29 September 2015

Kristen vs Buddha di Krematorium Juanda



Senin pekan lalu, 21 September 2015, saya menghadiri upacara kremasi Pandita Nugroho Notodiputera di Krematorium Jala Pralaya, Desa Gisik Cemandi, Kecamatan Sedati. Satu-satunya krematorium di Kabupaten Sidoarjo ini dekat dengan Bandara Internasional Juanda.

Ada dua tungku di krematorium milik TNI Angkatan Laut yang diresmikan pada 9 Maret 2005 itu. Meskipun awalnya diniatkan untuk kremasi anggota TNI AL yang beragama Hindu, Jala Pralaya ini justru lebih banyak dipakai untuk perabuan warga Tionghoa di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya.

Nah, ritual menjelang peti jenazah Pandita Nugroho alias Njoo Tiong Hoo sederhana saja. Mas Nico, putra almarhum, memimpin pembacaan paritta suci yang diikuti sekitar 50 umat Buddha asal Sidoarjo dan Surabaya. Suasana sangat meditatif, khas Buddhis. Kami yang bukan Buddhis - banyak pula teman dan kenalan mendiang Nugroho yang muslim saat itu - ikut larut dalam suasana liturgi Buddha itu.

Ibu Ni Luh, istri mendiang Nugroho, dan enam anak sang rohaniwan, yang semuanya belum menikah, tampak berkaca-kaca. Tak lama lagi jasad orang tua tercinta dimasukkan ke tunggu untuk diperabukan.

Beberapa saat kemudian mas Richard Steven, putra tertua, memimpin upacara pelepasan burung merpati putih di samping krematorium. Kemudian jemaat kembali mendaraskan paritta suci. Tidak ada khotbah, nyanyian, sambutan basa-basi dan sebagainya.

Suasana makin hening. Tiba-tiba, "Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Kita adalah umat pemenang! Haleluya! Haleluya! Kita semua bergembira mengantar saudara kita ke rumah Bapa dalam sukacita. Haleluya! Di dalam Tuhan tidak ada ketakutan, tidak ada kesedihan... Yang ada hanya sukacita! Haleluya!" ujar suara di sebelah lewat pengeras suara.

Waduh, bisa kacau ini upacara kremasi tokoh Buddha Sidoarjo, batin saya. Dua tungku mayat itu sangat berdekatan. Pihak krematorium hanya membatasi rombongan pengantar jenazah dengan tripleks. Rombongan kristiani lebih sedikit ketimbang Buddhis. Tapi pendetanya yang suaranya keras itu khotbah pakai loud speaker. Teriak-teriak pula.

Rupanya, di tungku sebelah baru dimulai upacara pelepasan jenazah secara Kristen, aliran karismatik. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kejadian yang langka ini. Pihak karismatik rupanya kurang arif bijaksana. Sudah tahu sedang acara puncak ritual Buddhis, meditatif, eh malah khotbah menggebu-gebu.

"Haleluya! Saudara ingat Ayub? Apa yang terjadi dengan Ayub saudara-saudara?" begitu kira-kira ucapan pendeta di sebelah. Konsentrasi saya menyimak lantunan paritta Buddhis pun hilang. Syukurlah, umat Buddha yang sangat terlatih meditasi kayaknya tidak terganggu dengan kebaktian kristiani di lokasi yang jaraknya tak sampai satu meter itu.

Jenazah Pak Nugroho dimasukkan ke tungku. Umat Buddha satu per satu menabur bunga di peti jenazah yang sebentar lagi jadi abu. Kemudian pelayat yang bukan Buddhis pun diberi kesempatan menaburkan bunga. Isak tangis makin keras di dalam ruang pembakaran. Sementara di luar, khotbah masih berlangsung.

Sambil menunggu kremasi, saya ngobrol bersama Pak Paiman dan pelayat-pelayat beragama Islam di pojok. Pak Paiman, pimpinan reog di Gedangan, mengenang jasa mendiang Pak Nugroho yang berjasa menghidupkan kelompok reognya yang mati suri bertahun-tahun. Ada lagi yang memuji kegesitan keluwesatan almarhum di berbagai organisasi di Sidoarjo.

