28 September 2015

Bersatulah Persebaya dan Bonek FC!

Kementerian hukum dan hak asasi manusia akhirnya memberikan hak merek kepada PT Persebaya Indonesia. Artinya, tim yang sementara ini menggunakan nama Persebaya 1927 yang berhak pakai nama Persebaya. Persebaya 1927 ini dilarang ikut kompetisi oleh PSSI yang dipimpin La Nyalla.

Sebaliknya, Persebaya yang berlaga di ISL (kompetisi yang mandeg itu) harus berganti nama. Muncul nama baru Bonek FC. Nama yang jauh berbeda dengan Persebaya tapi masih ada ganjalan. Bukankah Bonek itu julukan suporter Persebaya (yang belum pecah) yang diciptakan Jawa Pos? Mengapa tidak cari nama lain saja?

Kita tunggu saja. Sebab, Gede Widiade, manajer Bonek FC (alias Persebaya United) baru saja membuka sayembara nama dan logo baru untuk Bonek FC ini. Yang jelas, hampir semua kalangan di Surabaya menginginkan hanya satu Persebaya. Yakni Persebaya yang didirikan pada tahun 1927 itu. Sebab (hampir) mustahil sebuah kota di Indonesia punya dua klub yang berkompetisi di level tertinggi.

Setelah mendapat merek Persebaya, lantas? Sampai sekarang Persebaya alias Persebaya 1927 tidak diakui PSSI La Nyalla. Dus, tidak berhak ikut kompetisi ISL. Persebaya 1927 juga tidak tercatat di divisi utama atau liga nusantara. Punya merek, legalitasnya diakui negara, tapi tidak bisa ikut kompetisi, buat apa?

Yang berhak ikut kompetisi justru Bonek FC (atau nama baru pengganti Persebaya versi Mitra Berlian itu). Begitu banyak persoalan masih membelit Persebaya gara-gara dualisme sejak 2010 itu. Terlalu parah!

Belum lagi, kita baca pagi ini di koran, Saleh Mukadar selaku pemegang saham mayoritas PT Persebaya Indonesia cenderung cuek. Belum ada upaya konsolidasi atau mengembalikan saham kepada klub-klub internal. Bung Saleh yang juga politikus PDI Perjuangan ini hanya berkicau di Twitter doang.

Belakangan para suporter Persebaya yang tergabung dalam Bonek 1927 ikut-ikutan mengurusi Persebaya setelah kepastian hak merek. Andi Peci, koordinator bonek, malah ingin ada pihak ketiga yang menguasai saham PT Persebaya Indonesia. "Buat apa menyerahkan saham ke pihak ketiga yang nggak bisa ngurusi bola," kata Cholid Ghoromah, dirut PT Persebaya Indonesia.

Ruwet memang Persebaya ini. Ibarat benang kusut yang sudah kadung mbulet gak karuan. Begitu banyak kepentingan yang bermain untuk memperebutkan kue yang gak jelas juntrungannya ini. Saleh Mukadar, Cholid, puluhan klub internal, ribuan bonek, hingga Pemerintah Kota Surabaya.

Meskipun ada embel-embel PT, jangan lupa, sejak Hindia Belanda sampai sebelum kisruh 2010 itu, Persebaya sangat tergantung pada pemkot. Lapangan Karanggayam, tempat latihan Persebaya, mes, berbagai properti itu miliknya siapa? Dua stadion yang jadi tempat pertandingan Persebaya, Stadion Gelora Sepuluh Nopember dan Stadion Gelora Bung Tomo, itu punya siapa?

Jangan lupa pula, kawan-kawan di pihak sebelah (Bonek FC) pun punya ikatan kuat dengan Persebaya. Mereka juga didukung puluhan klub internal yang dulu sama-sama bergabung dalam bendera yang sama. Bendera Persebaya yang historis di Karanggayam itu.

Maka, tidak ada cara yang lebih baik selain bersatu kembali dalam bendera yang sama: Persebaya. Permusuhan berkepanjangan antarsaudara sendiri selama bertahun-tahun terbukti telah menghancurkan sepak bola di Surabaya. Dua stadion berstandar internasional jadi mangkrak karena tidak bisa digunakan.

Sent from my BlackBerry

No comments:

Post a Comment