13 September 2015

Selamat Jalan Begawan Sastra Jawa!



Suparto Brata, sastrawan senior, begawan sastra Jawa, meninggalkan kita untuk selamanya Jumat 11 September 2015 dalam usia 83 tahun. Almarhum sangat getol berkampanye agar pelajar dan mahasiswa Indonesia dibiasakan banyak membaca dan menulis buku. Setiap kali bertemu Pak Suparto, kata-kata yang sama selalu diulang-ulang: baca, baca, baca, tulis, tulis,
tulis. Hanya dengan begitu, bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa primitif yang tidak mengenal peradaban buku.

Entah mengapa, sebulan terakhir ini saya tiba-tiba tertarik lagi membaca beberapa buku dan tulisan Suparto Brata baik yang berbahasa Indonesia maupun Jawa. Mungkin semacam isyarat bahwa sang begawan agar segera menghadap sang Pencipta di surga. Saya pun tersenyum sendiri, geli, membaca celetukannya yang khas di setiap tulisannya.

Sayang sekali, saya tidak sempat mengantar beliau ke tempat peristirahatan yang terakhir. Saya ketinggalan berita. Lagi pula saya sedang berada di luar kota. Saya hanya bisa mengirim doa dari jauh. Semoga Pak Suparto tenang di alam sana.


Berikut petikan percakapan saya dengan Bapak Suparto Brata di rumahnya, Rungkut Asri III/12, beberapa tahun lalu.

Apa saja kegiatan rutin Bapak setiap hari?

Jam 03.00 saya sudah duduk di depan komputer, mengetik, sampai jam 06.00. Kemudian saya jalan-jalan keliling perumahan ini selama setengah jam. Minum teh, sekadar sarapan, lantas baca buku. Kenapa begitu? Karena yang dibaca mesti ada dan yang ditulis juga mesti ada. Dulu saya selalu menyisihkan Rp 100 ribu per bulan untuk membeli buku-buku. Sekarang masih tetap beli buku, kadang-kadang dikasih teman-teman.

Usia Bapak sudah mendekati 80, tapi tetap produktif menulis.

Saya bersyukur diberi tiga hadiah istimewa oleh Allah. Pertama, saya masih sehat untuk melakukan pekerjaan saya sebagai pengarang. Kedua, saya diberi kesempatan untuk memilih karena saya sekarang bebas. Ketiga, saya masih diberi kesempatan memilih dan membaca buku-buku.

Bapak juga sering menekankan agar anak-anak sekolah dibiasakan membaca dan menulis buku. Ada alasan khusus?

Begini. Membaca dan menulis itu bukan kodrat manusia. Beda dengan melihat dan mendengar. Anak tiga tahun menonton televisi sudah mengerti artinya dan bisa menikmati. Tapi untuk menikmati buku, ya, harus belajar dulu.

Sama dengan mengendarai mobil atau main piano. Untuk bisa mengendarai mobil, cukup latihan beberapa minggu saja. Nah, untuk menggunakan dan menikmati buku dibutuhkan pembelajaran membaca dan menulis. Pelatihan terus-menerus, sehingga menjadi budaya.

Budaya membaca dan menulis itu yang belum ada di sini.

Orang Indonesia memang tidak punya budaya membaca buku. Kita bukan masyarakat pembaca. Di Belanda, misalnya, 100 persen orang dewasa punya budaya membaca dan menulis buku. Bahkan, bukan hanya dalam bahasa Belanda, tapi juga fasih berbicara dan menulis dalam bahasa-bahasa lain seperti Inggris, Prancis, Jerman.

Lalu, bagaimana membangun budaya membaca itu?

Di sekolah. Sejak masuk SD hingga SMA, 12 tahun, sekolah-sekolah seharusnya melatih budaya membaca dan menulis. Ini yang tidak aa dalam sistem pendidikan kita. Ujian nasional (unas), meskipun bodoh, siswa bisa lulus karena bisa ditolong orang lain, misalnya cari bocoran soal.

Sistem ini mengajarkan anak-anak untuk tidak usah bisa membaca dan menulis. Coba kalau soal unas harus dengan menulis proses hingga hasilnya, maka kebocoran tidak mungkin terjadi. Tanpa membaca dan menulis buku, ya, sama dengan anak tiga tahun yang hanya bisa menonton televisi.

Total sudah berapa buku yang Bapak tulis?

(Suparto mengajak kami ke kamar kerjanya. Suparto membuka lemari yang penuh buku. Meja kerjanya pun penuh buku). Kurang lebih 130 buku. Karya pertama saya, Tak Ada Nasi Lain, ditulis tahun 1958. Tadinya tulisan saya selalu ditolak media massa. Saya tidak tahu kenapa. Tapi tahun 1958 itu saya justru terpilih sebagai juara pertama sayembara menulis cerita bersambung di majalah Panjebar Semangat (PS).

Waktu itu oplah PS mencapai 80 ribu eksemplar, jauh di atas media berbahasa Indonesia. Itu juga yang mendorong saya menulis cerita dalam bahasa Jawa karena bisa dibaca banyak orang. Apalagi, saya lebih senang menulis panjang ketimbang cerita-cerita pendek.

Apakah sebagian besar karya Bapak berbahasa Jawa?

Tidak juga. Yang bahasa Jawa sebetulnya hanya 40-an. Masih lebih banyak yang bahasa Indonesia. Bagi saya, menulis dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia sama saja. Yang pasti, saya menulis secara merdeka, bukan pesanan.

Saya ingin karya saya dibaca masyarakat. Buat apa laku, tapi cara pemasarannya tidak benar? (Suparto menceritakan sistem pemasaran salah satu pengarang yang memanfaatkan jalur birokrasi. Bisa kembali modal, tapi sebenarnya tidak dibaca banyak orang).

Dan tidak mudah menjual buku, apalagi bahasa Jawa, dalam kondisi sekarang?

Yah, harus berjuang. Jangan merengek dan menangisi nasib sastra Jawa. Itu dikatakan para pejuang sastra Jawa seperti Esmiet (alm) dan Suripan Sadi Hutomo (alm). Penerbitan buku sastra Jawa itu harus dimodali sendiri oleh pengarang atau simpatisan. Sayang, simpati dari instansi tidak ada. Sedangkan orang kaya hanya ingin kekayaannya bertambah, sedangkan penerbitan buku bahasa Jawa tidak menjanjikan keuntungannya.

Akhirnya, Bapak membiayai sendiri penerbitan buku bahasa Jawa?

Ya, saya biayai sendiri, saya terbitkan sendiri. Saya tidak mau jualan lewat wali kota atau gubernur. Buat apa? Modalnya kembali, tapi tidak sampai ke pembaca. Biasanya, buku dicetak 1.000 eksemplar. Kita yang tanggung 500 eksemplar, sisanya dari teman-teman penerbit.

Jadi, harus ada idealisme untuk melestarikan sastra dan bahasa Jawa?

Bahasa daerah akan lenyap dilindas globalisasi. Bahasa Jawa kalau hanya lisan saja akan cepat berubah, rusak, luntur, dan akhirnya lenyap. Karena itu, buku berbahasa Jawa harus ada. Bahasa Jawa harus ditulis dan ditulis lagi, diabadikan dalam buku, agar dibaca pada waktu sekarang dan yang akan datang. (*)

No comments:

Post a Comment