orang sembarangan. Beliau pemain sepak bola top Kota Surabaya pada era 1950an. Sebagai bek kiri, Adri muda sangat disegani lawan-lawan Persebaya.

"Pak Adri satu angkatan dengan bintang-bintang hebat Persebaya seperti Saderan, Liem Tiong Hoo, dan The San Liong," kata Johny Kwok, wartawan senior dan analisis bola terkenal di Surabaya.

Izaac Adriaan Ferdinandus ikut memperkuat Persebaya saat menjadi juara nasional tahun 1951 dan 1952. Saat itu klub perserikatan di Kota Pahlawan ini sangat disegani di tanah air. Beda dengan Persebaya sekarang yang dianggap pupuk bawang, bahkan hilang dari peta persepakbolaan Indonesia. Yang menonjol malah Arema atau Sriwijaya FC yang tergolong klub-klub bola kemarin sore.

Sadar bahwa sepak bola tidak bisa dijadikan andalan untuk hidup, Adriaan banting setir ke bangku pendidikan. Ini didukung otaknya yang sangat cerdas. "Kalau balbalan terus, aku mangan opo?" ujarnya dalam beberapa kesempatan.

Adriaan akhirnya kuliah di kedokteran Unair. Pakai bahasa Belanda. Mantan bintang Persebaya itu lulus tahun 1962. "Dulu dalam setahun yang bisa lulus (FK) itu gak sampai 15 orang. Sistem pendidikannya ruwet dan sulit," katanya.

Dokter Adriaan kemudian melanjutkan studi anatomi di Amerika Serikat. Rupanya arek Plampitan itu gatal juga menendang bola. Maka dia sering memperkuat tim balbalan kampusnya. "Untuk olahraga, cari keringat saja," kata pria keturunan Tionghoa yang selalu senang didatangi suporter Persebaya itu.

Sembari menekuni dunia kedokteran, mendidik para calon dokter, Prof Adriaan ternyata punya panggilan untuk bekerja di kebun anggur Tuhan. Jadi gembala alias pendeta. Opa ini bahkan punya gelar MDiv alias magister teologi. Banyak umatnya yang tidak tahu kalau sang gembala cum dokter senior ini dulunya pemain Persebaya yang sangat hebat.

Di usia senja, Prof Izaac Adriaan Ferdinandus masih mengikuti perkembangan sepak bola di tanah air. Gonjang-ganjing PSSI, dualisme kompetisi beberapa tahun lalu, kisruh Persebaya, sanksi FIFA, hingga hilangnya gairah balbalan di Surabaya. Opa hanya bisa ngelus dada. "Masa saya sudah lama lewat," katanya.

Adriaan hanya berpesan kepada pemain-pemain Persebaya, calon-calon pemain sepak bola, dan semua olahragawan di Indonesia, agar tidak melupakan pendidikan. Sebab sepak bola di Indonesia terbukti tidak menjamin masa depan. "Silakan main bola yang serius, tapi pendidikan jangan lupa," pesannya.

Kita kehilangan Prof Izaac Adriaan Ferdinandus, legenda Persebaya, yang telah banyak membagi ilmu untuk keluarga besar Persebaya dan para wartawan di Jawa Timur. Semoga Tuhan membalas amal baik Opa Adriaan! RIP! (*)

24 October 2015

Tabloid Gloria Berhenti Terbit



Sudah sebulan lebih tabloid Gloria tak lagi terlihat di toko-toko buku gereja di Surabaya dan Sidoarjo. Padahal, biasanya tabloid mingguan yang terbit di Surabaya itu paling rajin nongol di toko buku. Jadwal terbitnya pun paling teratur daripada media-media kristiani lainnya.

Ada apa dengan Gloria?

Saya pun menelepon David da Silva, pemimpin redaksi Gloria. Saya terkejut mendengar cerita bung David bahwa Gloria tidak terbit lagi. Alias ditutup. "Sudah lumayan lama Gloria tidak tertib. Kami tidak sempat pamitan sama pembaca," kata pemred asal Larantuka, Flores, NTT, itu.

David mengakui bahwa bisnis media massa, apalagi media cetak, saat ini tidak mudah. Persaingan ketat. Bukan saja dengan sesama media cetak, tapi internet (online), televisi, hingga media sosial. Isu-isu di medsos sangat menarik, informatif, interaktif, dan berlangsung sangat intensif selama 24 jam. Khusus untuk media rohani, khususnya lagi kristiani, segemennya lebih sempit lagi.

Tabloid Gloria jelas menyasar segmen pasar umat kristiani lintas gereja alias interdenominasi. Begitulah tekad pengelola tabloid yang berdiri pada 23 Mei 2000 itu. Tapi, berdasar pengalaman, media interdenominasi tida pernah berumur panjang di Indonesia.

"Sebab orang Kristen itu punya fanatisme terhadap gerejanya sendiri-sendiri. Yang Katolik gak suka media Protestan dan sebaliknya. Yang Protestan gak suka Pentakosta atau karismatik. Yang Bethany lebih suka membaca tabloid resmi terbitan Bethany, dst," kata bung Franky Sinai (almarhum), mantan pemred Tiang Api, majalah kristiani interdenominasi yang juga sudah lama almarhum.

Karena itu, bertahannya Gloria di pasar media selama 15 tahun (mingguan pula!) dianggap banyak aktivis gereja di Surabaya dan Sidoarjo dianggap suatu mukjizat. Apalagi oplahnya cukup besar. Maklum, biasanya majalah rohani interdenominasi tidak pernah mencapai usia 5 tahun. Contohnya majalah Penabur dan Tiang Api di Surabaya.

Bung David akhirnya mengakui tidak mudah mengelola tabloid mingguan Gloria yang tampilannya sangat berwarna itu. Sudah banyak usaha selama belasan tahun agar bisa bertahan. Termasuk lebih banyak menyediakan halaman untuk berita-berita dari luar Pulau Jawa.

"Saya dan teman-teman tidak bisa berbuat banyak. Manajemen yang membuat keputusan (untuk menutup Gloria)," kata bung David.

Selamat jalan Gloria! Rest in peace!

23 October 2015

Sukari memilih bertahan di Pulau Dem



Sejak tahun 1977 Sukari tinggal di Pulau Dem, dekat muara Sungai Porong, Tlocor, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Saat itu pulau kecil seluas 500 hektare itu masih liar, penuh semak belukar, banyak monyet, ular, dan sebagainya. Pun belum ada jalan raya menuju Tlocor, selain jalan setapak di tanggul Sungai Porong.

Meski begitu, Sukari yang asli Jember nekat tinggal di Pulau Dem sebagai penjaga tambak. "Awalnya sih gak enak, sepi, hidup sendiri. Tapi lama-lama kerasan," kata Sukari pekan lalu.

Sukari sebetulnya hanya kesepian malam hari. Pagi, siang, hingga magrib cukup banyak pekerja tambak yang menggarap tambak-tambak milik juragan asal Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, dan beberapa kota lain. Tanah di Pulau Dem memang sejak dulu dikapling-kapling oleh pengusaha tambak. Sukari sempat mengajak beberapa buruh tambak untuk menetap, tapi tidak ada yang mau.

Beberapa tahun kemudian, mulai akhir 1980an, barulah datang beberapa penjaga tambak yang bikin gubug sederhana di Dem. Mereka mengajak istri untuk tinggal di pulau yang tak ada sumber air bersihnya itu. Ada sumur tapi airnya asin. Ada yang bertahan, tapi lebih banyak yang minta ke daratan alias Pulau Jawa.

"Di Pulau Dem ini pernah ada 7 keluarga. Sekarang tinggal 2 keluarga. Selain keluarga saya, ada keluarga Pak Slamet," kata sesepuh Pulau Dem ini yang kini menekuni usaha rumput laut dan membuka warung sederhana di rumahnya.

Suasana yang sepi, gersang, tak ada air, listrik, fasilitas kesehatan, pendidikan dsb membuat penghuni Pulau Dem sulit bertahan. Agar bisa sekolah, anak-anak harus menyeberang dengan perahu. Air bersih juga harus beli jerikenan dengan harga mahal. "Tapi insyaallah saya terus bertahan di sini," kata ayah 6 anak ini.

Di Pulau Dem terdapat ratusan petak tambak baik yang masih beroperasi maupun yang tidak terawat. Karena banyaknya tambak, Pulau Dem sering jadi jujukan para pria yang hobi mancing. Kehadiran para pengelana inilah yang membuat dua warung di situ bisa bertahan sampai hari ini.

Ana Farida, 37, warga Dusun Tlocor yang punya usaha warung di dekat penyebrangan ke Pulau Dem mengatakan akhir-akhir ini makin banyak warga yang mengunjungi Pulau Dem. Selain pemancing tetap, banyak pelajar berkemah atau mengadakan petualangan lintas alam. Ada yang dari Sidoarjo, Surabaya, hingga dari luar daerah seperti Bandung, Jakarta, dan Semarang. Biasanya mereka ini awalnya ingin melihat pembuangan lumpur Lapindo ke muara Sungai Porong.

Hari Santri Sangat Kental NU

Kemarin, 22 Oktober 2015, ratusan santri di Sidoarjo berpawai di jalan merayakan hari santri nasional. Presiden Jokowi memang menetapkan tanggal 22 Oktober sabagai hari santri. Ini sebagai penghargaan pemerintah atas jasa para santri, ulama, dan umat Islam seluruhnya dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Yang menarik, hari santri nasional ini sangat kental dengan nuansa nahdliyin (NU). Yang ramai konvoi, bikin upacara, paling semangat adalah para kiai, tokoh NU, politisi PKB, pejabat yang berlatar NU. Menteri urusan perdesaan Marwan pun bikin rilis khusus tentang hari santri. Jelas karena beliau kader NU tulen.

Saya perhatikan di Sidoarjo dan Surabaya, umat Islam yang tidak punya afiliasi dengan NU malah adem ayem saja. Kayaknya cuek dengan hari santri. Tidak ada upacara, perayaan, konvoi, atau acara khusus. "Ini kan baru ditetapkan presiden. Mungkin tahun-tahun yang akan datang bisa lebih menyeluruh," kata teman aktivis muslim yang bukan NU.

Mengapa 22 Oktober jadi hari santri? Seperti dikutip media massa, pada 22 Oktober 1945 KH Hasyim Asyari mencetuskan resolusi jihad untuk mengobarkan semangat warga, khususnya santri, melawan penjajah. Hingga memicu peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Kiai Hasyim, kakek Gus Dur, tak lain pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Apakah pemilihan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri sudah dibicarakan dengan ormas-ormas Islam di luar NU? Muhammadiyah, Persis, al-Irsyad, Matlaul Anwar, Dewan Dakwah, dan sebagainya? Atau dibahas secara mendalam di Majelis Ulama Indonesia (MUI)? Bisa saja sudah. Bisa pula belum.

