18 September 2015

Tidak Perlu Salam Panjang di SMS




Kebiasaan mengucapkan salam kepada orang lain itu bagus. Tapi, kalau salamnya kebanyakan, malah tidak bagus. Satu macam salam saja sudah cukup. Kalau sudah bilang assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ya, tidak usah salam sejahtera untuk kita semua", selamat pagi, syalom, om swasti astu, namo buddaya, rahayu poro sutrisno... dan entah apa lagi.

Ucapan "salam sejahtera untuk KITA semua" tidak tepat dan aneh. Tidak wajar kalau orang memberikan salah kepada dirinya sendiri. Seharusnya "salam sejahtera untuk saudara sekalian" atau "salam sejahtera untuk bapak, ibu, kakak, adik, kakek, nenek, dst".

Dari dulu saya geleng-geleng kepala mendengar "salam sejahtera untuk KITA semua".

Ini contoh kalimat yang logikanya rusak. Padahal, "salam sejahtera untuk kita semua" itu selalu diucapkan pejabat-pejabat setelah "assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh". Bagi saya, yang bukan Islam, assalamu'alaikum sudah cukup. Salam itu artinya universal meskipun sangat islami.

Saya perhatikan, kebiasaan menyampaikan salam yang panjang ini terbawa (sebagian) orang Indonesia ketika menulis pesan pendek atau SMS. Semua orang tahu SMS itu short message service. Pesannya harus pendek. Kalau tidak pendek, ya bukan SMS. Tapi LMS: long message service alias pesan panjang.

Sesuai namanya, SMS itu tidak boleh panjang. Karakter yang disediakan di HP terbatas. Standarnya 120 atau 140 karakter. Meskipun saat ini sebagian besar HP mengakomodasi "SMS panjang" (istilah yang aneh: SMS kok panjang), pesan pendek di telepon genggam harus pendek dan padat.

Kalau SMS-nya terlalu panjang, huruf-hurufnya bisa berubah menjadi cacing. Inilah yang selalu terjadi ponsel BB saya yang memang karakternya dibatasi 140. Sekitar satu jam lalu misalnya SMS di ponsel alternatif saya tidak terbaca. Yang muncul cuma cacing-cacing yang nggak karuan. Saya pun meminta si pengirim untuk mengirim ulang SMS itu di ponsel satunya yang bisa memuat banyak karakter.

Oalah, ternyata salamnya kepanjangan. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh... selamat pagi." Isi SMS itu malah nggak penting sama sekali.

"Orang Indonesia memang cenderung salah menempatkan diri. Tidak paham hakikat SMS sebagai pesan pendek. Salamnya sering dipanjang-panjangin," kata Dr Djuli, dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya, dalam sebuah seminar kebudayaan di Sidoarjo belum lama ini.

Ada baiknya to the point sajalah kalau menulis SMS. Salam yang panjang seperti "assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" dihindari saja di SMS. Gara-gara mementingkan salam, pesan inti malah jadi cacing.

1 comment:

  1. om hurek, Remy Sylado pernah nulis puisi yg kalo gak salah intinya begini "karena kita orang Indonesia suka menyingkat Wr. Wb. maka rahmat dan berkat Ilahi pun singkat buat kita"...

    yg paling konyol kalau menyingkat jadi "Ass Wr Wb", gak sopan banget yah, "ass" itu kan bagian tubuh yg agak sensitif diomongin...

    harusnya sih "Assalamualaikum" saja cukup...

    di negara tetangga biasanya "Assalamualaikum" dirangkaikan dgn "salam sejahtera", terutama di forum2 yg terbuka juga untuk non-Muslim... dan ketika pemerintah Malaysia meluncurkan program 1Malaysia (perpaduan antar kaum) salamnya nambah panjang, "Assalamualaikum, salam sejahtera, dan salam 1Malaysia"...

    ReplyDelete