14 September 2015

Nugroho, Tokoh Umat Buddha di Sidoarjo Berpulang


Minggu siang, 13 September 2015, Bapak Nugroho Notodiputra masih memimpin kebaktian umat Buddha di Vihara Dharma Bhakti, Pondok Jati X/8 Sidoarjo. Orangnya masih sehat, tersenyum, membabarkan dharma dengan santun. Tapi, beberapa jam kemudian, malam harinya, pukul 23.30, Tuhan memanggil hamba-Nya yang setia ini.

"Papa sudah tidak ada," tulis Nico Tri Sulistyo Budi dalam email singkatnya.

Saya hanya tertunduk lesu. Tak bisa bicara apa-apa. Kalau Tuhan sudah berkehendak begitu, maka terjadilah. Rohaniwan Buddhis, aktivis sejumlah ormas di Sidoarjo, salah satunya Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Sidoarjo ini sudah selesai tugasnya di dunia ini.

Sepuluh tahun lebih saya mengenal dekat Pak Nugroho bersama keluarganya. Dimulai dari aksi barongsai dan liang liong pertama di Kabupaten Sidoarjo yang difasilitasi bupati saat itu, Win Hendrarso. Sebagai mantan pemain barongsai, keturunan Tionghoa, Nugroho merasa sudah saatnya Sidoarjo punya barongsai.

"Di Sidoarjo ini ada dua kelenteng. Masa tidak ada satu pun grup barongsai? Kalau ada acara-acara, kita selalu datangkan barongsai dari Surabaya, Pasuruan, dan daerah lain," katanya.

Maka, Nugroho alias Njoo Tiong Hoo ini merintis berdirinya kelompok barongsai Dharma Bhakti. Namanya sama dengan nama vihara yang nunut di rumahnya itu. Beliau kemudian mengajak anak-anak muda yang belum punya kerjaan, anak jalanan, dan siapa saja yang mau berlatih. "Semuanya pribumi. Tionghoanya nggak ada," katanya.

Itulah barongsai satu-satunya di Sidoarjo yang bertahan sampai hari ini. Barongsai yang selalu mengisi acara-acara pemerintah daerah di alun-alun, instansi pemerintah/swasta, sekolah-sekolah, bahkan kegiatan paroki. Barongsai ini pun sering ditanggap ke luar Jawa. Juga ikut berbagai festival tingkat provinsi dan nasional.

Tapi niat Nugroho sebetulnya bukan mencari menang, juara, tapi memasyarakatkan barongsai dan liang liong. Karena itu, dia aktif melatih ibu-ibu PKK, karyawan, tentara, pelajar... dan siapa saja yang mau memainkan kesenian plus olahraga khas Tionghoa itu.

Ini juga yang membuat Nugroho sebetulnya kurang tertarik menanggapi undangan-undangan dari panitia lomba atau festival atau kompetisi. "Buat apa ikut kompetisi, dan juara, tapi pemainnya itu-itu saja? Mending ibu-ibu PKK yang main liang-liong," katanya.

"Sebentar lagi saya ajak tentara dari Kodim 0816 Sidoarjo main barongsai di alun-alun. Naga Loreng namanya. Kami sudah sempat show di Tuban beberapa minggu lalu dan sukses," katanya dengan nada ceria. Nugroho memang diminta Pak Dandim, Letkol Riski, untuk mengajari tentara-tentara main barongsai dan liang-liong.

Sebagai pengurus FORMI, seksi festival, Nugroho sangat sibuk setiap Ahad pagi. Meninjau kegiatan car free day di alun-alun. Tahun ini lebih sibuk lagi karena CFD juga dikembangkan di 18 kecamatan. Pimpinan Walubi Sidoarjo ini pun jadi sangat dekat dengan Pak Wakil Bupati MG Hadi Sutjipto yang sedang kampanye jadi bupati Sidoarjo.

"Bagaimanapun juga Pak Cip itu ketua umum FORMI. Saya pengurus FORMI. Ya, otomatis saya sangat dekatlah sama beliau. Apalagi kami punya banyak program di Sidoarjo," katanya diplomatis.

"Kalau Pak Cip jadi, kayaknya barongsai tambah maju nih!" pancing saya.