Meski ketua MUI KH Maruf Amin orang NU, belum tentu MUI yang isinya banyak ormas Islam itu bersepakat tentang hari santri, tanggal 22 Oktober, dsb. Kita percaya Presiden Jokowi sudah menerima masukan yang komprehensif dari para menteri, dewan penasihat, dsb. Parlemen yang isinya sangat majemuk pun ada baiknya ikut urun rembug.

Tak ada yang menyangkal kontribusi luar biasa para ulama dan santri sejak prakemerdekaan sampai sekarang. Karena itu, tak salah kalau Presiden Jokowi menetapkan hari santri nasional. Sebagai hari nasional, seyogianya hari santri menjadi milik seluruh bangsa Indonesia apa pun latar belakangnya. Jangan sampai ada kesan hari santri nasional cuma jadi milik nahdliyin, NU.

Selamat hari santri!

22 October 2015

Artis vs Seniman Muncul di Kompas

Kamis pagi ini, 22 Oktober 2015, saya membaca berita kecil di harian Kompas halaman 21. Berita satu alinea itu berjudul: Artis dan Seniman Sunda Meriahkan De Syukron.

Si wartawan, kodenya SEM, menulis bahwa artis yang mengisi acara di Bandung itu antara lain Cakra Khan, Tata Janeta, Hedi Yunus, Dewi Gita, Melly Goeslow, dan Armand Maulana. Acara De Syukron ini diselenggarakan oleh GASS: Gabungan Artis dan Seniman Sunda.

Sudah beberapa kali saya menulis catatan ringan tentang ARTIS vs SENIMAN di blog ini. Saya selalu geli, sering tertawa sendiri, mendengar orang Indonesia (kebanyakan) membedakan artis dan seniman. Almarhum Bambang Thelo, pelukis senior Sidoarjo, yang lama tinggal di Jerman, dulu sering menjadikan artis vs seniman ini sebagai bahan olok-olokan di kala cangkurukan di warung kopi di Sidoarjo.

"Apa beda artis dan seniman?" begitu pertanyaan pancingan Pak Bambang sambil mengebulkan asap rokok ke udara.

Fulan: "Artis itu wangi, cantik, ganteng, sering muncul di infotainment kayak Kris Dayanti, Yuni Shara, Julia Perez, Inul, Ahmad Dhani, Nikita Willy dsb dsb."

Gatot: "Artis itu duitnya buanyaak, kaya raya, konser di mana-mana, gak punya utang, gak akan cangkrukan di pinggir jalan kayak kita-kita ini (rombongan pelukis)."

Bambang: "Lalu seniman?"

Fulan: "Seniman itu ya kayak sampeyan, Pak Bambang. Rambut gondrong, acak-acakan, jarang mandi, suka ngeluyur ke mana-mana, gak punya duit, romantis (rokok makan gratis), lukisannya sangat sulit terjual... hua hua huaaaa...."

Lalu semua yang hadir ketawa ramai-ramai. Huaaaa huaaa huaaaa.... Pak Bambang yang bekas wartawan, dulu sering menulis kolom di surat kabar Surabaya, kemudian kasih ceramah serius. Menjelaskan arti artis dan seniman sesuai asal kata, etimologi, penyerapan kata asing, hingga pengalamannya di Eropa.

"Artis itu ya seniman. Seniman ya artis. Dua kata ini sinonim. Tapi di Indonesia sudah telanjur kacau balau. Artis dibedakan dari seniman. Kita-kita ini (pelukis), pemain teater, pemain reog, kesenian rakyat... dianggap seniman. Kris Dayanti, Titi DJ, Titiek Puspa dkk artis. Kuacauuuu," kata pria berjanggut putih itu.

Suasana guyonan, ngopi bareng, pun jadi serius karena diskusinya makin kental dengan kajian bahasa. Seniman kata dasarnya SENI. Seniman itu pelaku seni yang laki-laki. Kalau wanita seniwati (biasa dipakai pemain ludruk atau ketoprak). Belakangan semua pelaku seni disebut seniman meskipun dia wanita.

Sedangkan ARTIS kata dasarnya ART yang artinya seni. ARTIST orang yang bergelut di kesenian. Diserap ke bahasa Indonesia jadi ARTIST. Maka, begitu kesimpulan Pak Bambang, yang saya sepakati, seniman dan artis itu sama saja. Pemusik, penyanyi, pelukis, penari... berhak disebut artis atau seniman. Baik itu seniman gondrong, artis wangi, yang kaya, miskin, setengah miskin.. layak disebut artis.

Almarhum Franky Sahilatua, penyanyi terkenal dari Surabaya, yang juga mantan ketua Dewan Kesenian Jakarta, selalu menghindari istilah artis. Franky tidak suka dilabeli artis meskipun dia sangat memenuhi kriteria artis ala media gosip infotainment dan masyarakat umum. Franky membedakan seniman industri dan seniman non-industri. Kris Dayanti, Inul, Dewi Gita, Julia Perez.. jelas golongan seniman industri.

Rupanya diskusi lama bersama Pak Bambang, pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo, dan ceramah Franky Sahilatua, pengurus Dewan Kesenian Jakarta, itu tidak sampai ke masyarakat luas. Tidak mampu meluruskan istilah artis dan seniman yang sudah telanjur dibedakan oleh masyarakat. Artis-artis industri (musik, film, sinetron) pun sering merasa bukan seniman. Dan sebaliknya.

Bahkan, koran paling berpengaruh di Indonesia, Kompas, yang punya rubrik tetap bahasa Indonesia setiap hari Sabtu, ternyata masih membedakan artis dan seniman. Maka, kesalahkaprahan yang sudah berlangsung sangat lama itu pun mendapat pembenaran. Hidup artis! Seniman jaya!

21 October 2015

Sisca - KLA Project, Penyanyi Rohani, KPK



"Ada enggak sesuatu untuk Pak Rio Capella?" tanya Sisca kepada bu Evy Susanti, istri pak Gatot, gubernur Sumatera Utara.

Singkat cerita, Patrice Rio Capella, sekjen DPP Partai Nasdem, akhirnya mendapat "sesuatu" senilai Rp 200 juta. Ternyata duit pelicin agar kasus Gatot-Evy bisa diatur Capello, apalagi jaksa agungnya sama-sama kader Nasdem, ini mengakhiri karir politik Rio. Dia ditangkap KPK. Lalu mundur sebagai pejabat Nasdem, lengser pula dari kursi DPR RI.

Saya jadi ingat Sisca, penyanyi lawas yang pernah saya kenal. Fransisca Insani Rahesti yang lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang dulunya penyanyi latar KLA Project. Dia melejit bersama Katon, Lilo, Adi berkat single yang sangat hit saat itu Tentang Kita. Anak muda mana yang pada 1990an tidak kenal KLA Project, Tentang Kita, dan lagu-lagu puitis ciptaan Katon Bagaskara?

Ketika masih SD dan SMP, Fransisca Insani Rahesti bahkan pernah jadi cover girl mingguan Hidup, majalah Katolik yang sangat populer sampai hari ini. Saya masih ingat tulisan tentang kiprah Sisca dan muda-mudi Katolik (mudika) di Jakarta yang begitu hebat, sering menang, dalam lomba vocal group. Maklum, mereka punya penyanyi bagus macam Katon, Sisca, dan Lilo.

Tapi karir Sisca di industri musik tidak terlalu mentereng. KLA terus melejit, sementara Sisca hanya sesekali saja diajak jadi penyanyi latar kalau ada konser. Sisca kemudian tenggelam dalam karirnya di luar industri musik. Akhirnya tenggelam namanya.

Tapi sebetulnya Sisca tidak berhenti total sebagai penyanyi. Saya perhatikan dia beberapa kali membuat rekaman lagu-lagu rohani Katolik, khususnya yang bertema Bunda Maria. Suaranya enak, penghayatannya bagus, syahdu. Apalagi lagu-lagunya diambil dari Puji Syukur dan Madah Bakti.

Ada sebuah tembang rohani yang dinyanyikan Sisca yang bikin orang Katolik menitikkan air mata saat mengenang janji suci pernikahan di altar. "Bapa yang di surga.. kami berdua... bersujud di depanMu.. di altar mulia. Saling mengucap kata berserah setia...."

Siapkan tisu atau sapu tangan karena biasanya umat Katolik, khususnya keluarga pengantin, berkaca-kaca saat mendengar lagu ini. Selalu dinyanyikan paduan suara saat acara sungkeman kepada orang tua dan mertua! Dan lagu bagus ini dipopulerkan lebih luas (sebelumnya sih sudah populer) oleh Fransisca Insani Rahesti.

Maka, ketika melihat televisi kemarin, berita tentang Sisca diperiksa KPK, saya hanya bisa ngelus dada. Jadi ingat lagu rohani berjudul Berkatilah yang luar biasa indah dan menyentuh itu. Apa gak salah? Apa Sisca KLA? Fransisca Insani yang dulu sering masuk majalah rohani?

Setelah membaca koran pagi, ya gak salah. Memang dia Sisca eks penyanyi latar KLA Project, penyanyi rohani Katolik (Ave Ave Ave Maria...), lulusan FH Universitas Brawijaya. Rupanya dia jadi penghubung Rio Capello dengan gubernur Sumut dan istrinya. Sisca katanya magang di kantor pengacara OC Kaligis.

Wah wah wah... Begitulah lakon hidup sang biduan lawas yang ternyata mencoba peruntungan jadi makelar kasus. Mbak Sisca pun muncul lagi di televisi, tapi bukan lagi karena suaranya yang bening bersama KLA, atau tembang-tembang rohani liturgis, tapi malah berurusan dengan KPK.
Semoga mbak Sisca tetap bernyanyi, memuji Tuhan dalam suka dan duka, untung dan malang...

19 October 2015

Neymar bicara bahasa Inggris?

Orang Amerika (USA) suka orang Indonesia yang fasih berbahasa Inggris. Tapi orang USA ternyata kurang suka kita, orang Indonesia, sangat doyan mencampur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris ketika berbahasa Indonesia.

Bridget Ginty, orang Amerika tulen, lulusan George Washington University, mengaku geli membaca berita-berita di surat kabar kita yang suka menyelipkan kata, frase, atau kalimat bahasa Inggris. Seakan-akan kata HAPPY itu tidak punya padanan. Atau istilah FULL AC yang bikin dia geli.

Orang Indonesia selalu mengeja AC dengan pelafalan Belanda: A-SE, bukan A-CE (bahasa Indonesia), atau EI-SI (Inggris). Padahal AC itu singkatan bahasa Inggris: air conditioner. Mengapa tidak pakai istilah penyejuk ruangan? Atau istilah lain dalam bahasa Indonesia yang lebih sederhana?

"Kalau ada ruangan full AC, apakah ada ruangan yang setengah AC," kata Bridget Giny, yang jadi relawan guru bahasa Inggris di Bojonegoro itu.

Sejak satu tahun lalu Bridget Ginty dikirim pemerintah USA untuk mengajar bahasa Inggris di Bojonegoro. Sebelumnya dia bertugas di Spanyol untuk misi yang sama. Dia mengeluh karena waktu yang disediakan oleh sekolahnya hanya dua jam seminggu. Padahal, para pelajar di Indonesia sangat membutuhkan percakapan yang intensif dengan penutur asing seperti dirinya.

