04 September 2015

ISS yang sudah bukan romo

Kaget juga membaca majalah Tempo belum lama ini. ISS disebut mantan rohaniwan. Lho, sejak kapan dia lepas jubah? ISS sudah bukan romo?

Sungguh, saya tidak mengikuti perkembangan ISS yang dulu dikenal sebagai romo terkenal. Tak hanya dikenal di lingkungan umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta, tapi juga masyarakat luas. Namanya sering menghiasi media massa. Ada apa dengan ISS?

"Sudah lama ISS keluar (dari imamatnya," kata seorang romo yang juga teman akrab mantan romo berkacamata itu.

Sedih sekali mendengar kabar ada pastor yang lepas jubah. Apalagi rohaniwan itu sudah lama menjalani hidup imamat yang ketat. Tapi, namanya juga manusia, "roh itu penurut namun daging lemah", ada saja alasan untuk tidak melakoni hidup imamat sampai akhir.

Beberapa waktu lalu, saya juga kebetulan bertemu seorang pria asal NTT yang sangat mirip dengan romo di Malang. Ketika bertugas di kota dingin itu, dia jadi romo favorit karena khotbahnya paling enak. Cerita-ceritanya dibumbui humor cerdas. Umat seakan terpukau. Tak ingin homili sang gembala selesai.

"Romo X, apa kabar? Ada tugas apa di Surabaya," sapa saya sambil menjabat erat tangannya. Tidak salah. Orang ini memang romo yang dulu memukau saya ketika mengikuti ekaristi di gereja tua di pusat kota Malang.

"Saya sudah bukan romo lagi," katanya dengan suara rendah.

Oh ya! Saya jadi salah tingkah. Seketika itu pula image orang itu jadi berubah di mata saya. Sosok si jagoan homili (khotbah) itu tiba-tiba hambar. Bagaikan sayur enak yang tiba-tiba kehilangan garam.

Urapan imamat membuat seorang romo menjadi manusia yang berbeda. Sama-sama manusia tapi manusia yang diurapi. Karena itu, ketika beliau bukan romo, jadi awam, orang biasa, ya karisma rohnya menjadi tergerus.

Kita, orang Katolik, jadi serba salah ketika berbicara dengan eks romo. Pasti gak enak karena akan muncul why why why.... Mengapa memilih keluar? Apa pertimbangannya? Sejak kapan? Sekarang jadi apa? Dan seterusnya. Kalau dipanjang-panjangkan bisa merembet ke masalah pribadi. Gak enak jadi bahan pembicaraan.

Maka, saya pun lekas mencari alasan agar segera meninggalkan Romo X, eh Bapak X tersebut. "X itu sudah jadi romonya anak-anak," bisik seorang teman sedikit bercanda, tapi serius. Saya pun maklum.

Saya sebetulnya sudah lama ingin bertemu ISS di Jakarta. Lama banget tak ada kabar beritanya. Eh, pekan lalu saya iseng-iseng membaca majalah Tempo pinjaman di Sidoarjo. Ada kutipan ISS tentang masalah penggusuran warga di bantaran sungai di Jakarta. ISS diberi atribusi: seorang mantan rohaniwan!

Semoga ISS selalu diberkati Tuhan di kebun anggur pelayanan yang baru. Kebun anggur yang lebih luas. Kebun anggur yang tidak dibatasi tembok gereja, kongregasi, dan sebagainya.

No comments:

Post a Comment