26 September 2015

Jurnalisme Investigasi ala Peter A. Rohi



Peter Apollonius Rohi, wartawan senior asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, sedang menyusun buku memoar. Begitu banyak cerita menarik saat masa kecil di pedalaman Pulau Timor, jadi anggota KKO (sekarang marinir), jadi koresponden, mendirikan beberapa surat kabar yang kemudian jadi besar, hingga menikmati usia senja. Tapi tidak pernah pensiun sebagai wartawan.
Di Facebook, Peter Rohi membocorkan sedikit beberapa kutipan isi bukunya itu. Yang paling menonjol adalah sepak terjangnya sebagai wartawan Sinar Harapan pada 1970an dan 1980an. Peter Rohi bertualang ke mana-mana untuk membuat laporan investigasi alias investigative reporting. Di antaranya, mengangkat kasus kelaparan di Pulau Sumba, NTT, dan bencana alam di Waiteba, Pulau Lembata, NTT.

Reportase Peter A. Rohi membuat Bina Graha geger. Presiden Soeharto memutuskan untuk datang langsung ke Sumba. "Beta yang beri peta kepada petugas di lapangan lokasi kelaparan yang benar-benar parah itu," kata Peter yang berumah di Kampung Malang, Surabaya, tapi lebih sering tinggal di Jakarta itu.

Saya sering bertemu Peter A. Rohi di Surabaya ketika bung yang murah senyum ini lagi getol-getolnya "menemukan kembali" rumah tempat lahir Bung Karno di Pandean, Surabaya. Peter selalu mengatakan dia tidak suka membuat berita-berita kecil, ecek-ecek, hanya sekadar memenuhi halaman koran.

"Saya hanya mau bikin investigasi. Berita-berita saya harus jadi HL," katanya tegas. "Kalau cuma menulis berita untuk servis pejabat, menyenangkan pemerintah, buat apa? Jatuh kita punya harga diri sebagai wartawan," kata jurnalis yang pernah bekerja di puluhan media massa itu.

Omongan bung Peter ini terkesan angkuh, rada sesumbar, tapi tidak asal bunyi. Orang-orang lama, para wartawan senior, tahu benar sepak terjang beliau. Saking seringnya mengangkat peristiwa-peristiwa besar di tanah air, nama Peter A. Rohi harum bukan main.

"Kalau ada peristiwa besar, yang diliput itu bukan peristiwanya yang besar. Tapi kehadiran Peter Rohi membuat peristiwa itu menjadi besar dan berdampak," kata Daniel Rohi, dosen Universitas Kristen Petra Surabaya. Guyonan lawas di Surabaya ini kalau tak salah sumbernya dari Prof Sam Abede Pareno, juga wartawan senior, teman Peter A Rohi, yang sekarang guru besar komunikasi di Unitomo Surabaya.

Nah, diskusi di media sosial itu pun melebar ke mana-mana. Orang membanding-bandingkan kualitas wartawan lama, khususnya Peter A Rohi, dengan rentetan investigative reporting, versus wartawan-wartawan di era pers industri setelah 2000. Saat ini makin sulit menemukan wartawan petualang, blusukan ke mana-mana, macam Peter Rohi. Meninggalkan newsroom, kantor redaksi, dalam waktu lama tapi tidak dipecat.

"Bung Peter bisa begitu karena iklim pers tempo dulu memang memungkinkan. Industri pers sekarang sudah jauh berbeda," kata seorang peserta diskusi.

"Betul sekali," tulis Peter Rohi. "Karena itu, jadilah wartawan yang dibutuhkan. Itulah kuncinya. Surat kabar bukan majikan tapi cuma sarana. Wartawan jangan bikin diri jadi buruh," tegas sang kuli tinta yang selalu bicara meledak-ledak itu.

Menurut Peter, jurnalisme merupakan kombinasi antara pekerjaan intelektual, kepekaan sosial, rasa kemanusiaan, dan petualangan. Peter menulis:

"Wartawan adalah intelektual yang terjun langsung ke masyarakat. Dia tahu persis kehidupan dan kebutuhan masyarakat. Dulu Sinar Harapan yang melamar saya, bukan saya yang melamar Sinar Harapan. Begitu juga setelah tidak lagi di Sinar Harapan, saya dilamar Kompas untuk ditempatkan di Kompas Group di luar Jakarta."

Agar bisa menghasilan investigative reporting yang terus-menerus, Peter menjelaskan, sebuah surat kabar atau majalah harus punya wartawan-wartawan spesial. Semacam pasukan khusus yang floating. Tugasnya menggali berita apa saja, mempelajari perpustakaan, mencari bahan-bahan investigasi, kemudian terjun ke lapangan. Lalu menulis berita-berita investigasi itu dengan sentuhan kemanusiaan yang kuat.

Peter: "Berita-berita kemanusiaan harus ditulis dengan kalimat yang menyentuh nurani. Sama-sama meliput bencana alam, berita saya pasti mendapat perhatian pembaca dan pemerintah. Perlu kekayaan imajinasi dan referensi pengalaman dan perpustakaan."

Saya pun menelepon bung Peter Rohi untuk menggali komentarnya di FB itu. Dia menilai wartawan-wartawan sekarang kebanyakan miskin imajinasi dan miskin perpustakaan (malas membaca). Akibatnya, kejadian-kejadian besar yang diliput terasa datar. Tidak ada reaksi apa pun. Apalagi kurang pengalaman.

"Pemakaian istilah dan penyusunan kalimat yang tidak tepat membuat sebuah berita besar tidak ada artinya bagi pembaca. Berita yang dibesar-besarkan pun justru hanya mengurangi kepercayaan publik dan pemerintah," kata Peter Rohi yang pernah menjalani operasi jantung ini.

Saya: "Ngomong-ngomong, mengapa Anda bisa bertualang ke mana-mana, sementara wartawan-wartawan lain di surat kabar Anda dulu tidak?"

Peter: "Semua kegiatan investigasi itu saya biayai sendiri. Saya juga malas minta gantinya (klaim). Maka tidak ada yang berani ngomong macam-macam. Tugas-tugas kemanusiaan adalah pengorbanan, doa, dan ibadah."

Wow, akhirnya saya ketemu rahasia kegemilangan Peter A Rohi sebagai wartawan investigasi papan atas di Indonesia. "Pengorbanan, doa, dan ibadah."

Sebagai wartawan senior, Peter A Rohi masih punya harapan besar pada wartawan-wartawan muda di Indonesia untuk menghasilkan karya-karya jurnalistik yang bermutu. "Tidak larut dalam pola hidup hedonisme yang menista rasa kemanusiaan," begitu istilah bung Peter.

"Wartawan-wartawan generasi muda itulah yang akan memberi jiwa bagi pers Indonesia," katanya.

No comments:

Post a Comment