"Kemungkinan saya akan ke Flores (setelah selesai kontrak 2 tahun di Bojonegoro)," kata gadis yang lahir 13 Juni 1989 di Exceter, New Hampshire, Amerika Serikat, ini.

Saya pun membaca koran pagi ini, halaman Total Football (bahasa Inggris pula). Barcelona menang 5-2 atas Rayo Vallecano. Penyerang Neymar yang asli Brasil itu mencetak 4 gol. Luar biasa! Di koran berbahasa Indonesia itu, si Neymar berkata, "I'am very very happy... dengan kemenangan ini."

Hehehe... Kena banget kritikan Bridget Ginty sang guru bahasa Inggris asli Amerika itu. Saya geli sendiri karena setahu saya Neymar tidak bisa berbahasa Inggris. Dia jelas bicara dalam bahasa Spanyol (atau Portugis) kemudian ditulis wartawan dalam bahasa Inggris. Nah, berita dalam bahasa Inggris itu kemudian diterjemahkan oleh wartawan Indonesia, tapi sengaja dibiarkan beberapa kata Inggris sebagai penyedap rasa.

Jadinya ya bahasa gado-gado Indonesia-Inggris yang kini merajalela di tanah air.

Rapor merah Presiden Jokowi

Minggu lalu saya ditelepon seorang wanita muda, katanya dari Jakarta. Dia perkenalkan diri dari sebuah lembaga survei terkenal di tanah air. Dia meminta waktu 10 menit untuk meminta pendapat saya tentang satu tahun pemerintahan Jokowi-JK.

"Kalau bisa jangan saya deh. Anda nanya orang lain ajalah," saya berkelit.

"Kenapa?"

"Kalau saya yang jawab, kasihan sama Jokowi. Rapornya banyak yang merah. Ibarat anak sekolah, Jokowi lulus dengan banyak catatan," kata saya.

Si nona tertawa kecil dan suasana mulai akrab. Kayak sudah kenal lama aja. Singkat cerita, dia tetap memaksa saya menjawab pertanyaan-pertanyaan pesanan lembaganya. Responden hanya dikasih 2 opsi jawaban hitam putih: suka atau tidak suka, yakin tidak yakin, mampu tidak mampu.. dst.

Soal pangan, saya jawab bagus sekali. Sejak dilantik 20 Oktober 2014 Jokowi punya program swasembada pangan. Beliau gandeng TNI AD di seluruh Indonesia untuk membantu petani, ikut menanam padi, membenahi saluran irigasi, dsb. Program ini sangat sukses di Sidoarjo sehingga menteri pertanian langsung turun untuk panen raya.

Soal infratruktur juga bagus banget. Jokowi jelas punya komitmen untuk pembangunan dan perbaikan jalan raya, bikin tol darat, tol laut, buka bandara-bandara perintis, pelabuhan, dsb. Nilainya pasti A. Sangat bagus.

Lalu, si nona masuk ke soal hukum, demokrasi, hak asasi manusia. Rapor tuan presiden merah semua! Secara subjektif, saya sangat kecewa dengan kriminalisasi KPK, penangkapan Bambang Widjajanto dan Abraham Samad, kedua pimpinan KPK, yang membuat KPK lumpuh.

Saat itu Presiden Jokowi seakan membiarkan KPK dijadikan bulan-bulanan oleh Bareskrim Mabes Polri. Sampai sekarang pun KPK hanya dipimpin oleh pelaksana tugas. Sejak peristiwa ini, simpati saya pada Jokowi jatuh ke titik nadir. Saya melihat Jokowi tidak punya ketegasan sebagai kepala negara. Kasihan Bambang Widjajanto dan Abraham Samad yang dijegal, dicari-cari kesalahannya, sementara yang punya rekening gendut, yang sumbernya abu-abu, malah dibiarkan.

Saya juga kecewa dengan penunjukan jaksa agung yang mengecewakan publik. Kader Nasdem, HM Prasetyo, tidak meyakinkan sebagai pendekar hukum. Publik pun menganggap Prasetyo ini titipan Surya Paloh, pemilik Partai Nasdem. Maka sangat sulit mengharapkan kejaksaan agung bisa setangguh KPK (sebelum dikriminalisasi).

Belakangan KPK juga mau dilumpuhkan dengan revisi undang-undang yang disodorkan kader PDI Perjuangan. Ingat, Jokowi itu (istilah Bu Megawati) berstatus petugas partai PDIP! Dia harus mengikuti garis kebijakan partai kalau tidak ingin digoyang partainya sendiri. Maka, saya pun tidak ragu-ragu memberi nilai merah untuk bidang hukum, hak asasi manusia, demokrasi, dan sejenisnya.

Bagaimana dengan hak asasi manusia? "Sangat buruk. Sangat mengecewakan," jawab saya pada si gadis surveyor itu.

Selain saya menolak eksekusi mati, hampir setiap minggu saya bertemu para pengungsi asal Sampang, Madura, di kompleks Puspa Agro Sidoarjo. Sudah tiga tahun sekitar 350 warga Sampang ini diusir dari kampung halamannya. Rumah-rumah mereka dibakar. Sawah ladang mereka habis dibakar dan dijarah. Hanya karena mereka dianggap berbeda paham dengan penduduk mayoritas yang sama-sama Islam.

"Pemerintah sudah lama tutup mata dengan kami. Pemerintah membiarkan kami tinggal di sini tanpa kepastian kami akan dipulangkan," begitu keluhan teman-teman pengungsi yang sederhana itu.

Sejak Presiden SBY, kemudian Presiden Jokowi, tidak ada solusi yang demokratis dan menjunjung hak asasi manusia. Satu-satunya solusi yang ditawarkan: para pengungsi itu diminta taubat, kemudian menganut paham yang dianut warga mayoritas. Tidak ada tempat untuk Syiah di Sampang atau Pulau Madura.

Survei ini melibatkan ratusan, mungkin ribuan, responden di seluruh Indonesia. Saya tahu banyak warga yang puas dengan kinerja Presiden Jokowi. Tapi tidak sedikit warga yang tidak puas, kecewa, gregetan, dengan Jokowi yang memang seorang manusia biasa.

Tapi, kalau dipikir-pikir, seandainya Prabowo yang jadi presiden pun rapornya mungkin tidak akan jauh berbeda. Sebab, Indonesia ini negara yang sangat luas, penduduknya 250 juta, dan sudah telanjut ruwet tidak karuan.

17 October 2015

Pelukis Wanita atau Wanita Pelukis?

Pasar seni lukis di JX International Surabaya baru berakhir. Dua kali saya mampir ke stan-stan yang jumlahnya hampir 150. Salah satunya stan Mbak Ary Indrastuti asal Sidoarjo.

"Mbak Ary ini pelukis wanita atau wanita pelukis?" tanya saya kepada Nur, mahasiswa bahasa Indonesia Universitas Negeri Surabaya.

"Pelukis wanita. Bu Ary kan jenis kelaminnya wanita," jawabnya.

"Bu Ary itu pelukis bunga. Lukisan-lukisannya selalu bunga, bunga, bunga.... Jarang dia melukis objek yang bukan bunga. Mbak Ary malah gak pernah melukis wanita," kata saya menyeret persoalan seni rupa ke bahasa Indonesia.

Saya melanjutkan, "Bapak Sulton dari Tanggulangin itu pantas disebut pelukis wanita. Dia gak pernah gambar bunga-bunga."

"Mbak Ary wanita tapi pelukis bunga, sedangkan Bapak Sulton laki-laki tapi pelukis wanita!" kata saya. Nur rupanya mulai memahami poin saya. Pelukis wanita dan wanita pelukis itu sepintas mirip, sering dipertukarkan, tapi sebetulnya berbeda.

Agus Dermawan T, pengamat seni rupa asal Rogojampi, Banyuwangi, 29 April 1952, dalam bukunya Bukti-Bukit Perhatian, Gramedia, 2004, antara lain membahas wanita alias perempuan Indonesia yang menekuni seni lukis. Dibandingkan laki-laki, pelukis yang berjenis kelamin wanita sangat sedikit. Kebanyakan para wanita ini Sunday painters alias pelukis-pelukis yang hanya mengisi waktu senggang pada hari Minggu.

"Pelukis iseng. Orang yang meletakkan kerja melukis sebagai rekreasi di saat libur," Agus menjelaskan makna pelukis hari Minggu.

Yang menarik, masih mengutip tulisan Agus Dermawan T, dulu ada organisasi perupa bernama Ikatan Pelukis Wanita Indonesia (IPWI). Anggotanya para wanita yang menekuni seni lukis baik sebagai pelukis hari Minggu maupun pelukis setiap hari. Dalam perkembangannya, IPWI ini berubah nama menjadi Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) pada 1980an. IWPI masih bertahan sampai sekarang.

Mengapa pelukis wanita diganti wanita pelukis? Agus Dermawan tidak masuk ke isu kebahasaan yang justru lebih menarik perhatian saya daripada kiprah para pelukis IWPI. Tapi saya duga pengurus organisasi ini mendapat masukan dari pakar bahasa Indonesia tentang perbedaan wanita pelukis dan pelukis wanita. Apalagi, saat itu juga ada Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia alias Iwapi.

Wanita pengusaha dan pengusaha wanita jelas berbeda, bukan? Perubahan nama organisasi IPWI menjadi IWPI menunjukkan bahwa para wanita pelukis ini punya kesadaran bahasa Indonesia yang sangat bagus. Karena itu, saya selalu heran dengan mahasiswa bahasa Indonesia, bahkan sarjana bahasa Indonesia, yang tidak bisa membedakan wanita pelukis dan pelukis wanita.

Mengutip Agus Dermawan T, wanita pelukis Indonesia pertama bernama Emiria Soenasa, lahir 1895. Pelukis ini punya reputasi yang bagus, sejajar dengan Wakidi, Abdullah, atau Sudjojono pada era 1930an. Kiprah Emiria Soenasa di juga menunjukkan bahwa kaum perempuan Indonesia sejak zaman Hindia Belanda sudah terlibat dalam dunia seni rupa.

Sudah lama saya tidak mendengar kiprah IWPI yang salah satu tokohnya Ibu Dewi Motik Pramono. Tapi makin lama makin banyak saja wanita yang terjun ke seni rupa dengan corak yang sangat beragam. Saat ini mbak Endang, mbak Ary, dan beberapa mbak lain sedang bikin pameran di sebuah hotel baru di Jalan Ahmad Yani Surabaya. (Oh ya, wanita-wanita pelukis ini lebih suka dipanggil mbak ketimbang ibu, meskipun beberapa sudah punya cucu.)

Indonesia Sungguh Indah Permai - Lagu Jazzy nan Indah




Asyik banget menikmati suasana malam di sebuah kafe kecil di Sidoarjo. Jadul abisss! Diiringi organ tunggal, pengunjung, yang hampir semuanya wong lawas, seakan berlomba menyanyikan lagu-lagu pop lawas.

