08 September 2015

48 Hotel Bintang 5 di Surabaya

Betapa banyaknya hotel baru di Surabaya dalam lima tahun terakhir. Lokasinya pun tidak lagi terpusat di kawasan Basuki Rahmat, Tunjungan, dan sekitarnya, tapi menyebar ke mana-mana. Kita yang sudah lama tinggal di Surabaya sering pangling dengan hotel-hotel baru yang asing namanya.

"Saya dan teman-teman lagi pameran di Papilio Hotel. Datang ya?" ujar Mbak Endang seniman kain perca dari Sidoarjo.

Papilio? Di mana itu? "Itu lho, pinggir Jalan A Yani," kata mbak yang tergusur dari kampung halamannya di Mindi, Porong, karena terdampak lumpur Lapindo.

Oh, ternyata bangunan jangkung di dekat Bulog, tempatnya Wika, itu sudah jadi Papilio Hotel. Saya yang melintas di situ, hampir tiap hari, cuek saja. Tidak tahu kalau ada hotel baru yang ciamik di kawasan Surabaya selatan.

Minggu lalu, di Jemursari juga ada peresmian hotel baru. Namanya saya lupa karena pakai bahasa Inggris yang sulit diingat. Sebelumnya di Jemursari sudah berdiri Hotel Santika, nama yang gampang diingat. Masih banyak lagi hotel baru di Surabaya dengan nama-nama yang sulit diingat.

Dua minggu lalu saya mengikuti seminar di SwissBell Surabaya. Kalau tidak diundang ke sana mungkin saya tidak tahu ada hotel dengan nama yang unik di daerah Kertajaya itu. "Kami sering adakan acara di sini. Sudah langganan," kata Sandi aktivis dari Gresik.

M Sholeh, ketua Perhimpunan Hotel di Jawa Timur, mengaku perkembangan bisnis hotel yang luar biasa di Surabaya. Saat ini, September 2015, ada 48 hotel berbintang. Hotel melati ada 120 unit.

Dari 48 star hotel itu, bintang lima 10 hotel, bintang empat 10, bintang tiga 18, bintang dua 5, dan bintang satu 5. Masih ada beberapa lagi yang sedang dalam proses pembangunan. Tahun depan dipastikan tambah lagi.

"Okupansinya kurang bagus, cuma 50an persen, karena rupiah melemah," kata Pak Sholeh.

Perkembangan hotel berbintang, khususnya bintang lima, di Surabaya memang sangat menarik. Dulu, 1980an, betapa gengsinya orang-orang Surabaya (Jatim umumnya) bikin acara di Hotel Hyatt, Jalan Basuki Rahmat itu. Seminar, konferensi, atau apalah namanya kalau diadakan di Hyatt, wuih.. elite rasanya.

Hingga akhir 1990an Hyatt jadi jujukan utama orang-orang beruang. Apalagi hampir semua kantor airline ada di kompleks itu. Saya masih ingat Mbak Ida dari Cathay Pacific yang sering kasih wawasan tentang bisnis penerbangan. Juga Pak Pramono dari Royal Brunei. Pak Iman dari Garuda Indonesia.

Waktu terus berlalu, muncul hotel baru yang lebih kinclong di Embong Malang: The Westin dan Sharaton tak jauh dari situ. Hotel Hyatt perlahan-lahan tergerus pelanggannya. Saya masih ingat dulu Surabaya Symphony Orchestra (SSO) rutin bikin konser di Westin. "Saya harus cari ballroom yang kapasitasnya besar dan bintang lima," kata Solomon Tong, dirigen dan pendiri SSO.

Tidak lama muncullah Shangri-La Hotel di Jalan Mayjen Sungkono. Kawasan yang dulunya dianggap pinggiran. Rupanya Shangrila lebih berkilau bintangnya. Pindahlah Pak Tong dan SSO-nya ke Shangri-La. Sampai sekarang! "Ballroom-nya lebih bagus," katanya.

Yang jelas, acara-acara besar yang melibatkan Presiden SBY selalu diadakan di Shangri-La. Konser artis internasional pun diadakan di hotel bintang lima ini. "Agenda di sini selalu padat," kata mas Fajar, teman lama yang jadi marketing Shangri-La.

Sebaliknya, Hyatt yang makin meredup berubah nama jadi Hotel Bumi. Nama yang membumi, mengindonesia, tapi tidak cocok dengan selera orang-orang kaya yang sudah telanjur kebarat-baratan. Sama dengan Hilton di Gunungsari yang ganti nama jadi Hotel Singgasana. Nama-nama Barat, apalagi yang aneh, sulit diucapkan, biasanya lebih disukai orang kaya.

Bisnis hotel, sesulit apa pun, niscaya akan terus tumbuh. Apalagi di Surabaya, kota nomor 6 di Indonesia telah Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta. M Taswin, asisten dua Pemkot Surabaya, mengatakan setiap tahun selalu ada permohonan izin hotel baru rata-rata 10 sampai 20 hotel. Ini sesuai dengan karakter Surabaya sebagai kota perdagangan terbesar di Indonesia bagian timur.

"Tapi hotel budget tidak akan diizinkan Bu Wali (Tri Rismaharini) karena sudah terlalu banyak," kata Taswin. Hotel-hotel budget bertarif murah itu dianggap bisa mematikan bisnis hotel-hotel non budget.

No comments:

Post a Comment