Pak Nugroho ini Tionghoa, rohaniwan Buddha, tapi bisa berteman akrab dengan siapa saja. Sampai-sampai banyak orang, termasuk Pak Paiman, yang baru tahu kalau Pak Nugroho itu pendeta Buddha saat beliau meninggal dunia. Karena itu, Pak Paiman sempat berbisik kepada saya saat melayat di RS Delta Surya Sidoarjo, "Jenazah Pak Nugroho kok gak dikubur-kubur? Kok ditahan sampai satu minggu?"

Saya pun menjelaskan tradisi Tionghoa dan Buddhis. Tentang kremasi atau pembakaran jenazah, abunya nanti dilarung, dsb dsb. Sebagai muslim yang taat (selalu pakai baju takwa), menurut Paiman, jenazah harus sesegera mungkin ditanam (dimakamkan). Setelah mendengar penjelasan saya, barulah pentolan reog asal Ponorogo ini ngeh. "Oh... saya baru paham sekarang," katanya.

Di warung kopi dekat kantor desa Gisik Cemandi (Krematorium Jala Pralaya memang berlokasi di depan kantor desa itu), saya masih ngobrol dan ngopi bersama Pak Paiman serta beberapa teman muslim. Masih soal kremasi, tradisi Tionghoa, Buddhis, hingga kiprah almarhum Pak Nugroho yang sejak 2002 membuka Vihara Dharma Bhakti di rumahnya, Pondok Jati X/8 Sidoarjo.

Lalu, saya pun kembali ke pusat kota Sidoarjo.

Di perjalanan saya masih teringat ritual buddhis dan kristiani yang bertabrakan di Jala Pralaya Juanda. Tidak salah kalau pendeta karismatik itu berkhotbah menggebu-gebu, keras, pakai loud speaker, dengan nyanyian yang gembira. Sebab kekhasan kebaktian karismatik ya memang begitu itu. Orang karismatik tidak mungkin sama dengan Buddhis, Katolik, Islam, Hindu, dsb.

Yang kurang bijaksana tentu pengelola Krematorium Jala Pralaya. Mengapa tidak diatur sedemikian rupa agar upacara kremasi tidak bersamaan? Lebih afdal kalau harinya berbeda. Kalaupun harinya sama, jamnya kan bisa berbeda. Pagi Buddha, siang atau sore giliran Kristen. Atau sebaliknya.

Memaksakan kremasi pada jam yang (hampir) sama, apalagi dengan ritual agama yang sangat kontras (Buddha yang meditatif, Kristen Karismatik yang bernuansa gembira dan menggelegar) jelas tidak bijaksana.

1 comment:

  1. om hurek, ada cerita yg agak mirip di Jakarta... bedanya bukan krematorium tapi rumah duka di RS...

    ada rumah duka yg akhirnya menolak acara kedukaan orang Batak... ada juga beberapa yg tetap mengizinkan, tapi dilarang pakai musik...

    karena acara kematian orang Batak di dalamnya ada acara menari (manortor), diiringi dgn musik gondang atau keyboard... acara manortor ini bisa beberapa kali, termasuk ketika keluarga semarga yg berduka menyambut keluarga istri, ibunya, neneknya (dalam adat Batak ada kelompok adat mulai dari hula-hula, tulang, tulang rorobot, bona tulang, bona ni ari, hula-hula ni anak manjae)...

    ternyata banyak orang-orang yg bukan orang Batak merasa terganggu ketika di sela-sela kedukaan mereka terdengar suara musik entah itu keyboard atau gondang di sebelah, sambil melihat orang menari-nari...

    (memang tidak banyak etnis di Indonesia yg menggelar acara menari-nari ketika ada orang yg meninggal...)

    sedangkan jika "pesta" kematian itu digelar di rumah, belum tentu rumah itu luas dan cukup untuk menampung semua tamu dan pihak adat... terutama di kota2 besar seperti Jakarta, harga rumah mahal sementara pendapatan tidak mencukupi...

    ReplyDelete