Suara mereka gak kalah sama penyanyi-penyanyi baru di televisi. Apalagi penyanyi-penyanyi dangdut koplo yang sebagian fals itu. Pak Putut yang marinir paling jago membawakan lagu-lagu Broery. "Di alam nyata apa yang terjadi... Buah semangka berdaun sirih... Aku begini engkau begitu... Sama saja."

Enak banget gaya Pak Putut yang bikin kita kerasan nongkrong sembari menghirup kopi pahit buatan pabrik besar di Taman, Sidoarjo. "Beliau pernah jadi juara lomba lagu-lagu Broery di Surabaya. Beliau hafal hampir semua lagu Broery," kata mas Aje pemilik kafe di pinggir jalan raya itu.

Ada lagi seorang tante yang enak sekali menyanyikan "Tiada seindah kini... duduk berdampingan... menyentuh hati dengan wajah kasih". Lagu ini ibarat lagu wajib resepsi mantenan di Surabaya dan Sidoarjo. Bisik-bisik, katanya sih tante itu istri simpanan om yang duduk di pojok.

"Sepanjang kita masih terus begini. Tak kan pernah ada damai bersenandung...," lagu lawas karya Pance Pondaag ini dibawakan Pak Totok. Pimpinan orkes keroncong di Siring, yang rumahnya ditenggelamkan lumpur Lapindo, ini ternyata asyik juga membawakan lagu pop manis. Senyumnya juga lebar karena baru terima duit ganti rugi dari pemerintah.

Lagu yang rada gak umum dibawakan seorang pengunjung yang belum saya kenal. Laki-laki 40an tahun ini membawakan pop jazz. "Kala suara menghilang...," lagu hit Utha Likumahuwa tahun 1980an. Disusul "Indonesia Sungguh Indah Permai...."

Wow, lagu lama yang benar-benar jazzy, mas pengiringnya juga mampu menghadirkan swing, rasa jazz kental, malam itu. Saya jadi ingat teman saya di kampus dulu yang memang gitaris band jazz lokal. Mas Bambang sering banget memainkan lagu ini di kos-kosan, selain "Buat Kamu" dan lagu-lagu Emerald Band dengan vokalis Ricky Jo (almarhum) yang terkenal dengan Salam Olahraga di RCTI saat memandu siaran langsung balbalan itu.

Indonesia Sungguh Indah Permai, lagu pop jazz ini, diciptakan Janner Sinaga. Saat itu Pak Sinaga pejabat kementerian penerangan yang antara lain mengurusi media massa di Indonesia. Sebagai pejabat Orde Baru, Janner Sinaga bertugas mengamankan kebijakan Menteri Penerangan Harmoko soal SIUPP, penertiban wartawan, pembatasan halaman koran, pembatasan iklan, dsb.

Tapi, di sisi lain, Janner Sinaga seorang komposer, pianis yang bagus. Indonesia Sungguh Indah Permai bahkan menjadi lagu resmi RCTI, satu-satunya televisi swasta masa itu, saat mengakhiri siarannya. Nuansanya mirip Rayuan Pulau Kelapa yang dipakai TVRI, televisi negara.

Suasana santai, swing, asyik... sangat terasa di lagu Indonesia Sungguh Indah Permai ketika dibawakan Harvey Malaiholo, vokalis jempolan era 1980an dan 1990an. Harvey selain jago lagu-lagu festival, yang jarak nadanya lebar, juga piawai membawakan lagu-lagu jazz, khususnya bosanova. Lagu ini benar-benar melekat di hati saya karena nyantai dan sangat unik.

Belakangan Pak Wiranto, mantan panglima TNI, pendiri Partai Hanura, juga bikin rekaman lagu-lagu bernuansa perjuangan. Lagu Indonesia Sungguh Indah Permai jadi andalan Pak Wiranto. Suaranya enak juga! Bahkan, saya pernah menyaksikan Pak Wiranto tampil di Hotel Shangri-La Surabaya membawakan Indonesia Sungguh Indah Permai diiringi Surabaya Symphony Orchestra pimpinan Solomon Tong. Asyik!

Malam kian larut. Saya pun pulang sembari bersenandung Indonesia Sungguh Indah Permai di jalanan. Sekaligus melupakan dulu ribuan pengungsi di Singkil Aceh, bencana asap yang sulit diatasi, hingga rupiah yang mungkin tak akan pernah kembali ke Rp 10.000.

"Indonesia sungguh indah permai
Pemandangan alam indah santai
Pohon nyiur pun melambai-lambai
menyanyikan lagu-lagu pantai

Lautan biru membuai-buai
diiringi angin sejuk sepoi
Gunung biru tenang penuh damai
Indonesia sungguh indah permai

Rahmat Tuhan sungguh mahamurah
kepada bangsaku Indonesia
Tanah subur dan alamnya pun kaya
Inilah pusaka bangsa kita

Indonesia sungguh indah permai
keindahanmu menawan hati
Aku sungguh cinta kepadamu
Tanah airku, Indonesia!"

16 October 2015

Sulitnya Menyeberang Jalan di Surabaya

Pagi ini seorang penyeberang jalan diserempet motor. Untung gak mati. Si pengendara motor cepat-cepat menghilang. Mas yang jatuh itu berusaha bangkit dan tersenyum. Syukur, masih selamat.

Pemandangan seperti ini sudah sangat biasa di Surabaya. Belakangan juga di Sidoarjo. Pengendara motor, mobil, tidak mau tahu ada orang menyeberang jalan. Tidak peduli menyeberang di zebra cross, apalagi memotong jalan biasa. Kendaraan bermotor jadi raja jalanan.

Bahkan, menyeberang di lampu merah pun tidak begitu aman. Kampanye berhenti di stop line beberapa bulan lalu, agar pejalan kaki bisa menyeberang di zebra cross lampu merah, pun tidak efektif. Tak ada lagi ruang untuk penyeberang jalan.

Kita hanya bisa menyeberang jalan kalau arus lalu lintas sudah benar-benar sepi dengan sendirinya. Dan itu sangat tidak mudah di Surabaya hari ini. Kecuali di depannya ada traffic light (TL). TL itu sangat penting untuk menghentikan arus kendaraan. Begitu lampu merah, ada peluang bagi warga untuk menyeberang kirena jalan kosong.

Susahnya di banyak ruas jalan lampu merah ini tidak ada. Maka, suatu ketika, di Surabaya, saya pernah menunggu sampai 30 menit agar bisa menyeberang ke sebelah. Berhasil menyeberang satu sisi jalan, jalan yang di sebelahnya masih ramai. Ya, harus berdiri lagi sampai tidak ada kendaraan dari arah sebaliknya. Sebab, para pengendara di Surabaya ini tidak punya budaya untuk memberi kesempatan kepada pejalan kaki.

Satu-satunya cara untuk membantu penyeberang jalan adalah membangun jembatan penyeberangan sebanyak mungkin di Surabaya. Sudah lama saya usulkan lewat surat pembaca, menulis di internet, atau "pinjam mulut" warga untuk dijadikan berita di surat kabar. Tapi rupanya pemerintah daerah rupanya tidak tertarik dengan jembatan untuk menyeberangkan manusia.

Bu Risma, mantan wali kota Surabaya, yang diperkirakan menang lagi, lebih asyik membangun taman, taman, taman... di mana-mana. Jembatan penyeberangan orang tidak pernah masuk agenda Pemkot Surabaya. Abah Saiful, bupati Sidoarjo, juga tak pernah memikirkan jembatan penyeberangan manusia. Bayangkan, di kota Sidoarjo hanya ada satu jembatan penyeberangan, yakni di sebelah Stadion Jenggolo.

Orang-orang Surabaya yang sering berlibur ke Singapura selalu menceritakan betapa enaknya menyeberang di negara mungil itu. Melihat ada orang yang hendak menyeberang, pengendara mobil (motor kayaknya gak ada) memperlambat kendaraannya dari jauh, kemudian berhenti. Kasih kesempatan pejalan kaki menyeberang.

Eh, setelah kembali ke tanah air, orang-orang Surabaya ini malah lebih menghargai kucing. Begitu melihat kucing menyeberang, pengendara ramai-ramai menghentikan mobil dan motornya. Manusia pejalan kaki di Surabaya dianggap lebih rendah daripada kucing.

15 October 2015

Gereja vs Rumah Ibadah vs Tempat Ibadah



"Gerejanya Tante di mana?"

"Di Grand City Mall. Tiap Minggu pagi Tante beribadah di sana. Ciamso (ciamik soro), khotbah pendetanya asyik, gak mbosenin, jemaatnya yo wuakeeh!"

Itu percakapan santai saya dengan Tante Lanny, pekerja sosial di Surabaya. Selama 20an tahun Ayi Lan aktif melakukan kerja sosial dan pelayanan rohani di penjara-penjara seluruh Jawa Timur.

Bagi orang NTT yang belum pernah ke Jawa, omongan Ayi Lan ini mungkin dianggap sangat aneh. Kebaktian Kristen aliran Pentakosta kok di mall atau hotel macam Grand City? Bukankah kebaktian itu di gereja? Bukankah mall itu tempat belanja? Hotel kok jadi arena kebaktian tiap Ahad?

Dulu, ketika baru pertama kali datang ke Jawa, saya pun sering heran melihat banyak orang Kristen aliran karismatik dan pentakosta yang menjadikan hotel sebagai gereja. Atau restoran, garasi, rumah biasa, aula, dsb sebagai gereja. Mengapa saya dan teman-teman heran?

Karena di NTT, khususnya daerah saya, Flores Timur + Lembata, yang namanya perayaan ekaristi, ibadat sabda, misa, sembahyang, kebaktian atau apa pun namanya ya harus di gereja. Sebuah bangunan yang sengaja dibuat khusus untuk peribadatan orang Katolik. Kalau tidak di gereja ya di kapela (alias kapel), yaitu gereja kecil di kampung-kampung. Kapela yang jelas-jelas rumah ibadah, bahkan di Larantuka banyak sekali kapela bersejarah peninggalan Portugis, pun tidak bisa dijadikan tempat misa rutin setiap Minggu.

"Umat Katolik harus misa di gereja paroki, bukan kapela," begitu kata-kata seorang romo praja di Larantuka saat saya masih SMPK San Pankratio.

Maklum, sekolah-sekolah Katolik di mana pun umumnya punya kapel yang besar dan bagus. Sering ada ibadat sabda atau ekaristi. Tapi kalau hari Minggu tidak akan ada pastor yang mengadakan ekaristi di kapela. Umat harus ke gereja paroki yang besar itu.

Tahun lalu, saat mampir di Kupang, saya pun mendengar kabar bahwa salah satu romo paroki gerah karena banyak umatnya lebih sering ikut misa mingguan di kapel suster Bendektin yang memang sangat asyik dengan lagu-lagu gregorian yang syahdu. Padahal kapela ini khusus untuk susteran, bukan untuk umat. Repotnya, Benediktin bukanlah kongregasi suster-suster biasa yang boleh keluar biara untuk ekaristi di paroki.

