23 September 2015

Orang Prancis Buta Bahasa Inggris

Anda tidak lancar berbahasa Inggris? Padahal sudah ikut pelajaran bahasa Inggris sejak SD, SMP, SMA, universitas? Tak usah malu Bung! Wuakeh tunggale, kata orang Jawa.

Sebagian besar orang Indonesia memang begitu. Terlalu berlebihan kalau orang Indonesia dipaksa lancar berbahasa Inggris seperti bulu-bule British atau USA yang sejak bayi sudah ber-English ria. Sama susahnya dengan mengharap orang Amerika fasih berbahasa Indonesia tanpa aksen bule.

Orang Indonesia tidak sendiri. Di dunia ini ternyata banyak bangsa yang bukan English speaking nation sangat kesulitan berbahasa Inggris yang memang gak gampang itu. Orang Jepang dari dulu kepontal-pontal berbahasa Inggris. Tiongkok malah ingin menjadikan bahasa Mandarin sebagai bahasa dunia.

Beberapa teman wartawan asal Tiongkok yang bekerja di surat kabar berbahasa Mandarin di Surabaya kecele karena ternyata hanya sedikit orang Surabaya bisa berbahasa Mandarin. Itu pun sebatas warga keturunan Tionghoa. Yang Tionghoa pun belum tentu bisa berbahasa Mandarin ala Beijing ren.

Kemarin saya tertarik membaca berita di ESPN tentang Anthony Martial, pemain Manchester United asal Prancis yang fenomenal itu. Usianya 19 tahun, transfernya dari Monaco memecahkan rekor untuk pemain remaja di Liga Inggris: 36 juta pound. Martial diyakini bakal melejit sebagai penyerang paling berbahaya di Inggris.

Yang bikin saya tertarik buka soal sepak bola dan kehebatan Anthony Martial. Tapi ketidakmampuan pemain tim nasional Prancis ini berbahasa Inggris. Pelatih Louis van Gaal pun meminta bantuan dua pemainnya, Morgan Schneiderlin dan Marouane Fellaini, sebagai penerjemah saat latihan. Begitu pula ketika Tuan van Gaal menyampaikan instruksi tentang taktik, strategi, filosofi dsb.

Van Gaal geleng-geleng kepala karena pemuda Prancis ini tidak paham sama sekali bahasa Inggris yang paling sederhana sekalipun. Van Gaal berkata:

"He cannot speak English, so I have to speak French with him and I need help with that from Fellaini and Schneiderlin."

Hehehe.... Saya ketawa sendiri membaca pernyataan Louis van Gaal tentang pemain andalannya itu. Ternyata... oh, ternyata... orang Eropa pun sangat kesulitan berbahasa Inggris. Sama-sama di benua biru. Sama-sama punya kultur yang sama. Gaya hidup sama. Ada kemiripan antarbahasa-bahasa di Eropa. Tapi tetap saja Martial kesulitan menangkap English di tanah Inggris.

Apakah anak-anak sekolah di Prancis tidak diajari bahasa Inggris? Awak tak tahu. Tapi naga-naganya bahasa Inggris tidak dianggap penting di Prancis. Bahasa Prancis punya kelas tinggi, setara, bahkan lebih tinggi daripada bahasa Inggris. Lalu buat apa anak-anak Prancis diajari bahasa Inggris?

Di Surabaya pun saya sering melihat artis-artis Prancis yang hendak tampil di konser musik, pelukis, budayawan, lebih suka menggunakan bahasa Prancis saat konferensi pers. Kemudian diterjemahkan staf Pusat Kebudayaan Prancis yang wong Jowo. Saya yakin mereka bisa berbahasa Inggris tapi lebih cinta bahasa nasionalnya.

Lain Prancis, lain Indonesia. Orang Indonesia, khususnya di kota-kota besar, saat ini justru makin tergila-gila dengan bahasa Inggris. Istilah-istilah English berhamburan di ruang publik. Nama-nama perumahan hampir semuanya pakai English. Kata, frase, potongan ungkapan Inggris dihamburkan di mana-mana. Apalagi di era media sosial macam ini.

Anehnya, bahasa Inggris yang berkembang di Indonesia hanya sebatas English sepotong-sepotong. Bukan bahasa Inggris utuh untuk percakapan ala orang British.

"Saya lagi on the way, entar ada meeting till 12, kemudian kita lunch bareng di Garden Palace. Okay bro?" begitu ujaran khas teman saya. Saya perhatikan, (hampir) semua kalimatnya selalu ada bumbu-bumbu Inggris. Bumbu-bumbu Jawa malah jarang muncul.

Tentu saja kita tidak perlu ekstrem macam Anthony Martial dari Prancis atau beberapa teman Tiongkok yang tidak mau tahu bahasa Inggris. Pelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah sudah bagus. Tinggal mutu percakapannya saja yang diperbaiki. Tapi, poin paling penting yang ingin saya kemukakan adalah: cintailah bahasa Indonesia!

Bagaimana mungkin bahasa Indonesia jadi bahasa dunia, international language, kalau orang Indonesia sendiri menganggap bahasanya sebagai bahasa inferior kelas inlander?

1 comment:

  1. Orang Perancis, apalagi yang berpendidikan, sebenarnya bisa berbahasa Inggris, apalagi kalau yang pasif (membaca), tetapi mereka yang tidak menggunakannya sehari-hari tidak pe-de kalau harus bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Karena itu banyak anak muda Perancis yang mau bekerja secara internasional malah meluangkan beberapa bulan di London atau kota-kota lain di seberang selat untuk memperlancar bahasa Inggris mereka. Sebenarnya Si Anthony Martial ini pengecualiannya saja, karena anak-anak muda Perancis yang berpendidikan dan profesional masih giat belajar dan menguasai Bahasa Inggris.

    Selain itu, Orang Perancis memang bangga dengan bahasa mereka, karena Bahasa Inggris saja meminjam (tetapi tidak dikembalikan hehe) sepertiga dari kosakatanya dari Bahasa Perancis, terutama kata-kata yang berakar ke Bahasa Latin. Ini terjadi ketika Kerajaan Inggris dikuasai oleh Kadipaten Norman (Duchy of Normandy, sekarang provinsi di Perancis) di abad ke-11 di bawah pimpinan Adipati William Sang Penakluk (Duke William the Conqueror). Jadi, tidak heran kalau Orang Perancis merasa bangga atau bahkan superior dengan bahasanya, wong bahasa mereka merupakan salah satu sumber asal Bahasa Inggris.

    Dan saya setuju dengan Pak Lambertus. Kalau berbahasa, gunakanlah dengan baik. Kalau bahasa Inggris, ya Inggris yang bagus, grammarnya, syntaxnya, vocabularynya. Kalau Indonesia, ya gunakan yang benar: tata bahasanya, sususan kalimatnya, dan kosakatanya. Nek Jowo, yo tuturno sing genah.

    ReplyDelete