17 September 2015

Bahasa Indonesia Miskin Kata

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan bilang bahasa Indonesia sulit jadi bahasa internasional. Sebab, kosa katanya miskin. Dibandingkan bahasa Inggris, jumlah kata di kamus bahasa Indonesia sangat jauh dibandingkan Inggris. Satu banding sepuluh!

Tahun 2014 jumlah kata bahasa Indonesia 101.611. Bahasa Inggris satu juta lebih. Setiap tahun lema Inggris bertambah sekitar 8.500, kamus bahasa Indonesia nyaris tidak banyak bergerak.

Kalaupun ada tambahan kata, biasanya cuma serapan dari bahasa Inggris. Contoh: edukasi, reduksi, degradasi, eliminasi, stagnan, akun, konstan, stan, ekspektasi, sosialisasi... dsb.

Anehnya, kata-kata serapan asing ini belakangan justru menggusur kata-kata lama yang sudah membumi. Contoh: "Masyarakat perlu diedukasi untuk mengantisipasi kebakaran." Kalimat ini dimuat di koran terbitan Jakarta kemarin.

Kata EDUKASI lebih sering dipakai ketimbang DIDIK - MENDIDIK - PENDIDIKAN - DIDIKAN.

Istilah passing grade juga sangat sering muncul di koran-koran Surabaya. Bahkan, banyak berita yang judulnya memakai bahasa Inggris. Bukan sekadar kata serapan, tapi kalimat utuh. Lha, bagaimana mau jadi bahasa internasional?

Sudah lama saya menulis di blog ini bahwa bahasa Indonesia tidak mungkin jadi bahasa internasional. Bukan hanya karena miskin kata. Juga bukan karena terlalu banyak serapan. Tapi karena sikap orang Indonesia sendiri yang sejak dulu meremehkan bahasa Indonesia.

Beberapa menit lalu saya melintas di kampung Tambakoso, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Kampung tambak yang berbatasan dengan Gununganyar, Surabaya, ini sedang disulap jadi pusat hunian modern. Semua perumahan dan apartemen yang sedang dibangun menggunakan nama bahasa Inggris. Kata-kata bahasa Indonesia, apalagi bahasa Jawa, dianggap tidak menjual.

Tapi ya nggak apa-apa. Kalau dipikir-pikir, bahasa Indonesia yang jadi bahasa nasional itu sebetulnya bukan bahasa ibu kita. Bahasa Indonesia cuma bahasa kedua, ketiga, keempat, atau kelima. Wong bahasa ibu (daerah) saja makin dilupakan! Apalagi bahasa Indonesia yang muasalnya dari bahasa Melayu Riau.

No comments:

Post a Comment