Nah, rupanya cara pandang tentang gereja, tempat ibadah, dan rumah ibadah yang tradisional-konvensional ini masih dipegang erat di NTT. Juga Aceh. Padahal, sejak awal 1980an terjadi revolusi mental besar-besaran di kalangan umat Kristen Protestan, khususnya aliran pentakosta dan karismatik.

Gereja-gereja aliran baru yang merujuk Amerika Serikat ini tidak lagi menggunakan bangunan gereja untuk beribadah. Luar biasa luwes gereja-gereja evangelis ini. Bisa kebaktian di hotel, restoran, garasi, rumah, dan paling populer ruko. Ruko-ruko jadi tempat ibadah favorit. Si pendeta yang juga pimpinan gereja cukup menyewa 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun, sesuai kebutuhan. Kalau ada ruko lain yang lebih murah, strategis, ya jemaat itu akan ikut pindah.

Maka, di sebuah ruko di salah satu kota di Jawa Timur saya lihat ada 5 gereja yang alirannya sama-sama karismatik ala Bethany. Mengapa tidak disatukan saja? Hehehe...

Penjelasannya terlalu panjang. Dan ini memang salah satu ciri khas aliran gereja-gereja ala USA. Yakni gereja kecil-kecil, banyak, luwes, bisa beribadat di mana saja, kapan saja. Bahkan, perayaan Natal pun bisa diadakan tanggal 30 November atau 5 Desember, 17 Desember, 25 Desember... Sangat fleksibel tanpa kalender liturgi segala.

Fenomena ini paling tidak bisa menjelaskan mengapa gereja di Singkil, Aceh, yang dibatasi 1 atau 4 unit kok jadi membengkak hingga 22 unit? Dan begitu banyak yang tidak berizin. Kok udung-udung dipakai untuk ibadah orang nasrani? Mengapa harus ada banyak gereja, padahal umat kristianinya sedikit? Jangan-jangan ada program kristenisasi atau pemurtadan warga tempatan?

Penjelasan Oditha Hutabarat, dirjen Kristen Protestan Kementerian Agama, yang saya baca di koran hari ini cukup bagus untuk menjelaskan apa itu rumah ibadah (gereja) dan tempat ibadah yang biasa dipakai umat kristiani beribadah rutin. Kalau gereja itu jelas rumah ibadah. Harus ada IMB. Harus memenuhi macam-macam persyaratan, izin warga sekitar, minimal umat dsb. Sebaliknya, tempat ibadah kayak ruko, hotel, mall, restoran, hall dsb.. IMB-nya ya IMB ruko, hotel, dsb.

"Kementerian Agama belum punya regulasi penggunaan udung-udung sebagai tempat ibadah," kata Pak Hutabarat.

Lha, kalau ada regulasi untuk udung-udung, apakah perlu regulasi juga untuk ruko, hotel, ballroom, gedung serbaguna, aula, restoran, rumah tinggal, bangunan kosong, dsb yang digunakan tempat ibadah? Apakah akan ada regulasi tentang ibadah di atas kapal laut seperti kebaktian hari Minggu di kapal-kapal rute Indonesia Timur? Apakah umat Kristen yang meminjam atau menyewa kapal untuk kebaktian pun tidak boleh?

Jangan-jangan pelajar nasrani di Aceh yang adakan kebaktian di sekolah atau kampus pun dilarang karena lembaga pendidikan bukan tempat ibadah. Jangan-jangan sembahyang lingkungan atau doa rosario dari rumah ke rumah orang Katolik dilarang pula di Singkil. "Mana izin kebaktian? Mana izin latihan paduan suara? Mana izin berkumpul?"

Last but not least, orang-orang Kristen sendiri gagal menjelaskan fenomena revivalisme agama, small and mobile churches, fleksibilitas gereja di zaman modern ini. Orang-orang NTT dan Aceh masih melihat gereja dengan konsep abad pertengahan, sementara sekarang ini tahun 2015. Mirip pemerintah Malaysia yang melarang Alkitab berbahasa Indonesia (Melayu) beredar di negaranya, padahal saat ini Bible online bisa diakses dengan mudah di internet.

Semoga Mourinho segera dipecat

Sebagai penggemar sepak bola indah, tiki-taka, penguasaan bola tinggi, sejak dulu saya tidak suka gaya Jose Mourinho. Gaya bertahan total, parkis bus, sesekali menyerang balik untuk mencuri gol. Anehnya, tim-tim yang dilatih Mou sering menang dan juara.

Karena menangan, Mou punya alasan untuk omong besar. Njeplak, melecahkan pelatih saingannya, bikin perang urat saraf di media massa. Dan kita pun menikmati pernyataan-pernyataan Jose Mourinho yang bombastis itu.

Musim lalu Chelsea yang dilatih Mou juara Liga Inggris. Orang Portugis yang sebelumnya pelatih Real Madrid ini dengan pongah menyerang Wenger dan Pellegrini karena dinilai gagal memberikan tekanan kepada Chelsea. "Kami terlalu mudah juara," kata si Mou membandingkan beberapa liga lain yang juaranya ditentukan dua laga akhir.

Asem tenan! Betapa arogan orang ini! Tapi kita yang tidak suka si Mou tak bisa berbuat apa-apa. Cuma bisa tersenyum pahit membaca pernyataan-pernyataan Mou yang agresif. "Omongan pemenang itu selalu benar. Apa aja yang diomongin mesti pas," kata kenalan yang juga bekas pemain bola.

Mourinho rupanya lupa bahwa kehidupan itu, meminjam kata-kata orang Tionghoa, ada hoki dan ciongnya sendiri. Sehebat-hebatnya seseorang, suatu ketika ketemu ciong alias kesialan. Kalau sudah ciong, gawang kosong pun tidak akan masuk meski seorang pemain menendang bola dari jarak sangat dekat. Ronaldo atau Messi pun sering gagal mengeksekusi penalti karena... ciong!

Nah, saat ini rupanya Jose Mourinho dan Chelsea lagi kena ciong. Punya segudang pemain kelas dunia, paling mahal di Inggris, tapi mati kutu saat melawan tim-tim medioker. Costa cuma marah-marah tanpa alasan. Hazard lelet. Kiper apes. Bek-bek begitu mudahnya dijebol. Chelsea pun terlihat sangat rapuh. Bagaikan klub yang baru promosi ke kasta tertinggi.

Tapi bukan Jose Mourinho kalau tidak arogan. Sudah tahu pemainnya jelek (Mou menilai minus 1 alias di bawah nol), Mou masih saja ngeles. Cari alasan macam-macam. Menyalahkan wasit karena tidak kasih hukuman penalti. Dan sebagainya dan seterusnya. "Saya manajer paling hebat untuk Chelsea. Tidak ada yang lebih hebat dari saya," katanya pekan lalu.

Mou memang menyebut dirinya The Special One. Merasa diri paling hebat. Tapi kali ini Mou lupa bahwa Chelsea masih duduk di papan bawah. Tepi jurang degradasi. Akankah Chelsea terkena relegasi musim depan? Kita lihat saja nanti.

Saya sih masih berharap dewa ciong masih menemani Mou sehingga Chelsea kalah terus. Kalau kalah lagi dua kali berturut-turut, apalagi 3 atau 4 kali, saya yakin manajemen Chelsea tidak mungkin mempertahankan Mou. Pemecatan Mou selain menyelamatkan Chelsea dari kegagalan yang memalukan, tapi sekaligus demi kebaikan sepak bola dunia.

Skema main parkir bus, penguasaan bola yang rendah, menumpuk pemain di tengah, tidak boleh lagi dibiasakan untuk klub kaya sekelas Chelsea atau Real Madrid yang dilatih Mourinho.

13 October 2015

Syukuran Korban Lumpur Lapindo di Porong

Ada tumpengan, dangdutan, wayang kulit semalam suntuk. Ratusan warga korban lumpur Lapindo berkumpul di tanggul 42, Desa Renokenongo, Porong, mengadakan tasyakuran atas pelunasan ganti rugi. Suasana sangat meriah, layaknya pesta rakyat.

Meskipun masih ada 79 berkas yang bermasalah, sehingga belum bisa cair, ribuan warga 4 desa yang tenggelam itu (Siring, Jatirejo, Renokenongo, Kedungbendo) berterima kasih karena akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil. Setelah menunggu, unjuk rasa, gugat ke MK, orasi ratusan kali, menemui politisi, pejabat, hingga terakhir Joko Widodo alias Jokowi.

Sembilan tahun jelas bukan waktu yang pendek. Apalagi ribuan warga Siring dkk ini sesungguhnya korban lumpur pertama dan paling parah. Saat ini 4 desa itu sudah tenggelam. Ribuan warganya sudah terpencar ke mana-mana. Sebentar lagi 4 desa lumpur itu akan dihapus dari daftar 353 desa/kelurahan di Kabupaten Sidoarjo.

Ironisnya, ribuan korban lumpur lain yang belakangan, di luar 4 desa tadi, justru sudah lama lunas ganti ruginya. Lancar jaya karena dibayar oleh negara (APBN). Sedangkan warga Siring, Jatirejo, Renokenongo, Kedungbendo ditanggung Lapindo Brantas sesuai Peraturan Presiden SBY Nomor 14 Tahun 2007.

Sesuai perpres yang diteken Presiden SBY di Lanudal Juanda, Sidoarjo, 2007, Lapindo harus menyelesaikan pembayaran di peta area terdampak paling lama lima tahun. Dus, tahun 2012 harus tuntas tas-tas-tas! Tapi kenyataannya di tengah jalan Lapindo mangkir. Alasannya banyak sekali. Anehnya, Presiden SBY tidak berdaya menekan Lapindo hingga lengser pada Oktober 2014.

Karena itu, gebrakan Jokowi saat kampanye pilpres agar negara harus hadir, negara mengambil alih tanggung jawab pembayaran ganti rugi, benar-benar melegakan warga lumpur. "Insya Allah, kalau saya dipercaya rakyat (jadi presiden), ganti rugi segera dibayarkan," kata Jokowi di depan ribuan warga Sidoarjo.

Rupanya Jokowi tidak asal bicara. Setelah jadi presiden, kebijakannya untuk menuntaskan masalah lumpur di Sidoarjo makin jelas dan konkret. Lapindo tetap berkewajiban membayar, tapi negara memberi pinjaman dana talangan Rp 781 miliar (kalau gak salah). BPLS yang langsung menangani karena PT Minarak Lapindo Jaya selaku juru bayar tak lagi dipercaya korban lumpur.

Begitulah. Melalui proses validasi yang agak ribet, maklum uang negara, Jokowi membuktikan bahwa negara ternyata hadir di desa-desa yang tenggelam di Porong.

Akhirnya, September 2015, sebanyak 3331 berkas tanah dan bangunan korban lumpur dibayar setelah tersendat selama 9 tahun. Tinggal 79 berkas yang status tanahnya (tanah basah atau tanah kering) masih bermasalah. 66 berkas belum teken nominatif. Artinya, 96 persen sudah dibayar oleh negara. Sekarang giliran negara berhadapan dengan Lapindo Brantas untuk menagih dana talangan APBN itu.

