24 September 2015

Indonesia tanpa Buyung Nasution



Sulit dibayangkan Indonesia tanpa Adnan Buyung Nasution. Sang pendekar hukum yang baru meninggalkan kita ini, dalam usia 81 tahun, terlibat hampir di semua bagian penting perjalanan bangsa ini. Mulai orde lama, awal orde baru, pertengahan orde baru, jelang kehancuran orde baru, awal reformasi, ganti presiden beberapa kali dari Habibie, Gus Dur, Mbak Mega, SBY, dan terakhir Jokowi.

Kiprah Bang Buyung sejak dulu, dalam bahasa wartawan, selalu memenuhi rukun iman jurnalistik. Selalu layak diberitakan. Gerak-gerik, intonasi, pernyataan-pernyataan, manuver, gebrakan, selalu layak berita. Dan selalu menarik dibaca. Kita dibuat terpukau, takjub, dengan kiprah sang advokat yang seolah tak mengenal rasa takut.

Di ruang pengadilan Bang Buyung meledak-ledak saat membela terdakwa yang dituduh subversi atau makar. Ini dakwaan serius di era orde baru. Sang terdakwa, berikut pembelanya, setiap saat bisa disukabumikan oleh aparat negara orba. Tapi Bang Buyung percaya bahwa hidup mati ada di tangan Tuhan. Bukan di tangan penguasa orde baru.

Sudah lama saya menyimpan kliping majalah Tempo edisi 18 Oktober 1975. Cerita tentang Buyung Nasution, saat itu beliau 21 tahun, yang baru keluar dari penjara. Buyung Nasution ditahan pada 17 Januari 1974 karena dituduh melawan penguasa orde baru pimpinan Jenderal Soeharto.

"Doa saya terkabul. Saya bisa bermalam takbiran bersama keluarga, berziarah, dan berlebaran sebagaimana orang bebas lainnya," kata Bang Buyung yang ditangkap bersama 11 mahasiswa lain selepas peristiwa Malari itu.

Dipenjarakan dengan tuduhan yang mengada-ada, dicari-cari, membuatnya semakin gigih melawan ketidakadilan di negeri ini. Lewat lembaga bantuan hukum (LBH) yang dia dirikan. "Saya jadi lekas iba terhadap orang yang ditahan. Coba bayangkan. Mereka ditahan 7 sampai 10 tahun tanpa proses. Sedang mereka belum tentu bersalah."

Pengalaman dicokok dan dibui pada inilah yang kemudian menjadi bekal bagi Bang Buyung dalam berkiprah secara konsisten di bidang hukum, demokrasi, dan HAM hingga akhir hayatnya. "Saya harus memberi contoh sebagai pemimpin yang relatif muda, berwatak, punya pendirian, menanggung risiko dengan berani, serta ikhlas," ujar Buyung Nasution kepada wartawan Tempo Harun Musawa dan Slamet Djabarudi.

Sejarah akhirnya mencatat betapa Bang Buyung sangat konsisten dalam perjuangan menegakkan demokrasi dan HAM, tak kenal lelah, meski sering kali ditelikung teman sendiri. Saya membaca berita-berita lawas tentang Bang Buyung dan ternyata semuanya sejalan dengan pernyataan beliau pada awal 1974 itu.

Maka, ketika menerima kabar kematian Bang Buyung, saya merasa sangat kehilangan. Bangsa Indonesia sangat kehilangan sang pendekar hukum, demokrasi, dan HAM yang telah mewakahfkan sebagian besar hidupnya untuk Indonesia. Saya sulit membayangkan Indonesia tanpa Buyung Nasution!

Selamat jalan Bang Buyung!

1 comment:

  1. Pada waktu akan mendirikan LBH, beliau minta ijin Ali Murtopo dan Suharto. Disetujui. Eh, malah dia membela kaum miskin dan yang teraniaya oleh rejim tersebut. RIP Bang Buyung!

    Sepeninggal Adnan Buyung Nasution, semoga pendekar-pendekar pembela keadilan pada bangkit, keluar dari padepokan, turun gunung, kali, gua, dll. tempat mereka belajar dan bertapa karena hatinya terpanggil.

    ReplyDelete