24 September 2015

Orang Kristen yang Makin Nginggris

"Bung, ikut ibadah raya di Surabaya! Pastornya asyik dan terkenal!" ajak saya punya teman.

"Malas. Musiknya rock, keras, jingkrak-jingkrak, kayak konser pop di stadion," ujar saya setengah bercanda tapi serius.

"Asyik musiknya. Profesional. Semangat terus. Gak akan ngantuk," kata teman serani aliran karismatik yang memang tidak mengenal tata krama musik liturgi ala Katolik itu.

Intinya, saya menolak secara halus karena memang tidak berminat ikut ibadah raya, kebaktian kebangunan rohani, jamahan kasih Tuhan, curahan roh kudus, sungai sukacita, army of God, atau apa pun namanya. Istilah yang sangat khas aliran karismatik.

Terakhir, saya ikut ibadah raya perayaan Natal di Rutan Medaeng, Sidoarjo, jauh sebelum tanggal 25 Desember 2014. Aneh, natalan kok sebelum 25 Desember? Bukankah masih masa Adventus?

Tapi pertanyaan atau gugatan liturgis ala Katolik ini sudah tidak laku di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Sebab gereja-gereja aliran jingkrak-jingkrak dan keplak-keplok tengah mendominasi ruang publik dan ruang iklan di surat kabar.

Selain jingkrak-jingkrak dan musik rock yang keras (bisa bikin telinga rusak), penggunaan kata, frase, atau kalimat bahasa Inggris makin menonjol di lingkungan gereja-gereja di Indonesia. Khususnya aliran protestan, lebih khusus lagi karismatik. Makin nginggris, makin banyak kata-kata English, makin hebatlah pendetanya. Oh, ya, pendeta pun sudah lama diganti pastor atau reverend.

"Pendeta itu biasanya di gereja-gereja lama kayak GKJW, GKI, atau GPIB. Philip Mantofa yang terkenal itu lebih cocok disebut pastor. Anda kayaknya ketinggalan informasi tentang perkembangan gereja-gereja baru yang modern," kata teman lama yang pintar bahasa roh itu.

"Apa bedanya pendeta dan pastor?"

"Perbedaannya banyak. Persamaannya ya sama-sama melayani jemaat Allah."

"Sama-sama menikah juga?"

"Ya iyalah. Yang tidak menikah itu pastornya orang Katolik. Pastornya orang karismatik ini tidak pakai jubah kayak romo-romo Katolik. Biasanya pakai jas, dasi, pakaian bermerek... ala pengusaha sukses dan kaya."

"Oh ya, saya ingat. The successful Bethany family."

Begitulah obrolan santai yang main-main tapi serius di Sidoarjo minggu lalu. Beberapa menit lalu saya nggowes sepeda tua di jalan utama Surabaya yang sepi. Maklum, salat Idul Adha berjemaah di mana-mana disusul penyembelihan hewan kurban. Saya lalu membaca baliho besar di pinggir jalan.

Iklan itu kira-kira begini: "Army of God! Winning a Generation of God!"

Wow, luar biasa! Mulanya saya kira ada perayaan besar, KKR, yang menghadirkan pendeta terkenal, eh pastor, dari Amerika Serikat atau Kanada atau Inggris atau negara asinglah. Atau konferensi internasional di Surabaya. Saat membaca koran, saya jadi tahu bahwa pembicaranya Philip Mantofa dan Sumiati Supit. Asli Indonesia, bukan bule.

Lantas, mengapa harus pakai istilah-istilah Inggris yang menggelegar begitu? Tidak adakah kata atau kalimat Indonesia yang cocok? Mungkin beginilah wajah gereja kita di era globalisasi ini. Jauh berbeda dengan gereja-gereja pribumi tempo doeloe yang berjuang keras untuk menghapus citra sebagai agamane wong Londo (agamanya bangsa Belanda).

3 comments:

  1. Ya ikut miris mendengar yang seperti ini...

    ReplyDelete
  2. Terimakasih.
    Kritik yang membangun.

    ReplyDelete
  3. Strategi pemasaran yang berbeda. Kalau jaman dulu GKJW atau Katolik berusaha njawani, atau ngefloresi, atau ngamboni, kalau jaman sekarang ngamrik total, bro! Itu artinya jaman dulu Orang Indonesia masih bangga dengan identitas budaya lokal, tetapi sekarang sudah luntur.

    ReplyDelete