15 September 2015

Lintu Tulistyantoro Peneliti Batik di Jawa Timur



"Saya siap dihubungi kapan saja untuk bicara soal batik," kata Lintu Tulistyantoro kepada saya.

Dosen Universitas Kristen Petra, Surabaya, ini memang narasumber paling laris untuk urusan batik. Bicara mengalir, lancar, detail, piawai membabarkan sejarah, motif, hingga perkembangan batik tulis di Jawa Timur. Di sela kesibukannya sebagai dosen, di kampus yang terkenal sangat ketat, Lintu masih suka blusukan untuk menggali kekayaan seni batik tulis kita.

Saking seringnya meneliti batik, Lintu jadi keranjingan mengoleksi batik tulis. Di rumahnya, kawasan Larangan Megah Asri, Kecamatan Candi, Sidoarjo, ada sekitar 200 jenis batik koleksinya. Ada batik sekardangan, batik kenongo, batik encim, setorjo, kedungcangkring, jetis.

Ini yang dari Kabupaten Sidoarjo. Belum batik Madura dan daerah lain di Jatim. Lintu mengaku tidak ngoyo memburu batik-batik unik itu. Tapi berkat kecintaannya yang luar biasa, batik-batik ini seakan membuntuti dirinya. Sehingga koleksi selalu bertambah dari waktu ke waktu.

Lintu punya koleksi batik bikinan tahun 1942, zaman Jepang. Tak ada catatan sejarah tentang batik yang ditemukan di Gresik itu. Tapi, suatu ketika ada orang indigo yang bisa "membaca" riwayat di balik batik tersebut. Konon, batik itu dulu jadi upeti dari pejabat bawahan kepada pejabat di atasnya. Maka, dipilihlah batik yang unggul.

Ada juga batik setorjo asli Sidoarjo. Menurut pendiri komunitas batik Kibas ini, batik setorjo dibuat di Sidoarjo untuk dipakai masyarakat Madura. Orang Sidoarjo sendiri tidak suka batik setorjo. Sebaliknya, di Madura pun tidak ada orang yang membuat batik jenis ini.

"Makanya, batik setorjo itu sangat unik," kata pria yang kenal dekat hampir semua juragan batik top di Jatim itu.

Salah satu daerah yang selalu menjadi perhatian Lintu adalah Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, perbatasan Sidoarjo-Pasuruan. Sejak dulu Kedungcangkring jadi sentra batik yang sangat terkenal di Sidoarjo. Tempo doeloe orang Tionghoa blusukan ke sana untuk berburu batik. Tak heran, banyak rumah-rumah lama yang besar dan megah di Kedungcangkring.

Sayang, kejayaan batik di Kedungcangkring perlahan-lahan surut. Sebagian besar juragan batik kolaps. Harga batik hancur. Warga setempat memilih bekerja di pabrik dan perlahan-lahan meninggalkan tradisi membatik dari leluhur mereka. Belakangan ada usaha mengembalikan kejayaan batik Kedungcangkring, tapi masih tertatih-tatih.

"Kalau kita gali lebih dalam, Kedungcangkring itu sangat menarik. Orang Sidoarjo sendiri banyak yang nggak tahu kalau daerahnya punya tradisi batik yang luar biasa," katanya.

Bagi Lintu, melestarikan batik tak hanya untuk kepentingan bisnis, mengejar materi, tapi melestarikan kebudayaan. Batik sudah menjadi bagian dari manusia-manusia Jawa sejak lahir hingga tutup usia. Si bayi pertama kali bersentuhan dengan dunia luar beralas kain batik. Menggendong bayi pakai selendang batik. Orang meninggal pun diselimuti batik.

Berbeda dengan tekstil biasa, menurut Lintu, orang yang berselimut batik bisa merasa sejuk di udara yang panas. Sebaliknya, merasa hangat di udara yang dingin. Ajaib!

Meski punya ratusan koleksi batik kelas tinggi, Lintu tak ingin disebut sebagai kolektor. Batik-batik itu dia pelajar, dalami riwayat, sejarah, filosofi, hingga perkembangannya untuk kepentingan edukasi. Berkat batik, kehidupan Lintu Tulistyantoro menjadi jauh lebih berwarna. Tidak terkungkung di kampus dengan tugas rutin sebagai dosen yang cenderung mekanis.

"Saya bisa bertemu dengan orang-orang hebat di banyak daerah. Batik itu bisa menyatukan semua perbedaan di antara kita," katanya.

1 comment:

  1. Bagaimana menghubungi pak Lintu, saya mau bicara perihal batik batik tua (kuno). Ada info SMS ke 087832781017 (Yusak)

    ReplyDelete