05 September 2015

Selamat Jalan Pelukis Djoko Lelono



Sabtu 5 September 2015, pukul 12.00-12.30 siang. Saya menerima beberapa SMS dari teman-teman seniman di Sidoarjo. Salah satunya dari Mbak Endang Perca: ".... Telah berpulang bapak Doko Lelono hari ini di rumah beliau di Sidoarjo. Mohon doa tmn2 semua. (Bagus Mpu Batu)."

Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo Joko Supriyadi juga mengirim SMS yang sama. Rupanya SMS berantai dari Mas Bagus. Saya pun tertegun. Seakan tidak percaya. Tuhan mahabesar telah memanggil pelukis yang banyak melukis tema-tema kristiani itu. Salah satunya lukisan-lukisan Yesus yang bernuansa Jawa.

Persis seminggu yang lalu, Sabtu 29 Agustus 2015, saya ngobrol santai dengan seniman yang tinggal di Magersari Permai BC 8 Sidoarjo Kota ini. Saya juga memotret dia. Pak Djoko masih ketawa-ketawa seperti dulu. Sambil mengkritik sesama seniman yang dianggap cenderung stagnan. "Belum ada karya-karya besar yang lahir dari Sidoarjo," katanya didampingi putranya.

Sembari menyimak seminar, yang isinya sudah sering saya dengar, saya gunakan untuk ngobrol sama Guk Djoko - begitu julukan pelukis bernama lengkap Stevanus Djoko Lelono itu. Dia pun semangat. Maklum, sudah dua tahunan tidak ketemu. Dia lebih sering membuat patung, dekorasi, relief, dan lukisan di luar Jawa, khususnya NTT. Juga Timor Leste.

"Sekarang sudah saatnya generasi muda yang jadi petarung. Saya sekarang bukan lagi petarung. Nggak bisa seorang seniman terus-terusan jadi petarung. Semacam begawan gitulah," katanya tiba-tiba serius.

"Lho, kan bisa seniman jadi petarung terus sampai tua?" kata saya.

"Tidak bisa begitu. Semakin tua kita harus lebih banyak merenung, refleksi, dan mikir. Untuk memberi wawasan dan bimbingan kepada yang muda-muda," jawabnya.

Anda sudah merasa jadi begawan?

"Belum. Lagi proses ke sana. Harus ada waktu untuk merenung, mikir, gak iso grusa-grusu, bertarung terus," katanya tetap tersenyum ke arah saya. Omongan narasumber di seminar kebudayaan itu sudah tak lagi saya perhatikan.

Lalu, saya memotret pria berdarah Jogjakarta yang sejak kecil jadi kawula Jenggolo, Sidoarjo, itu. Sayang, obrolan asyik itu terhenti karena Bupati Sidoarjo Saiful Ilah mau masuk ke dalam ruangan. Seminar ditunda dulu. Menunggu Pak Bupati yang terlambat datang.

"Saya titip pertanyaan kalau dibuka sesi tanya jawab," ujar saya meminta Guk Djoko yang memang suka diskusi atau bertanya dalam forum-forum macam seminar.

Setelah pertemuan di aula SMK Perkapalan Buduran itu, saya ingin main-main ke rumahnya. Sekalian lihat bisnis batik yang dikembangkan Guk Djoko bersama istrinya. Eh, belum sempat ke sana, tadi dapat SMS berita dukacita.

Selamat jalan Guk Djoko! Semoga beristirahat dengan tenang di sisi-Nya!

BACA JUGA
Djoko Lelono Pencetak Rekor Muri Lukisan Anak Terpanjang
Djoko Lelono Melukis Yesus sebagai Orang Jawa

No comments:

Post a Comment