"Alhamdulillah, warga korban lumpur akhirnya mendapat hak-haknya," kata bu Mahmudah, mantan kepala desa Renokenongo, yang sering teriak-teriak di jalan raya saat unjuk rasa korban lumpur. "Matur nuwun (terima kasih) kepada Presiden Jokowi, gubernur, bupati, BPLS, dan semua pihak yang telah membantu kami sampai pencairan dana ganti rugi," katanya.

"Kami berterima kasih kepada pemerintah, bukan ke Lapindo," kata Juwito, korban lumpur asal Renokenongo.

Andai sejak awal negara hadir, tidak mengandalkan Lapindo, Mahmudah, Juwito, dan ribuan korban lumpur tidak terkatung-katung selama 9 tahun. Andai Presiden SBY lebih berani, menekan Lapindo, mengambil langkah kayak Jokowi....

Syukuran di tanggul, dangdutan dan wayangan, kemarin sekaligus mengakhiri drama panjang ribuan korban lumpur Lapindo. Lumpurnya sendiri sih masih menyembur dengan stabil, memuntahkan ribuan meter kubik sehari, entah sampai kapan. BPLS tetap sibuk memperkuat tanggul dan mengalirkan air lumpur ke Sungai Porong.

Orang Sidoarjo, Jawa Timur, bahkan sudah bosan melihat semburan yang entah kapan akan berhenti. Kita serahkan pada mekanisme alam untuk menghentikannya. Sebab pakar-pakar-pakar paling hebat dari Rusia, Jepang, USA, Belanda, Tiongkok, Indonesia... sudah lama angkat tangan.

Hanya Pak Djaja Laksana dari Pucang, Surabaya, insinyur lulusan ITS Surabaya, yang sampai hari ini masih percaya bahwa semburan lumpur itu bisa ditutup dengan metode Bendungan Bernoulli. Tapi, kita tahu, dari dulu proposal Djaja Laksana ini ditolak mentah-mentah ketika BPLS masih bernama Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Sidoarjo yang diketuai Basuki Hadimuljono (sekarang menteri pekerjaan umum).

Setelah ganti rugi diselesaikan, saya kira tugas kita (orang biasa) tinggal satu. Yakni berdoa agar Sang Pencipta Alam Semesta segera menghentikan semburan lumpur itu. Tapi, mengutip omongan teman-teman kristiani, Tuhan pasti punya rencana sendiri di balik semburan lumpur di Porong itu. Maka, biarlah kehendak Tuhanlah yang terjadi. Kehendak manusia sering kali berbeda dengan kehendak Tuhan!

Ah, kayak khotbah pendeta di KKR aja! Salam Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa!

"Rahayu, rahayu, rahayu!"

Ucapan salam 1 Suro ini (rahayu: bahagia: happy) biasa disampaikan Pak Totok Widiarto yang rumahnya hanya berjarak sekitar 300 meter dari pusat semburan lumpur di Desa Siring. Semoga Pak Totok segera membeli rumah baru (setelah dapat ganti rugi) untuk menggantikan dua rumah tua di Siring yang sudah lama tenggelam di dasar lumpur.

Rahayu! Rahayu! Rahayu!

Sampai kapan batu akik bertahan?

Selama seminggu digelar pameran batu akik di Pasar Wisata Tanggulangin, Sidoarjo. Pengunjung cukup banyak. Pasar wisata yang tadinya sepi mulai bernyawa lagi. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, yang lagi kampanye, ikut-ikut ngomporin pedagang akik agar terus berkreasi.

Sebelumnya, juga selama seminggu, ada pameran batu akik di Lokaphala, gedung tua di Krian. Juga ramai pengunjung. Orang ramai-ramai menengok batu-batu mulia aneka corak itu. Ada yang cuma 100 ribu, tapi banyak yang jutaan rupiah. Soal asli atau palsu, tanyakan pada ahlinya.

Di Puspa Agro, Taman, juga ada bursa batu akik nusantara. Pesertanya pedagang akik dari berbagai kota di Indonesia. "Lumayan ramai. Warung saya jadi ikut ramai," kata mbak Sri, pemilik warung jus buah langganan saya di pasar induk milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu.

Ini baru bursa atau pameran batu akik yang resmi dan besar. Di pinggir jalan kita bisa dengan mudah menemukan perajin dan pedagang batu akik. Makin malam makin ramai.

Di Surabaya tentu lebih heboh lagi demam akik itu. Sampai-sampai Pemkot Surabaya membuka sentra batu akik di Bratang. Saya senang melihat demam batu akik di masyarakat meskipun tidak berselera sedikit pun membeli akik. Apalagi mengenakan sebagai mata cincin.

Saya hanya menggumam, sampai kapan kegandrungan pada batu akik ini bertahan? Pelawak Kadir yang ikut memeriahkan pameran batu akik di Tanggulangin pun tak bisa memastikan. "Kalau bisa sih akik ini bisa tahan lama. Jangan kayak ikan louhan dulu. Booming sebentar kemudian habis," katanya.

Gus Kholik dari Tulangan malah yakin gebyar batu mulia ini tak akan bernasib seperti si louhan itu. Alasannya, batu akik ini sejak dulu sudah menjadi bagian dari budaya leluhur. Tak hanya hiasan, tapi juga agem-ageman. Ada isinya, kata kiai yang juga paranormal itu.
"Insya Allah, saya akan keliling ke 18 kecamatan di Sidoarjo untuk bikin pameran batu akik," kata Gus Kholik.

Saya sendiri sih melihat demam batu akik ini sebagai tren biasa. Semacam mode atau lagu pop yang selalu ada siklusnya. Sehebat apa pun fashion tertentu, musik pop dengan artis yang albumnya meledak di pasaran (istilah lawas), akan datang saatnya rasa jenuh itu. Saat ini pun orang sudah mbelenger dengan batu akik.

12 October 2015

Penghasilan Pengemis di Atas UMK

Ahad sore, kemarin, ada dua wanita (usia 30-an) mampir ke warung kopi yang asri di samping Stadion Jenggolo Sidoarjo. Seorang bapak memberi Rp 1000, saya kasih 2000, karyawan sebuah pabrik di Buduran kasih 1000, pengunjung yang satunya 2000. Lumayan, kedua pengemis itu dapat Rp 6000 dalam sekejap.

Tukang warung: "Aku gak mau lagi kasih duit ke pengemis yang masih muda, kuat, kayak gitu. Aku pernah dengar sendiri mereka sambat karena sehari cuma dapat 100 ribu. Biasanya sih 150, 200, bahkan lebih kalau lagi ramai."

Saya: Sampean sehari dapat berapa?

Tukang warung: Waduh, gak tentu Mas! Dapat 50 ribu aja sudah bagus. Kadang 60, 70, jarang dapat 100. Lha, si pengemis itu dapat 100 sehari malah sambat (mengeluh). Asem tenan! Cuk!

Hehehe.... Kami semua tertawa kecut mendengar cerita mas Warkop asal Pasuruan tapi sudah karatan di Sidoarjo itu. Pengunjung warung lain menambahkan, sebagian pengemis-pengemis yang biasa minta-minta di Sidoarjo dan Surabaya ternyata punya rumah besar dan bagus di desanya. Mereka cuma acting, pura-pura miskin papa, macak gembel, agar dikasihani.

"Kita kecele. Makanya, saya dukung imbauan Pemkab Sidoarjo agar masyarakat tidak lagi memberikan uang kepada para pengemis. Kalau diberi terus ya mereka tetap aja gitu. Nggak mau kerja berat," kata mas Warkop.

Tukang becak: Aku yang ngoyo-ngoyo mancal dari pagi sampai malam, mandi keringat, tinggalkan anak istri di kampung... dapat Rp 50 ribu (sehari) saja alhamdulillah. Lha, si pengemis itu dapat 100 ribu kok malah sambat.

Saya: Upah buruh di Sidoarjo 2,7 juta sebulan. Artinya, sehari 90 ribu, kerja 8-9 jam di pabrik. Itu pun sebagian besar perusahaan di Jawa Timur belum mampu membayar upah buruh sesuai UMK 2,7 juta itu. Masih banyak karyawan yang gajinya di bawah 2 juta sebulan. Bahkan ada yang 1,5 juta.

Omongan saya yang informatif, hasil membaca koran, rupanya jadi bahan provokasi yang ampuh. Mas Warkop dan pengunjung warung lainnya makin seru berdiskusi dengan tema Betapa Enaknya Jadi Pengemis! Tidak perlu bating tulang, mandi keringat, cukup menandahkan tangan... dan uang datang.

Kalau orang kaya kasihan, lalu kasih Rp 10 ribu atau 20 ribu (uang receh ukuran pengusaha), penghasilan si pengemis jadi berlipat ganda. Karena itu, sangat wajar kalau operasi penertiban gepeng (gelandangan dan pengemis) yang selalu dilakukan satpol PP di Sidoarjo tidak pernah efektif. Menghilang sebentar, kemudian muncul lagi rombongan pengemis-pengemis itu. Malah makin banyak.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo punya Liponsos di Sidokare, menempati bekas gedung SMAN 2 Sidoarjo. Para gepeng dan kawan-kawan selalu disekolahkan di situ agar punya bekal untuk bekerja. Diajari macam-macam keterampilan layaknya BLK: balai latihan kerja. "Tapi ya itu, setelah keluar dari sini, mereka berkeliaran lagi di jalan," kata bu Anastasia Budi, kepala Liponsos Sidoarjo.

Bu Anastasia menyebut para pengemis jalanan ini sebagai PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial). Tidak gampang mengubah mentalitas ngemis bagi para PMKS yang sudah bertahun-tahun menikmati rezeki bak durian runtuh di jalan. "Tapi kami tetap berusaha untuk mengentaskan mereka," kata wanita yang sudah terbiasa menghadapi PMKS di Sidoarjo itu.

Tukang becak: Saya kadang ingin mendapatkan uang dengan cara paling gampang kayak mereka (pengemis). Tapi, alhamdulillah, saya masih punya kehormatan dan rasa malu. Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah!

Mas Warkop: Kayaknya gak ada orang waras yang mau jadi pengemis meskipun sehari dapat 200 ribu. Dengan buka warung, buktinya saya bisa hidup bersama istri dan anak saya.

09 October 2015

Selamat jalan Mas Soekris Teknisi Aviastar!



Umat Katolik Paroki Santa Maria Annuntiata Sidoarjo, khususnya yang tinggal di kawasan Tanggulangin, berdukacita. Kemarin mereka mengantar jenazah almarhum mas Hendrikus Soekris Winarto ke tempat peristirahatan terakhir di Delta Praloyo Asri, Lingkar Timur, Sidoarjo.

Mbak Yustina, istri almarhum, sesenggukan sembari memeluk Bryan Pratama, putra semata wayang yang ditinggalkan sang suami tercinta. "Tuhan berikanlah istirahat abadi dan tenang...," begitu petikan 'lagu wajib' kematian yang dilantunkan umat dari Lingkungan Tanggulangin.