"Hehehe... Kita dukung kepala daerah yang dipilih rakyat. Jangan cuma barongsai thok, reog, wayang, ludruk, semua kesenian di Sidoarjo harus hidup. Selama ini saya pontang-panting mengangkat grup reog di Gedangan," katanya.

Selepas reformasi, Pandita Nugroho tampil ke permukaan sebagai representasi umat Buddha sekaligus warga Tionghoa di Kabupaten Sidoarjo. Gayanya yang luwes, ramah, lekas akrab, membuatnya bisa cepat akrab dengan siapa saja. Setiap saat dia bisa dikontak untuk datang ke pendapa.

Setidaknya ada dua keinginan almarhum Nugroho yang disampaikan kepada saya di rumahnya. Pertama, membuat krematorium bersama untuk umat Buddha dan Hindu di kawasan lingkar timur. Tanahnya menggunakan fasum Deltra Praloyo dari Pemkab Sidoarjo. Krematorium itu penting karena selama ini warga Tionghoa biasanya mengkremasi jenazah keluarga mereka di Surabaya atau Juanda (Sedati).

"Di Juanda itu terlalu jauh. Selain itu, pemiliknya TNI Angkatan Laut. Kami ingin mengelola sendiri untuk umat Buddha dan Hindu di Sidoarjo," katanya.

Kedua, membangun sebuah vihara yang layak di Sidoarjo. Vihara Dharma Bhakti di rumahnya, Pondok Jati, selama ini dianggap vihara sementara. Dia ingin umat Buddha punya tempat ibadah layaknya umat beragama lain. "Di Sidoarjo ini ada dua kelenteng, tapi belum ada vihara," katanya.

Membangun vihara sebetulnya tidak sulit. Yang membuat Nugroho kesulitan justru banyaknya aliran di tubuh Budhisme di Sidoarjo. Masing-masing aliran ini ingin punya vihara sendiri-sendiri. Tidak mungkin membangun sebuah vihara yang bisa dipakai semua umat Buddha yang alirannya macam-macam itu.

"Maka, kami masih konsolidasi ke dalam," katanya.

Nugroho khawatir, begitu satu vihara sudah dikasih izin, umat Buddha aliran lain tak akan mudah mendapat rekomendasi pemerintah dan warga untuk membangun viharanya. Orang yang bukan Buddha mungkin berpikir satu vihara saja, yang besar, sudah cukup untuk semua umat Buddha di Sidoarjo.

Orang lupa bahwa Buddha ini mirip Kristen Pentakosta atau Karismatik yang alirannya sangat banyak. Agama yang denominasinya banyak membutuhkan tempat ibadah yang kecil, tapi buaaanyak. Beda dengan Katolik yang gerejanya sedikit, tapi pasti besar untuk menampung ribuan jemaat. Persoalannya, Buddha aliran mana yang didahulukan viharanya?

"Buat saya, yang mendesak itu krematorium. Soal vihara itu belakangan saja. Umat Buddha bisa beribadah, meditasi, sekolah minggu, di mana saja. Tapi kremasi jenazah itu harus ada tempatnya," kata Nugroho.

Selamat jalan Pak Nugroho!

Terlalu banyak kenangan manisku bersama Panjenengan! Seorang rohaniwan, tokoh Tionghoa, yang membuka pintu rumah untuk siapa saja nyaris selama 24 jam. Setiap hari! Selamat berbahagia bersama Sang Pencipta di nirwana!

6 comments:

  1. Pak Lambertus Hurek, apakah penganut Buddha di Sidoarjo khususnya dan Nusantara umumnya itu keturunan Tionghoa? Apakah masih ada sisa-sisa penganut Buddha dari jaman Sriwijaya dan Dinasti Sanjaya di Tanah Jawa dan Sumatra?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Hampir 100% keturunan Tionghoa. Ada juga keturunan Bali kayak istrinya almarhum Pandita Nugroho ini. Di Sidoarjo tidak ada orang Buddha asli sisa2 kerajaan lawas itu. Yang saya tahu buddhis gaya Tiongkok alias SAM KAW yang sembahyangnya di kelenteng itu. Buddha ala India dan Tibet malah tidak ada.

