27 September 2015

Ketika wartawan naik haji

Berbahagialah wartawan yang naik haji. Sebab dia bisa cuti panjaaang sekali. Sebulan lebih, bahkan dua bulan, fokus beribadah di tanah suci. Ibadah, ibadah, ibadah... setiap hari. Kembali ke tanah air punya sapaan mulia: Pak Haji atau Bu Haji.

Tapi, tunggu dulu, yang namanya wartawa ya tetap wartawan. Biarpun cuti resminya untuk beribah, menunaikan rukun kelima, tetap saja teman wartawan bikin laporan dari Arab Saudi. Apalagi ketika terjadi musibah di Mina yang menewaskan 717 haji. Apalagi 112 haji asal Indonesia belum kembali ke maktab.

Adakah mereka termasuk bilangan 717 itu? Teman-teman wartawan di tanah suci, selain sibuk beribadah, punya kesibukan baru yang luar biasa. Yakni memberikan laporan kepada media masing-masing tentang nasib rombongan haji Indonesia. Bercerita tentang apa gerangan yang terjadi di Mina. Mengapa saudara-saudari kita itu terpisah dari rombongan. Dan sebagainya, dan seterusnya.

Saya perhatikan setiap hari mas Syaiku, teman wartawan satu kantor, sangat rajin mengirim laporan dari tanah suci. Lengkap dengan foto, data, cerita, komentar, hingga isi jumpa pers. Padahal, sebagai redaktur, selama ini mas Syaiku sangat jarang menulis berita di Surabaya.

Pria asal Jombang ini sudah lama bertekad memenuhi panggilan Allah untuk naik haji. Untuk beribadah dengan khusyuk. Bukan untuk mencari berita, bikin reportase segala macam ke Surabaya. Kalaupun ada kiriman berita, anggap saja bonus. Sekadar catatan harian di sela menunaikan ibadah haji.

Mbak Endrayani di Jawa Pos pun saya lihat sangat intensif membuat reportase panjang tentang tragedi Mina itu. Berita-beritanya jadi headline (HL). Ada tulisan boks alias ficer. Foto-foto human interest. Di Jawa Pos pagi ini ada foto menteri agama menjelaskan perkembangan pencarian ratusan haji Indonesia yang masih hilang.

Sudah tentu mas Syaiku, mbak Endrayani, dan para wartawan yang tengah cuti panjang di tanah suci akan bekerja lebih keras untuk melaporkan perkembangan tragedi Mina itu. Kerja keras, keliling sana sini, wawancara banyak narasumber, agar bisa menghasilkan liputan mendalam.

Lalu, kapan teman-teman wartawan itu bisa menenggelamkan diri dalam ibadah di tanah suci? Menjauhkan diri dari hiruk pikuk newsroom? Rehat daru rutinitas mencari dan menyunting berita? Walahuallam!

"Kerja wartawan itu perjuangan, doa, dan ibadah. Menggali informasi untuk dilaporkan kepada masyarakat itu bagian dari ibadah," kata Peter A Rohi, wartawan senior asal NTT yang protestan dan pastinya bukan haji.

Akhirnya, selamat beribadah untuk mas Syaiku, mbak Endrayani, serta teman-teman wartawan yang sedang berada di tanah suci. Semoga semuanya menjadi haji dan hajah yang mabrur!

4 comments:

  1. Pak Hurek, apakah ficer (akar kata: feature) itu sudah menjadi kata baku bahasa Indonesia? Bagaimana dengan kata yang sama tetapi di dalam dunia aplikasi perangkat lunak diucapkan "fitur"?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget. FEATURE sejak dulu dipakai di kalangan wartawan. Ada yang menerjemahkan menjadi karangan khas alias karkhas, tapi cuma populer di kantor berita Antara. Wartawan-wartawan Jawa Pos Group lebih suka menyebut BOKS untuk feature. Tapi sebagian wartawan dan mahasiswa jurusan komunikasi/jurnalistik biasanya menyebut FICER. Di buku2 teks pun dipakai kata FICER.

      Belakangan di dunia teknologi informasi (ponsel, komputer, gawai/gadget), kata FEATURE diserap menjadi FITUR. Sebagian orang Indonesia yang bukan wartawan memang menggunakan kata FITUR.

      Kok kata yang bahasa Inggrisnya sama, FEATURE, serapannya 2 macam? Itulah Indonesia. Bahasa yang selalu konsisten dengan inkonsistensinya.

      Delete
    2. Ya di dunia komputer, dikenal kata feature and functionality. Feature itu nama kegunaannya, misalnya "tombol exit". Functionality itu kegunaan dari feature atau fitur tsb., misalnya "Kalau pengguna menekan tombol exit, aplikasi akan berhenti, lalu menampilkan kembali layar utama."

      Feature memang pengucapan yang benar dalam bhs Inggris "fitche:", jadi ficer lebih dekat. Fitur itu pengucapan yang salah tetapi diserap saja beibeh.

      Delete
  2. FITUR dan FICER sama2 belum tercatat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kesimpulan: kedua kata serapan ini sama2 tidak baku.

    ReplyDelete