Hendrikus Soekris Winarto, tak lain teknisi pesawat Aviastar yang jatuh di Gunung Pajaja, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Sejak lama mas Soekris dikenal sebagai orang udara yang "suka terbang". Kehidupannya memang lebih banyak di udara sejak bekerja di Merpati, kemudian pindah ke Aviastar.

"Mas Soekris selalu pulang ke rumah dua minggu sekali, tapi kemudian terbang lagi. Wong panggilan hidupnya memang di dunia penerbangan," kata mbak Yustina yang sangat memahami profesi sang suami.

Sebagai pahlawan, setidaknya untuk keluarganya, mas Soekris yang tinggal di Citra Tamansari, Desa Boro, Tanggulangin, ini mengakhiri hidup dalam tugasnya. Bersama 9 awak dan penumpang lain yang sama-sama tewas di dalam pesawat kecil Aviastar itu.

General Manager Aviastar Slamet Supriyanto mengatakan, Hendrikus Soekris Winarto sudah bekerja di Aviastar selama 16 bulan. Belum terlalu lama. Tapi almarhum dikenal ulet, berdedikasi, dan banyak memberikan masukan untuk kemajuan maskapai Aviastar. "Orangnya sangat disiplin," kata Pak GM.

Selamat jalan mas Soekris! Resquescat in pace (RIP).

06 October 2015

Isyana Sarasvati Bintang Baru Seriosa



Dua tahun lalu (2013) di Surabaya, Isyana Sarasvati memukau juri dan penonton. Gadis kelahiran Bandung, 2 Mei 1993, ini lebih mirip bintang pop atau artis-artis yang biasa muncul di program gosip infotainment. Bukan penyanyi seriosa atau vokalis musik klasik.

Bukan apa-apa. Sejak dulu yang dibutuhkan penyanyi-penyanyi seriosa itu hanya suara. Soal wajah, kecantikan, kewangian, busana panggung nan mahal.. itu nomor telu likur alias 23. Tidak heran, selama ini penyanyi-penyanyi seriosa umumnya berwajah biasa-biasa saja. Cuma satu dua yang benar-benar ayu. Jauh lebih banyak penyanyi klasik yang kelebihan berat badan alias tidak ramping.

"Orang yang badannya besar itu resonansi bunyinya lebih bagus. Power vokalnya lebih dahsyat," ujar kenalan yang guru vokal. Entah bercanda, entah serius, yang jelas penyanyi-penyanyi seriosa yang menonjol memang besar-besar badannya. Suara mereka memang dahsyat.

Nah, Isyana Sarasvati ini kebalikannya. Apakah gadis remaja secantik itu bisa membawakan tembang-tembang puitik (alias lagu seriosa) dengan baik? Mampu menjangkau nada-nada tinggi dengan enteng? Penghayatannya bagus? Punya musikalitas tinggi? Begitu kira-kira pertanyaan di batik saat menyaksikan festival tembang puitik Ananda Sukarlan di Surabaya, awal September 2013.

Begitu berada di atas panggung, Isyana tampak sangat percaya diri. Layaknya penyanyi berpengalaman yang kenyang ikut lomba atau festival. Dan, amboi, suara soprannya memang manis dinikmati. Soprano liris, istilahnya. Yakni suara wanita tertinggi yang tipis, halus, enteng, bisa melengking tinggi.

Dalam lomba seriosa tingkat nasional di Surabaya itu (versi pianis dan komponis Ananda Sukarlan, bukan seriosa versi BRTV), Isyana Sarasvati akhirnya meraih juara pertama alias first prize. Saat itu Isyana antara lain membawakan tembang-tembang puitik: Malam yang Ditikam, Jemari Menari, Seorang yang Menyimpan Kisahnya Sendiri, Tiga Sajak Pendek.

Isyana yang ternyata lulusan sekolah musik di Singapura dan London ini juga enak saat menyanyikan lagu seriosa lama: Setitik Embun dan Kisah Mawar di Malam Hari. Dua nomor ini biasa menjadi lagu wajib Bintang Radio dan Televisi (BRTV) jenis seriosa. Tinggal dipoles sedikit, ditambah jam terbang di panggung, penggemar seriosa di Surabaya sangat yakin Isyana bakal menjadi penyanyi besar di Indonesia. Bahkan menembus panggung konser-konser di berbagai belahan dunia.

Didukung keluarga yang juga musisi, plus manajemen bagus, rupanya Isyana tidak hanya asyik di musik klasik alias tembang-tembang puitik yang segmen penggemarnya sangat terbatas. Rupanya dia merambah ke berbagai genre musik, jazz, pop, R n B, entah apa lagi. Dengan kecantikan, kemudaan, dan kebeningan warna kulit, tidak sulit baginya untuk merambah ke industri musik.

Sony Music rupanya sangat jeli melihat talenta muda yang piawai main piano, saksofon, gitar, dan beberapa instrumen lain itu. Isyana yang mencuat di tembang puitik (seriosa) pun dikemas layaknya bidadari pop. Agar cocok dengan industri musik pop yang glamor dan wah. Beberapa waktu lalu Isyana dapat penghargaan sebagai artis musik pendatang baru terbaik.

Sekali lagi, Isyana Sarasvati menjadi fenomena baru di belantika musik tanah air. Setahu saya sangat jarang penyanyi seriosa merambah ke jalur pop yang lebih menghasilkan (uang dan popularitas), namun passion musiknya sangat berbeda.

Pranawengrum Katamsi, ratu seriosa tempo doeloe, menekuni seriosa sampai ajal menjemput. Putrinya, Aning Katamsi, juga begitu. Binu Sukaman juga jagoan seriosa sempat menjadi vokalis band pop-jazz Black Fantasy, tapi kemudian kembali lagi ke seriosa. Isyana masuk ke jalur pop dan langsung mendapat penghargaan bergengsi.

Akankah kiprah Isyana di industri musik pop akan langgeng? Sulit. Kita tahu industri pop sangat dibatasi usia. Begitu penyanyi (apalagi wanita) jelang 30, produser atau label biasanya aras-arasan. Sebab banyak bibit-bibit muda yang antre di belakang. Sebaliknya, jam terbang yang makin panjang, usia yang makin matang, akan membuat Isyana menjadi salah satu ratu seriosa Indonesia yang akan langgeng. Selama Isyana tidak kehilangan gairah (passion) untuk menekuni tembang-tembang puitik, baik sebagai penyanyi, pianis (pemusik), maupun komponis.

Ibarat lari maraton, Isyana baru berada di dekat garis start. Perjalanan masih sangat panjang menuju garis finish, entah berapa puluh tahun lagi!

03 October 2015

Soe Tjen, Bhinneka, dan Genosida '65



Sahabat lama Soe Tjen Marching kirim email. Singkat saja isinya:

"Genosida '65 langsung ludes dalam beberapa hari. Yang tidak kebagian, silakan menyimak link di bawah. Unduh, perbanyak & sebar kembali, untuk melawan pembodohan publik."


Ah, Soe Tjen yang tinggal di London sama suaminya, sama-sama PhD, sama-sama dosen di kampus terkenal ini, masih sama seperti dulu. Kendel! Tak kenal rasa takut. Gak cuma ngomong thok, menulis di berbagai surat kabar, tapi juga action. Salah satunya dengan menerbitkan majalah Bhinneka yang berkualitas, tapi gratisan itu.

Soe Tjen juga bikin sekolah multietnis, multiagama, dengan biaya murah di Putroagung Surabaya. Sebagai warga keturunan Tionghoa yang tidak kaya, alumnus SMAK Sint Louis dan Universitas Kristen Petra Surabaya, kemudian lanjut di Australia, Soe ‪Tjen tahu persis betapa mahalnya biaya pendidikan di sekolah-sekolah favorit itu. Maka dia pun bikin sekolah bagus di dalam gang, dengan guru-guru berkualitas, standar luar negeri, tapi murah.

Nah, beberapa waktu lalu, ketika berlibur ke Surabaya, mengunjungi mamanya, guru senior, yang juga penggiat sastra Tionghoa, Soe Tjen mengadakan pemutaran film Jagal dan Senyap karya Joshua Oppenheimer di rumahnya. Banyak aktivis, mahasiswa, orang LSM, dsb datang menyaksikan film yang mengangkat tragedi 1965 yang sangat traumatis itu. Mereka kemudian diskusi panjang, bikin kajian, wawancara korban-korban, untuk bahan majalah Bhinneka. Edisi Genosida '65.

Soe Tjen geram karena setelah 50 tahun peristiwa Gerakan 30 September 1965 ini berlalu, belum ada tindakan nyata dan pemerintah Indonesia. Para korban, jutaan orang plus keluarga dan keturunan mereka, belum memperoleh keadilan. Masih banyak orang Indonesia yang mati rasa, katanya.

"Para korban dan keluarganya masih menanggung luka dalam dari ingatan yang dibungkam," katanya.

Soe Tjen menambahkan: "Kita sering kali menutup mata karena menikmati hidup tanpa peduli atau memikirkan kembali apa yang telah kita nikmati. Tidak saja lebih aman, tapi juga lebih mudah. Kita tak perlu menyadari bila kita juga bisa mempunyai andil dalam kesengsaraan berbagai manusia. Dan memang kejahatan manusia bisa terjadi karena orang-orang baik berdiam diri."

Soe Tjen ini seorang doktor, komponis, pianis, novelis, kolumnis, aktivis, dan pendidik yang sangat berbakat dan berani. Omongannya selalu meledak-ledak kalau membahas kekejaman masa lalu dalam sejarah kita. Kontras dengan komposisi-komposisi karyanya yang hening, nyeleneh, dan unik ala almarhum Slamet Abdul Sjukur. Soe Tjen murid kesayangan Slamet Abdul Sjukur yang sangat dibanggakan almarhum.

Nah, dia pun bergerilya ke mana-mana untuk wawancara para korban genosida ini. Dia ingin majalah Bhinneka-nya ikut berperan mengembalikan kehormatan dan hak-hak asasi mereka yang terampas sejak orde baru. Dan stigmanya masih berlanjut sampai hari ini.

Setiap tahun, menjelang 30 September, banyak orang Indonesia bicara tentang rekonsiliasi. Soe Tjen rupanya jengah dengan pernyataan-pernyataan basa-basi yang tak jelas kelanjutannya itu.

"Bisakah kita berbicara tentang perdamaian dan rekonsiliasi secara menyeluruh ketika korban masih tertindas? Jika kelompok yang marginal terus menderita?" tulis pemenang sejumlah penghargaan internasional di bidang musik dan sastra itu.

"Ngomong-ngomong, majalah sampeyan (Bhinneka) kok bisa disebar gratis, dicetak ribuan eksemplar. Siapa sih yang membiayai? Duit untuk biaya cetak, liputan, desain, dsb dari mana?"

"Ya, urunan dong! Gak ada iklan atau sponsor yang membiayai," kata Soe Tjen yang sudah beberapa tahun ini mengelola majalah bagus (kayak jurnal) tapi gratisan.

