25 September 2015

OM Monata Sidoarjo yang fenomenal



Mungkin ada ratusan orkes melayu (OM) di Kabupaten Sidoarjo. Hampir semua desa/kelurahan ada orkesnya. Anggap saja satu desa satu OM, maka total ada 353 orkes. Padahal di beberapa desa OM-nya lebih dari satu.

Namun, tentu saja tidak semua OM punya penggemar dan bisa manggung setiap hari. "Soale persaingan antarorkes makin ketat. Kalau nggak punya jaringan, link, ya habis. Kayak OM lawas yang tinggal nama itu," kata mas Takim yang menangani sebuah orkes terkenal tingkat kabupaten.

Dari ratusan orkes itu, OM Monata boleh dikata paling stabil sejak dulu. Eksis sejak 1990an, personelnya sudah senior, di atas 30 dan 40, tapi masih bisa melanglang ke mana-mana. Manggung hampir setiap malam. Ribuan penggemar selalu setia menanti Mr Sodik dkk ini. "Alhamdulillah, rezeki selalu ada saja. Sampai sekarang jadwal kami sangat padat," kata Sodik, sang vokalis plus gitaris berambut gimbal ini.

OM Monata Sidoarjo terdiri dari 8 personel: Sodik (vokal, gitar), Nono (gitar melodi), Juri (drum/kendang), Muji (bas), Anil dan Robi (keyboards), Slamet (suling), Hanafi (tamborin). Delapan pemusik inilah yang mengawal aransemen dangdut koplo dengan bumbu pop, hard rock, etnik, dsb. Kebetulan latar belakang mereka memang pemusik serba bisa yang biasa main pop atau rock.

"Musik dangdut sekarang ini dituntut sangat atraktif. Beda dengan dangdut-dangdut lawas yang mendayu-dayu," kata Sodik yang lahir di Pandaan, Pasuruan, 7 April 1968. Sudah cukup tua tapi selalu atraktif ketika berduet dengan cewek-cewek cantik belasan atau di bawah 25 tahun. Karena sering duet dengan nona-nona manis, seksi, bahenol, Sodik tidak pernah merasa tua.

Sodik dkk juga selalu update soal tren musik. Lagu-lagu yang baru dirilis, genre apa saja, segera dimakan. Lalu aransemennya dirombak sesuai aliran Monata. Sehingga remaja-remaja belasan tahun pun terbuai dengan permainan para musisi yang usianya sebaya orangtua atau kakek-nenek mereka itu. "Kita tidak boleh mandeg," kata Sodik yang suaranya serak ala rocker itu.

Yang menarik, meski orkes ini bermarkas di Sidoarjo, pimpinan Pak Gatot Hariyanto, OM Monata sudah sangat jarang show di Sidoarjo atau Surabaya. Malam ini, 25 September 2015, main di Tegal Jawa Tengah. Sebelumnya di Kecamatan Jati, Blora Jateng. Pada 21 September 2015 main di Stadion Kraksan Probolinggo. Minggu lalu di Temanggung Jateng.

Jamunya apa bisa kuat main setiap malam? "Nggak pake jamu-jamuan. Yang penting, main dengan hati, ikhlas, diniati untuk menghibur dulur-dulur kita. Makanya, Monata itu selalu berpesan: Jaga tali kompak seduluran kita satu sama lain," kata Sodik.

Nggak tergoda sama penyanyi-penyanyi muda yang cantik dan seksi itu? "Hahahaha.... Kita profesional aja sebagai artis. Kita coba mengekspresikan lirik lagu cinta, patah hati, selingkuh, pertobatan dsb," kata Sodik diplomatis.

Sebagai penyanyi/pemusik yang merintis karir dari bawah, mulai dari tukang check sound, Sodik tahu benar jatuh bangun dalam menembus belantika industri hiburan. Perjuangan yang tidak mudah bagi pria yang wajahnya jauh dari potongan artis itu. Maka, ketika namanya makin berkibar, jadi ikon Monata, Sodik berusaha menjaga kualitasnya sebagai musisi. Juga tingkah lakunya di belakang panggung.

Sampai kapan OM Monata bertahan? "Insya Allah, selama mungkin. Selama masyarakat masih mengapresiasi musik kami, masyarakat terhibur, kami akan terus bermusik. Bagi saya, penggemar Monata itu saudara-saudari kami sendiri," kata Sodik yang punya ciri khas tahi lalat di pipi sebelah kanan itu.

No comments:

Post a Comment