26 September 2015

Kue Bulan - Wayang Potehi di Krian

"Acara kue bulannya sederhana aja. Sembahyangan, makan kue bulan, ngobrol, wis. Gak ada hiburan macam-macam," kata Bu Tatik, pengurus Kelenteng Tjong Hok Kiong, Jalan Hang Tuah 32 Sidoarjo.

Bu Tatik melanjutkan makan sorenya, nasi lodeh ala warung sederhana. Iwake tempe tahu. Gak pakai daging meskipun masih suasana Iduladha. Menu makanan orang Tionghoa di Sidoarjo ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan menu wong cilik di Jawa Timur. Gak pake sirip ikan hiu yang sekali makan habis jutaan rupiah itu.

Menurut bu Tatik, sejak dulu jemaat kelenteng tertua di Sidoarjo ini selalu merayakan hari raya Tionghoa secara sederhana. Hajatan besar cuma setahun sekali. Yakni pesta ulang tahun Makco Thian Siang Sing Boo yang tak lain tuan rumah kelenteng.

"Kalau Tiong Chiu Jie ini ya kami hanya sediakan kue bulan. Silakan beli kalau mau," katanya. Paling murah Rp 125 ribu sekotak. Ada beberapa varian kue bulan atau yang sekarang lebih dikenal dengan moon cake yang kelewat manis itu. Tidak dianjurkan untuk penderita diabetes.

Di kelenteng satunya, TITD Teng Swie Bio Krian, sama saja. Tidak ada acara khusus untuk merayakan perayaan bulan purnama sempurna pada tanggal 15 bulan ke-8 penanggalan Imlek itu. Tapi kebetulan saat ini sedang ada pertunjukan wayang potehi dengan lakon Tembok Besar Tiongkok. Dalangnya Ki Subur, satu-satunya dalang potehi di Kabupaten Sidoarjo.

"Saya ditanggap main di Kelenteng Krian ini selama 50 hari nonstop. Setiap hari dua kali pertunjukan: sore dan malam. Tapi ini tidak ada kaitan dengan acara kue bulan tapi King Hoo Ping," kata Ki Subur yang dibantu 4 pemusik dan 1 asisten dalang.

King Hoo Ping atau lebih dikenal sembahyang rebutan selalu dirayakan khusus di Kelenteng Krian. Selain berbagi rezeki, paket sembako, kepada warga sekitar yang tidak mampu, pengurus kelenteng menanggap wayang potehi. Pertunjukan wayang boneka kain ala Tiongkok selatan ini biasa berlangsung 30 hingga 60 hari. Bisa lebih tergantung permintaan jemaat kelenteng.

"Orang Tionghoa itu menganggap wayang potehi ini persembahan untuk para dewa. Ada atau tidak ada penonton (manusia), ya, jalan terus karena yang nonton itu para dewa," kata Ki Subur yang muslim dan asli Jawa itu.

Panggung potehi di Kelenteng Krian terletak di lantai 2, pojok, dekat sungai. Kita harus mendongak kalau ingin melihat tokoh-tokoh Tiongkok kuno beraksi lewat panggung kecil itu. Sangat tidak cocok untuk sebuah seni pertunjukan. Karena itu, sangat jarang ada penonton yang menikmati sajian potehi yang sebetulnya unik dan menarik itu.

Saat mampir di Kelenteng Krian, saya melihat seorang gadis Jawa, 20an tahun, duduk di kursi penonton. Nona manis itu didampingi dua bocah Tionghoa. "Kamu kok senang potehi?" pertanyaan pancingan saya. Saya memang yakin nona ini pembantu rumah tangga keluarga Tionghoa yang juga umat Kelenteng Krian.

"Saya antar Om latihan karaoke," katanya ramah.

Ruang karaoke dan pertemuan terletak di belakang kelenteng. Para tuan dan nyonya Tionghoa di Krian sangat hobi tarik suara. Membawakan lagu-lagu melankolis pop Mandarin. Meskipun masuk lewat depan panggung potehi, mereka rupanya tidak tertarik menyaksikan pertunjukan potehi.

Eh, tiba-tiba datang dua gadis Jawa yang penasaran dengan musik dan narasi Ki Subur dalam bahasa gado-gado Indonesia, Jawa, Hokkian, sedikit Mandarin. "Saya dapat tugas untuk membuat laporan tentang seni budaya Tionghoa," kata Rini, mahasiswi yang seumur hidup baru pertama kali ini masuk ke kompleks kelenteng.

Cerita Tembok Besar yang dipaparkan Ki Subur cukup menggelitik. Dia memanfaatkan mulut orang-orang kecil untuk meledek, mengecam, dan menertawakan penguasa di Tiongkok masa itu yang sangat kejam. Intinya, tembok besar itu menimbulkan kesengsaraan yang hebat di kalangan rakyat jelata. Sebab mereka harus kerja paksa membangun tembok yang kini jadi andalan wisata Tiongkok itu.

Selamat menikmati kue bulan! Khusus untuk Maya, pimpinan Komunitas Jejak Petjinan, semoga bisnis mooncake-nya laku keras!

No comments:

Post a Comment