01 September 2015

Tahbisan 5 Romo Baru di Surabaya



Kamis lalu, 27 Agustus 2015, Keuskupan Surabaya punya gawe besar. Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono menahbiskan lima frater diakon sebagai imam baru di Gereja Katedral, Paroki Hati Kudus Yesus, Surabaya.

Perayaan ekaristi istimewa ini diikuti sekitar 150 pastor (romo diosesan dan kongregasi) serta 2.000-an umat Katolik. Sayang, hajatan yang besar ini tidak sampai tersebar keluar. Tak ada satu pun media massa yang memberitakannya. Sebab, kegiatan-kegiatan umat Katolik di Pulau Jawa biasanya dianggap bukan konsumsi publik. News value-nya rendah! (Karena itu saya muat di blog ini saja.)

Beda dengan kami di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya 9 kabupaten di Flores dan Lembata. Tahbisan SATU romo saja ramainya luar biasa. Bupati dan Gubernur NTT Frans Lebu Raya hampir pasti hadir. Sebab, di daerah saya, Flores-Lembata, pastor dianggap lebih tinggi kedudukannya ketimbang pejabat baik bupati, gubernur, bahkan menteri. Ketika orang Flores/Lembata diangkat jadi menteri, kayak Pak Sonny Keraf (menteri lingkungan era Megawati) dan Yakob Nuwa Wea (menaker era Megawati) tak ada pesta meriah.

Sebaliknya, tahbisan imam di Flores selalu diramaikan pesta rakyat selama beberapa hari. Begitulah, lain padang lain belalang. Toh, kita harus bersyukur karena di Jawa Timur, yang umat Nasraninya sangat minoritas (di bawah 2 persen), Katolik kalah banyak sama Protestan/Pentakosta/Karismatik, setiap tahun selalu ditahbiskan imam-imam baru. Deo gratias!

Lima romo baru itu adalah RD Dominicus Mardiyanto Rudi Septiadi dan RD Gregorius Martia Suhartoyo, keduanya imam diosesan Keuskupan Surabaya. Dari kongregasi CM ada dua: Romo Emanuel Ditia Prabowo CM dan Romo Antonius Wiwit Subagyo CM. Satunya lagi Romo Vincentius Raditya Kurniadi SVD.

Bapa Uskup Sutikno berpesan kepada lima romo baru (juga romo-romo lama) agar selalu menjalin komunikasi intensif dengan Tuhan. Mencontoh teladan Santa Monica yang tak lelah berdoa untuk anaknya, Agustinus, santo terkenal itu. "Imam itu tidak boleh tergoda oleh popularitas dan kesuksesan dunia," kata uskup asli Tanjung Perak, Surabaya, ini.

Tahbisan kali ini sangat istimewa dan bersejarah bagi Keuskupan Surabaya. Sebab, dua romo diosesan itu (RD Dominicus Mardiyanto Rudi Septiadi dan RD Gregorius Martia Suhartoyo) benar-benar asli produk Surabaya. Keduanya menjalani formasi secara penuh di Seminari Tinggi Providentia Dei, Surabaya.

Biasanya, selama puluhan tahun, para calon imam Keuskupan Surabaya dibina di Malang atau Jogjakarta atau kombinasi Malang dan Surabaya. Artinya, seminari tinggi yang dididirikan Mgr. Sutikno itu mulai menghasilkan buah.

Di akhir misa, kelima romo baru ini langsung menerima penugasan. RD Dominicus Mardiyanto Rudi Septiadi bertugas di Paroki St. Vincentius a Paulo Kediri, RD Gregorius Martia Suhartoyo di Paroki Santo Paulus Nganjuk.

Romo Antonius Wiwit Subagyo CM melayani umat di Paroki Santo Fransiscus Xaverius Tanjung Priok, Jakarta, Romo Emanuel Ditia Prabowo CM di Paroki Ratu Pencinta Damai, Pogot, Surabaya. Sedangkan Romo Vincentius Raditya Kurniadi SVD diutus sebagai misionaris di Jepang.

Luar biasa! Jarang ada romo yang baru ditahbiskan langsung ditugaskan di luar negeri. Selamat bertugas untuk para romo. Proficiat!


No comments:

Post a Comment