08 September 2015

Beras Miskin vs Beras Sejahtera

Orang miskin sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat jatah raskin: beras untuk warga miskin. Namanya juga raskin, mutu raskin ini benar-benar jelek. Di Sidoarjo, beberapa desa sering mengembalikan raskin karena banyak kutunya.

"Jangankan untuk manusia, dikasih binatang saja gak pantas," ujar seorang teman yang juga kepala desa di kota petis. "Saya gak tega melihat warga saya makan raskin. Tapi mau gimana lagi? Drop-dropan dari Bulog dari dulu ya selalu beras jelek," katanya.

Beras miskin (raskin) yang jelek ini justru ditunggu-tunggu orang kampung di NTT, khususnya Pulau Lembata. Maklum, beras jauh lebih tinggi nilainya daripada jagung. Sejelek-jeleknya beras, ia masih lebih bagus ketimbang jagung. Makan nasi (dari beras) membuat orang naik derajat. Kayak orang kota yang kaya aja!

Menteri Sosial Khofifah yang arek Surabaya itu beberapa kali datang ke Sidoarjo. Salah satu tujuannya melihat langsung kondisi raskin. Bu Menteri terkejut melihat raskin yang sangat jelek mutunya. "Mestinya Bulog mengirim beras yang layak dikonsumsi," kata mantan pentolan PMII itu.

Setelah blusukan di Sidoarjo, juga daerah-daerah lain, Mensos Khofifah berencana mengganti beras miskin dengan beras sejahtera alias rastra. Beras untuk keluarga sejahtera! Lha, untuk apa keluarga sejahtera dikasih beras yang dulu dijual Rp 1000?

Sebetulnya Menteri Khofifah cuma ganti nama berasnya. Sasarannya sih tetap keluarga miskin. Tapi rupanya Khofifah risi dengan sebutan MISKIN karena gak enak. Saat berada di Desa Kureksari, Waru, Sidoarjo, Khofifah secara resmi mengganti istilah keluarga miskin (gakin) dengan keluarga prasejahtera. Istilah lawas khas Orde Baru yang dulu gencar disampaikan Kepala BKKBN Haryono Suyono.

Prasejahtera artinya belum sejahtera alias masih miskin. Rakyat Indonesia yang sebagian besar prasejahtera, khususnya di luar Jawa ini, dikasih jatah bulanan beras sejahtera (rastra) sebagai jaring pengaman sosial. Khofifah berharap, dengan ganti nama jadi rastra, keluarga miskin, eh prasejahtera tidak lagi digerojok beras kualitas terjelek yang tidak mungkin dijumpai di pasar. Mana ada orang yang mau membeli beras penuh kotoran, banyak gabah, kerikil, dan kadang ada kutunya?

Akankah mutu rastra ini lebih bagus ketimbang raskin? Rasanya sulit. Sebab program raskin itu sejak dulu dimanfaatkan Bulog untuk cuci gudang. Kalau beras-beras jelek itu tidakagi didrop ke desa-desa, mau dikemanakan? Jadi pakan ternak pun susah.

Kelihatan sekali kalau cara berpikir Menteri Khofifah ini kurang subtantif. Cuma ganti nama atau kemasan aja. Kebijakan raskin itu sudah tepat. Yang perlu diubah adalah kualitas berasnya. Kalau sulit menghentikan pasokan beras jelek, ya, sebaiknya diuangkan saja. Diganti uang setara beras kualitas sedangan Rp 8000. Duit itu bisa dipakai membeli beras yang layak dimakan dan kebutuhan yang lain.

Toh, negara tidak akan bangkrut kalau memberikan beras kepada rakyatnya sendiri. Uang untuk program raskin cuma setitik dibandingkan duit rakyat yang dikorupsi pejabat-pejabat, politisi, dan pengusaha hitam.

1 comment:

  1. dari dulu beras utk orang miskin memang kelasnya cuci gudang. makan singkong masih lebih baik.

    ReplyDelete