      Di Indonesia orang Tionghoa SAM KAW itu biasa digolongkan Buddha sejak awal Orde Baru meskipun tidak sama dengan Buddha tulen. Tapi ini strategi jitu untuk bertahan karena rezim Orde Baru memang ingin memberantas seni budaya dan religi Tionghoa di Indonesia. Maka, cara yang aman adalah SAM KAW ini jadi satu majelis tridharma yg menjadi bagian dari Buddha, salah satu dari 5 agama resmi yang diakui rezim Orde Baru.

      Delete
    2. Bung Hurek, kalau menyebut Sam Kauw (Mandarin: San Jiao), harus mengingat nama Kwee Tek Hoay. Dia peranakan Tionghoa dan salah satu pengurus Tionghoa Hwee Kwan yang pertama. Dia penulis dan wartawan (seperti Bung) yang menulis dalam bahasa Melayu (waktu itu belum ada Bahasa Indonesia). Karena takut keturunan Tionghoa di permulaan abad ke-20 sudah kehilangan identitas, Kwee Tek Hoay mendirikan Sam Kauw Hwee, dan menerbitkan kitab suci ajaran Konghucu dalam bahasa Melayu yang dapat dimengerti oleh kalangan peranakan Tionghoa yang sudah tidak berbahasa Hokkian lagi. Kwee Tek Hoay adalah seorang renaissance man, yang berpandangan maju menjadi penulis buku, pengarang drama, wartawan, aktivis kebudayaan, dan juga pedagang.

      Delete
  2. Terima kasih atas artikel dan penjelasannya yang menyusul. Ikut berduka cita atas meninggalnya Pak Nugroho, tokoh Buddha di Sidoarjo yang teman anda, Pak Lambertus Hurek.

    ReplyDelete
  3. Semoga umat Buddha di Sidoarjo yg selama ini dilayani almarhum Pandita Nugroho diberi kekuatan iman oleh Tuhan dan bisa mendapat seorang pengganti yg mau melayani umat Buddha dengan tulus ikhlas. Rest in peace Bapak Nugroho!

    ReplyDelete
  4. Matur suwun cak Wens atas penjelasan soal Sam Kaw dan tokoh utamanya Kwee Tek Hoay. Saya pernah membaca beberapa karya beliau di buku Sastra Melayu Tionghoa terbitan Gramedia beberapa tahun lalu. Ciamik soro, kata wong Tionghoa Suroboyo. Beliau memasukkan ideologinya secara halus, tapi sangat terasa, dalam cerita-cerita yang dikemas dengan sangat menarik dan hidup. Begitu membaca beberapa alinea awal karangan Tuan Kwee Tek Hoay, kita jadi kecanduan. Ingin membaca sampai selesai. Beda dengan karya-karya STA yang tidak pernah bisa saya selesaikan karena abor buangeet.

    Almarhum Njoo Tiong Hoo alias Pandita Nugroho ini sejak kanak-kanak berada di lingkungan kelenteng sam kaw alias TITD. Beliau kemudian mendalami agama Buddha secara mendalam meskipun kuliahnya teknik. Gelarnya insinyur. Saat menjadi rohaniwan, Pak Nugroho berusaha merawat tradisi Sam Kaw sambil terus-menerus membabarkan dharma atau ajaran agama Buddha kepada umatnya setiap hari Minggu di vihara yang nebeng di rumahnya, Pondok Jati Sidoarjo.

    Setiap kali ada hari besar Tionghoa atau Buddha, saya selalu menemui beliau untuk ngobrol, minta penjelasan singkat tentang makna hari raya tersebut. Misalnya, Ceng Beng itu apa? Sincia, Capgomeh, sembahyang rebutan King Hoo Ping, apa itu dewa dapur, tradisi makanan khas kayak kue keranjang, kue bulan, bacang, dsb. Uraiannya sederhana, tapi detail dan mengena. Saya yang bukan Tionghoa jadi cepat mengerti dan sangat menghargai tradisi yang sudah berlangsung ribuan tahun itu.

    Saya benar-benar kehilangan Pak Nugroho, seorang guru spiritual, narasumber Tionghoa-Buddhis, pelopor barongsai/liang liong di Sidoarjo, tokoh olahraga rekreasi (Formi) Sidoarjo, yang sangat luwes dan bersahabat. Semoga Tuhan membalas semua jasa beliau selama hidup di dunia ini. Namo Buddaya!

    ReplyDelete