"Kita lawan pembodohan publik!" begitu kata-kata khas Dr Soe Tjen Marching dalam berbagai kesempatan.

02 October 2015

Mayat pengungsi Sampang pun ditolak

Ahad lalu, 27 September 2015, seorang pengungsi Syiah meninggal di Rusun Puspa Agro, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Rumah susun milik Pemprov Jatim itu ditempati sekitar 348 pengungsi asal Sampang, Madura, sejak dua tahun lebih. Sebelumnya mereka tinggal di pengungsian GOR Sampang, kemudian diusir keluar Pulau Madura.

Inilah pertama kali kejadian ada pengungsi Sampang yang meninggal. Meninggal wajar karena sakit. Yang tidak biasa adalah mereka tidak bisa membawa jenazah itu ke Sampang untuk dimakamkan di kampung halaman mereka. Makam umum di desa mereka.

Alasan resmi: situasi di Sampang belum kondusif. Kalau dimakamkan di Sampang, bisa timbul gejolak lagi. "Kami cuma memakamkan jenazah di kampung, kemudian kembali lagi ke Sidoarjo," kata pengungsi Sampang.

Usulan itu pun ditolak. Alasannya itu tadi: kamtibmas! Keamanan dan ketertiban masyarakat. Maka, setelah koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, jenazah almarhum Busidin, 57 tahun, sakit liver, dimakamkan di Delta Praloyo Asri. Tempat pemakaman umum milik Pemkab Sidoarjo di kawasan lingkar timur Desa Bluru Kidul.

"Bayangkan, jenazah yang sudah tidak bernyawa pun tidak boleh dimakamkan di kampung halaman kami (Sampang). Apalagi kami-kami yang masih hidup," ujar Ustad Iklil, koordinator pengungsi Syiah asal Sampang.

Sang ustad hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum pahit. Dia tidak tahu kapan 76 keluarga korban konflik SARA di Sampang itu bisa pulang. Presiden SBY pernah bikin tim khusus untuk menuntaskan kasus ini. Kini, di era Presiden Jokowi, belum ada program yang jelas untuk menyelesaikan kasus sensitif ini.

Selama dua tahun lebih tinggal di Rusun Puspa Agro, ratusan pengungsi Syiah itu mendapat biaya hidup dari Pemprov Jatim. Sebagian besar pengungsi juga kerja serabutan sebagai pengupas kelapa di Puspa Agro, pasar induk agrobisnis. Ada yang jadi buruh dsb. Kondisi rumah susun pun jauh lebih bagus daripada rumah-rumah keluarga miskin di Sidoarjo.
Namun, menurut Ustad Iklil, sebagus apa pun kondisi di Rusun Puspa Agro, mereka lebih bahagia hidup di kampung halaman yang diwariskan nenek moyang secara turun temurun. Bekerja di ladang, memelihara ternak, hidup normal layaknya orang desa. "Di sini kami kehilangan akar. Kami berstatus pengungsi di negara kami sendiri," katanya.

Cerobong Eks Pabrik Gula di Balongbendo



Alkisah, tempo doeloe pada zaman Hindia Belanda, di wilayah Kabupaten Sidoarjo banyak berdiri pabrik-pabrik gula. Salah satu pabrik gula, yang dianggap tertua, terletak di Kecamatan Balongbendo. Pabrik Gula (PG) Balongbendo ini pernah sangat terkenal di tanah air. Foto-fotonya banyak ditemukan di jejaring sosial Facebook kawan-kawan penggemar tempo doeleoe.

Seperti belasan pabrik gula lain di Sidoarjo, PG Balongbendo cuma tinggal cerita. Tapi masih ada bangunan tersisa, dan sengaja dibiarkan untuk monumen, berupa bekas cerobong PG Balongbendo. Kita masih bisa melihat tetenger itu di atas lahan seluas 13 hektare eks PG Balongbendo itu.

Kepala Desa Balongbendo Sugiarto memperkirakan PG Balongbendo berdiri pada tahun 1860an. Berkat pabrik itu, petani-petani di Balongbendo zaman dulu hidup lumayan makmur. Kebun tebu sangat luas. Perekonomian di kawasan barat Sidoarjo itu pun tumbuh pesat. Ini terlihat dari bangunan-bangunan lama di Balongbendo dan sekitarnya yang bagus-bagus. Rumah-rumah eks Belanda pun masih ada.

Kejayaan PG Balongbendo terhenti ketika tentara Jepang masuk. Bangunan PG Balongbendo dan gedung-gedung milik Belanda diambil alih "saudara tua" itu. Dijadikan gudang senjata, rempah-rempah, dsb. Pabrik gula itu mangkrak hingga Indonesia merdeka 17 Agustus 1945.

Beberapa tahun kemudian, setelah nasionalisasi semua perusahaan Hindia Belanda, kompleks PG Balongbendo diubah menjadi pabrik tekstil PT Ratatex (Rahman Tamin Textile) milik Rahman Tamin, pengusaha kaya asal Sumatera Barat, yang dekat dengan penguasa republik. Tak heran pabrik kain diresmikan langsung oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mochammad Hatta (juga asli Sumatera Barat). Kain-kain Ratatex pun segera menyebar ke seluruh Indonesia

Kades Sugiarto mengatakan, prasasti peresmian pabrik Ratatex masih disimpan sebagai bukti bahwa dulu dwitunggal Soekarno-Hatta pernah menginjakkan kaki di Balongbendo, desa sederhana di pinggir Sungai Brantas. "Itu catatan sejarah yang sangat membanggakan kami, warga Balongbendo," kata Pak Kades.

Perubahan dari pabrik gula menjadi pabrik tekstil membuat instalasi pabrik pun disesuaikan. Cerobong asap dibiarkan berdiri. Menurut Sugiarto, bangunan lawas itu sebagai tetenger atau monumen bahwa tempo doeloe pernah berdiri pabrik gula tertua di Kabupaten Sidoarjo. "Sayang temboknya sudah dirobohkan. Bangunan yang ada cerobongnya itu luasnya 65 x 30 meter," katanya. "Saya larang eks cerobong itu disisakan sebagai cagar budaya."

Dolly-Jarak ditutup, PSK kok makin banyak?



Ada tulisan pembaca di koran pagi Jumat, 2 Oktober 2015, yang menggelitik. "Mohon satpol PP merazia PSK di makam Kembang Kuning, soalnya PSK-nya banyak sekali. Mungkin pindahan dari lokalisasi Jarak. Terima kasih," tulis pembaca itu.


Di koran yang sama, besoknya 3 Oktober 2015, juga ada pembaca yang geram melihat begitu banyak PSK di pinggir rel Stasiun Wonokromo. Mengapa kok dibiarkan saja oleh satpol PP?

Begitulah kenyataan ironis di Surabaya. Bu Risma yang baru lengser wali kota Surabaya selalu membanggakan ketegasannya menutup semua lokalisasi pelacuran di Surabaya. Mulai Gang Dolly, Jarak, Moroseneng, Sememi, Bangunsari, hingga Tambakasri alias Kremil. Beberapa wisma di Dolly bahkan sudah dibeli pemkot, dijadikan pusat pelatihan dan sentra UKM (usaha kecil menengah).

Pakde Karwo juga selalu bangga bisa menutup semua lokalisasi di Jawa Timur. Dolly dan Jarak yang berada di permukiman, resistensinya paling hebat, saja bisa. Apalagi kompleks-kompleks kecil di luar Surabaya yang bekingnya tidak kuat. Di Surabaya, warga setempat justru menikmati efek ekonomi dari bisnis seks setengah resmi itu.

Ketegasan bu Risma, perempuan wali kota yang berani menutup lokalisasi di Surabaya, memang layak dipuji. Tapi rupanya bu wali dan tim pemkot lupa bahwa prostitusi itu bisnis lawas yang sangat sulit dihapus dari muka bumi.

Boleh saja lokalisasi-lokalisasi setengah resmi macam Dolly, Jarak, Kremil, Sememi dsb ditutup. Wisma-wismanya dibongkar. Tapi pekerja-pekerja seksnya justru semburat ke mana-mana. Sebelum ditutup, PSK-PSK ini memang dilatih keterampilan macam-macam. Tapi tetap tidak mudah bagi cewek-cewek ini beralih profesi ke jalan yang terang.

Penghasilan dari bisnis esek-esek terlalu menggiurkan. Bekerja di pabrik-pabrik Surabaya atau Sidoarjo cuma dapat penghasilan resmi Rp 70 per hari. Penghasilan karyawan kantoran pun segitu aja. Semalam di Gang Dolly sudah pasti berlipat-lipat ketimbang bekerja di pabrik. Apalagi bagi PSK-PSK yang mentalnya sudah rusak selama bertahun-tahun.

Maka terjadilah kenyataan yang kita lihat akhir-akhir ini di Surabaya. Setiap malam makam Kembang Kuning jadi lokalisasi para PSK jalanan. Begitu pula kawasan pinggir rel di Stasiun Wonokromo, pinggir sungat dekat jembatan BAT Dinoyo. Bundaran Waru di perbatasan Surabaya-Sidoarjo. Setiap hari ada saja penggerebekan hotel-hotel melati yang disalahgunakan untuk kencan PSK dan pelanggannya.

Belum lagi prostitusi online yang memanfaatkan media sosial. Ada juga germo-germo yang rajin pasang iklan terang-terangan (di media resmi lho!) dengan kedok bisnis jasa pijat tradisional. Belum lagi prostitusi kelas tinggi di klub-klub malam yang berkeliaran begitu saja. Baru-baru ini polisi mencokok artis Jakarta AS yang ternyata punya bisnis sampingan sebagai PSK online kelas atas.

Kembali ke Dolly, Jarak, Kremil, Moroseneng dsb yang sudah ditutup. Satpol PP dan kepolisian terkesan tutup mata dengan menjamurnya pelacur-pelacur di makam umum, stasiun sepur, dan tempat-tempat lain macam panti pijat, salon, hotel, dsb. Bagaimana mungkin kompleks makam Tionghoa dan Kristen dijadikan tempat esek-esek? Lokalisasi baru justru menggeliat di kompleks Stasiun Wonokromo.

Mengapa praktik prostitusi ugal-ugalan itu terkesan dibiarkan begitu saja oleh aparat penegak perda alias polisi pamong praja? Bu Risma, ketika masih wali kota, sepertinya tidak tahu ada lokalisasi-lokalisasi PSK di luar Dolly Jarak cs yang justru jadi arena penampungan mantan-mantan Jarak, Kremil, dsb.

Saat ini Bu Risma tidak lagi menjabat wali kota Surabaya. Tapi peluang untuk kembali ke Taman Surya untuk periode kedua sangat besar. Dan ini akan menjadi tugas berat wali kota berikut (kemungkinan bu Risma lagi) untuk menyelesaikannya. Sebab strategi penutupan lokalisasi-lokalisasi setengah resmi macam Jarak, Kremil, dsb ternyata tidak komprehensif.